ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT IV
Awan putih berarak di langit, gumpalannya yang semula tampak seperti kapas raksasa lamat-lamat makin tipis hingga kemudian berangsur-angsur lenyap. Tak tersisa apa pun selain hamparan kanvas berwarna biru juga bola putih yang memancarkan panas; menyilaukan. Jendela tanpa gorden yang terpasang hampir di segala sisi gedung, dan payung penjual di pinggir jalan pun tampaknya tidak cukup menahan perubahan suhu ekstrem. Tahu kalau tanda-tanda seperti ini menunjukkan bahwa malam nanti akan turun hujan deras, maka para siswi lebih memilih menghabiskan akhir minggu dengan bersenang-senang di mal—walaupun dengan cuaca tidak mendukung.
Pusat perbelanjaan itu baru resmi dibuka sebulan lalu, dan belakangan menjadi daya tarik lantaran letaknya tidak jauh dari pasar kuliner dan beberapa tempat hiburan—tempat yang cocok bagi anak-anak remaja untuk menghabiskan uang dan menongkrong. Selain itu, para pelajar juga mudah menjangkaunya karena berada di pinggiran pusat kota, jauh dari pencemaran udara, tidak bising oleh suara-suara kendaraan, dan tentunya biaya taksi jadi jauh lebih murah.
“Kalian sudah memesan?” Sebelum menarik kursi untuk duduk, Cindy menepuk bahu Villy dan Ayaa. Keduanya yang ditanya mengangguk.
Beberapa menit berselang, tiga yang lainnya datang bergabung, kemudian memesan makanan dan minuman kepada pelayan. Rebecca yang duduk bersebelahan dengan Cindy, menyikut lengannya. Manik matanya memberi kode pada dua orang di seberang mejanya, Villy dan Ayaa yang dimaksudnya. Dia merasa mereka berdua kelihatannya agak pendiam hari ini, seperti sedang bertengkar yang kemudian berujung saling diam satu sama lain. Cindy mengangkat bahu, berkata bahwa mereka sudah seperti itu sejak dia datang. Saat ditanya pun tidak menjawab dan tatapan mereka kosong. Mungkin ada sesuatu, begitu balasnya.
“Oi, Villy, Ayaa.” Rebecca menyenggol kaki kedua pemilik nama dari bawah meja. “Ada apa dengan kalian?”
“Wajah kalian tampak masam.”
“Apa filmnya tidak menyenangkan?” Yang lain ikut bertanya.
Villy mengedipkan mata, lamunannya buyar dalam sekejap. “Um, tidak. Menyenangkan, kok.”
“Aku juga menikmatinya,” sambung Ayaa, memberikan jawaban serupa.
“Lalu, ada apa dengan wajah kalian?”
“Hu? Kalian?” Villy dan Ayaa saling bersitatap, memandang wajah satu sama lain dengan pandangan heran. Keempat teman yang menyaksikannya pun tidak kalah heran. Rupanya mereka berdua bergelut dalam pikiran masing-masing.
“Oh, jadi kalian tidak bertengkar? Syukurlah kalau begitu.”
Sherry secara spontan menepuk lengan Amber, matanya melotot. “Sekali lagi bicara, kujahit mulutmu,” katanya dengan nada mengancam. Pikirnya tidak lucu Amber menjadikannya sebagai lelucon sebelum melihat dengan matanya sendiri bagaimana dua orang itu saling diam dan bersitegang selama beberapa hari. Uuh, rasanya seperti melihat seekor serigala dan harimau yang saling menggeram sebelum meloncat dan menyerang. Ditengahi bagaimanapun caranya, yang pasti yang ikut campur-lah yang akan mati lebih dulu. Intinya, ini situasi serius di mana sama saja dengan menyatakan perang. Beruntungnya sekarang tidaklah demikian.
“Oh, apa jangan-jangan karena aku datang menjemput kalian?” Sherry mulai menebak-nebak. “Atau karena orang gila yang kita temui di ruangan bioskop tadi?”
Cindy diikuti yang lain kompak memberikan respons serupa. “Wah, benar. Sampai sekarang aku juga masih merasa kesal. Harusnya aku sungguhan meninju wajah bajingan itu.”
Dua jam sebelumnya, para gadis ini nyaris membuat keributan di dalam bioskop. Ada tiga pria gila yang asal menempati kursi mereka dan bersikeras tidak mau pergi sampai dibicarakan seratus kali pun. Konflik memuncak begitu salah satu dari mereka menyinggung tentang sopan santun anak zaman sekarang yang seperti tidak dididik orang tua. Bahkan dia juga menyebut-nyebut tentang anak haram dan anak dari korban perceraian orang tua, menunjukkan kesan bahwa para gadis ini adalah anak-anak hina yang hanya kehilangan arah sampai-sampai tidak tahu bagaimana caranya bicara kepada orang yang lebih tua.
“Kubilang bicara sekali lagi!”
Di saat kelimanya mengepalkan tangan demi menahan diri untuk tidak memukul, Villy maju dan mencekik leher si banyak omong itu. Tenaganya memang tidak seberapa sebagai gadis pelajar yang mencoba melawan, tapi dia berani untuk menanamkan rasa takut dan ngeri melalui bolpoin yang digenggam di tangan kirinya—siap menyerang.
Ayaa sebagai pedal rem Villy pun turun tangan untuk menghentikannya. Dia dengan lembut menepuk bahunya, tapi anehnya tiga kali namanya dipanggil si sobatnya itu tidak memberi respons apa-apa.
Suasana sekitar jadi ramai sampai-sampai dua petugas keamanan bioskop harus datang dengan lari tergopoh-gopoh untuk melerai. Namun begitu tiba di deretan kursi tempat terjadinya perseteruan, salah satu dari mereka malah membentangkan tangan ke depan dada rekannya. Dia meminta untuk membiarkan situasi ini sejenak.
“Bajingan gila itu akan tetap bicara jika tidak diberi pelajaran. Setidaknya dia harus ingat bagaimana dia tidak bisa bicara lagi setelah hari ini.” Petugas keamanan yang tampak masih muda itu rupanya mendengar semua ucapan si pria gila. Ia bahkan bisa tahu alasan si gadis mencekiknya dengan manik mata yang bergetar seolah ada perasaan lain yang ikut serta dalam amarahnya.
Benar, itu adalah perasaan dendam yang dapat membuatnya dirinya mati dalam sesaat. Villy adalah korban kekerasan orang tuanya. Mereka bercerai dan meninggalkan gadis kecil itu terlantar di rumahnya yang telah kacau. Beruntungnya, tangisannya yang selalu terdengar pada malam hari membuat tetangganya datang untuk menegur dan menyampaikan keluhan. Saat itulah, ia mendapati seorang anak berusia lima tahun sedang melipat kedua kakinya dan menyembunyikan kepalanya di bawah meja. Dia gemetar ketakutan bahkan saat tetangganya menyentuhnya dan mengajaknya bicara. Sadar ada sesuatu yang telah terjadi di rumah itu, ia pun memutuskan untuk membawanya ke panti asuhan supaya hidup dan masa depannya dapat terjamin.
“Kalau diingat-ingat, anak ini memang mengerikan juga.” Ayaa menoleh ke kursi sebelahnya sembari bermonolog, menatap lekat si sobatnya itu yang tampak gusar seolah sedang bergulat dengan isi kepalanya. Dia menggeleng, memberikan balasan kepada keempat temannya yang sebelumnya bertanya. “Tidak, sungguh tidak ada apa-apa padaku.”
“Kau berniat berbohong dengan akting payahmu ini?” Villy menyahut dengan nada sarkas, menangkap sepasang matanya yang jelas-jelas mengatakan makna sebaliknya.
“...Kau beromong kosong. Lalu bagaimana denganmu?” Ayaa balik bertanya. Tangan kanannya yang sebelumnya sedang menggenggam ponsel untuk memeriksa sesuatu, segera dimasukkan ke dalam tas.
“Itu hanya hal kecil,” jawabnya.
Ayaa mengernyitkan dahi. Hal kecil katanya? Sial, dia setengah mati berusaha menghentikan si psikopat gila itu (keributan di bioskop), tapi dia malah berkata itu hanya hal kecil? Wah, tidak heran kadang-kadang dia memang merasa perlu memeras tubuh si sobatnya itu agar tidak lagi sembarang bicara. Dasar mulutnya yang hanya bisa berbunyi saat hendak mengatakan sesuatu yang singkat, menyebalkan, dan tidak jelas.
“Apa di antara kalian ada yang pernah sekamar dengan Karinn?” Secara tiba-tiba Villy mengajukan pertanyaan. Manik matanya menatap teman-temannya satu per satu, bertanya langsung ke intinya.
“Karinn?”
“Jadi kau sedang memikirkan anak itu?”
Villy menggeleng. “Aku hanya ... Menurutku dia kelihatan agak berbeda dari kebanyakan junior yang pernah kutemui. Kalian tahu sesuatu tentangnya?”
Keempatnya saling bertukar pandangan, mulai membuka suara dan bercerita. “Kurasa dia anak yang menyenangkan,” kata Cindy.
“Benar, dia juga mampu beradaptasi dengan cepat walau dengan orang asing.”
“Rasanya dia tidak begitu padaku,” Ayaa membatin. Dia teringat pada hari pertama pertukaran asrama, dia menyapa Karinn dan berlagak sok dekat. Namun reaksi yang didapatnya tidak sesuai dengan yang dikatakan teman-temannya. Pikirnya mungkin hari itu dia sedikit berlebihan? Yah, tidak heran. Kadang-kadang dirinya sendiri pun juga merasa jijik atas sikap sok dekat yang dilakukannya.
“Terlebih kepada teman sebayanya, tidak jarang dia bercanda dengan melakukan gulat walau masalah diributkan hanyalah hal kecil seperti berebut kamar mandi dan kursi balkon. Sebagai ketua kamar, rasanya aku nyaris dibuat gila.”
“Di samping itu, dia adalah pembuat mood. Dia pandai mencairkan suasana dan mengalihkan kecanggungan di antara kita.”
“Benar, kurasa dia tidak ada bedanya dengan seseorang yang punya kepribadian bebas dan fleksibel.”
Villy mengangguk-angguk, menyetujui. Sosok Karinn yang diketahuinya dalam dua hari menjadi teman sekamar juga demikian begitu. Tidak ada yang spesial dari informasi yang didapatnya, maka ia pun memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh. “Apa kalian pernah berkumpul bersama dan membicarakan kasus kematian gadis di atap?”
Keempatnya kembali bertukar pandangan, termasuk Ayaa di sebelahnya yang juga bereaksi penuh tanda tanya. Tidak bisanya si manusia kaku itu penasaran tentang orang lain, itu artinya dia sungguhan saat mengatakan ia sedang memikirkan sesuatu.
“..Ya, tentu. Kami cukup sering melakukannya,” jawab Sherry.
Rebecca ikut menambahkan, “Kau juga mungkin sudah tahu, dia adalah pemilik julukan Sherlock, maniak yang haus oleh rasa penasaran. Setiap ada kesempatan membahas sesuatu, dialah yang paling banyak bicara. Dalam kasus itu pun juga begitu.”
“Apa saja yang dia ketahui?” Villy bertanya lagi, menunjukkan ekspresi wajahnya yang antusias tanpa ragu.
“Yah, cukup banyak. Seperti..” Amber membuka telapak tangannya, mulai mengabsen melalui jari-jarinya. “...dia dapat memperkirakan waktu peristiwa itu terjadi. Lalu tentang Pak John yang menjaga sekolah pada malam itu, gerbang sekolah yang tidak terkunci, posisi siswi yang ditemukan masih menggantung di tepi atap, juga tentang korban yang diduga adalah korban perundungan. Semua itu dia simpulkan dengan yakin bahwa kematiannya seharusnya berstatus pembunuhan berencana.”
“Pokoknya deduksinya sangat keren, cukup akurat untuk membantah rumor-rumor yang tersebar.”
Ayaa menoleh ke kursi sebelahnya, menangkap reaksi Villy seolah dapat menebak apa yang dikatakannya dalam monolog. Tidak ada yang spesial. Sepertinya polanya selalu sama dan dia memang sengaja melakukannya untuk menanamkan pandangan itu kepada orang-orang yang mendengarnya—kira-kira begitu.
Villy bertanya lagi, “Terlepas dari itu, pernahkah kalian mempertanyakan tentang bagaimana dia bisa mengetahui semua itu? Maksudku, detektif-detektif (mereka yang selalu menjadi yang terdepan dalam menciptakan berbagai macam teori dan konspirasi alias bergosip) di sekolah kita, kan ada banyak, menurutku agak aneh kalau pendapat Karinn lebih populer dibanding yang lain.”
“Wah, ternyata kau benar-benar penasaran, ya?” Ayaa memiringkan kepalanya, bertanya sarkas pada si sobat masa kecilnya itu.
“Itu benar. Dia salah satunya.” Cindy menunjuk seseorang di sebelahnya, Sherry yang dimaksud sebagai detektif yang ikut menyebarkan kabar angin menurut teorinya.
“Sekarang aku sudah tidak melakukannya lagi. Mengingatnya saja sudah membuatku malu.” Sherry mengaduk-aduk minumannya, tertawa tipis demi mempertahankan harga dirinya agar tidak jelek hanya karena masa lalunya itu. “Jawabannya sesederhana dia (Karinn) bisa membantah semua rumor. Itulah sebabnya walaupun cerita aslinya tidak pernah diketahui, ucapannya banyak dipercaya.”
“Seolah ... dia ada di atas langit dan menyaksikan malam itu,” tambah Rebecca.
Villy terdiam sejenak, berpikir untuk mencerna semua informasi. “Oh ya, kudengar dia bertanya pada polisi. Benarkah itu?”
Keempatnya mengangguk serempak. Lantas dengan jawaban itu pun Villy akhirnya semakin yakin bahwa Karinn tidak dapat semudah itu untuk sembarang bicara dan menipu orang-orang dengan ceritanya. Sebaliknya, gadis itu sejak awal memang sudah berencana membuka mulut dengan tujuan untuk membalikkan keadaan. Benar kata Rebecca, dia seperti tahu dengan pasti apa yang terjadi pada malam itu.
“Aku harus pergi ke toilet.” Kursi Villy berderit, dia bangkit dan pergi begitu meninggalkan makanannya yang baru saja diletakkan di atas meja oleh pelayan.
Kran wastafel terbuka, air bening mengucur deras selama tiga menit. Itu waktu yang cukup lama bagi seseorang untuk mencuci tangan. Villy mengangkat kepalanya, menatap cermin besar di depannya. Tubuh Ayaa yang sedang bersandar pada dinding di belakangnya sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada, terpantul.
“Kenapa kau kemari?” tanyanya.
Ayaa berjalan menghampiri, balik bertanya, “Sejak kapan kau mencurigai Karinn?”
“Aku hanya penasaran.” Villy menjawab tanpa ragu, singkat seperti biasanya.
“Benarkah? Wah, sepertinya kau akan mati.”
Villy menghentikan gerakan mencuci tangannya. Segera ia memicingkan mata pada si sobatnya yang suka asal bicara itu—yang kini menunjukkan wajah datar seolah kalimat barusan bukan hal besar.
Ayaa tetap berdiri santai, percaya diri bahwa tidak ada yang salah dengan ucapannya. Kalimat yang terlontar secara spontan itu tidaklah sesederhana seperti sebuah lelucon sarkastik. Itu semacam pengakuan terselubung bahwa ada sesuatu yang perlahan menghilang dari diri Villy—bagian yang sangat ia kenal. Sikap tak peduli, pandangan datar pada dunia luar, dan kebiasaan menaruh segalanya di luar jangkauan emosinya.
“Kukira kau sedang memikirkan tentang yang terjadi di bioskop. Tapi ternyata kau cepat melupakannya, ya.”
“Apa maksudmu? Di bioskop?”
“Ya, keributan yang kau buat dengan pria gila.”
Villy mematikan kran wastafel, berbalik setengah badan menghadap Ayaa. “Aku tidak.”
Mendapat jawaban di luar dugaan, Ayaa bereaksi bingung. Dia mengernyitkan alis, berusaha memahami situasi sejenak. “Kau tidak ingat?” Dia mengambil dua langkah, berjalan perlahan guna mendekatkan jarak di antara mereka. “Jadi yang di sana itu bukan kau?”
Sebuah sinyal terkirim ke otaknya. Manik mata Villy segera tertuju pada tangan kanan Ayaa yang dimasukkan ke dalam tas, ia tahu benda apa yang sedang dirogohnya itu. “..Berhenti.” Dia menyodorkan telapak tangannya, mencegah Ayaa berjalan sambil mengeluarkan getaran mengintimidasi. “Aku tidak akan mengelak. Aku sama sekali tidak tahu.”
“Ah, lupakan. Yang penting sekarang adalah kau.” Ayaa mengeluarkan tangannya dari dalam tas—mengurungkan niat mengambil suntikan—lalu menepuk kedua bahu Villy. “Tentang Karinn, apa kau sungguhan penasaran dengannya?”
“...Kenapa tiba-tiba kau bertanya?”
“Hanya ... ingin tahu.”
“Kalau begitu, itu urusanku. Rahasia.”
“Sial, kau.”
...• • • • •...
“WAAA!!!” Karinn meloncat sekitar satu meter, lalu kabur ke sembarang arah. Kakinya jingkrak-jingkrak menghantam lantai, mengumpat-umpat pada tembok lantaran bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri secara serempak. Rasa mual yang menyertainya pun tidak kalah membuatnya mabuk hingga tidak bisa lagi diungkapkan melalui kata.
Erica-lah pelakunya. Dia merekomendasikan sebuah film bergenre horor, misteri-kriminal untuk mengisi akhir minggu. Laptop Irene beserta pengeras suara milik Karinn sudah siap di posisi dengan rapi bersama mangkuk popcorn, kentang goreng, dan smoothie. Membayangkan betapa enaknya bersantai dengan kenikmatan sederhana saja sudah dapat membuat hati senang. Untuk pertama kalinya liburan tanpa tugas dan les, ditambah dengan kabar diadakannya acara api unggun pada Permainan Kelompok Asrama malam nanti. Seharusnya hari ini akan menjadi hari yang paling bagus, tapi Erica malah berbuat jahil dengan menyetel film yang ternyata tokoh kejahatannya adalah seorang psikopat kejam. Kedua teman sebayanya yang berpikir, ‘Ah, siang-siang begini tidak akan buat takut. Hantu hanya muncul pada malam hari.’ langsung menjerit dan kabur begitu film dibuka dengan adegan tubuh manusia dihancurkan. Baik senjata tajam maupun darah, semua hal-hal mengerikan terpampang secara nyata persis seperti aslinya—tidak disensor.
“Oi, Erica! Ganti filmnya!!” Irene menggedor-gedor pintu kamar mandi. Dia kabur dan bersembunyi di sana. Karinn yang mendengar jeritan gadis itu, ketakutannya langsung hilang dalam sekejap, tergantikan oleh tawa mengejek.
Erica masih duduk di tempat semula pun juga bereaksi serupa. Tak pernah disangkanya bahwa si gadis garang yang biasanya mengancam dengan berkata 'Kau mau mati?' atau ‘Aku akan membunuhmu!’ dapat takut bahkan sampai kabur dengan melihat adegan kekerasan tidak manusiawi seperti ini.
Irene membuka pintu kamar mandi perlahan-lahan. Kepalanya melongok sedikit, mengintip apakah Erica benar-benar mengganti filmnya atau sebaliknya dia bersekongkol dengan Karinn untuk tertawa mengejeknya. Secepat matanya berkedip sekali, dia langsung tahu, kedua hal yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Erica mengganti filmnya dengan sungguhan, tetapi setiap tangannya bergerak mengetik tools pada keyboard untuk mencari film lain, dia selalu menyambungkan tawa Karinn di sebelahnya.
“Menyebalkan,” batinnya. Dia melenggang keluar dari tempat persembunyiannya dengan wajah berapi-api. Sesaat dia berniat mengambil kemoceng di bawah ranjang Karinn sebagai senjata untuk digunakan menyerang, bantal si pemilik ranjang bergetar pelan. Ada panggilan masuk ke ponselnya.
“Oi, berhenti mengolok-olokku! Ambil ini, Karinn.” Tangan kanannya terulur, memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.
Itu panggilan dari Kean, ayahnya. Karinn tidak langsung menerimanya dan membiarkan sejenak ikon berwarna hijau bergetar. Ia merasakan ada yang aneh. Dia amat tahu, Ayahnya yang berprofesi sebagai pengacara di salah satu firma hukum terbesar di pusat kota itu cukup sibuk dengan pekerjaannya. Hal tersebut membuatnya hampir tidak memiliki waktu untuk mengobrol dengannya, maka sebagai gantinya Kean menyerahkan adik dari mendiang istrinya yakni Riyan sebagai orang yang selalu bisa diandalkan baginya. Karena itulah, Kean hanya punya waktu untuk mengobrol dengan putri semata wayangnya itu saat malam hari. Tetapi kali ini, sang ayah meminta panggilan telepon pada siang hari. Jelas ada sesuatu.
Lantas tanpa pikir panjang, Karinn memacu kakinya dan pergi ke balkon, menjauh dari kedua temannya.
“Bagaimana kabarmu, Rinn?” Suara Kean yang berat terdengar saat Karinn menggeser ikon berwarna hijau.
“Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Ayah.”
Kean bertanya lagi, “Tidak ada yang mencurigaimu, kan?”
“Tidak, justru sekarang ini aku yang sedang mencurigai banyak hal. Omong-omong ada perlu apa Ayah menghubungiku?”
“Um, tidak ada apa-apa. Ayah hanya ingin memastikan kau baik-baik saja di sana.”
“Sungguh? Ah, aku tidak percaya. Sesuatu pasti telah terjadi. Ada apa, Ayah? Katakanlah padaku.” Karinn berbalik badan, mengintip dari balik pintu kaca balkon. Nampak Erica dan Irene sedang berselisih soal film yang akan diputar selanjutnya. “Tidak akan ada yang dengar. Katakanlah, Ayah.”
Kean tak langsung menjawab. Namun sesaat kemudian, dengan suara yang jelas terdengar ragu dia memberanikan diri mengalihkan topik pembicaraan. “Bagaimana hubunganmu dengan wali kelasmu? Apakah kalian cukup dekat?”
“..Ya, mungkin. Kami secara tidak sengaja sering bertemu dan makan bersama. Kami juga banyak membicarakan hal-hal. Belum lama ini, ....”
Selama beberapa saat, Karinn masih terus mengoceh. Tidak sadar dirinya hanyut dalam cerita saking banyaknya momen yang telah terekam di kepalanya. Sementara itu, di sisi lain, Kean hanya menatap kosong kaos kaki yang baru setengah melekat di kakinya. Dia mendengarkan dengan saksama cerita putrinya, namun kemudian lamat-lamat ia kehilangan fokus sampai akhirnya melamun seorang diri.