Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Niko??
*
*
Taksi online tiba di depan rumah Sofia. Perempuan itu segera turun setelah memberikan uang pembayaran kepada sopir. Sofia menghela napasnya dalam, dia berdiri sejenak menatap rumah sederhana yang sepuluh tahun ini dia tinggali bersama keluarganya.
Teriakan nyaring terdengar dari teras. Dygta menyambutnya dengan suka cita, seperti biasa. "Mama!!" gadis cilik itu menghambur ke pelukan Sofia yang segera menciumi kepalanya tanpa henti.
Anak itu!! Selalu ekspresif seperti dirinya.
Matahariku, cahaya hidupku, kekuatanku!! gumamnya dalam hati. Kemudian mereka masuk kedalam rumah.
Sofia merebahkan tubuh semampai nya di tempat tidur, dua kakinya terjuntai kebawah. Memejamkan matanya sebentar, namun kemudian mengerjap. Lalu bangkit. Merogoh ponsel pintarnya di dalam tas, menghidupkannya. Membuka aplikasi chat.
Perempuan itu menatap foto profil sebuah kontak. Satria. Terpampang jelas wajah rupawan dengan stelan jas rapi berkacamata hitam tengah berdiri di sebuah anjungan dengan latar laut dan gunung dibelakangnya.
Satria Nikolai Mahardika. Mulut itu mengucapkan namanya berulang-ulang sambil mengusap layar. Memperbesar tampilan agar terlihat lebih jelas.
Siapa kamu sebenarnya?
Sofia memejamkan mata, otaknya berusaha keras mengingat nama itu, tapi dia gagal. Tak ada yang dia kenal dengan nama itu. Tidak satupun orang terkenal dengan nama itu.
Sofia segera menggeser layar ponsel, menekan aplikasi pencari di google, dan mengetikkan nama itu. Mesin pencari tengah bekerja.
Satu menit.
Tiga menit.
Tanda panah di sisi kanan terus berputar. Ketika berhenti tanpa hasil, Sofia menekannya kembali dan tanda itu berputar lagi. Hingga tiga kali perempuan itu mencoba di mesin pencari namun hasilnya nihil. Dia melempar ponselnya keatas kasur.
Tak ada satupun orang terkenal dengan nama itu. Tak selebritis, tokoh terkenal ataupun pengusaha. Pria itu memang benar-benar misterius.
Tapi sepertinya dia orang penting. Dari sikap dan dari cara orang-orang menghadapinya sepertinya dia bukan orang sembarangan. Apa dia ...
Sofia menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin!!
Perempuan itu mengusap wajahnya kasar. Rasa putus asa mulai menjalari hati. Pikirannya tak mampu mengingat apapun.
Oh, dia benci keadaan ini!!
Satria Nikolai Mahardika. Kembali dia mengucapkan nama itu. Matanya terpejam.
Satria, ....
Nikolai, ...
Mahardika ...
Nikolai...
Nikolai...
Nik-ko
"Niko?" gumamnya, seketika matanya terbuka.
Tidak mungkin!!
Kembali, Sofia meraih ponselnya. Membuka aplikasi dan menatap layar. Profil Satria masih terpampang jelas.
"Benarkah itu kamu?" gumamnya, terus menatap wajah tegas itu di layar.
Jantungnya berpacu cepat, keringat menetes di keningnya. Tangannya bahkan bergetar ketika memegang ponsel di tangannya.
Jika benar ini kamu, ugh ... betapa bodohnya diri ini!! batin Sofia.
Perempuan itu melirik jam dinding, pukul 7 malam. Menatap lagi kontak yang terpampang di layar. Pria itu sedang online.
Sofia ingin meyakinkan dirinya, namun dia ragu. Apakah ini benar atau hanya kebetulan saja?
Apakan Satria adalah kak Niko nya atau hanya nama tengahnya saja yang kebetulan sama?
Kedua tangannya bergetar, dengan ragu Sofia mengusap layar, mengetik pesan di aplikasi chat, namun kemudian menghapusnya, begitu terus hingga beberapa kali.
Ketik
hapus
ketik
hapus
Hingga saat dia hanya diam menatap layar. Dia tak berani menghubungi pria itu, ingat pesannya. Jangan pernah menghubungi nya sekalipun, tunggu dia yang menghubungi.
Tulisan berwarna hijau terpampang dibawah nomor kontak Satria.
Satria sedang mengetik ...
[Fia?] pesan dari sana.
Dada Sofia terasa bagai meledak. Tangannya kembali bergetar.
[Fia?] masuk pesan lagi.
Sofia masih tertegun. Membaca pesan tanpa berniat membalasnya, dia bingung.
[Sofia!!!] Satria tak sabar, pesannya di baca namun tak di balas.
[Iya?] balasan pendek dari Sofia.
[Ada apa?] akhirnya dia bertanya.
[Papi masih kerja?] Sofia balik bertanya.
[Saya sudah pulang. Saya dirumah.] jawabnya, pelan.
Sofia diam lagi.
[Ada yang penting?] tanya Satria lagi.
Sofia tak berniat membalas. Dilemparnya ponsel itu ke tengah tempat tidur, kemudian dia merebahkan kepalanya. Dia bingung harus mulai darimana. Apakah langsung bertanya atau bagaimana. Lalu apakan di akan menjawab, atau bagaimana?? yang terpenting, jawaban apa yang akan dia terima? apakan seperti keinginannya ataukah tidak ??
Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring, membuat Sofia terkejut. Tampak nama dan foto profil Satria yang terpampang di layar. Sofia bangkit.
Lama perempuan itu tertegun hingga ponselnya berhenti berbunyi. Namun sedetik kemudian benda itu berbunyi lagi. Masih tetap di abaikannya. Hingga di dering kelima, Sofia memutuskan untuk menjawabnya.
"Fia?" suara dari seberang. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya, terdengar khawatir.
Sofia tak menjawab, hanya memejamkan matanya. Menikmati debaran keras di dada. Namun ada sesuatu yang seperti menghalangi tenggorokannya. Sakit dan sesak.
"Sofia?" Satria memanggil lagi.
Sofia menghela napasnya pelan.
"Kak Nik-ko?" kata itu lolos dari mulutnya.
Hening.
Orang diseberang tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya helaan napas yang terdengar.
"Kak Niko? Benarkan itu kamu?" Sofia lagi, mencoba meyakinkan.
Masih hening.
Sofia mulai terisak. Tetesan air lolos dari sudut matanya.
"Katakan kalau itu kamu! Katakan kalau aku tidak salah mengenali kamu." Sofia dalam tangisnya.
Tetap hening.
"Katakan kalau aku tidak cuma berharap lagi seperti dulu." lanjut Sofia, dengan isakan lirih.
"Ya. Ini aku. Niko." jawab dari seberang.
Ponsel di genggaman Sofia lolos begitu saja dari tangannya. Jatuh membentur lantai hingga pecah berserakan. Napasnya kian tersengal, air mata terus mengalir tanpa mampu di bendung.
Segala rasa menggulung batinnya Terkejut, bahagia, marah, bingung, ... Semuanya bercampur menjadi satu.
*
*
Satria baru saja sampai dirumah setelah menyelesaikan dokumen terakhir dikantornya sore itu. Sejenak dia merebahkan tubuh tingginya di sofa ruang tengah dengan mata terpejam.
Hening.
Seorang ART setengah baya menghampirinya membawa segelas air putih di nampan.
"Silahkan, pak." menaruh gelas di meja didepan sofa.
"Terimakasih, bi." katanya, seraya meraih gelas tersebut dan segera meneguknya hingga tandas.
"Ibu sudah pulang?" Satria menanyakan keberadaan istrinya yang memang terbiasa tak ada dirumah saat dirinya pulang. Tapi sore itu mobil istrinya sudah terparkir rapi di garasi.
"Ibu ada dikamar, pak." jawab perempuan itu, menunjuk arah kamar dengan ibu jarinya.
"Oh, ... tumben.?" Satria agak terkejut.
Perempuan itu meraih gelas kosong dimeja, kemudian pamit dari hadapan majikannya.
Satria terdiam. Tak biasanya Lara ada dirumah saat jam-jam seperti ini. Biasanya perempuan itu masih berada diluar bersama teman-teman sosialitanya hingga malam menjelang. Berbelanja, makan-makan di restoran, atau nongkrong di kafe. Atau juga pergi ke salon untuk merawat tubuh dan wajahnya.
Satria memutuskan untuk masuk kedalam kamar, berniat membersihkan diri. Didapati Lara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan bathrobe yang menutupi tubuh semampai nya.
"Kamu sudah pulang?" wajahnya terlihat sumringah. Segera menghampiri suaminya yang baru saja masuk. Mengulurkan kedua tangannya, memeluk Satria dengan hangat. Lalu mengecup sudut bibir suaminya yang tertutup rapat.
Pria itu mengernyit heran.
"Kamu ada dirumah." jawabnya, semacam pertanyaan.
"Hmm .. aku pulang tadi siang." jawab Lara, mengendurkan rangkulannya. Wajah mereka kini berhadapan.
Satria masih menatap heran.
Lara kemudian menurunkan tangannya, membuka kancing jas milik Satria. Lalu membantu melepaskannya dari tubuh tegap suaminya itu.
Pria itu berjalan ke sofa di bagian lain kamar mereka, kemudian duduk. Tangannya sibuk membuka kancing di pergelangan kemeja nya. Tanpa diduga Lara bersimpuh di lantai, berusaha melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Satria.
"Kamu mau apa?" Satria dengan dahi yang masih mengernyit. Heran dengan tingkah laku istrinya yang tak seperti biasanya.
"Melepaskan sepatu kamu." jawabnya, yang telah berhasil melepaskan sebelah sepatu dan kaus kaki di kaki suaminya.
"Tidak usah." Satria menolak dengan pelan, walau kenyataannya kini Lara sudah berhasil melepaskan kedua sepatu dari kakinya. Dan menggantinya dengan sepasang sandal rumahan.
Lara kemudian bangkit, dan tersenyum. Berjalan kearah kamar mandi. "Aku siapkan airnya dulu." katanya.
Satria menatap punggung istrinya yang menghambur kedalam kamar mandi. Semenit kemudian keluar lagi, "Airnya sudah siap kalau kamu mau mandi sekarang." katanya lagi.
Tanpa banyak kata, Satria segera memasuki kamar mandi. Wangi aroma lavender langsung menguar begitu dirinya masuk. Terlihat bathub yang dipenuhi air berbusa yang masih mengepulkan asap tipis. Satria segera menenggelamkan tubuh tingginya di bathub berbusa tersebut. Berendam selama beberapa menit. Memejamkan matanya, menikmati aroma yang menguar dari dalam air, membuat tubuhnya rileks.
Satria merasakan ada yang merayap di pundaknya. Dia membuka mata, menoleh ke arah pundak dan mendapati dua tangan dengan jari-jariyang lentik tengah menyusuri pundak lebar nya. Satria mendongak. Tampak wajah cantik Lara tengah tertunduk di atas kepalanya.
Satria terkesiap, kemudian bangkit dan menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Lara.
"Kamu mau apa?" Satria yang kemudian berangsur menjauh.
"Aku cuma ... ingin memanjakan suamiku." jawab Lara, yang berjalan mendekat.
Satria turun dari bathub, segera mencapai ruang berbilas di sisi lain kamar mandinya, dan menyalakan shower, membersihkan tubuhnya dari sisa busa yang masih menempel.
Lara menatap nanar tubuh telanjang suaminya yang baru dia sadari tampak begitu menggoda. Dia menelan ludahnya kasar. Selama ini dia sibuk memikirkan kekurangan Satria yang tidak perhatian dan terlalu sibuk dengan dunia kerjanya.
"Keluarlah, aku mau mandi." Satria setengah berteriak. Namun istrinya masih berdiri disana.
Lara malah melepaskan bathrobe yang masih dikenakannya, dan berjalan menuju ruang berbilas tempat suaminya sedang membersihkan diri.
Memeluk tubuh tinggi Satria dari belakang, membuat pria itu kembali terkesiap.
"Lara?" Satria membalikkan tubuhnya.
"Aku rindu ..." bisiknya, menatap sayu wajah basah Satria yang dialiri air hangat dari shower diatasnya kepalanya.
Kedua tangannya merayap ditubuh suaminya, mencoba menyentuh Satria dengan lembut. Namun Satria buru-buru menahan gerakan tangan itu, melepaskannya dari tubuhnya. Mematikan shower, kemudian keluar dari ruang berbilas. Menyambar bathrobe yang menggantung di capstock, dan segera keluar. Menghindar.
Lara memejamkan mata, mengepalkan dua tangannya di kedua sisi tubuhnya. Napasnya berhembus pelan, menahan amarah dan hasrat yang tertunda.
*
*
Bersambung ....
like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭