5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kejutan
Namun, kejutan terbesar justru terjadi setelah upacara berakhir. Profesor Elian mengajak mereka menuju taman pusat akademi, tempat di mana portal utama menuju dunia luar berada.
"Kunci Mageia yang kalian tanamkan di Inti Dunia tidak hanya memurnikan sihir," jelas Elian. "Energinya juga telah menstabilkan gerbang dimensi yang selama ini rapuh."
Tiba-tiba, udara di depan mereka bergetar.Suasana di taman pusat akademi mendadak sunyi ketika gerbang dimensi itu meluas. Cahaya yang keluar bukan lagi putih biasa, melainkan emas murni dengan aksen perak yang berkilau. Langkah kaki pertama yang keluar dari portal terdengar berat dan berwibawa, seperti langkah kaki prajurit yang telah memenangkan seribu perang.
Kelima gadis itu terbelalak. Mereka terbiasa melihat orang tua mereka memakai jeans, daster, atau kemeja kantoran saat di Bumi. Namun kini, sosok yang melangkah keluar adalah para penguasa legendaris yang selama ini hanya ada dalam dongeng-dongeng kuno Euthopia.
Daniel dan Caryn Adams melangkah keluar dari portal, diikuti oleh Jesi, Variz, Fadhy, Zahira, Mark, Joy, Jonathan, dan Elia. Semua orang tua mereka ada di sana, mengenakan pakaian Bumi yang terlihat sangat kontras di tengah kemegahan Euthopia.
Daniel Adams melangkah paling depan. Ia tidak lagi memakai jaket kulit lamanya, melainkan baju zirah emas yang dipadukan dengan jubah beludru merah darah yang panjangnya menyapu lantai. Di kepalanya melingkar mahkota perak dengan permata api yang menyala-nyala. Di sampingnya, Caryn Adams tampil anggun dengan gaun putih bertahtakan berlian yang memancarkan cahaya suci, rambutnya yang biasanya diikat sederhana kini terurai indah dengan tiara cahaya.
"Putriku... Sang Penjaga Cahaya," suara Daniel bergema, dalam dan penuh otoritas, namun ada getaran haru yang tak bisa ia sembunyikan.
Azzura berlari kecil, matanya berkaca-kaca. "Papa... Mama... kalian terlihat sangat... berbeda."
"Inilah jati diri kami yang sebenarnya, Azzura," ucap Caryn sambil mengelus wajah putrinya. "Kami harus menanggalkan kemuliaan ini untuk melindungimu di Bumi. Tapi hari ini, kita tidak perlu lagi bersembunyi."
Di belakang mereka, orang tua yang lain muncul dengan kemegahan yang tak kalah memukau.
Jonathan, ayah Vera, melangkah dengan baju zirah batu hitam yang kokoh, terlihat seperti gunung yang tak tergoyahkan. Ia tertawa menggelegar saat melihat Vera. "Vera! Kau lihat zirah Ayah? Ini adalah Obsidian Heart, zirah yang dulu Ayah gunakan untuk membelah lembah kegelapan!"
Vera terpana, menyentuh zirah ayahnya yang dingin namun kuat. "Ayah... jadi selama ini Ayah bukan cuma arsitek di Bumi? Ayah benar-benar Raja Bumi?"
"Raja dari segala gunung, Sayang," jawab Jonathan sambil memeluk putrinya hingga Vera terangkat dari tanah.
Sementara itu, Jesi Brown, ibu Rachel, tampil dengan gaun biru transparan yang seolah-olah terbuat dari aliran air terjun. "Rachel, lihatlah langitnya," ucap Jesi lembut sambil menunjuk ke atas. "Angin yang kau panggil semalam sampai ke telinga Ibu di Bumi. Kau telah menjadi Ratu Udara yang lebih hebat dari Ibu."
Rachel memeluk ibunya erat-erat. "Aku hanya melakukan apa yang Ibu ajarkan... bahwa air yang tenang bisa menghanyutkan kegelapan."
Di sisi lain, Luna bersimpuh di depan ayahnya, Fadhy Xendrick, yang memakai jubah biru tua dengan aksen bulu putih, memegang tongkat es yang memancarkan uap dingin. "Ayah, maafkan aku jika aku sempat ragu akan kekuatan es ini."
Fadhy membungkuk, mencium kening Luna. "Es tidak pernah bermaksud melukai, Luna. Ia ada untuk melindungi yang rapuh. Kau telah membuktikannya dengan membangun benteng untuk teman-temanmu. Bangkitlah, Putri Es-ku."
Olivia pun tak kuasa menahan tangis saat melihat Mark, ayahnya, memakai jubah hijau zamrud dengan sulur-sulur emas yang bergerak hidup di pundaknya. "Olivia, lihatlah taman ini," ucap Mark sambil melambaikan tangannya, membuat bunga-bunga di sekitar mereka mekar seketika. "Tanaman di sini bernyanyi menyambut kepulanganmu. Kau adalah detak jantung alam yang selama ini kami nantikan."
Seluruh murid dan pengajar akademi, termasuk Profesor Elian, membungkuk dalam-dalam. Kehadiran sepuluh penguasa legendaris ini adalah momen yang belum pernah terjadi selama ribuan tahun.
"Daniel..." Profesor Elian melangkah maju dengan hormat. "Sudah terlalu lama sejak terakhir kali kau menginjakkan kaki di tanah ini sebagai Raja Aetheria."
Daniel tersenyum, lalu menatap seluruh penghuni akademi. "Kami kembali bukan untuk menuntut takhta. Kami kembali untuk memastikan bahwa generasi baru ini—putri-putri kami dan kalian semua—hidup di dunia yang tidak lagi dihantui oleh bayang-bayang."
Ia kemudian berpaling kepada Azzura dan teman-temannya. "Kalian berlima telah melakukan apa yang tidak bisa kami lakukan dulu. Kalian bersatu tanpa curiga, tanpa ego kerajaan masing-masing. Kalian membawa keajaiban persahabatan dari Bumi ke Euthopia."
"Jadi..." Azzura bertanya, sambil memandang orang tua mereka yang berdiri gagah seperti barisan dewa-dewi. "Apakah kita akan kembali ke Bumi?"
Caryn tersenyum manis, menarik Azzura ke dalam pelukannya. "Bumi adalah rumah tempat kalian tumbuh, dan Euthopia adalah kerajaan tempat kalian berkuasa. Mulai sekarang, kalian tidak perlu memilih salah satu. Gerbang ini akan selalu terbuka bagi kita semua."
Sore itu, taman akademi berubah menjadi pesta kerajaan yang megah. Para orang tua yang tadinya terlihat sangat berwibawa dan menakutkan, perlahan mulai mencair.