NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:152.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Perang yang Dipilih

Are tidak menjawab langsung. Ia menoleh ke arah jendela, menatap gedung-gedung di luar seolah sedang mempertimbangkan seberapa jauh ia harus bicara. Lalu ia kembali menatap Zelia.

“Aku cuma bilang… kamu harus hati-hati dengan permainan ayahmu.”

Kalimat itu terlontar pelan… tapi terasa berat.

Tubuh Zelia langsung menegang. “Ayahku mungkin keras,” katanya pelan, “tapi dia tidak akan menjatuhkan perusahaan yang menopang hidupnya.”

Are menatapnya tanpa berkedip. “Atau mungkin… dia yakin perusahaan itu tetap akan jatuh ke tangannya.”

Detik itu juga Zelia merasa ruangan terasa lebih dingin. Ia terdiam. Sesuatu di dalam dadanya seperti terusik… tapi ia menolaknya.

“Itu terlalu jauh,” katanya, meski nadanya tak sekuat tadi.

Are tidak memaksa. Ia hanya berkata pelan. “Instingku jarang salah.”

Sunyi kembali menyelimuti ruangan.

Zelia menatap dokumen di tangannya… tapi pikirannya sudah tidak lagi fokus pada angka, keraguan kecil mulai merayap di sudut hatinya.

Bagaimana kalau… semua ini memang bukan kebetulan?

Are melangkah mendekat sedikit. “Kalau ini memang permainan,” katanya pelan, “maka langkah berikutnya pasti bukan cuma gugatan.”

Zelia menelan ludah pelan. “Apa maksudmu?”

Tatapan Are berubah dalam. “Seperti prediksimu, mereka akan mencoba menjatuhkanmu di rapat direksi.”

Zelia terdiam. Ia benar-benar merasa seperti sedang berdiri di tengah medan perang.

Ia menatap Are, napasnya sedikit lebih berat dari biasanya. “Apa ada cara agar aku bisa keluar dari jebakan ini?”

Are terdiam beberapa detik. Tatapannya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di sana, seperti sedang menimbang setiap kemungkinan.

“Ada.”

Satu kata itu dilontarkan pelan… tapi langsung membuat jantung Zelia berdetak lebih cepat. "Apa?"

Are memutar tablet sedikit ke arahnya. “Klausul penalti ini hanya berlaku jika pelanggaran terjadi tanpa sebab force majeure… atau tanpa pelanggaran etika serius dari pihak kedua.”

Zelia mengernyit pelan. “Maksudmu?”

Are menatapnya langsung, tatapannya dalam dan penuh arti.

“Artinya,” katanya tenang, “kalau pihak kedua terbukti melakukan pelanggaran etika yang berdampak pada kerja sama… maka dasar gugatan mereka otomatis melemah.”

Zelia terdiam beberapa detik, mencerna.

Tatapannya perlahan berubah, seperti seseorang yang mulai melihat celah di dinding yang sebelumnya tampak solid.

Are melanjutkan dengan suara rendah.

“Dalam kasus seperti ini, yang menang bukan yang paling keras menekan… tapi yang punya sesuatu untuk dibuka di waktu yang tepat.”

Jantung Zelia berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena panik. Tapi karena mengerti. Detik itu juga sesuatu seperti cahaya kembali muncul di mata Zelia.

“Jadi gugatan ini…”

“Bisa kita balik,” potong Are.

Zelia menatap Are lama, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum lega… tapi senyum seseorang yang baru saja melihat jalan keluar dari medan perang, dan kemenangan sudah mulai berpihak padanya.

“Kamu sadar nggak,” katanya pelan, “kalau kamu baru saja menyelamatkan posisiku lagi?”

Are hanya menatapnya datar. “Aku cuma membaca kontrak.”

Namun tatapan mereka bertahan beberapa detik terlalu lama. Hingga akhirnya Zelia berdiri, merapikan blazer-nya. Aura panik tadi lenyap, digantikan ketenangan dingin yang tajam.

“Kita lihat siapa yang sebenarnya melanggar,” katanya pelan.

Are memerhatikannya dengan tatapan samar. Kali ini, Zelia terlihat benar-benar seperti CEO. Bukan karena jabatannya… tapi karena ia siap berperang.

Namun ketegangan itu pecah seketika.

“Are, aku makin suka padamu!” seru Zelia tiba-tiba sambil melompat memeluk lehernya.

Are hampir kehilangan keseimbangan karena serangan mendadak itu. Refleks, tangannya langsung memeluk tubuh Zelia agar tidak jatuh.

Wajah mereka begitu dekat. Terlalu dekat.

Jantung Are berdetak sedikit tidak nyaman. Ia menghela napas pelan, berusaha mengendalikan diri.

"Mulai lagi sifat kekanak-kanakannya," gerutunya dalam hati. "Apa dia tidak tahu… dia hampir merobohkan dinding yang kubangun bertahun-tahun?"

Namun sudut bibirnya tetap tertarik tipis.

“Kau mau terus seperti ini,” katanya rendah, “atau berangkat ke kantor menyelesaikan masalah?”

Zelia akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, turun dengan bantuan Are. Bibirnya mengerucut.

“Kau selalu merusak kebahagiaanku,” gerutunya.

Namun sesaat kemudian matanya kembali berbinar penuh semangat.

“Ayo. Kita tunjukkan pada mereka… nggak mudah jatuhin aku.”

Tanpa permisi, ia kembali memeluk lengan Are dan menariknya pergi.

Dan seperti biasa… tidak ada tepisan. Tidak ada penolakan. Are hanya melirik lengannya yang dipeluk, lalu menghela napas pelan.

***

Ruang rapat utama dipenuhi ketegangan yang hampir terasa secara fisik.

Semua kursi terisi. Laptop terbuka. Dokumen berserakan. Tak ada yang berbicara sebelum Zelia masuk.

Atyasa duduk tenang di kursinya. "Aku ingin lihat bagaimana bocah ingusan itu mengatasi masalah ini," batinnya sinis.

Zelia melangkah masuk dengan tenang seperti biasa, meski semua mata langsung tertuju padanya. Are melangkah satu langkah di belakangnya dengan wajah datar dan aura wibawa yang tak bisa disembunyikan.

Zelia duduk di kursi utama tanpa terburu-buru. Are berdiri di belakangnya seperti bayangan kokoh yang siap menopang jika ia goyah.

“Mulai,” kata Zelia singkat.

Direktur legal langsung berdiri, wajahnya tegang. “Pagi ini kita menerima gugatan resmi dari pihak Fero Group. Mereka menuduh kita melanggar klausul eksklusivitas pada perjanjian kerja sama lima tahun.”

Ruangan langsung dipenuhi bisik pelan.

Direktur strategi menambahkan, “Mereka juga menuntut penalti sebesar tiga puluh persen dari nilai proyek berjalan… dan meminta pembekuan kontrak baru sampai sengketa selesai.”

Beberapa direksi terlihat pucat. Angka itu bukan kecil. Itu bisa mengguncang arus kas perusahaan.

Zelia tidak langsung bicara. Ia hanya menyilangkan jari di atas meja, wajahnya tenang… terlalu tenang.

“Apakah kita melanggar?” tanyanya datar.

Direktur legal menarik napas. “Secara teknis… mereka menggunakan celah klausul interpretasi eksklusivitas. Secara hukum ini bisa diperdebatkan, tapi prosesnya bisa panjang dan melelahkan.”

“Berapa kemungkinan mereka menang?”

“Jika hakim konservatif… empat puluh persen.”

Ruangan makin sunyi.

Itu angka yang cukup untuk membuat investor gelisah.

Atyasa tersenyum samar, nyaris tak terlihat. Tapi Are menangkap itu.

Direktur keuangan akhirnya bicara dengan hati-hati. “Jika proyek dibekukan, dampaknya ke reputasi dan kepercayaan pasar bisa signifikan.”

Semua menunggu reaksi Zelia. Namun ia hanya tersenyum tipis.

“Jadi dia memilih perang.” Tidak ada emosi dalam suaranya. Hanya kepastian. Ia menatap satu per satu direksi. “Mereka terlalu meremehkan kita. Kalau begitu... Kita serang balik,” katanya tegas.

Semua orang di ruangan itu saling lirik.

Direktur legal angkat bicara. “Caranya?”

Zelia berdiri pelan, aura kepemimpinannya terasa memenuhi ruangan.

“Pertama, kita siapkan tim hukum terbaik. Saya mau semua dokumen kontrak ditinjau ulang. Cari semua celah… termasuk potensi konflik kepentingan.”

Direktur legal mengangguk cepat.

“Kedua, komunikasi ke investor harus segera disiapkan. Tidak boleh ada kepanikan.”

Direktur komunikasi mencatat cepat.

“Ketiga…”

Zelia berhenti sejenak. Matanya sedikit menyipit. “Kita audit internal semua transaksi yang berkaitan dengan Fero selama lima tahun terakhir.”

Beberapa direksi langsung saling pandang.

Itu langkah agresif.

Direktur strategi bertanya pelan, “Apakah Anda menduga ada sesuatu?”

Zelia tersenyum tipis. “Kalau dia mau bermain kotor… kita pastikan dia tidak punya tempat untuk berdiri.”

Ruangan kembali hening.

Aura dingin kepemimpinan yang jarang terlihat kini terasa jelas.

Atyasa sempat terkejut dengan reaksi tenang dan tegas Zelia. Are bisa melihatnya.

Lalu Atyasa akhirnya bicara. “Bagaimana kalau tak ada celah dalam kontrak kerja sama itu?”

 

...✨“Kalau dia memilih perang… aku pastikan dia tidak keluar sebagai pemenang.”...

...“Dia hampir merobohkan dinding yang kubangun bertahun-tahun… hanya dengan satu pelukan.”...

...“Aku tidak percaya kebetulan. Terutama dalam bisnis… dan pengkhianatan.”✨...

.

To be continued

1
Pa Muhsid
ob bawa rujak cingur dan bajigur beuh mantep
Pa Muhsid
buset si otor pintar banget ya main perasaan pembaca
Pa Muhsid
kata aku are itu penguasa yang berputar haluan karena kondisi
anonim
Zelia sudah menemukan kebahagiaan yang lama telah hilang kini mempunyai keluarga utuh. Ada suami, anak, Papa walaupun mertua, Ibu yang juga mertua.

Are juga menemukan kebahagiaan, menikah dengan gadis yang pernah menyelamatkan dirinya.

Pradana juga bisa bernapas lega. Tidak Putranya tidak meninggalkan dirinya. Putranya tidak lagi sendiri.

Dan mempunyai penerus keluarga.

**Terima kasih Author, cerita yang bagus dengan ending sempurna. Sehat selalu, penuh Berkat dan RahmatNYA🙏🏻👍🏻👍🏻💖
anonim: Amiiin. Sama-sama kembali kasih Mbak Nana 🙏🙏
total 2 replies
anonim
Mereka berdua ini seakan-akan lupa akan dosa-dosanya. Perbuatan mereka sangat kejam terhadap Zelia.

Sudah hidup nyaman. Rumah. Uang. Fasilitas. Semua dari Ibunya Zelia.

Mereka tidak tahu diri. Menjebak Zelia. Berniat mengambil semua yang Zelia miliki. Dan hampir membuat Zelia kehilangan anaknya.

Kini Desti dan Dian harus menerima konsekuensinya. Kehilangan segalanya bahkan sudah tidak memiliki harga diri lagi karena ulah mereka sendiri.
anonim
Are sudah berada di gedung Angkasa Group.

Desti dan Dian menurunkan harga diri mereka dengan berlutut di depan Zelia.

Desti minta maaf pada Zelia. Pengakuan yang di buat-buat. Sudah terlambat. Hampir merenggut nyawa Zelia dan anak dalam kandungannya.

Dian apa lagi. Pengakuan yang di buat-buat menurut versinya sendiri.

Intinya mereka berdua sudah tidak punya apa-apa, minta dikasihani.
anonim
Are menyiapkan tempat dan modal awal untuk buka bengkel sebagai ucapan terima kasih pada Jaka yang tidak memilih pergi malam itu.

Masa depan Jaka jadi jelas.
anonim
Dian dan Desti menerobos masuk kantor Angkasa Group.

Desti menepis tangan Satpam yang menghadang.

Zelia mendengar suara gaduh dari lobby.

Typo Author, Bu Desti dan Nona Dian. Staf-nya keliru sebut yang mana Ibu yang mana anak.

Zelia akan menemui mereka.
anonim
Are menghubungi Jaka memastikan apa yang dilihat Jaka malam itu. Apa Jaka yakin ?

Yakin seratus persen dan Jaka siap jadi saksi.

Are kembali mengusut peristiwa yang dialami Wina. Bukti-bukti dikumpulkan.
Berkas diserahkan ke kantor polisi.

Nama Viola disebut secara resmi.

Viola tidak datang ketika ada pemanggilan. Melarikan diri.

Tidak lama Viola ditemukan.

Viola masuk sel.

Are menemuinya.

Viola - semua yang dilakukan karena tidak mau kehilangan Are.
anonim
Jaka teman Are tidak sengaja melihat berita dari ponselnya.

Video yang dilihat menampilkan wajah seorang wanita.

Tiba-tiba muncul di ingatannya. Jaka memastikan apa yang dilihat.

Peristiwa malam kecelakaan yang terjadi pada Wina terlintas di benaknya.

Jaka fokus kembali ke layar.

Wanita itu yang menabrak Bu Wina waktu itu. Jaka yakin sekali.

Jaka menghubungi Are lewat ponselnya.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Wina memberi kabar kalau Zelia sudah diperbolehkan pulang.

Are mengajak pulang.
Dan mengatakan pulang ke rumah kita. Aku, kamu, anak kita, papa dan Ibu.

Zelia melamunkan kehidupan di masa lalunya. Sampai ditanya Are - kenapa melamun.

Akhirnya Zelia pulang dengan jemarinya menggenggam lengan Are.
anonim
Semalam Zelia bisa tidur nyenyak lagi dalam pelukan Are.

Walau masih marah, Zelia tidak pergi menghindar dari Are.

Pagi hari Are bangun duluan. Zelia masih terlelap. Are memberikan kecupan singkat di pipi Zelia.

Are yang sudah dengan pakaian rapi siap berangkat ke kantor.

Are menatap Zelia yang masih meringkuk, lalu memberi kecupan di keningnya.

Are pamit ke kantor.
anonim
Malam hari Zelia siap untuk tidur. Mata sudah terpejam.

Merasa ada pergerakan di sisinya.

Are yang merindukan istrinya dan ingin dekat dengan anaknya.

Zelia tidak suka, didorongnya bahu Are. Are tidak bergeser sedikitpun.

Lengan Are melingkar di pinggang Zelia. Zelia mencoba melepaskan diri, tidak bisa.

Akhirnya Zelia tidak menolak pelukan dari Are. Sejatinya Zelia tidak benar-benar ingin menjauh.
anonim
Are kembali ke rumah sakit. Yang ada di ruang rawat cuma Wina. Zelia di kamar mandi.

Wina di suruh istirahat, Are yang jaga Zelia.

Are membuka pintu kamar mandi - Zelia kaget pastinya.

Zelia telanjang bulat. Are suaminya gitu loh. Di suruh keluar.

Are juga mau mandi.

Are mode merayu. Dipraktekkan apa yang dikatakan manajernya waktu itu 😄. Sayangnya Zelia masih marah
anonim
Zelia mau pulang. Merasa bosan. Juga tidak ingin meninggalkan tanggung jawabnya terlalu lama.

Are sudah menempatkan orang-orangnya di kantornya Zelia.

Yang satu pingin kembali. Yang satunya ingin di sini, di sisinya.

Pradana datang ke ruang rawat Zelia. Ingin mengetahui kondisi Zelia.

Zelia mengatakan - sudah lebih baik. Akan pulang. Kembali ke kehidupannya.

Zelia bicara panjang lebar tentang kehidupannya. Semua yang dibicarakan orang-orang, Zelia utarakan.

Pradana juga bicara panjang lebar. Bicara jujur, yang awalnya menolak karena apa yang ada di belakang Zelia.

Pradana juga minta maaf atas kejadian kemarin pada Zelia dan menyebut dirinya "Papa" untuk Zelia.

Are dan papanya sudah bicara banyak. Tinggal Zelianya maunya bagaimana lagi setelah mendengar itu semua.
anonim
Veyron gerak cepat atas instruksi yang diberikan Are.

Satu persatu orang-orang yang berada di malam itu mulai jatuh.

Are mengeluarkan pernyataan resmi terkait putusnya kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Viola.

Semua akses di tutup.

Ayah Viola menyadari, sudah tidak punya langkah lagi.
anonim
Are terbangun. Aksi kecil penuh perhatian ia lakukan pada Zelia.

Are kesiangan. Berjalan cepat ke kamar mandi.

Zelia membuka mata. Dia merindukan Are. Tapi rasa kesalnya masih menggunung 😄.

Are pamit ke kantor - tak ada respon dari Zelia.

Are mengecup kening Zelia. Zelia tidak menghindar.

Zelia menyentuh keningnya, bekas kecupan.
anonim
Benar-benar nyaman tidur nyenyak pasangan suami istri, sampai Veyron ketuk pintu, tetap tidak terbangun.

Pilihan Veyron bijaksana. Dia pergi tanpa membangunkan.

Zelia terbangun. Hangat dalam pelukan Are - mata masih terpejam. Zelia hampir menolak keberadaan Are. Tangannya hendak mendorong dada Are. Belum sadar kalau Are yang memeluknya.

Zelia membuka mata - baru sadar Are yang memeluk dalam tidurnya.

Zelia membiarkan dirinya dalam pelukan Are. Kembali memejamkan mata. Pura-pura masih terlelap.
anonim
Zelia tidur nyenyak dalam pelukan Are.

Perawat dan Wina mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar perawatan.

Wina memberi isyarat pada perawat untuk diam ketika ingin bicara.

Wina berbisik pada perawat untuk membiarkan mereka tidur sebentar. Anak dan menantunya akhir-akhir ini kurang istirahat.

Mereka keluar, pintu ditutup pelan.
anonim
Malam hari Zelia sudah terlelap.

Are dengan hati-hati naik ke ranjang pasien.

Are merebahkan diri di sisi Zelia. Dengan ragu menarik tubuh Zelia ke dalam pelukannya.

Respon Zelia bagus tanpa sadar tubuhnya mencari posisi yang nyaman.

Walau Zelia marah, bawah sadarnya pasti merindukan pelukan Are.

Are mendekap Zelia lebih erat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!