Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia dibawah Kesadarn
Kini aku melihat diriku sendiri yang tengah berlari di jantung hutan rimba, diriku disana tampak sangat gelisah dengan tubuh yang sudah penuh luka. Aku berjalan mengikuti diriku tadi, aku melayang, apa aku sudah mati?.
“Kaisar”. Suara bisikan dari arah belakangku, suara itu sedikit mencekam tatkala aku berbalik badan, disana aku melihat sosok diriku yang sudah berlumuran darah, tatapannya pun kosong.
“Ayo ikut aku”. Lagi-lagi suara yang mengerikan datang dari diriku yang lain.
“Siapa kamu?”. Tanyaku seraya menuding tepat diwajahnya, tapi dia juga mengikuti apa yang kulakukan, dia juga menudingkan tangan kepadaku.
“Aku adalah Kaisar, aku adalah dirimu dan dirimu adalah diriku”. Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri, kucoba mencubit pipi, namun dia semakin mendekat kepadaku, tanganku ia genggam erat-erat.
“Ayo ikut denganku, kupastikan kamu tidak akan tersakiti, dan kamu tidak akan menemui manusia-manusia munafik lainnya”. Tiap ucapannya menghinoptis dan tiap tekanan katanya merasuk di pikiranku, tiap detik suaranya mampu menggerakkan tubuhku.
“Kamu yakin aku tidak tersakiti”. Ucapku memastikan. Dia menarikku secara perlahan dan merangkulku layaknya sahabat, tanah tadi yang asalnya tidak bisa kupijak, kini usai aku menerima tawaran dari diriku yang lain tanah itu mulai terasa, dia sangat dingin sampai menusuk di tulang-tulang kakiku.
Cukup lama aku dan diriku yang lain berjalan, melewati sungai dan puluhan kilo meter jalan setapak yang penuh dengan bebatuan juga lumpur.
“Lihatlah”. Titah diriku yang lain, pikiran dan hatiku mulai tak sejalan, aku hanya bisa menatap lurus kedepan. Secercah cahaya melintang di depan sana.
“Apa aku harus kesana?”. Tanyaku dengan kesadaran yang kian terkikis, diriku yang lain hanya mengangguk. Aku pun mengikuti apapun yang dia katakan, aku terus melangkah sampai tanpa kusadari tanah tadi telah menjadi air, jelas sekali tak jauh dariku ada pusaran air yang sangat deras.
“Lompatlah di pusaran air itu”. Teriak diriku yang lain dengan tawa yang sangat meremehkan padahal dia menyuruhku bunuh diri. Spontan aku memutar badan seratus delapan puluh derajat, aku tersenyum singkat sebelum aku kembali melangkah menuju pusaran air yang dimaksud.
‘KAISAR TOLONG DENGARKAN BUNDA’
Aku terdiam bukankah itu suara bunda, hati dan pikiranku mulai stabil lagi. Namun jiwa ini masih melangkah menuju pusaran tadi.
“Bunda”. Cicitku.
“Maaf Kaisar tidak bisa menjaga bunda”. Celotehku pada diri sendiri.
‘Bunda tidak ngin kamu pergi meninggalkan bunda nak, bunda tidak mau kehilangan untuk kesekian kalinya’
Suara bunda menggema disini, aku ingin menjawab perkataan bunda, tapi itu hanyalah angan-angan belaka.
“Andaikan bunda ada disini, disamping Kaisar saat ini”. Monologku. “Elisia Lovoisier Youther”. Gumamku. Aku sangat berharap aku tetap hidup, karena banyak yang jadi pertanyaan di diriku, termasuk pula Elisia.
Air yang kupijak mulai terasa hangat, aku panik tak karuan, kemudian aku melangkah menuju diriku yang lain, dia hanya diam mematung menatapku. Tak butuh waktu lama air tadi berubah menjadi panas dan kian mendidih, untungnya dengan cepat aku sampai di pinggiran, saat aku melirik aku baru sadar ternyata aiir yang kulewati tadi adalah sebuah danau yang sangat luas.
“Bagaimana kalau aku menolak untuk ikut denganmu?”. Tanyaku pada diriku yang lain.
“Aku memang dirimu tapi hanya untuk saat ini, aku ada disini karena aku adalah hati nuranimu”. Jelasnya.
“Mungkin kamu akan paham alasanku mengambil kesadaranmu sesaat tadi, karena aku harap kamu gunakan aku di segala hal”. Imbuhnya panjang.
“I know”. Singkatku.
“Kembalilah, kamu ditakdirkan untuk memperbaikinya”. Ucapnya sebelum melebur dan meninggalkan kunang-kunang yang ndah pada sisa leburannya. Hatiku tergerak sampai tak terasa sebutir cairan bening lolos dari mataku.
“Dunia dibawah kesadaran ini sangat nyaman”. Gumamku, aku terkesan disini bena-benar hanya ada kejujuran yang ada di dalam diri sendiri. Detik berikutnya aku melangkah kembali menuju jantung hutan rimba tadi, tempat dimana aku berawal disini. Sembari melangkah, puzzle-puzzle memori tentang masa kecilku mulai tersusun kembali. Dulu aku masih seorang bocah yang tidak tahu mana utara, selatan, timur ataupun barat, hidupnya hanya bersenang-senang dan belajar. Tidak memikul beban ataupun memahami keadaan, aku yang bocah saat itu tidak akan tahu menahu rotasi kehidupan sesungguhnya. Namanya saja bocah, pasti hanya tahu tertawa, menangis, senang, bahkan urusan kasih sayang mereka tidak paham, itulah umur.
Tanpa mereka sadari pula, nyatanya banyak kegelapan dibalik layar.
“Bunda, Kaisar akan datang”. Monologku dalam hati.
Akhirnya aku sampai di jantung hutan rimba tadi, akan tetapi yang membuatku bingung adalah jantung hutan itu tiba-tiba berubah menjadi taman bunga lavender. Rasa tenang mulai menyelimuti jiwaku, saraf-sarafku terasa tenang.
Aku memutuskan untuk tidur di antara tegapnya lavender. Bye-bye dunia bawah sadarku.