Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Satu Minggu telah berlalu, beberapa murid akademi yang sudah memiliki hewan kontrak mereka sendiri bisa berisi lebih awal di tenda masing-masing, sedangkan yang belum mendapatkan hewan kontrak harus tetap tinggal didalam hutan.
Begitulah yang dilakukan Rosetta dan Caily, sedangkan Vione yang sudah diketahui telah memiliki hewan kontrak oleh pihak akademi segera dipanggil menghadap kepala akademi, karena yang Vione dapat termasuk ras peri paling langka, sehingga itu mungkin masih dirahasiakan.
Disisi lain rombongan Alisa yang beristirahat dibawah pohon memandang takjub pada Alisa yang kini berlatih bersama hewan kontraknya, bahkan beberapa profesor dan murid akademi datang kehutan hanya untuk melihatnya berlatih.
"Wah, dewi keberuntungan kita memang beda, lihatlah hewan legendaris itu!" Bisik salah seorang gadis bangsawan.
Teman-temannya mengangguk antusias, sedangkan para pria mengelilinginya dan terus mengajaknya mengobrol.
Tiga pangeran yang mengawasi dibelakangnya memandang tajam pada kumpulan pria yang sedang mencari perhatian dari Alisa.
Namun melihat Alisa tampak senang dan bahagia akhirnya mereka memilih diam dan tetap mengawasi saja.
Sedangkan dilain tempat namun masih didalam hutan yang sama.
"Masih belum dapat?" Tanya Caily dengan wajah lelahnya.
"Gak tahu lah." Balas Rosetta dengan malas.
Dia melirik kearah buku ramalan miliknya.
"Apa gak bisa buatin gue hewan kontrak?" Tanyanya santai meskipun masih ragu.
"Hewan kontrak? nilai amal kamu aja belum cukup buat buka sepotong ramalan, malah minta hewan kontrak." Balas sistem itu dengan sinis.
"Terus gue harus apa? mau sebulan tinggal disini?" Keluh Rosetta sambil mendudukkan dirinya dibawah pohon untuk berteduh.
Caily memutar bola matanya namun ia juga melakukan hal yang sama, duduk didekat Rosetta.
"Dah lah cari lagi." Ujar Rosetta yang dengan malas bangkit dan kembali menelusuri hutan.
Caily mengikutinya dari belakang, keduanya celingukan menatap kesegala arah.
Rosetta menunjuk kearah barat.
"Ada goa kecil disana."
Keduanya segera pergi ke goa itu dan melangkah masuk dengan pencahayaan seadanya.
Anehnya semakin mereka melangkah masuk, lorong goa itu semakin terasa mengecil dan panjang.
Hingga tidak lama setelahnya, cahaya kecil yang semakin terang terlihat diujung sana.
Dengan langkah hati-hati, keduanya mendekati cahaya itu.
"Anj!-"
Caily membekap mulut Rosetta dengan cepat saat gadis itu dirasa akan berteriak dengan keras.
Keduanya memandang takjub sekaligus ngeri pada apa yang saat ini mereka lihat.
Didepan sana, seekor serigala besar yang amat sangat besar tengah berbaring dengan santai.
Ukurannya menyerupai seekor gajah bahkan mungkin lebih besar lagi.
Rosetta mundur dengan hati-hati agar tidak mengganggu hewan itu.
Dipertengahan lorong dirasa sudah jauh, Caily berbisik dengan rasa ingin tahu.
"Itu serigala?"
Rosetta menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, matanya melirik kearah buku ramalannya dan seketika matanya membelalak karena terkejut.
"Apa?!" Tanya Caily dengan suara tertahan.
"Itu Fenrir!" Balas Rosetta sambil menoleh kebelakang, dimana ujung goa itu kembali terlihat gelap.
"Fenrir? kenapa bisa ada disini? dia hewan legendaris, kan?" Caily bertanya-tanya dengan wajah bingungnya.
"Saat ini dia mungkin sedang lemah, dia dewa penjaga gunung yang sedang lemah karena miasma yang ada digunung." Jelas Rosetta yang membaca alur yang baru saja tertulis dalam buku.
Caily menarik lengan Rosetta sehingga keduanya berhenti berlari.
"Kalau begitu, kita ada peluang buat bisa taklukin dia dong?"
Rosetta terdiam sejenak.
"Tapi itu Fenrir, selemah apapun dia, kita masih dibawah dia." Dan itu ada benarnya sehingga Caily mengangguk menyetujui kata-katanya.
"Tapi seenggaknya ada cara lain, kan?" Caily kekeh karena merasa ada sesuatu tentang hewan itu.
Rosetta dengan ragu mengangguk dan keduanya segera kembali ketempat hewan itu.
Fenrir yang tertidur tampaknya terbangun karena hawa keberadaan mereka berdua tercium oleh indra penciumannya.
Hawa disekitarnya terasa semakin berat dan mencekam.
Rosetta yang bersembunyi dibalik bebatuan menahan napasnya.
Caily yang berada jauh dibebatuan lain pun juga melakukan hal yang sama.
Fenrir itu menambah auranya hingga hawa disekitar goa terasa lebih berat dan dingin, Rosetta membuangnya napasnya karena merasa sesak.
Ia yang sedikit bisa melakukan sihir berusaha melindunginya dirinya sendiri dengan aura tipis yang membungkusnya, namun Caily yang bahkan tidak punya mana sedikitpun tentu tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
Napasnya pendek dan tersengal-sengal, sesak dan menyakitkan semakin terasa saat Fenrir itu melepas auranya lebih banyak lagi.
Caily jatuh tersungkur dengan wajah yang semakin membiru, lehernya terasa tercekik seolah seluruh pasokan oksigen di paru-parunya menipis.
Rosetta yang tidak sengaja melihatnya tidak tahu harus melakukan apa, dia semakin panik saat Fenrir itu menoleh dan melirik kearah tubuh Caily yang terbaring ditanah.
Saat hewan itu akan mendekatinya, Rosetta mengangkat batu dengan ukuran yang lumayan besar dan melemparnya kearah hewan itu, setidaknya batu itu jatuh tepat pada kaki hewan legendaris itu dan cukup membuatnya nyeri meskipun hanya sesaat.
Namun kesempatan sekecil itu tentu saja tidak dilewatkan oleh Rosetta, gadis itu segera berlari dan menyeret tubuh Caily dengan susah payah.
Akan tetapi gerakan lambatnya tentu saja diketahui oleh hewan itu, ekornya bergerak dan mengibas kedua gadis itu hingga terpental menabrak dinding goa dengan keras.
Bahkan Caily yang kondisinya sudah sekarat malah semakin sekarat, ia terbatuk keras sampai segumpalan darah keluar dari mulutnya dan jatuh ke tanah.
Rosetta masih mempertahan auranya sendiri sehingga hal itu tidak menimbulkan luka yang serius pada tubuhnya.
Tapi ia hanya bisa mengangkat batu besar itu dengan kekuatan fisiknya, jika ia menggunakan sisa mananya dan mengarahkan kemampuan sihirnya langsung pada hewan itu, bisa dipastikan dia tidak akan bertahan lama.
Dan satu-satunya cara adalah melawan dengan kemampuan fisik saja.
Dia berlari memutari tubuh hewan itu sambil menghindari serangan, setelah melempar batu besar kearah Fenrir, dia segera bersembunyi dibalik bebatuan guna menghindari serangan balik.
Tidak disangka serangan balik yang Fenrir lakukan malah mengenai Caily yang masih terbaring tidak berdaya ditanah, gadis itu bahkan hampir tidak bisa mempertahankan kesadarannya dan ia muntah darah lagi.
Rosetta semakin gelisah, aura ditubuhnya semakin menipis, dan ia segera mengambil keputusan terakhir yang entah setelah ini akan bisa menolongnya atau tidak.
Dia mengumpulkan mana diseluruh tangannya dan mengarahkannya pada sekumpulan batu besar, batu-batu itu terangkat karena aura sihir yang Rosetta arahkan.
"Kali ini, selamatkan aku!" Bisik Rosetta sambil mengibaskan tangannya.
Batu-batu itu terbang kearah Fenrir itu, berjatuhan seperti air hujan dan jatuh menghujani tubuh Fenrir itu.
Sang bewan legendaris yang dilemahkan oleh miasma itu mengerang, ia mengibaskan ekornya dengan kasar hingga membuat dinding goa retak.
Rosetta yang kehabisan mana segera mendekati Caily dengan tenaga fisiknya, menyeret Caily dengan susah payah.
Akan tetapi Fenrir yang mengamuk tidak membiarkan keduanya pergi, ekornya mengibas kembali dan langsung diarahkan pada Rosetta dan Caily.
Keduanya kembali terpental menabrak dinding goa dengan keras, Caily bahkan merasakan tulangnya retak dimana-mana.
Rosetta yang baru saja mendapatkan serangan tanpa aura mana yang melindunginya terbatuk keras.
Matanya terbelalak saat melihat Fenrir itu mencakar punggung Caily hingga darah segar menyembur keluar begitu saja.
Saat Rosetta ingin bangkit, ia kembali terjatuh.
Saat ia melihat kearah kakinya, ternyata kakinya terjepit diantara bebatuan besar.
Tidak, bukan hanya pergelangan kakinya, tapi setengah dari tubuhnya terjepit diantara bebatuan besar yang runtuh karena amukan hewan legendaris itu.
"Sialan! berhenti kau!" Teriak Rosetta dengan tatapan tajam pada Fenrir itu.
Tapi hewan itu tidak peduli dan hanya terus mencakar tubuh Caily hingga beberapa seragam akademinya terkoyak.
Seluruh tubuhnya bahkan sudah berwarna merah karena dinodai oleh darahnya sendiri.
Namun yang tanpa diduga siapapun, Caily masih mempertahankan kesadarannya dengan paksa, ia menggigit bibirnya sendiri hanya untuk tetap tersadar.
Sesuatu dalam dirinya terasa bergejolak hingga membuatnya ingin muntah.
Saat ia terbatuk keras, segumpal darah hitam keluar dari mulutnya dan jatuh ketanah.
Saat ia mendongak dan menatap lurus pada mata sang hewan legendaris, hewan itu sedikit tersentak pelan, bahkan cakarnya berhenti bergerak dan sedikit mundur.
Mata merah Caily memudar, yang awalnya merah pekat seperti batu Ruby, kini hampir seperti berwarna merah muda.
"Berhenti kau, sialan!" Gumam Caily disela-sela napasnya yang pendek.
Yang secara tidak terduga, hewan itu benar-benar mundur seolah mendengar bisikan tajamnya.
Telinganya bergerak gelisah, ekornya melambai dengan lambat bahkan hampir berhenti bergerak.
Rosetta yang kini secara diam-diam menyingkir bebatuan yang menindihnya segera bangkit dan berlari kearah hewan itu.
Matanya terbelalak melihat kepatuhan hewan itu, saat ia melirik buku ramalan, ia terperangah sampai tercengang ditempatnya.
Buku ramalan menyebutkan jika hewan itu tengah berada dibawah kuasa Caily, yang artinya gadis itu telah membangkitkan kekuatan dalam dirinya, itu tidak berupa elemen sihir, tapi itu adalah kekuatan yang bisa membuat hewan yang bahkan sekelas Fenrir pun patuh padanya.
Rosetta tersentak pelan saat mendengar Geraman tertahan dari hewan itu, tampaknya Fenrir sedang berusaha melawan tekanan yang Caily arahkan padanya.
Tubuhnya bergetar halus dan otot diwajahnya menonjol yang menandakan jika hewan itu benar-benar sedang berusaha.
Rosetta tersadar, ia ragu tapi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan besar itu.
Ia berlari dan memanjat tubuh Fenrir, hewan itu tampak semakin bergetar saat merasakan jika Rosetta ingin merencanakan sesuatu pada dirinya.
Benar saja, gadis itu menggigit ujung jarinya lalu menempelkan setetes darahnya didahi hewan legendaris itu.
Cahaya samar muncul dan keduanya kini memiliki aura yang sama.
Rosetta berhasil mengambil kesempatan itu dan menjadikan Fenrir sebagai hewan kontraknya.