NovelToon NovelToon
Pengantin Pria Yang Tak Terduga

Pengantin Pria Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:184.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Annami Shavian

Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.

Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.

Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.

Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seblak

"Ehem"

Amira dan Hamid menghentikan obrolan mereka, lalu menyorot ke arah sumber suara. Mata Amira melotot setelah melihat siapa yang berdehem. Kemudian, Amira dan hamid saling pandang di sertai kening Amira yang mengkerut. Tadi Bi Arum bilang Dave ada di kamar Rania, tapi nyatanya menantunya itu sedang berdiri dihadapan mereka.

"Lho, bukannya pak Dave ada di kamar?" Tanya Amira, tatapannya menyapu seluruh tubuh Dave dari atas sampai bawah. Penampilan menantunya ini nampak rapih walaupun tak pakai jas. Sepertinya Dave baru pulang dari kantornya.

Praduga Amira, membuat dave hanya tersenyum kecut. Andai mertua nya itu tahu bahwa semalam Rania tak membolehkan nya masuk ke dalam kamarnya, mereka pasti tak akan bertanya demikian, melainkan akan bertanya-tanya pada putri mereka.

"Bi Arum juga bilang kalau pak Dave ada di kamar. Tapi...." lagi-lagi Amira menyapu penampilan Dave.

"Saya ke kantor tanpa sepengetahuan Bi Arum, ma. Emm, papa dan mama kapan pulangnya?" Dave mengalihkan topik pembicaraan. Agar kedua mertuanya tak lagi bertanya.

"Kami baru satu jam yang lalu datangnya. Ya sudah kalau begitu, pak Dave pasti lelah. Kita jangan banyak tanya, ma. Biarkan pak Dave istirahat." Hamid yang sadar kalau mereka berdiri menghalangi jalan Dave, menggeser tubuhnya sambil menarik tubuh istrinya dengan paksa.

Setelah berada dikamar, sorot mata Dave mengitari seisi kamar. Kamar yang nampak seperti kapal pecah ini membuat kepala Dave mendadak pusing melihatnya. Dave menghembuskan nafas besar dan mengusap wajahnya.

Krek

Pandangan Dave beralih ke arah pintu kamar mandi. Di sana nampak Rania keluar dari balik pintu dalam keadaan tubuh lesu dan penampilan yang semeraut seperti tak terawat.

Tepat saat Dave sedang menatapnya, Rania melihat ke arah Dave. Sejenak Rania termangu, kemudian "hueeek" Rania kembali muntah dan masuk ke kamar mandi.

Dave spontan menyusul Rania ke kamar mandi. Berdiri mematung di ambang pintu dengan sikap yang serba bingung. Dave bingung apa yang harus dia lakukan untuk menolong wanita yang sedang muntah karena memang sudah kodratnya sebagai wanita hamil.

Rania membasuh wajahnya. Saat Rania meluruskan tatapannya, dari pantulan cermin di hadapannya, Rania dapat melihat wajah bengong Dave.

Seketika, bayang-bayang Dave bersama sugar baby nya saat di restoran, serta ucapan nya kemarin sore yang mengatakan akan tidur bersama sugar baby nya, kembali terngiang dan membuat hati Rania kembali mencuat. Rania menjadi sebal melihat keberadaan Dave saat ini.

"Tolong keluar, Om," usir Rania dengan tatapan yang tak beralih dari pantulan cermin.

Glek

Dave manggut-manggut pelan sambil menelan air ludahnya yang rasanya berubah pahit.

"Rania tidak membutuhkan ku. Yang Rania butuhkan saat ini adalah Kevin, hanya Kevin putra ku."

Kemudian, Dave bergerak mundur dan menutup pintunya.

Rania tergugu. Hanya linangan airmata nya saja yang terus mengalir sampai menetes ke wastafel.

Rania memang mengusirnya, dan tidak menginginkan dirinya. tapi hal itu tak membuat ada niatan Dave untuk meninggalkan nya. Apalagi kondisi Rania saat ini dalam keadaan hamil.

Sebagai suami, tentu Rania adalah tanggung jawab dirinya sepenuhnya. Apapun kondisinya, dan sekalipun Rania tengah mengandung anak putranya. Yah, anggap saja apa yang dia lakukan saat ini sebagai penebus kesalahan dan dosa Kevin, putranya.

'Istriku mengandung benih putra ku' kenyataan itu rasanya sulit Dave terima, tapi dia harus belajar menerimanya. Karena memang keadaan nya seperti ini, dan jalan pernikahan nya memang sudah digariskan Tuhan seperti ini.

Melihat kamar dalam keadaan berantakan membuat Dave berinisiatif untuk membereskan nya. Dave mulai membereskan kekacauan di kamar Rania satu persatu.

Rania termangu menatap Dave di ambang pintu kamar mandi. Pria yang Rania pikir sudah beranjak dari kamarnya setelah di usir, ternyata sedang sibuk membereskan kekacauan yang dia ciptakan.

Menyadari jika dirinya sedang diperhatikan oleh istrinya, Dave tersenyum ke arah Rania. Sontak Rania terhenyak lalu mengalihkan tatapan nya.

"Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan, Rania?" Tanya Dave. Dave tadi sempat googling seputar kehamilan. Dave pikir dia harus belajar bagaimana mengurusi wanita hamil dan apa saja yang dibutuhkan oleh wanita hamil.

Rania yang sedang selonjoran sambil menonton konten di ponselnya, lantas mendongak. Semerbak wangi bunga lili menguar dari tubuh Dave pun terendus di hidungnya. Sejenak Rania memejamkan matanya, menikmati aroma favorite nya. Kemudian membuka matanya, dan menyoroti tubuh Dave dari bawah hingga atas. Celana pendek, kaos putih ketat serta rambut basah, seakan penampilan pria dihadapannya ini terkesan lebih muda dari pada usia semestinya. Ya meskipun sebenarnya Rania tidak tahu berapa sebenarnya usia suaminya, tapi Rania meyakini usia pria ini sama dengan usia papa Hamid.

"Hei, kenapa bengong?"

Rania tersentak dari lamunan sesaatnya.

"Aku..aku...." Perutnya memang lapar, tapi Rania tak ingin makan nasi, melainkan ingin makan sesuatu yang tak akan membuat perutnya mual. Tapi, tiba-tiba Rania teringat jika saat ini dirinya sedang marah pada Dave, Rania pun mengurungkan keinginan nya.

"Aku tidak mau makan apa pun," ucap Rania tanpa melihat pada Dave.

Kruk

Kruk

Mulut boleh menolak, tapi perutnya sepertinya tak bisa menolak tawaran Dave. Dave tersenyum. Sementara Rania meringis menunduk menahan rasa malunya.

"Kamu dengarkan, anak-anak mu sudah kelaparan. Katakan saja kamu mau makan apa? Apapun itu akan saya belikan."

"Benarkah pria ini akan membelikan apa yang aku mau?"

Rania teringat pada konten mukbang yang baru dia lihat sebelum Dave menyapa. Rasanya ingin sekali memakan makanan yang ada di konten itu. Makanan yang sebenarnya belum pernah Rania makan.

"Aku, aku ingin makan seblak." Rania semakin menundukkan wajahnya.

"Seblak! makanan apa itu? seperti nya aku baru mendengar namanya."

Meskipun Dave tak tahu, tapi Dave manggut-manggut saja.

"Ya sudah kamu tunggu sebentar ya!"

Dave beranjak sambil merogoh ponselnya. Dave perlu informasi tentang makanan yang di pinta oleh Rania melalui internet.

"Pak Dave, mau kemana?" Tanya Amira saat Dave baru menginjak kan kakinya di lantai dasar.

"Saya mau beli, eee...." Dave garuk-garuk keningnya. Lupa sama nama makanan yang Rania pinta. Lalu merogoh serta melihat pada layar ponselnya." Anu, saya mau beli seblak untuk Rania."

"Seblak!" ucap Amira, lalu saling pandang dengan Hamid.

Dave mengangguk.

Sejak kapan Rania suka memakan makanan berbau kencur itu? Pikir Amira.

"Ya sudah ya ma, pa. Saya pergi dulu."

Amira menatap bengong punggung Dave." Tuh kan, pa. Dugaan mama benar. Rania sedang hamil."

Hamid hanya diam.

"Tapi masalahnya, apa iya pak Dave yang ngehamili Rania sementara usia pernikahan mereka baru....." Amira menghitung dengan jari tangannya." Baru sembilan hari, pa. Rasanya tidak mungkin sembilan hari langsung jadi. Apa jangan-jangan, Rania hamil...."

"Sudah lah, ma. Papa pusing dengar cerocosan mama. Mau si Rania hamil sama bapaknya kek, sama anaknya kek, yang penting si Rania sudah punya suami. Dan kita tidak perlu malu lagi."

Cerocosan Amira semakin membuat Hamid bertambah kesal saja. Jangan dikira Hamid tak khawatir. Justru Hamid lebih khawatir dari pada Amira.

1
Lea
Ga ad niatan lanjutin rania nich kak
Rumaisha Alaa
thor kapan lanjutannya ditunggu
Nenden Lasminingsih
kapan up lagi thor,,,ditunggu lanjutannya
RizQiella
lanjut kk
RizQiella
🤣🤣🤣🤣 kasihan gatot
RizQiella
temen2 toxic gitu
RizQiella
Kevin bukan anaknya
RizQiella
wkwkkw makanya jangan So🤣
RizQiella
🤣
RizQiella
kasian di blokir 😂
RizQiella
jangan jangan sama si kep kep
RizQiella
Rania Rania😁
Lea
Buntu nich thor di anggurin aja ga di lanjuutt
Annami Shavian: hehe keasikan ma rubi🤦🤦🤦tunggu rubi ketemu Rexa dulu ya kak😬🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
RizQiella
wah kasihan
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я
Kak author cantik..., bagaimana kisah Dave dan Rania selanjutnya? masih lanjut atau sudah tamat?
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я: hehehe 🤭😂😂
total 3 replies
Sugiarti
Luar biasa
Lea
Di gantung nich ceritanya mak , ga di selesain
Lea
Hilang fokus thor , fakum lama bgt si dave
Diah Elmawati
Kapan Thor lanjutannya. Aku berharap Thor memberikan hukuman yang setimpal buat Renata yang sudah membunuh kedua sahabatnya dan sekarang menculik Rania
💝F&N💝
kak, kenapa ini kok gak ada konfirmasi lagi.
ayo up lagi, kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!