Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!
Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Rindu pada Sahabat.
Seminggu kemudian.
Camilla memakai seragam sekolahnya. Perbannya sudah dilepas, tapi masih harus ditempel hansaplast di luka itu. Pagi itu Camilla bersiap-siap ke sekolah setelah seminggu rebahan di rumah saja. Ya, selama seminggu semenjak bertarung dengan Red Dragon, Camilla maunya di rumah saja, malas sekolah. Toh, ia tak akan ketinggalan pelajaran, karena sudah tau semua materi pelajaran SMA.
"Gak di rumah lagi aja?!" Ketus Alan kesal, Camilla terkekeh dibuatnya.
"Bosen juga di rumah, Kak!" Camilla menyeruput susu coklat kesukaannya. Lalu memakan steak yang sudah dihidangkan pelayan.
"Oh iya. Papa lupa bilang. Nanti sore Papa mau keluar kota sama Mama, ada urusan kantor! Jadi nanti tidak pulang, langsung ke sana." Kata Papa Jevar setelah sarapan.
"Berapa hari, Pa?" Tanya Alan lalu meminum air putih di gelasnya.
"Seminggu. Kalian jaga diri ya di rumah!" Kata Papa Jevar. Si kembar dan Camilla mengangguk.
"Cam. Itu jam tangan kamu ngapain di pakai terus sih?" Tanya Mama Eva mengganti topik.
"Punya cowok, Ma. Tapi gak tau siapa. Bertemu cowoknya aja udah 7 tahun yang lalu." Jawab Camilla.
"Jam tangan mahal, ya." Celetuk Arlan. Camilla mengangguk.
"Waktu itu Cam nabrak dia. Jam tangan kami jatuh. Tapi Cam malah ngambil jam tangannya cowok itu."
***
"Eh itu si cantik akhirnya sekolah juga!!"
"Iya tuh!!"
"Ya ampun cantik bangettt.."
"Mobil mahal kan itu? Pasti dia kaya!"
"Kok bisa cantik banget sih!"
Camilla turun dari mobilnya sambil menenteng tas ransel dengan pundak kirinya. Banyak pasang mata yang menatapnya kagum, ada juga yang iri. Camilla tidak menghiraukannya, ia segera masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Justin seperti minggu lalu.
"Udah balik dari hadapan Tuhan?" Kata Justin datar, ngawur. Tapi memang Camilla sendiri yang bicara seperti itu seminggu yang lalu.
Camilla berusaha keras menahan tawanya, ia menatap Justin datar. "Mati suri gue!" Jawab Camilla ikutan ngawur.
Kali ini Justin yang berusaha keras menahan tawanya, ia mengalihkan pandangannya ke jendela. Ingin rasanya ia menanggapi perkataan Camilla.
Bel masuk berbunyi. Seorang guru bernama Bu Mega memasuki ruangan kelas 11-A, guru yang terkenal periang dan sangat centil itu melambaikan tangannya ke murid-murid.
"Hai guys! Kembali lagi dengan ibu!!! Apa semua sudah mengerjakan tugas?" Tanya Bu Mega sambil mengedipkan sebelah matanya ke Justin, ia salah satu fans ketua OSIS itu. Justin yang melihatnya pun hanya menatap Bu Mega datar.
"Sudah, Bu." Jawab murid-murid serempak, kecuali Camilla.
"Hei hei! Lihatlah siapa ini? Apa murid baru?" Tanya Bu Mega mendekat ke Camilla. Semua pasang mata mengarah kepadanya. Camilla hanya mengangguk.
"Apa kau sudah mengerjakan tugas?" Camilla hanya menggeleng.
"Apa kau sudah mengerti materi ini?" Tanya Bu Mega lagi. Dalam hati Camilla berkata, "Materi apa ha? kenal lo aja kagak!" Daripada kena hukuman karena menjawab dengan jawaban itu, Camilla pun hanya menganggukkan kepalanya.
Bu Mega mengernyitkan dahinya, "Kau murid baru tapi sudah mengerti. Kalau begitu coba kerjakan nomor 1-10 di papan tulis." Bu Mega meminjamkan buku miliknya pada Camilla. Terlihat di halaman itu ada beberapa soal matematika.
Dengan langkah malas, Camilla berjalan ke papan tulis. Ia mengerjakan soal yang disuruh itu dengan cepat. Empat menit kemudian, Camilla menutup spidol dan menaruhnya sesuai tempatnya. "Sudah, Bu." Camilla mengembalikan buku milik Bu Mega itu.
"Cepat banget!!"
"Iya, baru empat menit lohh!"
"Gilak sih ini, udah cantik, pinter lagi!"
"Idaman banget!!!"
"Pinter banget astaga!"
Arlan dan Alan pun begitu dalam hati, "Cam mah semua pelajaran bisa!"
Bu Mega pun mengoreksi jawaban Camilla. Alangkah terkejutnya ia, jawabannya betul semua. Padahal Camilla hanya mengerjakannya selama empat menit.
Senyum Bu Mega mengembang, "Bagus, Cam. Namamu Cam kan? Betul semua jawabanmu, itu keren!" Bu Mega mengacungkan jempolnya pada Camilla. Murid-murid pun bertepuk tangan pada Camilla, tak terkecuali Justin.
"Apa-apaan ini? Kayak anak kecil!" Batin Camilla sambil mendengus kesal.
***
Jam istirahat, di kantin.
Camilla menoleh ke sana kemari, tidak ada tempat duduk yang kosong. Ingin bersama kedua kakaknya, tapi di meja itu ada Justin dan James. Astaga! Sebenarnya Arlan dan Alan sudah tau jika James adalah kakak kandung dari Camilla. Tapi ia tak memberitahunya, sampai kapanpun. Meski terkadang James selalu berkata bahwa ia sangat rindu dengan adiknya itu.
Camilla pun menoleh ke dua perempuan yang sedang menikmati bakso, seperti yang sedang dibawanya itu. Dua perempuan yang ia kenali itu sepertinya sedang membicarakan sesuatu. Camilla mendekat ke meja perempuan itu dan langsung duduk.
"Eh?" Kata salah satu perempuan itu cukup terkejut dengan kehadiran Camilla yang tiba-tiba.
"Kenapa gak dilanjutin bicaranya?" Tanya Camilla dengan suara hangat.
"Ah, enggak. Kami cuma membicarakan sahabat lama yang sangat kami rindukan." Camilla menghentikan makannya, ia menoleh ke kedua sahabatnya itu. Ia ingin memberi tau identitas aslinya pada sahabatnya.
"Halley diangkat menjadi anak keluarga lain. Ia mengubah identitasnya dengan marga keluarga barunya itu." Kata Camilla yang membuat sahabatnya langsung membulatkan matanya, kaget bukan main.
"Darimana lo tau?!" Kata kedua sahabatnya bersamaan dengan nada yang cukup tinggi saking kagetnya.
"Tatap mata gue!" Pinta Camilla sambil menatap mata kedua sahabatnya bergantian. Dua perempuan di depannya itu mengernyitkan dahinya. Camilla mengeluarkan sebuah foto yang bergambar mereka bertiga sedang berpelukan di pesta ulang tahun Camilla ke-10.
Dua perempuan itu semakin terkejut, mereka memandang satu sama lain. "Bukannya itu hanya dimiliki kita dan Halley?" Tanya salah satunya.
"Kalau begitu, jika bukan kalian yang memiliki foto ini, pasti orang yang kalian rindukan itu." Kata Camilla datar, ia kesal kenapa dua sahabatnya itu tidak peka juga.
Tak lama, dua sahabatnya itu mengerti. Matanya membulat, mereka menutup mulutnya dengan tangannya supaya tidak berteriak.
"HAL--"
"Jangan berteriak!" Kata Camilla mengingatkan sebelum harus ada resiko yang diambil.
Dua sahabatnya pun mendekat ke Camilla. "Ini seriusan lo? Lo kemana aja? Kenapa baru muncul sekarang? Gimana kabar lo? Lo masih inget kita? Terus sekarang kamu tinggal dimana?" Beberapa pertanyaan lagi masih diluncurkan oleh dua sahabatnya itu bergantian. Mereka berpelukan, melepas rasa rindu selama tujuh tahun tidak bertemu.
"Habisin baksonya dulu, nanti kita bicara di taman belakang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE 🤩
---Rara Tania
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃