NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Tahta dan Tawanan

POV Elleta

Aku menepikan mobil asal-asalan di pinggiran Jakarta. Entah di mana, aku tidak peduli. Yang aku tahu, paru-paruku butuh oksigen yang bebas dari bau-bau kemewahan rumah Steve, juga bebas dari tekanan rencana pernikahan gila ini. Di sini, udaranya agak mendingan, kontras banget dengan hatiku yang rasanya mau meledak.

Begitu kakiku menginjak rumput basah di tepi danau, rasanya agak adem. Sampai masuk ke alas sepatuku. Sedikit bisa nenangin api di dadaku. Sengaja kumatikan GPS mobilku. Untuk pertama kalinya sejak mendarat di Jakarta, aku cuma ingin hilang. Menjadi Elleta yang biasa saja, bukan Elleta Clarissa Crassia si pion catur keluarga.

Aku tidak mau kelihatan rapuh, tapi bayangan Daniel terus-terusan mengganggu. Rasa bersalah itu datang lagi, berat dan bikin sesak. Sepuluh tahun di California bersamanya itu lama banget. Satu dekade penuh tawa, kopi pagi yang selalu sama, dan mimpi-mimpi yang kami susun rapi di sepanjang pantai Santa Monica.

Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, aroma parfumnya, dan semua rencana masa depan yang sekarang hancur lebur, berantakan kayak kaca dipukul palu.

Aku jalan mendekati air. Masih cukup pagi, dan suasananya sepi banget pas buat nangis tanpa perlu merasa malu. Sejak balik ke Jakarta, dadaku rasanya kayak diikat kencang. Kutatap cincin di jari manisku. Ini bukan dari Daniel, tapi dari laki-laki yang hampir tidak kukenal.

Aku tersenyum kecut. Ada rasa tidak terima yang berontak di dalam hati, rasanya ingin kabur saja sejauh mungkin. Tapi setiap kali niat itu muncul, wajah Papa yang makin tua langsung kebayang. Ini bentuk baktiku, atau lebih tepatnya, harga yang harus kubayar demi label anak penurut.

Danau ini kelihatan tenang, tapi aku tahu aku tidak pernah benar-benar bebas. Aku masih ada di dalam radar Steve. Laki-laki gila itu tidak akan membiarkan investasinya lepas begitu saja.

Benar saja, ada bayangan hitam di sudut mataku, merusak pemandangan damai ini. Seorang pria berpakaian safari hitam berdiri tidak jauh dari tempatku, menatapku dingin. Dia mendekat dengan langkah kaku khas militer.

"Nona, Tuan Steve meminta Anda untuk segera pulang," ucapnya tanpa ekspresi.

Aku memutar bola mata jengah, mengusap sisa air mata dengan kasar. "Apa bosmu itu enggak bisa kasih aku waktu sehari aja? Aku butuh napas, bukan perintah!"

Bzzzt!

Suara HT di pinggang pria itu memecah keheningan. Dan dari sana, suara berat yang sangat kukenal terdengar, penuh kuasa yang tidak bisa dibantah. "Bawa Elleta pulang sekarang!"

Suara Steve terdengar kayak guntur. Kelihatan banget dia lagi menahan amarah, bahkan lewat radio pun rasanya ketahuan. Mau tidak mau, aku menurut. Aku jalan gontai ke mobil, sepanjang jalan tidak berhenti menggerutu dan menyumpahi pria yang merasa dirinya tuhan atas hidupku itu.

Begitu sampai di rumah, pemandangan pertama yang menyambutku adalah sedan hitam milik Steve yang sudah terparkir rapi. Kelihatan angkuh, kayak lagi nungguin mangsa.

Tanpa memberiku waktu buat sekadar cuci muka, Steve langsung menarik lenganku, menyuruhku masuk ke mobilnya. Agenda hari ini: fitting.baju pengantin. Sebuah kalimat yang terdengar kayak vonis mati buatku.

Di dalam mobil, suasananya mendadak canggung dan berat. Laki-laki di sampingku ini bersikap seolah-alih kami sudah kenal lama, padahal pertemuan formal kami baru hari Sabtu kemarin.

Dia duduk tegak, auranya dominan banget sampai memenuhi kabin mobil. Apa dia memang searogan ini? Atau ini cuma caranya menutupi fakta kalau dia juga terpaksa? Tapi melihat wajahnya yang datar-datar saja, sepertinya dialah si pemegang kendali di sini.

Mobil berhenti tepat di depan Camelia Boutique, tempat yang cuma didatangi orang-orang kaya Jakarta. Steve turun duluan, dan di luar dugaan, dia membukakan pintu untukku. Perlakuan manis itu bikin wajahku agak panas. Aku berusaha keras memasang muka datar biar dia tidak kegeeran.

"Mari masuk, Elleta. Kita selesaikan urusan gaun hari ini agar jadwal lainnya tidak terganggu," ajak Steve dengan nada tegas, persis kayak lagi bahas kontrak bisnis. Aku cuma mengangguk pelan dan mengekor di belakangnya.

Di dalam, bau mawar dan kemewahan langsung menusuk hidung. Seorang wanita paruh baya yang dandanannya rapi banget menyambut kami dengan senyum profesional.

"Selamat datang, Tuan Steve. Suatu kehormatan bagi kami," sapa wanita itu.

"Saya sudah melihat katalog desainnya. Tolong pakaikan gaun-gaun pilihan saya ke wanita ini," perintah Steve tanpa basa-basi.

Pemilik butik langsung kembali membawa gantungan berisi deretan gaun putih yang menyilaukan mata. Steve mulai memilah satu per satu dengan teliti. Aku cuma berdiri diam, merasa kayak manekin yang lagi didandani untuk sebuah pertunjukan sandiwara besar.

"Coba yang ini," kata Steve sambil menyodorkan sebuah gaun tanpa melihatku.

Aku membawanya ke ruang ganti dengan hati mendung. Begitu kain sutra itu melekat di tubuh, aku langsung cemberut. Bagian punggungnya terbuka rendah banget sampai ke pinggang. Bukan gayaku sama sekali.

Aku keluar dan langsung menggeleng tegas. "Aku tidak suka. Ini terlalu terbuka. Aku tidak mau masuk angin di hari pernikahanku sendiri."

Steve tidak membantah, dia cuma memberi kode ke pelayan butik. "Oke, ganti."

Dia memilihkan gaun kedua dengan model bahu terbuka off-shoulder. Aku masuk ke ruang ganti lagi, tapi kali ini aku malah kesulitan mengancingkannya. Bagian perutnya kencang sekali. "Ini sesak banget. Aku tidak bisa napas, gimana mau senyum di depan tamu nanti?" keluhku pas keluar lagi.

Setelah mencoba beberapa model yang melelahkan dan bikin moodku makin hancur, mataku tidak sengaja melihat sebuah gaun yang digantung agak terpisah.

Gaun itu punya detail rumbai halus di bagian bahu dengan potongan punggung yang sopan tapi elegan. Sederhana, tapi berkelas. Pas dicoba, ada perasaan pas yang muncul. Ini satu-satunya hal yang terasa benar sejak aku menginjakkan kaki di kota ini.

Aku jalan keluar dari ruang ganti pelan-pelan. Steve, yang tadinya sibuk main hp mungkin lagi ngurusin bisnisnya mendadak diam.

Hp-nya masih di tangan, tapi matanya terkunci ke arahku. Dia menatapku tanpa berkedip, seolah-olah dia baru sadar kalau wanita di depannya ini manusia asli, bukan sekadar pelengkap kontrak.

"Gimana? Aku suka modelnya, nyaman juga di kulit," kataku memecah keheningan yang mulai terasa aneh.

Steve masih diam. Keheningan itu berlangsung beberapa detik terlalu lama.

"Steve! Bagus tidak?" ulangku agak keras.

Dia tersentak kecil lalu berdehem, berusaha mengembalikan wibawanya. Tapi aku sempat melihat kilasan aneh di matanya, dan ujung telinganya agak memerah. "Ya... bagus. Cocok untukmu," jawabnya pendek. "Saya ambil yang ini. Tolong kirim ke rumah saya segera."

"Baik Tuan Steve. Sekalian dengan setelan jas yang kemarin sudah di fitting, ya?" tanya pemilik butik dengan nada riang karena dapat komisi besar.

"Ya, semuanya."

Aku balik ke ruang ganti untuk pakai bajuku sendiri. Ada rasa aneh yang muncul di hati kalau ingat cara Steve menatapku tadi. Itu bukan tatapan ke tawanannya. Ada sesuatu yang lebih dalam, kayak ada rasa kagum.

Tapi, bayangan Daniel di California langsung lewat lagi kayak alarm pengingat. Daniel itu rumah, sedangkan Steve adalah penjara—meski penjaranya dilapisi emas dan dihiasi gaun mahal.

Aku keluar dari butik, berjalan di belakang punggung lebar Steve. Aku masuk lagi ke dalam sedan hitamnya, menuju masa depan yang walaupun kelihatan mewah, tetap saja terasa abu-abu dan tidak pasti.

Di tengah jalanan Jakarta yang mulai macet, aku menyadari satu hal: aku tidak lagi berjalan menuju pernikahan, aku lagi berjalan menuju babak baru dalam hidupku, di mana aku harus belajar bernapas di bawah kendali orang lain.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!