NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: gustinara

Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21 PERJANJIAN

Adakah pernikahan yang salah satunya tak merasakan cinta?

Mungkin ada.

***

"Tu-tuan belum tidur?" Ucap Luna tergagap saat bertatapan dengan suaminya.

"Saya kebangun aja. Abis dari kamar mandi" ucapnya yang langsung merabahkan diri dan menutupi setengah badannya pakai selimut.

"Ohiya, bangunkan saya kalau kamu bangun duluan ya!" Ucapnya sebelum memejamkan matanya. Luna mengangguk.

Luna langsung menyimpan tasnya juga melepas jaketnya. Ia langsung melangkahkan kaki ke kamar mandi dan mencuci mukanya juga menggosok gigi. Tak lupa juga ia mengganti pakaian menggunakan piyama tidurnya. Tanpa mengecek ponsel atau memakai skincare, Luna langsung merebahkan diri diatas ranjang disebelah Anggara. Ia sangat lelah sekarang dan ingin langsung beristirahat.

Alarm Anggara membangunkan Luna di jam 05.30 pagi. Luna mengerjapkan matanya dan langsung mencari sumber suara. Dengan terkejut ternyata posisi ia dengan Anggara sangat amat dekat sampai-sampai badannya saling bersentuhan. Ia melihat ke atas nakas sebelah sisi Anggara, ponselnya menyala menandakan alarm dari ponselnya. Kini Luna mencoba bangun dan menggapai ponsel yang berbunyi dan mematikannya.

Luna mencoba membangunkan Anggara yang menghadap padanya. Ia menggoyangkan lengan atasnya.

"Tuan bangun" ucapnya.

Ia teringat bila membangunkan orang, baiknya ia membacakan al-fatihah dan menepuk-nepuknya pelan. Ia mencoba membaca al-fatihah dan melanjutkan menepuk-nepuk lengan atas Anggara. Namun Anggara malah berbalik memegang Luna dan mencoba mengurung Luna di rengkuhannya. Luna meronta, tetapi ia kalah. Mungkin karena tenaganya yang masih tak terkumpul karena memang dirinya lelah.

"Tu-tuan gak bisa gini"

"Bentar Sil. 10 menit" ucapnya. Luna terus mendorong badan Anggara karena setengah badan ia tertindih.

"Saya bukan bu Silvi tuan! Bangun!" Ucap Luna berteriak. Ia sangat kesal sekarang. Dengan dua detik saja Anggara langsung membuka matanya lebar dan melihat siapa yang ada di pelukannya. Ia langsung buru-buru mendorong Luna dan tersuduk. Luna langsung berdiri dan pergi kekamar mandi hendak mengambil wudhu sembari langkahnya kesal. Namun saat ia ingin buang air kecil, ia menemukan noda merah yang berartikan bahwa ia datang bulan. Padahal seharusnya lima hari lagi ia datang bulan dari perhitungan.

Ia keluar lagi mencari pembalut. Anggara masih diposisi yang sama namun kali ini menatap Luna lekat-lekat. Matanya terus melihat Luna yang bergerak kesana kemari. Luna sendiri tak menemukan pembalutnya dan ia langsung keluar dengan panik mencari Lala. Dan Lala baru saja keluar dari paviliun.

"Lala! Minta pembalut dong"

"Eh mbak? Udah pulang? I-iya itu ada di kamar aku ambilin ya"

Lala menganbilkan tiga buah pembalut dan Luna langsung berlalu ke kamar mandi yang ada di paviliun. Ia langsung memakai pembalut tersebut dan keluar dengan nafas lega.

"Mbak pms?"

"Iya nih baru keluar. Yuk" ucapnya, siku mereka saling bertautansembari berjalan ke dalam rumah.

-

-

-

"Mbak istirahat lagi aja kalo gitu, kasian ah nanti sakit lagi kalo baru pulang jam 2 tadi mah" ucap Lala perhatian.

"Enggak La. Udah sok kamu siapin buah yang tadi aku suruh ya. Aku mau cimuk dulu, gaenak sama bunda kalo muka aku jelek gini." Ucap Luna dan Lala mengiyakan.

Luna melangkahkan kaki jenjangnya ke lantai dua dimana kamarnya dengan Anggara berada. Saat ia masuk, ia melihat Anggara yang masih terduduk di atas ranjang dengan menopang kepalanya di kedua tangannya.

"Tu-tuan gak kerja? Ini udah jam enam lebih dikit loh." Ucap Luna. Anggar langsung mendongak menatap Luna yang terlihat kebingungan. Tak ada jawaban dari Anggara dan Luna langsung masuk ke kamar mandi.

Beberapa menit kemudian Luna keluar dan langsung duduk di meja rias. Ia mengeringkan wajahnya dengan tissu, menuangkan toner ke kapas dan mengusapkan ke wajahnya. Anggara terus menonton aktivitas Luna dan itu membuat Luna takut. Luna membuka krim siangnya dan langsung mengaplikasikannya di atas wajahnya. Setelah selesai, Anggara masih memandanginya. Sumpah ini membuatnya tak nyaman. Apa ada yang salah dari dirinya? Kejadian tadi saat ia dipeluk, Luna tak mau membahasnya. Ia sangat malu. Namun kenapa Anggara memandanginya terus.

Kayaknya kita harus cepetan pisah Lun. Saya takut kelewatan. Batin Anggara.

"Ada yang dibutuhin tuan?" Ucap Luna. Anggara menggeleng langsung.

Terjadi keheningan diantara keduanya dan keheningan tersebut pecah saat ponsel Luna berbunyi. Terlihat nama Ibunya di layar.

"Assalamualaikum Luna sayang. Udah bangun?"

"Walaikum salam ibu. Udah dong bu ini udah pagi. Gimana bapak sehat?"

"Hari ini bapak jadwal cuci darah. Tapi kondisinya masih stabil kok. Cuma ya sekarang jarumnya dimasukin di leher karena di tangan udah habis" keluh Lintang.

"Yaampun. Yaudah bu nanti hati-hati dijalan ya bu. Luna bakal bantu biaya bapak kok ibu jangan khawatir" ucap Luna sedih. Mereka melanjutkan perbincangannya tentang obrolan ringan layaknya ibu dan anak. Anggara mendengar itu dan teringat tentang nasib keluarga wanita ini. Ia jadi merasa iba padanya dan mengurungkan niat untuk merencanakan perceraian lebih awal.

"Tuan. Masalah perjanjian kita-"

"Siang ini kamu kekantor saya ya. Kita buat perjanjian disana. Tapi diatas jam 12 aja, saya ada rapat dulu jam 9" ucapnya dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Luna hanya menggedikkan bahunya. Saat ia hendak meninggalkan kamar, ponselnya berbunyi di atas meja rias. Ia langsung melangkahkan kakinya ke meja rias lagi.

Safira

"Iya fir? Kenapa?"

"Hei manten baru, doain gue ya gue mau interview nih" ucap Fira dari seberang sana.

"Yaampun semangat! Semoga lo bisa bangun pagi seterusnya ya" ledek Luna.

"Huh lo mah! Btw gimana kabar lo?" Ucap Fira yang sepertinya sedang berkutik di depan kaca.

"Baik kok. Lo sendiri?"

"Baik dong beb. Ohiya kado gue udah lo coba?" Ucapan Safira mengingatkan Luna pada hadiah-hadiah pernikahannya yang ia tumpukkan di sudut kamar. Belum sama sekali ia sentuh. Padahal usia pernikahan mereka hampir satu minggu.

"Be-belum gue buka Fir. Emang apaan?"

"Ko bisa? Lo nikah udh hampir seminggu loh"

"Iya gu-gue sibuk urus suami. Dan kemarin temen gue juga kecelakaan" ucap Luna mencari alasan.

"Yaampun siapa?"

"Nadine"

"Cepet sembuh ya buat temen lo" ucap Safira.

Teringat pada siapa istri pertama Anggara yang adalah dosen mereka. Luna sepertinya harus membagikan cerita ini pada Safira.

"Ohiya fir, lo beres jamber? Kebetulan abis dzuhuran gue mau keluar, mungkin baliknya gue bisa ketemu lo. Ada sesuatu yang mau gue omongin"

"Kenapa? Lo mau ngaku kalau tuduhan gue lo hamil bener?"

"Ishh lo mikirnya kejauhan! Udah ah kabarin aja kalo bisa"

"Hemm yaudah iya bye"

"Goodluck"

-

-

-

***

Kaki jenjang Luna sudah berdiri tegak didepan gedung bertingkat tujuh. Bangunan ini milik keluarga Gibson yakni perusahaan Gibson Gold Corp. di Bandung. Dan tidak ada percabangan kantor karena perusahaan ini mengelola pabrik. Jadi bangunan perusahaan Gibson dimana-mana adalah pabrik minyak dan karet. Namun tak lupa di masing-masing pabrik terdapat kepala pabrik yang memiliki kantor didalam pabrik tersebut.

Dengan penampilan Luna yang rapi mengenakan kemeja navy dengan celana kulot 3/4 dipadukam sepatu putih juga tas gendobg berukuran kecil. Luna juga mengikat rambutnya tak berekor, membiarkan anak rambutnya terurai bebas di ceruk leher dan dahinya juga di samping telinganya. Ia masuk dan disapa manis oleh sang satpam berpakaian hitam-hitam. Sebenarnya hari ini tubuh perempuan berumur 22 tahun itu sedang tidak nyaman karena rasa ngilu dirahimnya sehingga ia harus sesekali meringis kesakitan.

"Ada yang bisa dibantu neng?"

"Saya mau ketemu pak Anggara. Apa ada didalam?" Ucap Luna yang tak kalah sopan.

"Mari saya antar terlebih dahulu kebagian resepsionis" ucap satpam. Luna langsung mengekorinya dari belakang. Terlihat satpam tersebut mengobrol dengan resepsionis, namun wanita yang menggelungkan rambutnya dengan rapi itu terlihat enggan untuk mempertemukan Luna dengan pemimpin kedua perusahaan tersebut.

"Maaf mbak, apa sudah ada janji?"

"Sudah kok mbak"

"Kapan?" Luna berfikir. Mana mungkin dirinya bilang janji temu dipagi hari didalam kamar.

"Tadi pagi. Mbak tanya aja sama pak Anggaranya."

"Nama mbak siapa?" Ucap resepsionis tersebut. Saat Luna akan membuka mulut mengucapkan namanya, Anggara memanggilnya dari samping kanan baru sampai kantor selesai sholat jum'at. Terlihat dari kemeja hitamnya yang ia gulung hingga ke siku dan rambut sedikit lepek karena terkena air wudhu. Luna dan resepsionis tersebut menoleh. Anggara langsung mengibaskan tangannya tanda Luna harus mengikutinya. Resepsionis itu terlihat tidak percaya. Luna berlari kecil dan ikut masuk kedalam lift tersebut.

"Kalau karyawan tanya kamu siapa, bilang aja keponakannya bunda. Nanti aku kasih kamu akses berupa kartu perusahaan" ucap Anggara. Luna mengangguk dan paham mengapa Anggara tidak mau memperkenapkan identitas asli Luna. Luna juga tahu karyawan disini tak diundang saat pernikahan. Hanya rekan bisnis saja, itu pun yang benar-benar dekat dan Anggara tau mereka juga mempunyai kekasih gelap. Ibarat kata 'saling memegang kartu masing-masing'. Rumor di kantor juga cukup ramai mengenai Anggara yang menikah lagi. Tetapi Anggara tak bergeming. Hanya Cika yang tahu kebenarannya.

Pintu lift terbuka. Pemandangan menyuguhkan langsung meja sekertaris disana. Terlihat Cika sedang berkutik dengan komputernya. Ia mendengar suara lift dan langsung berdiri menyapa bosnya. Ini kali pertama Luna bertemu dengan sekertaris suaminya.

Luna masuk kedalam ruangan kerja Anggara yang bernuansa warna teduh di lantai tujuh. Interiornya yang megah membuat Luna mengitarkan matanya kesetiap sudut ruangan dengan kagum dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Anggara menyuruh Luna duduk di sofa hitam yang biasanya Anggara pakai untuk menerima tamu. Diruangan ini juga terdapat dua pintu lainnya selain pintu akses keluar masuk. Satu kamar mandi dan satu kamar pribadi.

"Tuan, saya boleh tanya yang desain gedung ini siapa?" Ucap Luna yang merasa tertarik. Anggara hanya tersenyum.

"Gedung ini di desain oleh kakekku dari papah yang sekarang ada di Kanada. Interior dalam aku yang renovasi sendiri lima tahun lalu saat aku baru menjabat sebagai direktur kedua, lalu dibantu teman SMAku yang amatiran memulai profesi arsiteknya. Sedangkan gedung ini sendiri sudah berdiri selama duapuluh lima tahun dari saat aku umur tiga tahun" ucapnya panjang lebar.

"Teman tuan hebat banget. Amatiran tapi udah berani ambil projekan besar gini. Desainnya juga bagus. Kakek tuan juga hebat" ucap Luna memuju sembari mengacungkan kedua jempolnya. Anggara hanya tersenyum melihat tingkah Luna.

Anak ini supel juga. Batinnya.

Anggara langsung membawa map hitam di laci kerjanya dan meletakannya di atas meja tepat didepan Luna.

"Kamu baca. Kalau ada yang kurang, bilang saya" ucap Anggara. Luna mengangguk dan mulai membacanya. Ia senang karena semua keinginannya ada disana termasuk masalah biaya rumah sakit orang tuanya. Namun ekspresi wajah Luna berubah saat ia membaca poin selanjutnya.

"Tuan apa ini gak kebanyakan saya tiap bulan dikasih sepuluh juta rupiah? Dan tuan juga udah beliin saya apartemen mewah buat saya nanti kalau sudah bercerai?" Ucap Luna tak percaya.

"Betul. Bahkan saya berniat untuk memberikan kamu kendaraan Luna. Walaupun kamu bukan istri sungguhan, bila ada apa-apa dijalan pasti saya yang jadi wali kamu."

"Itu kayaknya gaperlu"

"Nanti kamu butuh. Mobil saya ada lima kok kamu pake yang matic aja" ucap Anggara.

"Tapi-"

"Udah beres bacanya?" Tanya Anggara seperti enggan untuk menerima penolakan. Luna menggeleng dan melanjutkan acara membacanya.

"I-ini maksudnya 'perceraian hanya akan terjadi bila pihak lelaki yang meminta. Kecuali bila ada alasan yang jelas, pihak wanita bisa mengajuian perceraian'? Maksudnya ini kontrak yang gak ada jangka waktu begitu?" Ucap Luna sedikit protes. Anggara mengangguk.

"Enggak bisa gitu dong tuan. Harus ada jangka waktu untuk patokan!" Ucap Luna. Anggara menghela nafasnya.

"Mau kamu gimana kalo gitu?" Ucap Anggara mencoba tenang.

"Selama satu tahun kontra ini berlaku. Bila ada alasan lain yang membuatnya berakhir lebih cepat atau lambat, maka poin ini saja yang akan diubah dikontrak baru" ucap Luna tegas."

"Dua tahun. Saya mau dua tahun kontrak ini berlaku" ucap Anggara. Anggara tahu karena ia ingin benar-benar menyembuhkan sang mertua selama dua tahun itu.

"Hah?!"

"Dua tahun atau gak diubah sama sekali" tegas Anggara. Luna berdecak kesal.

"Okelah" ucap Luna sembari menghempaskan tubuhnya kesandaran sofa. Mood buruk bawaan pmsnya sedang keluar.

Akhirnya Anggara mengetik ulang sendiri kontrak tersebut dan mencetaknya. Keduanya menandatangani dan Anggara meminta duluan untuk berjabat tangan. Diperhatikannya Luna terlihat sesekali meringis kesakitan. Anggara jadi sedikit khawatir, sedikit.

"Kamu gak papa Lun?" Ucap Anggara yang dipandang aneh oleh Luna. "Mau minum dulu?"

"Gausah tuan. Gak ada apa-apa lagi ya? Kalo gitu saya mau keluar"

"Saya pulang jam tiga. Hari ini juga niat buat ke Silvi. Kalau mau, kamu tunggu dua jam lagi nanti saya anter ke rumah" ucap Anggara.

"Gak usah.. saya pamit ya tuan. Saya ada janji sama temen" ucap Luna bersiap meninggalkan ruangan tersebut.

"Ohiya tuan. Jangan lupa untuk carikan saya kerjaan. Saya sekarang kan pengangguran" ucap Luna sebelum keluar dari ruangan dan tak lupa mengucapkan salam. Anggara menatap punggung wanita tersebut keluar dari ruangannya dan entah kenapa ia malah tersenyum geli melihat sikap tempramen istrinya.

Luna turun lewat lift sembari menelfon Safira untuk menanyakan keberadaanya. Luna menunggu taksi onlinenya di depan gedung. Tanpa sadar, ada sepasang mata yang memandanginya didalam mobil sedan yang melintas didepan kantor Anggara.

***

Duh diakhiri sepasang mata mulu yah hihi

Mau kasih tau, ini episode terpanjang dari eps 1-21 😂

Jangan lupa tinggalkan jejak ya readersku😘

Terimakasih untuk selalu sabar menungu novelku update🖤

Tbc-

1
Amilawati
cerita versi pelakor ini,,,pelakor ttp pelakor yg menjijikan TDK ad pelakor baik, cerita ini hanya hayalan seorang pelakor
Siska Siswanto
kapan ni up-nya?
🐧 Pororo 🐧
please, jangan stop lagi yah kak 🙏
Zenecka
ah happy bgt novelnya lanjut lg... sehat selalu kaaaa /Kiss/
Yovita Sintadewi
ya selalu aku lihatin, tidak ada kelanjutannya, dah hampir 1 thn thor
Tiwik Firdaus
emang udah diurus surst cerai terus udah diserahkan kembali kepada kefua orang tuanya dan menjelaskan semuanya bahwa anak yang dikandung silvi bukan anaknya
Tiwik Firdaus
ceraikan saja silvi udah selingkuhan kamu aja katanya diselidiki kok ngak ketauan2 sekingkuh to silvi kapan terbongkarnya masak nunggu sampai lahir baru ketsuan
Tiwik Firdaus
kebanyakan mikur anggara jadi bodoh sekarang
Tiwik Firdaus
makanya jadi laki jangan diam saja seperti kambing congek selidiki yang serius mana ada wanita hamil diantar kedokteran suaminya ngak mau masuk akal ngak hadi oria bodoh banget kamu katanya pinter jadi ceo kok bodoh jadi suami
Tiwik Firdaus
jangan percaya anggara kalau kamu udah lama ngak berhubungan badan sama dia kan twrus katanya kamu mengawasi silvi tau dong kalau silvi sering ketemuan sama mantan pacarnya
Tiwik Firdaus
biasa ngak ada tampan2nya sama sekali
Qorie Izraini
karena terlalu cinta kang Angga jd begi dan labil

kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Qorie Izraini
si jalang kena karma 😀😀😀
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
Qorie Izraini
lah udah taumlm pertama ny sama silvi jln tol, msh saja cinta setengah mati, gsk bisa mov on lg.
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
Qorie Izraini
dasar jd suami kok bego amat
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
Qorie Izraini
dasar istri jalang...
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
Qorie Izraini
sombong banget kang anggara, bikang gak tertarik.ntar bucin baru tau rasa.atau....
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.
nino
thor ini upnya 2 tahun lagi ya
amalia
keren bgtt cerita nyaaa👏👏👏👏👏
amalia
apa suami nya nadine.selingkuh sm silvi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!