Lilin tak mau dijodohkan. Dia tidak suka sama lelaki yang usianya terpaut jauh dengannya. Apalagi lelaki tersebut mirip ogah. Maka di hari perkawinan itu, Lilin lebih baik kabur. Pergi jauh.
Calon suami nya tentu saja tidak terima.
Dia bakalan mengejar sampai kemanapun cintanya pergi.
Ternyata memang kehidupan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Penuh lika-likunya. Mesti ada perjuangan kala ingin tercapai segala yang diinginkannya. Begitu juga Aqi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Mungkin waktu ke depan belum tentu ada kesempatan. Hingga perjuangan nya mesti berhasil.
Dan itu belum usai. perjalanan hidup terus berwarna. Dimana datang kawan lama yang membuat gondok. Dan saudara yang menyeret pada petualangan misteri nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh lagi
Saat mau pulang itu.
Di luar gerbang masuk.
Tiba tiba....
“Eh nabrak...“ ujar Aqi terkejut.
Bruk!
“Waduh....“ tahu- tahu ada orang yang tepat menimpa dirinya.
“Hallo,“ ujar orang itu dengan tenang.
“Eh....“ ujar Dewi sembari memperhatikan muka si penabrak.
“Kenapa?“
“Itu....“ kata Dewi lagi, seakan teringat sesuatu. “Si preman yang kabur.“
“Kau masih hapal?“
“Iyalah. Dia yang bikin ulah, mana bisa aku melupakannya. Dan kabur saat mau kau tonjok mukanya.“ Lanjutnya, “Sekarang nongol lagi.“
“Kenapa yah?“
“Entahlah. “
Mereka menatap orang-orang didepannya, yang baru saja tumbukan dengan Aqi Firdaus yang tengah asyik berjalan dengan pacarnya.
“Hehe ketemu lagi,“ kata para preman tersebut sembari memperlihatkan teman-temannya yang mempunyai berbagai macam senjata.
Ada gear motor bekas yang runcing, kalau dihantamkan orang bakalan rodal-radil itu kulit, kena tusukan gigi gerigi benda mengerikan tersebut.
Ada juga rantai bekas motor yang begitu mengerikan. Sekali hantam maka kulit keriput musuh sudah pasti bonyok dan darah terus merembes darinya.
Selebihnya tentu saja ada pelek yang diluruskan. Besi bekas rajawali motor atau bahkan ruji dengan ujungnya yang diruncingkan. Benar benar hari yang buruk kalau sempat menemui kelompok ini.
“Ngapain?“
“Ya balas dendam lah....“
“Lo...“
“Kenapa?“
“Katanya takut?“
“Itu dulu.“
“Sekarang?“
“Ya berani la...“
“Punya nyali juga kamu!“
“Jelas.“
Kedua orang itu saling pandang, mereka keheranan pada para preman yang sok-sokan berani setelah memperoleh lebih banyak teman. Dirasa kalau sudah mempunyai rekan begitu banyak, bisa berbuat sesuka hati. Menginjak yang lemah, dan merusak yang sedikit. Itu tak selamanya benar. Terkadang yang kecil juga ada mampu mengalahkan yang besar.
“Dulu kalian berempat saja bisa dikalahkan sama jagoan ku ini,“ ejek Dewi Monika Rini tanpa bermaksud melecehkan hanya sedikit penghinaan saja.
“Terus?“ ujar Aqi.
“Sekarang jumlah kami banyak,“ ujar para preman. Dengan bangganya dan menunjuk pada sekelilingnya dengan teman yang lebih dari saat pertama mereka bertemu. Dan yakin, kalau kali ini bisa mengalahkan musuh, atau bahkan akan bisa merontokkan gigi musuh kerempengnya itu. Sekaligus membalas dendam atas kejadian tempo dulu yang membuat mereka merasa dipermalukan, malu -malunya melebihi rindu -rindunya.
“Wee..... Berani-beranikan lo!“
“Terus... kalau iya kenapa?“
“Maju sini semuanya!“
“Lalu....“
“Bakalan di hajar sama Aqi!“ tantang Dewi sembari mempertaruhkan harga diri temannya yang sudah tua itu. Dia juga yakin, kalau teman dekatnya itu akan membantunya dalam suka dan duka. Terutama untuk urusan kali ini yang tengah diganggu oleh para q-zruh.
“Et....“ Aqi Menyentuh dengan sentuhan yang teramat menyentuh.
“Stt....“ ujar Dewi sembari bilang diam, setidaknya supaya tak kalah gertak hanya melawan remeh begitu saja. Kalau sudah kalah, maka bakalan diinjak-injak harga dirinya, untuk berikutnya akan dipalak seperti kali dulu mereka berhadapan. Itu tragedi, serta akan membuat berduka rasanya kalau tiap kali hartanya terbuang percuma. Bukannya akan lebih bermakna jika uangnya untuk membantu para pegawai gaji rendah demi kesehariannya dalam mencukupi kebutuhan anak istrinya.
“Kok gua sih?“
“Siapa lagi lelaki perkasa disini selain kamu Qi? “
“Kamu yang menantang begitu kok. “
“Kau kan sangat hebat Qi. “
“Tidak bisa begitu dong. “
Mereka saling berbisik untuk menentukan siapa yang bakalan menghadapi para preman dengan jumlah yang cukup banyak tersebut.
dah mentok 😁
yuk yang baru....
thanks 🙏
smg
yuk