Seorang mahasiswi yang harus rela menikah dengan brondong.
Karena kejadian yang tidak mengenakkan. Di grebek warga saat di toilet. Dan menjadikannya harus menikah di saat itu juga.
Dia yang sudah berumur 21 tahun semester VI dan dengan terpaksa harus menikah dengan brondong 18 tahun. Masih SMA kelas 3.
Bagaimana kelanjutannya...?
Pantengin di sini ya??
Makasih sudah mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
.
.
.
Berkat ojol, Nesa sudah sampai di halaman kampusnya. Nesa mencari para sohibnya itu. Mila dan Nita sama-sama belum menampakkan batang hidungnya. Hingga satu orang yang kini tengah menghampirinya. Nesa sempat mematung sesaat kemudian langsung tersadar. Saat Nesa ingin kabur, tapi sepertinya terlambat. Aris lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Aris, apa yang loe lakuin?? Lepaskan tanganku Ris..." pinta Nesa sambil meronta-ronta.
"Gue gak akan lepasin loe Sa. Loe udah nipu gue, loe harus membayarnya," balas Aris tersenyum licik.
"Gue gak nipu loe Ris... ini semua dadakan!! Jadi gue, belum bisa jujur ama loe."
Aris tak memerdulikan perkataan Nesa. Dia terus menyeret Nesa sampai ke halaman belakang kampus.
"Aris lepasin!!!" Nesa berusaha menepis tangan Aris tapi gak bisa.
"Loe harus jadi milik gue Sa. Harus!!!" ucap Aris dengan wajah memerah penuh emosi.
"Loe gila Ris, loe harus sadar. Gue ini udah nikah." Mata Nesa mulai berkaca-kaca. Dia tak menyangka kalo Aris mempunyai kepribadian lain.
"Gue bisa ngrusak rumah tangga loe Sa. Lagian Jo itu masih bocah. Tipe loe juga bukan." Aris terus menampilkan senyum jahatnya.
"Gue mohon jangan lakuin itu Ris," mohon Nesa, air matanya sudah mengalir dengan derasnya.
Nesa jadi menyesal pernah dekat dengan Aris. Bagaimana jika ucapan Aris itu benar?? Apa yang akan Nesa katakan pada ayahnya?? Bisa-bisa leher Nesa digorok. Apalagi pak Wahyu sahabat karibnya pak Bambang, bisa bikin malu nama keluarga nantinya.
Nesa harus mengatakan ini semua pada Jo. Ya nanti, kalau Aris telah mengancamnya. Nesa berharap Jo mempercayainya nanti.
"Kalo loe ingin rumah tangga loe aman, ikuti semua kata-kata gue."
Nesa hanya menatap sendu dan mulai mendengarkan semua perkataan Aris.
''Loe harus jadi kekasih gue Sa.," ucap Aris dengan mata yang berkilat-kilat tajam.
"Loe gila Ris, itu gak mungkin. Gue gak mau nyelingkuhin Jo," tolak Nesa dengan nada yang tinggi. Nesa sudah berjanji akan menjadi istri yang baik. Tapi sepertinya cobaannya silih berganti.
"Loe gak mau apa alasannya heh???"
"Alasannya adalah Jo suami gue, gue sayang sama dia," jujur Nesa. Ya Nesa sudah mulai nyaman saat berada di sisi Jo. Tresno jalaran soko kulino itu memang benar adanya. Terbukti Nesa sudah mulai sayang karena sudah terbiasa dengan hadirnya Jo di sisinya.
"Ck, gue gak perduli. Loe mau jadi pacar gue atau----"
"Atau apa??" potong Nesa penuh emosi.
"Gue bakal nyakitin Jo, gue bakalan bikin Jo cacat. Apa loe mau??"
"Hah??? Loe sakit Ris, loe sakit jiwa," tandas Nesa yang terus menangis sambil menahan amarahnya.
"Gue gila karena elo. Loe sudah nipu gue, PHP in gue, dan ini akibatnya. Kalo loe gak mau, gue bakalan buat Jo cacat sekarang! Loe pilih yang mana? Pacaran sama gue tapi hubungan kalian akan aman. Atau loe pengen Jo cacat dan gue baru akan pergi dari hidup loe," balas Aris dengan segala kegilaannya.
"Loe keterlaluan Ris. Apa loe gak mikir, kalo loe bakal jadi selingkuhan gara-gara ini. Dimana harga diri loe sebagai laki-laki hah??? Dan gue gak ingin ngeduain suami gue lagi."
"Ohh, jadi loe mau Jo cacat seumur hidup nya hah???"
"Gak!! Gak, gue gak mau."
"Kalo gitu mulai sekarang kita pacaran. Gue gak perduli sekalipun gue jadi selingkuhan loe. Gak punya harga diri pun gue gak papa demi milikin loe," ucap Aris tersenyum devil sambil memeluk tubuh Nesa pada akhirnya. Sebelum pelukan itu terjadi. Nesa sudah mendorong tubuh Aris, jijik.
***
Hari ini Jo pulang seperti biasanya yaitu jam 7 malam. Pekerjaannya hari ini begitu melelahkan, mungkin memeluk tubuh Nesa akan membuatnya rileks. Dengan langkah terburu-buru Jo melangkah ke parkiran, guna mengambil sepeda motornya.
Perjalanan pulangnya kali ini terasa begitu lama. Biasanya kurang lebih 15 menitan. Tapi ini memakan sampai 25 menit.
Jo menekan bel pintu apartemennya. Tak lama kemudian Nesa membukakan pintunya.
"Assalamu'alaikum istri..." Jo berucap salam sambil menyunggingkan sebuah senyuman termanisnya.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Nesa tersenyum getir. Ancaman Aris membuatnya tak berdaya saat ini. Bahkan rasa ingin jujur kepada Jo juga tak bisa.
Jo melihat raut perubahan dari wajah Nesa. "Kamu kenapa? Sakitt?" tanya Jo perhatian. Tadinya Jo ingin memeluk istrinya, tapi melihat Nesa yang pucat. Niat itu ia urungkan.
Nesa menggeleng lemah. Berusaha bersikap senormal mungkin. Dia akan berusaha menjadi istri yang baik dan harus menjalankan tugasnya. Toh, Aris juga bukan siapa-siapa. Keberadaannya hanyalah ancaman bagi Nesa.
"Kamu capek kan?? Mending kamu bersih-bersih dulu. Aku siapin makan malam," ujar Nesa dan Jo langsung berjalan menuju kamar pribadinya.
***
"Kamu kok kayak gak semangat sih? Katanya mau ngajarin aku rumus matematika?" tanya Jo heran, karena sedari tadi Nesa melamun dan hanya membolak-balikkan buku catatan matematika yang ada di tangannya.
Nesa menatap Jo sebentar. Kehadiran Jo sangat berarti dalam hidupnya. Apa iya Nesa harus bersikap seperti itu?? Apa mungkin dengan hamil akan menyelamatkan segalanya ya?? Fikir Nesa dalam hati. Ya mungkin hamil akan membuat Aris menjauhinya.
"Jo," panggil Nesa.
"Hmmm iya."
"Aku pengen hamil???" ucap Nesa spontan.
"Hah!!!!?????" Jo menganga lebar tak percaya. Jo aja baru mengerti tentang ciuman masih kemarin. Lagi pula Jo tak ingin melakukannya buru-buru, dia belum lulus. Bahkan Nesa juga belum lulus dengan kuliahnya.
Jo ingin melakukan itu dengan caranya sendiri. Maksudnya, melakukannya dengan cinta dan terutama tanpa ada paksaan agar semuanya lebih mudah dan berkah. Pekerjaannya juga lancar, dan segera punya rumah sendiri. Harapan Jo.
"Mendingan kamu 'isyak an dulu Nes. Biar tenang. Aku takut kamu bakalan kenapa-napa," titah Jo sambil meraih buku yang di tangan Nesa.
Nesa menggeleng lemah. "Itu nanti, sekarang aku pengen hamil Jo. Lakukan itu Jo. Laksanakan hakmu," pinta Nesa dengan suara yang bergetar.
Jo bingung harus bagaimana. Untung pak Wahyu tidak ada. Jadi setidaknya perdebatan ini akan aman bagi mereka.
"Kamu kenapa Nes? Kalo ada masalah, ayo cerita sama aku," titah Jo. Tapi Nesa tetep bersikukuh dengan pendapatnya yang ingin segera hamil.
Lagi-lagi Nesa menggeleng. Apa iya dia harus cerita. Gak, Nesa gak mau sekolah Jo berantakan gara-gara ini. Biarkan Jo nyelesain UN nya dulu, barulah nanti Nesa akan bercerita semuanya.
"Gak apa, kamu belajar aja dulu. Aku mau sholat terus bobok," dusta Nesa pada akhirnya, sambil berusaha tersenyum.
Nesa tak mengajari Jo lagi. Dia langsung sholat dan setelahnya, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sekaligus otaknya. Sedang Jo terus mengerjakan soal-soal latihan. Dia berharap mendapatkan nilai yang bagus saat UN nanti.
***
Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta itu memang sudah tumbuh di antara mereka. Tapi belum ada yang mau mengutarakannya.
Hari ini adalah hari terakhir di mana Jo melakukan UN nya. Semua berjalan lancar, tapi tak selancar hubungan mereka.
Pasalnya dalam sebulan ini, dengan terpaksa Nesa harus menerima tawaran, Aah tepatnya tawaran sekaligus ancaman dari Aris. Ya Nesa menduakan Jo sang suaminya.
Nesa mengotak-atik laptopnya. Dia malas jika tiap ke kampus hanya berduaan saja dengan Aris gila. Setengah hati dia melakukan ini demi Jo. Nesa juga gak tahu bagaimana rumahnya tangganya nanti jika Jo tahu semuanya. Cukup sebulan ini Nesa hati-hati menjalani hubungan gelapnya.
Ingin sekali Nesa jujur pada Jo. Tapi rasanya masih sulit, jika si Aris terus mengawasinya. Hidupnya jadi semakin kacau gara-gara kenal dengan seorang psiko.
Tapi Nesa juga gak mau berlarut-larut menyakiti Jo. Mungkin lebih baik dia akan bercerita nanti.
"Sayang." Itu suara Aris. Setelah memutuskan menjalin kasih secara sepihak itu. Dengan seenak jidatnya Aris memanggil Nesa dengan sebutan sayang. Bahkan Jo belum pernah memanggilnya sayang.
"Bisa gak sih jangan panggil gitu lagi," tandas Nesa emosi.
"Kenapa?? kita ini pacaran Sa. Apa loe lupa hmm....???" Aris selalu menggunakan kata-kata itu sebagai ancaman. Nesa gak kuat lagi harus begini terus. Menjijikkan.
Lebih baik dia menceritakan semuanya pada Jo. Dan pindah tempat kalau perlu.
"Cukup Ris, cukup!! Gue saranin loe cari wanita lain." Kepala Nesa selalu nyut-nyutan jika tiap hari bertemu dengan wajah Aris yang gila tak tahu malu itu.
"Gue maunya cukup loe, mendingan kita ngantin aja. Gue mau beliin pacar gue sesuatu. Yok sayang." Dengan tak tahu dirinya Aris menggenggam tangan Nesa. Membawa Nesa ke dalam kantin.
Tanpa mereka berdua sadari. Ada seseorang dari jauh telah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Karena suasana kampus yang begitu ramai, jadi agak sulit bagi Nesa untuk melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Sudah di next lagi ya...
Karena kalian rajin ngevote, author juga rajin nge up nya... matur thank you
DN OTHOR SNANG BANGET BUAT CERITA KONFLIK YG GK HABIS2
BETUL KATA JO, KLO GK ADA YG JAWAB SAJA