Kisah yang menceritakan perjalanan hidup seorang gadis yang tinggal di panti asuhan, Qinan namanya. Qinan adalah putri yang terbuang dan dibesarkan di panti asuhan. Kemudian Qinan diasuh oleh janda yang mempunyai satu anak.
Dipanti asuhan Qinan mempunyai sahabat lelaki dan perempuan yang bernama Tiara dan Zio. Qinan harus berpisah dengan sahabatnya karena mereka diasuh oleh orang tua angkatnya masing masing. Namun nasib Qinan berbeda dari sahabatnya, Qinan harus menghadapi konflik batin yang bertubi tubi dan Qinan harus merelakan kebahagiannya untuk menggapai impiannya. Hingga harus merelakan cita citanya demi membalas budi orang tua asuhnya. Meski berat, Qinan tetap mengabulkan permintaan ibu asuhnya untuk menikah dengan lelaki tampan dan kejam yang bernama Angga Wilyam. Meski Angga banyak dikagumi oleh wanita wanita cantik namun Angga tidak meresponnya. Angga tetap pada pendiriannya wanita hanya mencintai harta dan tahta bukan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Angga
Dipagi hari sinar mentari yang memancarkan cahaya dibarengi dengan kehangatan dan memasuki celah celah kamar membuat tubuh terasa lebih sehat.
Qinan menyibukkan diri untuk berkemas kemas karena akan ada pertemuan penting di Perusahaan. Sedangkan Angga pun tidak kalah sibuknya untuk memilih baju kerja nya. Qinan dibuat kaget, tidak seperti biasanya bahkan selama menikah tidak pernah melihat Suaminya memakai baju kerjanya.
"Suamiku, mau berangkat ke Kantor? " tanya Qinan dengan heran.
"Kenapa kalau aku berangkat ke Kantor, Apakah aku memalukan? atau... kamu malu mempunyai suami seperti ku," jawab Angga dengan tatapan sinis.
"Aaah, bukan itu maksudku, tetapi apa kamu yakin mau pergi ke Kantor? takutnya nanti kamu di bully bagaimana? aku sih tidak masalah dan tidak merasa malu jalan dengan siapapun dengan keadaan apapun,cuman aku takut ketika ada seseorang yang memojokkan mu lalu kamu akan jauh lebih dalam untuk menyendiri." Jawab Qinan gugup.
"Aku siap dengan mental ku yang sekarang, jadi kamu tidak perlu mengakhatirkan aku. Kamu cukup ada didekatku itu sudah cukup." Ucap Angga meyakinkan.
Sedangkan Qinan merasa bingung dengan sikap Angga padanya, padahal dulu sebelum menikah dan baru menikah seperti tidak bisa bertahan dirumah Suaminya. Sikap kasar dan tuduhan yang kasar pula membuat Qinan menjadi sosok yang kuat, mesti menyakitkan. Fikir Qinan.
"Baiklah sekarang aku bantu kamu memakai baju kalau kamu ingin ikut bersamaku pergi Ke Perusahaan. Tapi sebelumnya kita sarapan terlebih dahulu, karena sepertinya Papa sedang menunggu kita di meja makan." Jawab Qinan.
Angga pun pasrah dan nurut dengan apa yang akan Qinan lakukan, karena dengan cara ini lah agar Angga bisa segera sembuh. Angga sudah cukup lelah jika harus terus menerus mengurung diri didalam rumah. Fikir Angga.
Selesai sudah Qinan memakaikan baju ke Angga suaminya dan mengajaknya untuk sarapan bersama Ayah nya.
Angga sudah mulai terlihat cerah diwajahnya dan sudah tidak menunjukkan sikap dingin dan angkuhnya didepan Istri maupun Ayah nya. Tapi bukan berarti rasa cinta itu sudah tumbuh namun Angga hanya saja tidak ingin membuat Ayah nya menjadi cemas akan kelumpuhan nya dan juga rumah tangganya. Fikir Angga.
"Sepertinya Papa merasakan sesuatu yang membahagiakan," ucap Tuan Wilyam dengan senyum.
Sedangkan Qinan hanya senyum manis, karena bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayah mertua,namun tidak bagi Angga, justru Angga berani menjawab dengan santai.
"Tentu saja pa, karena mulai hari ini Angga juga akan masuk kerja, Angga tidak ingin terus terusan berada dalam kamar, Angga ingin merasakan suasana yang seperti dulu lagi, meski keadaan Angga seperti ini, Angga harus bisa," Jawab Angga.
"Papa bangga pada kamu Nak," kamu mau merubahnya. Kalau bukan kamu sendiri yang merubahnya lantas siapa lagi," ucap Tuan Wilyam.
"Siapa lagi kalau bukan Qinan, Pa? " jawab Angga sambil melirik kearah Qinan, sedangkan Qinan jadi salah tingkah.
"Terimakasih Nak Qinan," kamu benar benar bisa merubah putraku jauh lebih baik dari sebelumnya, kehadiran kamu di rumah ini membawa segi positif dan sangat baik, ditambah Perusahaan Angga kini jauh lebih berkembang sejak kamu yang mengelolanya, Papa tidak sia sia menjadikanmu sebagai menantu Papa," ucap Tuan Wilyam dengan perasaan haru.
"Tidak perlu berlebihan memuji Qinan pa," Qinan hanya menjalankan sebagaimana mestinya menjadi seorang istri." Jawab Qinan dengan perasaan malu.
"Sudah pa.. jangan mengobrol terus, nanti sarapannya tidak nikmat loh," sahut Angga. Qinan maupun Ayah Angga hanya senyum sambil mengambil sarapan masing masing.
Perasaan tenang dan damai kini Ayah Angga benar benar merasakannya, sikap Angga yang dulunya sangat Dingin kini mulai melunak.Meski didalam fikiran Ayah Angga masih sedikit mengganjal soal hubungan Putranya dengan Qinan menantunya. Apakah benar benar menjalani hubungannya dengan baik atau hanya pura pura didepan Ayah nya. Fikir Tuan Wilyam dalam benaknya.
'Semoga kalian benar benar menjalani hubungan pernikahan kalian dengan baik.
Dan tidak ada lagi kebohongan untuk Papa.' Gumam Tuan Wilyam.
Selesai Sarapan kini Qinan berpamitan dengan Ayah mertua untuk berangkat kerja, dikarenakan Kuliah Qinan telah selesai tinggal menunggu wisuda, maka waktu luang Qinan disibukkan dengan bekerja Di Perusahaan milik Suaminya. Dan Angga pun tidak kalah sibuk nya untuk berangkat ke Perusahaan, disisi lain Angga ingin melihat perkembangan Perusahaannya sejak Qinan yang mengelolanya.
"Pa... Qinan berangkat dulu ya pa," ucap Qinan pamit.
"Angga juga ya pa.. Angga juga ingin berangkat ke Perusahaan." Ucap Angga menimpali.
"Hati hati untuk kalian berdua," jawab Tuan Wilyam.
Qinan dan Angga mencium punggung tangan Ayah nya untuk berpamitan, dan mereka berdua berangkat bersamaan untuk pergi ke Perusahaan, tidak ada rasa canggung maupun sikap dingin dari Angga untuk bertanya maupun mengobrol.
Kini tibalah Angga dan Qinan di Perusahaan, Qinan mendorong kursi roda yang diduduki Angga dan semua karyawan menunduk dan memberi hormat kepada keduanya yang tidak lain adalah Bos Besar nya. Semua tertuju menatap Angga dengan rasa tidak percaya melihat kondisi Bos nya yang memprihatinkan.
Semua karyawan tidak ada yang berani berkomentar mengenai keadaan Bos nya, karena jika ketahuan berani membicarakan,maka harus siap menerima konsekuensinya.
Angga memasuki ruangan kerjanya yang dimana sudah ditempati oleh Qinan Istrinya, Angga mencoba membuka pemasukan pada Perusahaannya, kedua bola mata Angga terpenganga melihat hasil kinerja Istrinya sungguh diluar dugaan. Angga yang menilai istrinya hanya pekerja sebagai pelayan, tidak lebih dari pekerja buruh biasa. Fikir Qinan.
'Benar kata Papa, Qinan benar benar gadis pekerja keras, pintar dan cerdas. Ternyata aku salah menilainya, aku kira hanya sebatas karyawan Ferdi, Pantas saja dia kuliah dengan jalur prestasi. Begitu juga dengan Vino begitu tertariknya ingin mendekati Istriku. Ciih... kenapa aku jadi kesal mengingat Vino, Menyebalkan.' Gumam Angga.
"Suamiku," Hari ini aku ada pertemuan dengan pemilik Perusahaan ViJaSa, aku tinggal sebentar tidak apa apa, kan? " ucap Qinan lembut.
Sedangkan Angga mengepalkan tangannya serasa ingin melempar tinjuannya ketika mendengar nama Perusahaan ViJaSa. Namun Angga sadar tidak ada yang akan mendapatkan tinjuannya.
Qinan pun kaget melihat ekspresi Angga seraya ingin menerkam mangsanya.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk mengikuti rapat, dan sekarang panggil sekretaris Zein untuk menggantikanmu." Ucap Angga Kesal.
Sedangkan Qinan bingung dengan penuturan dari Angga Suaminya yang tiba tiba melarangnya untuk rapat.
"Tapi kenapa aku tidak diizinkan untuk ikut dalam pertemuan dengan Pihak Perusahaan ViJaSa, " jawab Qinan heran.
"Sudah ku katakan aku melarangmu, apa kamu tidak mendengarkanku? hah...!" ucap Angga.
"Baik lah, aku akan segera memanggil sekretaris Zein." Jawab Qinan dengan heran.
Galuh apa vino....