NovelToon NovelToon
High School Bad Boy

High School Bad Boy

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Contest / Badboy / Berondong / Tamat
Popularitas:416.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Magnifica

Paris, 2021.

Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.

Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.

Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.

Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.

Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.

Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Why Do I Wish It Was You (Kenapa Aku Berharap Itu Kau).

Wulan menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Rambut panjang diikat ekor kuda, gaun mini warna hitam selutut dibalut dengan mantel tebal dengan ukuran yang sama, lalu stoking yang membungkus kakinya dan boot setinggi pergelangan kaki. Ia terlihat rapi, dan cantik.

Ia menyudahi aktifitas bercerminnya dan menyambar tas selempangnya yang tergeletak di atas ranjang, ketika terdengar suara pintu di ketuk. Ia pun segera melangkah keluar dari kamarnya dan segera membuka pintu.

Didapatinya Damien tengah berdiri sembari menyunggingkan senyumnya.

"T'es prêt (kau sudah siap)?" tanyanya sembari mengagumi dalam hati wajah cantik di hadapannya itu.

"Oui (ya)." jawab Wulan sembari menutup pintu dan menguncinya.

Wulan dan Damien berjalan berdampingan menuruni tangga dan keluar dari gedung.

"Silahkan, Nona," kata Damien sembari membuka pintu mobilnya untuk Wulan, begitu mereka sampai di luar.

Wulan masuk ke dalam mobil citroen keluaran terbaru berwarna putih itu disusul oleh Damien yang memposisikan dirinya di belakang kemudi.

"Kau cantik sekali malam ini, Wulan." Damien akhirnya mengeluarkan kata - kata pujiannya. Membuat senyum tipis Wulan tersungging.

"Merci," jawab Wulan lirih. Ia menoleh pada Damien yang juga tengah menoleh sekilas padanya. Senyum pria itu manis. Kata - kata pujiannya terdengar romantis. Namun tak mampu menggetarkan hatinya, seperti ketika kata - kata kau cantik sekali, Miss, yang meluncur dari mulut seorang Maximilian malam itu. Walaupun pada waktu itu ia sama sekali tak menanggapi, namun dalam hatinya, ada desir aneh yang mendera.

Kenapa memikirkan Max lagi?

Wulan menelan ludahnya. Ia menggeleng pelan berusaha mengusir bayangan wajah Max yang tiba - tiba saja melintas di benaknya.

"Ada apa, Wulan?"

"Tidak apa - apa." Wulan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Paris di saat malam selalu indah. Jalanan dihiasi oleh lampu - lampu berdesain klasik nan cantik dari abad ke tujuh belas masehi, era Raja Louis XIV. Bangunan - bangunan yang terlihat kuno tanpa pencakar langit dengan dominan warna krem membuat kesan hangat akan kota itu terasa kuat meskipun di saat malam musim dingin.

"Kita sudah sampai." Suara Damien membuyarkan lamunan Wulan.

Damien telah memarkir mobilnya di halaman luas sebuah gedung megah dengan pilar - pilar besar di bagian depan.

Wulan yang baru pernah menginjakkan kakinya di gedung opera paling tersohor di Perancis itu terkagum - kagum begitu memasuki ruangan super megah dengan desain neo - baroque berornamen rumit nan epik yang digagas oleh Kaisar Napoleon Bonaparte III itu.

Ia tak henti - hentinya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan berkapasitas dua ribu dua ratus orang itu. Atap melengkung yang dilukis dengan lukisan psikedelik dengan lampu gantung besar di tengah yang menyerupai chandelier (tempat lilin), balkon - balkon memutar yang dibagi menjadi tiga lantai mengelilingi ruangan yang dilengkapi tirai berwarna merah dan dikhususkan untuk penonton VVIP, panggung besar di lantai pertama, dan deretan kursi - kursi yang mulai penuh dengan penonton, semua itu membuat Wulan merasa seperti baru saja berteleportasi ke jaman Eropa klasik.

"Kursi kita di sebelah sana." Damien menggandeng tangan Wulan menuju ke kursi kosong melewati beberapa orang yang telah duduk di antara kursi mereka.

Sebuah lagu dari Léo Delibes, komposer ternama Perancis pada tahun 1800an berjudul Lakmé yang dibawakan oleh para pemain musik berjumlah sekitar tiga puluh orang dengan dua penyanyi soprano dan mezosoprano, mengalun dengan merdunya dari atas panggung.

Wulan merasa jiwanya terbang mengikuti alunan nada yang begitu pilu namun romantis dalam waktu yang bersamaan. Ia memejamkan matanya. Menikmati buaian suara memukau dari dua penyanyi wanita bersuara merdu itu.

Sampai pada suatu momen di tengah - tengah lagu, bayangan Max yang tengah melukisnya di jembatan Pont Marrie muncul dalam benaknya. Senyum tipis dan mata birunya terlintas begitu saja.

Wulan terkesiap. Ia membuka matanya dan menoleh ke sampingnya, di mana Damien duduk di sana.

Bukan pria berjambang tipis itu yang ia harapkan ada di sampingnya.

Melainkan si pemilik rambut hitam setengah gondrong dan si mata biru yang membuatnya merasakan desiran - desiran aneh yang tak bisa ia artikan dengan kata - kata.

I wish it was you (kuharap itu kau).

Why (mengapa)?

Damn!

.

.

"Merci, Damien, c'etait sympa (pertunjukannya tadi bagus)."

"Da rien (sama - sama), Wulan. Terimakasih kau mau pergi menonton denganku."

Wulan hanya tersenyum. Lalu berpamitan pada Damien dan segera turun dari mobil. Ia menunggu sejenak sampai mobil Damien berlalu dari hadapannya dan menghilang di kejauhan.

"Miss!"

Wulan tersentak mendengar suara yang begitu familiar dari arah belakangnya. Jantungnya seakan - akan hendak melompat dari ceruk dadanya. Ia segera membalikkan badan dan mendapati Max tengah berdiri menyandarkan punggungnya di samping pintu utama gedung apartemen yang minim penerangan. Hanya bias dari lampu jalan yang membuat wajah Max terlihat, sangat tampan.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Wulan dingin. Meskipun hatinya bersorak gembira melihat anak bengal yang, entahlah. Ia bahkan tak bisa memilih kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

"Aku ingin minta maaf, Miss," ucap Max. Ia menarik punggungnya yang tersandar di dinding, lalu mendekat pada Wulan.

"Tidak perlu," sahut Wulan. Ia hendak melangkah masuk, namun Max menahannya dengan meraih tangannya.

"Miss .. tolong jangan marah padaku. Aku tidak bisa ...." Kata - kata Max menggantung begitu saja.

"Tidak bisa apa?" serang Wulan sembari menarik lengannya dari genggaman tangan Max.

Max menarik nafas dalam - dalam. Ia tak menjawab pertanyaan Wulan. "Miss, aku berjanji tidak akan kurang ajar padamu lagi. Tapi .. tolong jangan marah padaku," pintanya dengan wajah memelas. "Please ...."

"Please ...."

Wulan memejamkan matanya sejenak. Lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan yang lengang. Ia tak sanggup menatap mata bocah itu, yang sudah pasti akan membuatnya luluh.

"Berjanjilah kau tidak akan pernah mengulanginya lagi, Max." Wulan menegaskan. "Ingat, aku Gurumu, tolong hormati itu."

"Aku berjanji, Miss."

Wulan mengangguk. "Ya sudah, aku mau masuk."

"Emm .. Miss!" panggil Max menghentikan langkah Wulan yang hendak mendorong pintu.

"Ada apa lagi, Max?"

"Aku mau membatalkan acara makan malam akhir pekan ini. Tapi, sebagai gantinya ...." Max menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maukah kau menemaniku ke acara pameran lukisan jalanan di Les Marais akhir pekan ini?"

Wulan terdiam. Tentu saja ia mau. Namun ia tak ingin membuat anak bengal ini senang begitu saja. Akan diulurnya waktu sejenak untuk menjawab tawaran Max.

"Aku hanya mampu mengajakmu ke acara murahan seperti itu," kekehnya malu. "Tidak seperti Damien yang mengajakmu menonton pertunjukan opera mahal."

"Kau ini bicara apa?" hardik Wulan kesal.

Max terkekeh. "Jadi bagaimana, Miss?"

Wulan mendorong pintu kayu besar di hadapannya itu pelan. "Kita bertemu di depan Picasso seperti waktu itu," ujarnya sembari melangkah masuk.

"Aku akan menjemputmu, Miss!" Max buru - buru berseru sebelum Wulan menutup pintunya. "Kita naik métro (kereta bawah tanah) bersama - sama dari sini," lanjutnya.

Wulan menaikkan alisnya. "Bonne nuit (selamat malam), Max," ujar Wulan seraya menutup pintu.

"Attend (tunggu), Miss!" Max menahan pintunya hingga Wulan mengurungkan niatnya untuk menutupnya.

"Apa lagi?" ujar Wulan kesal.

"Kau tidak berpacaran dengan si Damien menyebalkan itu, kan, Miss?"

Wulan terbahak mendengar pertanyaan Max. "Bonne nuit (selamat malam), Max!" ulangnya seraya benar - benar menutup pintu rapat - rapat.

"Hei, kau tidak menjawab pertanyaanku, Miss!"

"Merde (sialan)!" makinya.

Dari dalam Wulan masih bisa mendengar makian Max di luar sana. Ia berjalan manaiki tangga menuju apartemennya dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

***

***

***

1
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Qin one
reaksi alami masyarakat indo klo liat bule, pasti pada heran,gemes, pingin foto🤣
Qin one
Kecewa
Qin one
Buruk
Qin one
wanita klo sedang marah bisa lebih liar dari singa🤣
Qin one
anak kecil ini bikin candu😜
Kham Diyah
slh satu autor kesayangn 😍😍kak septia
Dewa Qin
fiuuuuuh...akhirnya max-wulan menikah,happy ending meski rintangannya juga gak gampang.
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
Dewa Qin
max,semakin kesini q semakin mencintaimu❤️❤️
Dewa Qin
kasian kamu max
Dewa Qin
kereeeen👍👍👍👍👍
Dewa Qin
oalah...jadi max udah tau kelakuan damien,makanya dia pura2 menanyakan sesuatu pada wulan agar wulan tak terjerat bujuk rayu damien yg jelas2 masih berhubungan dengan nadya.adik angkatnya
Dewa Qin
wiiih ngadepi murid kayak mereka bisa2 sebulan langsung serangan jantung
Dewa Qin
baru bab awal,tp udah ada magnetnya buat baca lebih jauh.thanks kak,udah rekom novel ini,ben-mia tamat magrib td.sekarang lanjut ke wulandari.let's start the advanture
Rafa Retha
samawa ya...Max + Wulan
Rafa Retha
max....😘
Rafa Retha
kuapok koen Joelene...
modyaaarrrrr😡😡😡
Elly Prianti
aku sangat suka karya dari lady magnifica
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍
Cicik Iswanto
aku pembaca baru untuk novelmu....aku mencoba menyelami nya ...
Elya Dewi
👌👌👌👌👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!