NovelToon NovelToon
Gadis Hina

Gadis Hina

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:537
Nilai: 5
Nama Author: KheyraPutri

Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikut Sesak

Reina mengangguk dan berjalan terlebih dahulu menuju UGD di mana tadi tempat neneknya berada,iya melihat pak Ujang yang seperti kebingungan.

" Kenapa pak ?" Tanya Reina saat sampai di hadapan pak Ujang.

" Akhirnya kamu datang juga Re,nenek kamu kata dokter sebentar lagi mau di pindah ke ruang operasi."Ucap pak Ujang memberi tau.

" Iya pak tadi aku sudah membayar administrasinya dan di bantu sama kak Bramasta." Ucap Reina melirik Bramasta. Pak Ujang pun langsung melihat ke samping ada teman Reina dan 1 laki-laki.

Bramasta yang merasa di sebut namanya pun maju ke depan dan memperkenalkan diri.

" Kenalkan saya Bramasta pak." Ucap Bramasta mengajak berjabat tangan dengan pak Ujang tanpa sungkan.

" Oh saya Ujang nak suami tetangganya Reina." Jawab pak Ujang menerima uluran tangan Bramasta dengan tersenyum ramah.

Pak Ujang memperhatikan Bramasta dari atas sampai bawah yang penampilannya terlihat seperti orang kaya. Atensi semuanya pun teralihkan saat pintu UGD di buka dan keluarlah nenek Sri yang masih berada di brangkar.

Reina yang melihat neneknya di bawa keluar menuju ruang operasi pun hanya bisa menangis melihat neneknya yang sangat pucat dan menutup matanya.

Rasanya seperti mimpi,baru saja kemarin dia makan malam bersama neneknya dan bercanda di rumah sekarang neneknya terbaring lemah.

Shasa pun mendekati Reina dan merangkulnya sambil mengikuti brangkar nenek Sri menuju ruang operasi.

" Sabar ya Re...kamu harus kuat buat nenek,kita doain sama-sama ya." Ucap Shasa yang terus mencoba menguatkan Reina. Sebenarnya Shasa juga tidak tega saat melihat Reina menangis. Ia juga meneteskan air matanya setiap kali melihat Reina menangis.

Sesampainya di depan ruang operasi semuanya pun berhenti dan menunggu di luar ruangan. Reina yang masih berada di pelukan Shasa pun perlahan berhenti menangis. Entah air matanya yang sudah kering karena habis atau karena sudah terlalu lelah.

Bramasta mendapatkan telpon dari mamanya pasti ia sedang khawatir karena sampai saat ini belum sampai di rumah. Bramasta pun memilih agak menjauh dari tempat duduk dan mengangkat panggilan teleponnya.

' ya ma ?'

' Reina nggak bisa datang ma,nenek habis kena musibah. Saat ini baru masuk ke ruang operasi' jelas Bramasta dengan menghembuskan nafasnya.

' Rumah sakit xxx ma' Jawab Bramasta memberi tau alamatnya pada ibunya. Pasti mamanya akan menyusul ke sini sebentar lagi.

' iya ma hati-hati' Ucap Bramasta lembut lalu menutup panggilan teleponnya dan balik lagi ke depan ruang operasi.

Ia melihat Reina yang sangat pucat dan lemas sepertinya dia belum sempat makan siang. Bramasta memilih keluar dan membeli makanan untuk mereka berempat. Pasti kalau di suruh makan di luar Reina akan menolak jadi Bramasta berinisiatif untuk membelikan makanan dan di bawa ke depan ruang operasi saja.

30 menit kepergian Bramasta pun sudah kembali lagi. Iya membawa 1 kantong plastik makanan.

" Ini makan dulu Re,pak Ujang,Sha." Ucap Bramasta menyodorkan plastik itu di depan Reina.

Reina pun melihat dan agak ragu ingin menerimanya. Namun dia melirik pak Ujang dan Shasa mau tidak mau ia menerimanya.

" Makasih kak..." Ucap Reina yang langsung membuka kantong plastik itu dan membaginya ke pak Ujang dan Shasa. " ini pak Ujang makan dulu,maaf ya pak... Reina sampai lupa kalau sudah waktunya makan siang." Ucap Reina yang merasa tidak enak sudah merepotkan pak Ujang sampai melupakan waktu untuk makan.

" Makasih Re," Ucap pak Ujang menerima 1 kotak makanan dari Reina. Reina pun kembali lagi ke kursinya dan memberikan lagi 1 kotak ke Shasa.

" Ini sha kamu makan dulu pasti kamu laper pulang sekolah terus ke sini." Ucap Reina dengan tersenyum. " Terus punyanya kak Bram mana ?" Tanya Reina yang merasa kalau makannya kurang 1.

" Aku udah makan duluan kok tadi sambil nunggu pesanannya jadi." Jelas Bramasta. " Kamu aja yang makan biar tetap kuat." Ucap Bramasta dengan sedikit bercanda.

" Tapi aku lagi nggak nafsu kak." Lirih Reina sambil melirik pintu operasi.

" Biar aku suapi." Ucap Shasa yang sudah membuka nasinya dan menyendok kan nasi beserta lauknya." Aaaaaa...ayo aaaa Re." Ucap Shasa seperti menyuapi anak kecil.

" Aku bukan anak kecil Sha." Ucap Reina cemberut dengan memanyunkan bibirnya.

" Biarin,biar kamu mau makan." Ucap Shasa yang terus memaksa.

Akhirnya Reina pun mau tidak mau menerima suapan Shasa." Udah aku makan sendiri aja...itu kamu yang makan." Suruh Reina.

" Ok..." Ucap shasa tersenyum karena Reina yang akhirnya mau makan.

Mereka bertiga pun makan dengan hening karena tidak mau mengganggu. Setelah menghabiskan makanannya Shasa dan Reina menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya.

Setelah kembali Reina kembali duduk lagi di kursi yang tadi ia tempati. Sudah 2 jam berlalu namun belum selesai operasinya.

Tidak lama Rita pun sampai di pelataran rumah sakit. Ia langsung saja masuk  ke dalam rumah sakit dan mencari ruang operasi.

" Sayaaaang..." panggil Rita saat menemukan keberadaan Reina.

Reina pun menoleh dan kaget saat mendapati Rita yang berada di rumah sakit.

" Kok Tante tau kalau aku di sini ?" Tanya Reina yang langsung berdiri dan Rita pun langsung memeluknya.

" Tadi Bramasta yang kasih tau nak kalau kamu lagi berada di sini...kamu yang kuat ya nenek pasti baik-baik aja." Ucap Rita lembut. Ia juga tidak bisa menahan air matanya agar tidak lolos,namun meluncur begitu saja.

" hiks...hiks Reina takut Tante... Reina takut" Ucap Reina yang kembali menangis sejadi-jadinya.

Rita terus memeluk dan mengusap punggung Reina yang bergetar hebat karena menangis. Lagi-lagi Bramasta harus menyaksikan Reina menangis,ia juga tidak tega dari tadi dia sudah mati-matian menahan air matanya agar tidak terjatuh namun tidak bisa.

Bramasta memilih pergi keluar sebentar,dia butuh udara segar karena entah kenapa dadanya begitu sesak setiap kali melihat Reina menangis. Ia menuju taman belakang rumah sakit, Bramasta duduk di bangku yang tersedia. Ia bingung, ada apa dengan dirinya, kenapa jadi cengeng seperti ini.

" Sepertinya ada yang salah denganku setiap kali dekat dengannya." Gumam Bramasta dengan memegang dadanya.

 

Operasi pun selesai,dokter keluar dari ruangan dengan masih memakai baju berwarna hijau.

" Bagaimana keadaan nenek saya dok ?" Tanya Reina yang terus berlari bertanya saat dokter keluar. Rita juga ikut menghampiri dokter.

" Operasinya berjalan dengan lancar namun karena benturan yang cukup keras dan sempat menyebabkan ada penggumpalan darah di otaknya kemungkinan nenek kamu sadarnya lebih lama dari perkiraan,kita sudah melakukan yang terbaik. Tinggal yang kuasa yang berkehendak." Ucap dokter menjelaskan.

" Maksud dokter nenek saya kemungkinan akan koma dan entah kapan akan sadar ?" Tanya Reina dengan matanya yang mulai merebak kembali.

" Iya benar seperti itu. Maka dari itu kita hanya tinggal menunggu keajaiban datang." Ucap dokter itu yang sebenarnya juga tidak tega mengatakan namun apapun itu ia harus memberi tau keluarganya.

Badan Reina tiba-tiba saja lemas mendengar penjelasan dokter. Langsung limbung dan jatuh pingsan.

" Sayang... Reina bangun..."

--->>>

1
hanawati sumaharjana
bafhs utk mengusi wkt
hanawati sumaharjana
menarik utk trs diikuti smp tamat nih
Dewi KheyraPutri: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!