Kyalowng, nama dunia dari sebuah game petualangan online bernama Deep Dive.
Tak disangka ngototnya seorang pemuda tampan ketika harus mempertahankan gelarnya sebagai pemain terbaik pada game tersebut justru mengundang mala petaka. Tanpa diduga dia masuk ke dalam dunia milik Deep Dive.
Siapa yang membawanya ke sana? Bagaimana mungkin di dunia nyata, seseorang bisa masuk ke dalam dunia game? Tidakkah itu hanya mimpi semata?
Entahlah! Author tidak bisa membuat deskripsi dengan baik. Selanjutnya akan author sertakan nomor bab yang ada gelutnya, menghindari bosan terhadap cerita yang tidak jelas. Mohon dimaklumi. Thanks
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BaDiPra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihat Kehadiran Petualang Lain (revisi)
Hujan begitu deras namun untungnya rombongan Natura menemukan gua untuk berteduh. Walau getaran tanah terasa berbahaya, namun apalah daya, hari hampir berganti malam dan mereka membutuhkan tempat untuk tidur. Mereka duduk di depan api unggun yang dibuat oleh Natura dari bekas papan dan balok kayu yang masih tersisa di saku penyimpanannya.
"Natura memang aneh. Hal seperti ini pun rupanya telah dipersiapkan." ujar nenek Alia.
"Karena miskin dan sering berpindah tempat, aku membeli balok dan lempeng kayu guna mendirikan rumah pohon. Aku tidak nyaman jika tidur sembarangan."
Nenek Alia tertawa mendengar jawaban itu.
"Lalu, apakah kau sekarang memiliki rencana untuk membuat Dragon Sunguungu itu berhasil kita dekati?"
"Dragon biasanya bangun lebih siang. Maka dari itu, kita harus berada di sarangnya dan mendekat ketika matahari telah menampakkan diri. Kita tidak bisa mendekatinya ketika gelap guna mengantisipasi bila rencana kita gagal."
"Mengapa kita tidak mendekatinya ketika dia sedang tidur pulas saja?" Enenga pun mengangguk mengiyakan ide neneknya.
"Racunnya akan terlihat samar-samar ketika gelap. Rencana itu terlalu berbahaya untuk kita."
"Kau benar juga. Baiklah, nenek ikuti idemu saja kalau begitu."
"Prioritas utama kita adalah keselamatan diri kita sendiri. Aku tidak terlalu peduli misi ini berhasil atau tidak. Jujur aku kekurangan rencana mengingat kapasitas darahku sangat tipis. Aku tidak akan menggunakan nenek dan Enenga sebagai umpan. Maaf saja bila nenek memiliki rencana berkaitan dengan hal itu."
Nenek Alia menghembuskan napas kesalnya, "Padahal aku punya rencana jika kau mau mengambil resiko seperti itu."
Natura mengeluarkan karung roti dari sakunya dan disuguhkan kepada nenek bercucu itu. "Aku membeli roti di rumah makan sebelumnya. Makanlah ... Setelah ini, lebih baik kita langsung tidur. Kita perlu menjaga fokus tubuh ketika mendekati dragon raksasa itu."
Setelah makan, Enenga terlihat enggan untuk tidur walau neneknya telah mendengkur. Enenga duduk sambil memandang Natura yang menaruh koin di dada dan menyerapnya. Entah takjub dengan cahaya yang terpancar ketika koin meresap atau khawatir dengan hal lain, Enenga tetap melihat Natura melakukan hal itu terus-menerus.
"Tidurlah Enenga. Kau tidak perlu khawatir bila aku juga tertidur. Sekarang, para monster maupun hewan buas telah turun gunung menghindari Dragon Sunguungu. Tidak akan ada monster yang masuk ke gua ini mengganggu kita. Tidurlah, aku pun akan segera tidur setelah selesai meningkatkan kecepatan serang dan lariku."
Enenga pun tidur di dekat Natura setelah merasa ucapan Natura cukup masuk akal.
Malam hampir berganti pagi dan nenek Alia telah terbangun. Dia lalu menampar bokong Enenga, hingga kepala Enenga menghantam hidung Natura yang tertidur miring berlawanan posisi berbaringnya.
Seketika muda-mudi itu terbangun sambil memegang bagian yang terasa sakit.
Alia hanya tersenyum canggung ketika Enenga memperlihatkan wajah kesalnya, sementara Natura mengipasi menggunakan tangan, tulang rawan pada hidungnya yang terasa patah padahal sekejap luka itu sembuh.
"Nenek harus berhenti menampar bokong Enenga. Lihatlah akibat kebiasaan buruk nenek!" ucap Natura sambil menunjuk hidungnya.
"Terlalu gelap, nenek tidak tahu apa yang kau keluhkan," tepis nenek Alia.
Natura lalu mengeluarkan karung berisi roti dan dihidangkan untuk sarapan. Tentu nenek bercucu itu terlihat bahagia sebab Natura seolah memanjakan mereka.
"Nek, setelah sarapan, aku akan pergi mencari sungai untuk mandi. Kita harus bergantian guna tetap memantau dragon raksasa itu," ujar Natura.
"Kau ini ... Kami tahu bila kau adalah seorang bangsawan. Tetapi, bila kau ingin menjadi petualang, maka kau juga harus mandi layaknya kami."
"A-aku bahkan curiga bila nenek dan Enenga tak pernah mandi."
Enenga menatap Natura dengan wajah memperlihatkan kekesalannya. Dia lalu mengambil satu lembar potongan jelly seukuran telapak tangan dari sakunya lalu ditempelkan pada kening Natura. Seketika Natura merasakan tubuhnya segar seperti baru saja mandi. Natura tersenyum girang menyangka pakaiannya basah, padahal tidak demikian.
"Natura, kau seperti pertama kali mandi menggunakan cara ini. Dasar bangsawan elite," ujar nenek Alia sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku baru tahu jika kalian mandi dengan cara ini."
Setelah sarapan, mereka bertiga pun keluar dari gua dan melanjutkan perjalanan. Sesekali mereka memandang ke arah Dragon Sunguungu yang bagian corak tubuh dan tanduknya berwarna ungu menyala ketika menarik napas.
"Nek, mengapa ada Dragon di dunia ini? Bukankah jika ukurannya sebesar itu, maka akan membutuhkan makanan dengan porsi besar juga?" tanya Natura yang tak mau penasaran dengan isi otaknya.
"Kau ini. Kau mengetahui dengan rinci Dragon Sunguungu yang sangat sedikit informasi untuk kami pelajari, namun kau justru tidak tahu hal dasar seperti itu. Dengarkan aku wahai Natura. Monster atau Dragon hanya membutuhkan sedikit makanan. Kulit mereka yang keras tanpa pori-pori membuat udara juga menjadi bagian dari nutrisi alami mereka. Hanya dengan tidur berbulan-bulan saja, mereka dapat tumbuh dengan sempurna," terang nenek Alia.
"Itu artinya, apakah akan ada tahun dimana monster yang hidup bergerombol bisa saja mencoba menginvasi pulau yang dihuni oleh manusia?" tanya Natura sambil menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap nenek Alia.
"Seperti itulah yang kami takutkan. Monster tikus belum pernah menampakkan diri lagi di pulau ini, namun kehadirannya selalu dalam jumlah yang selalu membuat kami kewalahan. Coba saja jika para petualang dunia lain hadir kembali, pasti kami akan hidup dengan nyaman."
"Apakah itu artinya akan ada kemungkinan manusia bumi sepertiku didatangkan ke dunia ini?" batin Natura sampai tak sadar didahului oleh nenek bercucu.
"Natura, kau harus berjalan di depan kami lagi. Kau-lah satu-satunya orang yang paham akan kemunculan monster ketika ada dragon yang membuat sarang seperti sekarang ini." ujar nenek Alia sambil berbalik badan menatap Natura.
"Baiklah."
Mereka lalu menyeberangi lembah supaya dapat mencapai tempat yang akan dijadikan sebagai sarang dari Dragon Sunguungu. Saat baru beberapa menit menuruni lembah, Natura melihat di sekitar keberadaan target terdapat beberapa cahaya yang secara lambat seolah menuju arah sarang dragon.
Natura lalu menyuruh Enenga dan Alia ikut berhenti sejenak guna memastikan benda bercahaya itu. Dari cara cahaya bergerak dan gambaran siluet makhluk disekitarnya, Natura dapat mengetahui jika itu adalah gerombolan-gerombolan manusia yang menggunakan kristal bercahaya sebagai alat penerangan.
"Nek, apakah informasi rinci tentang Dragon Sunguungu dapat dibeli oleh para petualang?" tanya Natura.
"Tidak. Seperti yang pernah aku katakan, bahkan bangsawan pun tidak memiliki informasi rinci tentang Dragon jenis Sunguungu. Hanya raja yang mengetahui dengan pasti tentang hal itu, namun beliau sangat sulit untuk dimintai pertolongan semacam itu."
"Nek, rencana kita sedikit berubah. Kita harus memberitahu terlebih dahulu kepada para petualang yang memiliki satu tujuan dengan kita. Mereka akan menghambat rencana kita bila tidak mengetahui seberapa bahaya Dragon Sunguungu. Sebagai petualang, kita tidak boleh membiarkan petualang lain mati konyol. Nyawa mereka lebih berharga ketika mati dalam keadaan bertarung melawan monster yang memberontak daripada mati saat misi pengintaian seperti ini."
Nenek bercucu itu pun mengangguk, tanda paham ucapan remaja tampan itu.
Natura lalu menyodorkan punggung tangan kanannya dan kedua rekannya mengikutinya.
"Mulai dari sini kita adalah satu party lagi. Mungkin akan ada keuntungan bersama jika kelompok kita yang berhasil menyampaikan laporan keberadaan Dragon Sunguungu."
"Ya, kami setuju."
Bersambung.....
Dan semoga novel2 tentang olahraga ranjang yg ikut nimbrung di genre ini bisa terpindah semuanya ☺
rya anda bagus👍
trus kata notifikesong nya lumayan mengganggu 🤭
di tambah setiap kata dari karakter MCnya yang pintar main game tapi tolol saat di dalam game gak masuk akal.. 👎