Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sontak Maira membalikkan badannya. “Mas Reza.”
Reza tersenyum lalu duduk di bangku depan kamar Maira, tanpa menunggu dipersilakan.
Seperti biasa, ia membawakan makanan untuk Maira dan diletakkannya di bangku sebelah ia duduk.
Maira mulai tak suka dengan cara Reza ini. Ia lalu protes bahwa ia tak suka jika Reza membayar kosnya. Maira juga mulai meminta agar Reza tak lagi membawakannya makanan, karena ia bisa membelinya sendiri. Ia tak suka karena Reza sebaik ini setelah mereka bercerai.
Dengan santai Reza meminta Maira untuk duduk di sebelahnya. “Kamu lelah ya seharian bekerja? Sini duduk dulu, istirahat, biar tidak marah-marah terus.”
“Aku hanya ingin membantumu, Ra, lagi pula juga hanya 3 bulan saja kok. Aku tidak berani membayar untuk 6 bulan atau bahkan 1 tahun karena bisa jadi kamu tak akan tinggal di sini lagi. Dan untuk makanan ini, Mama khawatir padamu yang tinggal sendirian di sini, jadi memintaku untuk mengantarkanmu makanan,” lanjut Reza menjelaskan dengan baik-baik.
“Jadi, mulai dari membayar kos hingga mengirimi makanan itu Mama yang minta?” Maira mulai kecewa karena ternyata semua ini bukan inisiatif Reza sendiri.
“Tidak. Kadang aku saja yang mau mengirimi makanan, biar kamu tidak perlu ribet memasak, atau beli makanan di luar. Untuk bayar kos, aku sendiri yang mau,” jelas Reza begitu bijaksana dan dewasa.
Maira terdiam. Meski ia tahu pengorbanan Reza dari kantor ke kosnya, juga membawakan makanan dan membayarkan biaya kosnya, tapi Maira tetap tak dapat menerima semua ini. Ini akan semakin membuatnya tak bisa move on.
Ia pun berniat ingin mengganti uang Reza, namun Reza tentu menolaknya. Bahkan Maira mengancam tak mengizinkan Reza menemuinya lagi jika tak mau uangnya diganti. Tak disangka, Reza lebih cerdik, ia juga balik mengancam Maira tak boleh bertemu dengan Alisha jika Maira berani menolak menemuinya di kos.
“Dari dulu selalu egois!” umpatnya.
Sementara Reza hanya tersenyum. “Aku lapar, boleh dibuka? Aku sengaja beli 2 tadi.”
Maira lalu mengambilkan 2 piring dan sendok ke dalam kamar.
Sambil menunggu Maira menyiapkan makanan ke dalam piring, ia menanyakan alasan Reza jam segini sudah berada di kosnya, padahal dulu saat mereka masih tinggal bersama, Reza sering bertemu klien di jam makan malam.
Reza pun jujur bahwa ia sudah tak lagi mau bertemu klien setelah pulang kantor. Kalau pun mereka mau bertemu di jam makan, ia hanya menyetujui saat jam makan siang. Sepulang kantor ia juga hanya ingin bertemu Alisha.
“Kalau dengan Vany? Masih sering bertemu?” lanjut Maira yang ingin tahu tentang hal ini.
Reza menggeleng. “Tidak juga. Aku malas bertemu orang-orang, termasuk Vany. Sudah beberapa minggu ini kita tak jumpa. Aku harap dia sudah pulang ke Bali dan pengajuan kepindahannya ditolak oleh kantornya.”
Batin dan otaknya berisik, sungguh ia kesal dengan keadaan ini. “Kenapa setelah bercerai baru tegas begini? Kenapa tidak dari dulu?"
Lalu, Maira tampak gagal fokus dengan ucapan Reza yang hanya ingin segera bertemu Alisha sepulang kantor. “Tapi kenapa malah ke sini?”
Reza yang santai, tampak gelagapan dengan pertanyaan Maira. Ia diam sejenak, seperti sedang ingin menyusun jawabannya. “Ee itu, aku bosan kalau terlalu lama di rumah. Jadi aku mampir ke sini dulu. Tapi kalau saat pulang kantor aku sudah malam, aku tak mampir ke sini ‘kan, aku pasti langsung pulang menemui anakku.”
Reza lalu ganti bertanya pada Maira apakah ia keberatan jika ia sering menemuinya. “Apa ada yang marah?”
Maira menggeleng, lalu menyerahkan piring yang sudah berisikan nasi dan lauk itu.
Mereka pun mulai makan bersama, meski lebih banyak diam dan tak saling memandang.
“Dulu saja sudah enak kita bisa makan berdua di meja makan, tak perlu di tempat seperti ini, tapi malah kamu sia-siakan,” batin Maira yang masih kesal pada Reza.
Maira merasa Reza seolah sedang berdiri di tengah pintu. Tak ingin masuk atau pun keluar. Jadi, orang lain yang akan masuk pun akan kesulitan karena ada Reza di sana.
Batinnya menggerutu, hingga ia keceplosan bicara dengan nada yang sedikit keras dan ketus. “Lalu sudah sampai mana proses perceraiannya, katanya pakai pengacara handal, tapi kenapa lama sekali!”
Reza pun tersedak lalu menoleh Maira.
###
Saat di rumah, Reza menanyakan pada mamanya yang kebetulan sedang mengunjungi Alisha, mengenai kelanjutan proses perceraiannya.
“Sudah tunggu saja, memang semuanya ‘kan tidak bisa instan. Ada berkas-berkas yang harus diurus. Meskipun hanya siri, tapi saat perceraian juga tidak bisa asal cerai, harus ada sidang itsbatnya dulu untuk mendapatkan akta nikahnya, baru bisa cerai dan dapat akta cerainya. Kecuali kalau kamu sudah menalak, gugur sudah akadnya. Kalau sudah siap nanti Mama pasti beri tahu,” ucap mama Reza yang sedang menggendong cucunya.
Bu Intan lantas menanyakan tentang Maira, yang tak kunjung menemui Alisha.
“Waktu itu dia janji akan ke rumah hari ini atau besok, Ma, saat akhir pekan,” jawab Reza sembari mengunyah makanannya.
Mama Reza itu pun kembali bertanya pada anaknya, tentang perasaannya. Apakah tetap sama seperti dulu atau mulai ada benih-benih cinta yang muncul. Beliau juga menanyakan apakah anaknya itu sering menemui Maira di kos.
“Iya, Ma, Reza beberapa kali menemui Maira di kos. Mengantarkan makanan seperti yang Mama minta waktu itu. Tapi, kadang Reza juga mengiriminya makanan tanpa Mama suruh. Kadang kalau sedang bosan, Reza ke sana untuk mengobrol,” jawab Reza jujur.
Mamanya seakan salah fokus pada ucapan anaknya. Dengan mimik muka sedikit sumringah ia kembali berucap. “Sudah seperti itu kok bilangnya tetap tak ada rasa. Apa iya, kalau tidak ada perasaan tapi maunya ingin sering bertemu.”
Reza tampak merenungi ucapan mamanya. Entah apa yang ia rasakan pada Maira sebenarnya. Di satu sisi ia begitu bahagia jika bertemu dengannya. Ia juga cemburu ketika melihat Dion bersama Maira. Apakah benar jika sudah begitu ia tetap bisa mengatakan kalau ia tak mencintai Maira.
“Kalau berkas perceraian kalian sudah keluar, Mama mau kenalkan Maira sama Dika ah, sepupumu. Siapa tahu mereka jodoh,” goda mamanya.
...****************...
""' nyesss 😭