Syifa terpaksa menandatangani surat perjanjian nikah kontrak dengan lelaki yang bernama Bima Saputra untuk melunasi utangnya. Gadis itu juga dilema dengan cinta tulus dari sosok pria bernama Arka.
Persaingan cinta pun terjadi antara Arka dan Bima. Siapakah yang akan dipilih Syifa untuk menjadi pendamping hidup yang sesuangguhnya?
IG @putritanjung2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kepanikan Bunda
Follow ig@putritanjung2020 ~
“Arka! Siapa anak ini?”
Arka menjawab tanpa menoleh karena sudah hapal betul dengan suara yang baru saja memanggil namanya. Suara itu milik salah seorang dokter yang sudah dijodohkan mamanya. Dia malah merasa sial kenapa dokter itu harus diterima bekerja di rumah sakit keluarganya.
“Bukan urusanmu!” sahutnya ketus dan berlalu mendorong kursi roda milik Ridho menuju ruang inap bocah itu.
Oh, jadi aban ini udah punya pacar, tapi kenapa galak amat sama pacarnya? Pasti bukan pacarnya deh, mana ada orang kasar banget menjawab pertanyaan pacarnya.
Ridho kecil malah memikirkan sosok dokter cantik yang tadi sempat memanggil Arka tapi gak berani untuk bertanya karena dia masih kecil dan itu juga bukan urusannya.
“Ridho ingat gak sama nomor kontak kakakmu? Nanti biar abang telepon agar orang di rumah nggak khawatir,” tutur Arka saat tangannya masih setia mendorong kursi roda sahabat kecilnya.
“Hapal lah, Bang. Soalnya kadang-kadang kalau kakak cepat pulang kuliah, aku suka minta dijemput dengan minjam ponsel pak satpam sekolah,” jawabnya pelan.
Seorang perawat sudah membantu membukakan pintu ruang rawat untuk Ridho.
“Waah, ini ruang rawat kok udah kayak kamar hotel aja, Bang? Bisa bahaya nih, kalau Kak Syifa sampe tau aku dirawat dalam kamar sebagus ini. Dia pasti setres mikirin biayanya,” ujarnya menatap sekeliling kamar yang akan ditempati hingga pulih nanti.
“Kan abang udah bilang kalau kamu nggak usah memikirkan biaya rumah sakit ini karena semua abang yang bayar. Bukankah kita bersahabat?”
Ridho menggaruk kepalanya yang sudah pasti tidak ada ketombe apa lagi kutu di sana.
“Iya, ya, Bang, kalau begitu enak di aku dong. Pasti Kakak nanti bakal ngelarang kita temenan, kan dia benci banget sama yang namanya orang kaya. Apa lagi kami sering kali dihina sama anak orang kaya dan mengatai ‘dasar anak tukang cendol!’ gitu, Bang.”
Bocah itu bercerita sembari memperagakan bagaimana cara orang-orang menghina mereka.
Ridho tersenyum dengan guratan sedih memenuhi wajahnya.
‘Ya Tuhan … mereka ternyata sering ditindas karena kemiskinannya.
“Gimana kalau kita bekerjasama biar gak ada lagi orang yang ngatai Ridho, hmm? Mau gak?”
“Mau banget dong, Bang tapi kerja sama apa?”
“Ada deh ….”
***
Syifa tergesa-gesa mengendarai motornya pulang ke rumah setelah mendapatkan kabar dari budaya bahwa Ridho belum juga pulang. Ibu Ayu memberitahukan Syifa karena anak bungsunya belum juga memperlihatkan batang hidungnya, saat gadis itu berada di rumah Lula. Betapa khawatirnya kakak bocah tersebut saat pergi ke sana ke mari mendatangi rumah kawan-kawan baiknya untuk mengetahui keberadaan Ridho yang tidak pulang dari sekolahnya menuju rumah.
Semburat kecemasan terlihat sangat jelas dari wajahnya yang memancarkan kepanikan luar biasa, Syifa sudah sangat putus asa karena belum juga bisa menemukan adik tercinta. Sedangkan sang surya sudah ingin pulang ke rumahnya meninggalkan siang yang akan menjelang menapaki hari pada dinginnya malam.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi di saat kepanikan yang mulai memuncak, sehingga membuat matanya berkaca-kaca karena merasa sedih belum menemukan adik tercintanya. Syifa melihat nomor yang tidak dikenal memenuhi layar ponselnya, dengan sedikit ragu dia memberanikan diri untuk mengangkat telepon itu, berharap yang menghubungi adalah seseorang yang mengetahui kabar tentang adiknya.
Harapan yang begitu besar bahwa si penelpon yang tanpa nama di layar ponselnya memanglah orang yang akan memberikan kabar baik adiknya. Dia tidak bisa membayangkan saat malam mulai mencekam sang adik tidak diketahui di mana rimba keberadaannya, di dalam benaknya hanya tergambar sesuatu yang buruk telah menimpa Ridho. Itu semua akan mengakibatkan kesedihan yang bisa membuatnya gila, jika tidak mengetahui tentang berita dari adik yang sangat dicintainya.
"Halo assalamu'alaikum, maaf ini siapa, ya?" tanya Syifa berharap-harap cemas kepada seseorang yang sedang berusaha meneleponnya.
Dadanya berdebar-debar untuk mendengarkan suara siapa yang bakal didengarnya.
Dentuman detak jantung yang seolah mengejar dan memaksanya agar segera menyibak tirai keberadaan sang adik dan mengharapkan bahwa suara yang baru saja didengarnya, merupakan suara seorang laki-laki terindah di kupingnya tentang kabar orang yang disayangi.
[Waalaikumussalam warahmatullah, bisa kah saya bicara dengan kakaknya Ridho yang bernama Syifa?] tanya seorang laki-laki yang berada di ujung telpon. Suara itu langsung menghentak di telinga Syifa yang sedang dalam keadaan panik mencari adiknya.
Hatinya langsung membuncah bahagia saat suara laki-laki tersebut benar-benar membawakan kabar yang ditunggunya.
Dia tidak bisa menghilangkan semburat kebahagiaan dari nada suaranya yang langsung ketahuan oleh laki-laki yang berada entah di mana. Yang terpenting saat ini adalah mengetahui bahwa adiknya dalam keadaan baik dan berada di tangan orang yang tepat, bukan di dalam sesuatu yang membahayakan. Syifa sangat bersyukur sang adik bisa bertemu dengan orang baik hati.
"Sa-saya adalah Syifa — kakaknya Ridho. Anda ini siapa dan apakah adik saya sekarang sedang bersama Anda?" tanya Syifa antara bersyukur dan terharu saat mendengar suara laki-laki yang belum pernah dikenalnya selama ini.
[Ya, saya orang yang membawa adikmu ke rumah sakit. Tadi saya menemukannya terluka di tepi jalan, akki masuk terperosok ke lunang got. Sekarang Ridho sudah baik-baik saja, jadi kamu tak perlu khawatir. Saya hanya ingin mengabarkan ini saja, datanglah ke rumah sakit Citra Harapan karena adikmu di rawat di sini!]
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arka langsung menceritakan kejadian demi kejadian hingga dia membawa Ridho sampai ke rumah sakit.
“Ya Allah … pantesan aku cari nggak ketemu-ketemu. Makasih banyak ya, Pak, sudah membantu adikku. Kalau begitu, aku akan langsung pulang untuk memberitahu bunda,” putus Syifa dengan raut wajah lega luar biasa.
[Ok. kalau begitu saya tutup dulu, ya] Arka langsung memutus panggilannya.
Syifa masih menatap layar ponselnya sesaat, tersenyum sumringah karena sudah mengetahui di mana keberadaan sang adik, sehingga tanpa pikir panjang lagi, Syifa memutarkan kepala motor beralih kembali pulang agar segera sampai di rumah untuk memberitahukan keberadaan adiknya kepada sang bunda.
Gadis itu memperlihatkan semburat senyum bahagia karena kabar yang sudah didapatkan telah membuat perasaan lega bergayut di dalam dada, saat mendapati sang bunda masih berdiri di depan pintu rumah tanpa ditutup. Itu semua dilakukan wanita itu demi menunggu kabar dari anak gadisnya mengenai berita si bungsu yang tidak diketahui keberadaannya sejak pulang dari sekolah.
Tergopoh Bu Ayu menyambut kedatangan putrinya.
"Apa Kamu sudah mendapatkan kabar keberadaan adikmu, Nduk?" tanya Ibu Ayu melihat senyum kelegaan berada mewarnai bibir anaknya.
Syifa menganggukkan kepala.
"Alhamdulillah … Ridho sekarang berada di rumah sakit swasta pusat kota Citra Harapan, Bun, kita berangkat setelah shalat maghrib aja, ya. Yang penting sekarang kita udah tau kalau Ridho baik-baik aja, jadi Bunda jangan cemas lagi!"
“Astagfirullah … adikmu kok bisa masuk ke rumah sakit? Lalu siapa yang membawanya ke sana. Nduk? Terus itu ngapain pakai diajak masuk rumah sakit mahal segala? Ya Allah … kita harus bayar pakai apa ini? Apa adikmu nanti juga bakal disandera kalau kita nggak sanggup membayarnya?”
Wajah Ibu Ayu terlihat panik sembari menekan dadanya yang terasa tiba-tiba berdenyut sakit.
Terima kasih telah membaca karya recehnya uni, semoga suka dan jangan lupa kasih saran jika ada kekurangan. Tinggalkan like, komen dan beri ulasan bintang lima ya, semoga terhibur.
ciye ciye ciye... .si beruang kutub udah gak jones lagi
ditunggu season 2nya