Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di pagi hari
Arjuna menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih menggila. Ia melirik Dita yang dengan sigap langsung menarik selimut putih tebal itu sampai ke dagu, memejamkan mata rapat-rapat, dan mulai mengatur napasnya seolah-olah ia sudah terlelap karena kelelahan yang luar biasa.
Arjuna berdehem sekali lagi, lalu perlahan membuka pintu kamar sedikit saja, menampakkan wajahnya yang sengaja dibuat tampak agak "berantakan".
"Juna? Kenapa Dita teriak kencang sekali tadi? Ada apa?" tanya Bu Kinanti cemas, kepalanya mencoba mengintip ke dalam. Di belakangnya, Pak Pras menaikkan alisnya dengan senyum penuh arti yang tertahan.
Arjuna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu memasang wajah pasrah yang lucu. "Aduh, maaf Bu, Yah... Itu tadi... Dita kaget sekali," Arjuna menjeda kalimatnya, mencari alasan yang masuk akal. "Tadi ada kecoa terbang besar sekali masuk lewat balkon. Dita kan takut sekali sama serangga, jadi dia refleks teriak dan loncat ke... ke arahku."
Pak Pras langsung tertawa renyah. "Oalah, cuma kecoa toh? Ayah pikir ada apa. Sampai segitunya teriaknya."
"Iya, Yah. Mungkin karena dia lelah sekali hari ini, emosinya jadi tidak stabil. Sekarang dia sudah tertidur, sepertinya saking capeknya setelah teriak tadi langsung 'tumbang' begitu kena bantal," lanjut Arjuna sambil menunjuk ke arah ranjang dengan ibu jarinya.
Bu Kinanti mengintip sedikit dan melihat Dita yang terbungkus selimut, tampak tenang meskipun sebenarnya Dita sedang berusaha keras tidak tertawa atau malah gemetar karena malu.
"Kasihan menantu Ibu, pasti dia sangat tertekan seharian ini. Ya sudah, kamu jangan berisik, Juna. Jaga istrimu baik-baik, jangan sampai kecoa nya balik lagi," bisik Bu Kinanti lembut sambil menepuk lengan putranya.
"Siap, Bu. Tenang saja," jawab Arjuna.
Pak Pras menyikut lengan Arjuna pelan sebelum berbalik pergi. "Jangan cuma jaga dari kecoa, Juna... Ingat pesan Ayah tadi ya!" bisiknya sambil tertawa jahil.
Setelah pintu kembali tertutup rapat dan terkunci, Arjuna menyandarkan punggungnya di pintu. Ia membuang napas lega yang sangat panjang. Keheningan kembali menyelimuti kamar itu, namun kali ini terasa berbeda.
"Ehem... Kecoanya sudah pergi, Dit. Kamu bisa berhenti akting sekarang," sindir Arjuna pelan sambil berjalan kembali ke arah sofa.
Dita perlahan membuka satu matanya, lalu menyembul dari balik selimut dengan wajah merah padam. "Kecoa terbang? Alasan macam apa itu, Pak?! Kenapa tidak bilang ada cicak atau apa gitu yang lebih keren!"
Arjuna mendengus sambil merebahkan diri di sofa. "Daripada aku bilang kamu ketakutan gara-gara ular karet milik Siena? Yang ada nanti Ayah malah menghukum Siena malam-malam begini. Lagipula, alasan kecoa itu cukup masuk akal untuk menjelaskan kenapa kamu sampai 'nempel' padaku tadi."
Dita langsung menutup wajahnya dengan bantal, malu setengah mati. "Sudah, diam! Jangan dibahas lagi! Aku mau tidur!"
Arjuna hanya tersenyum tipis di kegelapan, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang mulai menghangat, sementara di laci nakas, "ular" milik Siena tersimpan rapi, menjadi saksi bisu kejadian hampir saja malam itu terjadi.
*
*
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar, menyentuh wajah Dita yang perlahan mulai terjaga. Ia mengerjap, ingatan tentang insiden "ular" semalam mendadak melintas dan membuat pipinya memanas seketika. Buru-buru ia menoleh ke arah sofa, namun tempat itu sudah kosong dan tertata rapi.
Di atas meja kayu dekat sofa, terdapat lipatan pakaian yang masih harum pewangi laundry. Di atasnya, terselip selembar kertas memo dengan tulisan tangan yang tegas namun rapi.
"Aku tahu kamu tidak membawa pakaian ganti. Semoga ini cocok untukmu. Kalau sudah selesai, aku tunggu di meja makan."
Dita menghela napas, ada secercah rasa hangat yang tidak biasa di hatinya. Ternyata pria "om-om" itu bisa perhatian juga.
Sementara itu, di lantai bawah sejak subuh tadi, Arjuna sudah sibuk. Ia sempat mencegat Siena di lorong dan memberikan teguran tegas soal mainan ular karet semalam. Meski Siena hanya mencibir dan bergumam, "Aku tidak janji ya, Yah, kalau Nenek Sihir itu masih di sini," Arjuna setidaknya sudah memperingatkannya. Ia juga sempat mengobrol singkat dengan adik bungsunya, Aga, yang baru saja keluar kamar dengan wajah mengantuk.
Setelah selesai mandi, Dita menatap pantulan dirinya di cermin. Dress floral warna pink fanta dipadu dengan cardigan putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya. Ia terlihat sangat anggun, jauh dari kesan anak sekolah yang biasanya memakai ransel berat.
Dengan langkah ragu, Dita menuruni tangga menuju ruang makan. Suara denting sendok dan obrolan ringan terdengar semakin jelas. Di sana, Pak Pras dan Bu Kinan sudah duduk manis. Namun, fokus Dita teralihkan pada punggung seorang pemuda yang duduk berhadapan dengan Arjuna.
Arjuna yang menyadari kehadiran istrinya langsung berdiri dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Ia melangkah menghampiri Dita.
"Nah, akhirnya istriku sudah datang," ucap Arjuna lembut, tangannya secara alami membimbing pundak Dita untuk mendekat ke meja. "Ayo kita sarapan bersama, kami lumayan lama menunggumu."
Dita mendadak mematung. Seluruh persendiannya seolah terkunci saat pemuda yang duduk di depan Arjuna itu menoleh.
"A... Angga?" bisik Dita nyaris tak terdengar.
Di hadapannya, Angga atau yang di rumah ini biasa dipanggil Aga, ia terbelalak hebat. Sendok yang dipegangnya hampir saja terlepas. Wajahnya pucat pasi, menatap Dita yang berdiri di samping kakaknya dengan tangan Arjuna yang merangkul posesif.
‘I... Istri? Dita adalah istrinya Mas Juna? Ini tidak mungkin! Kenapa harus Dita?!’ batin Angga berteriak kencang. Dunianya serasa runtuh seketika.
Gadis yang baru saja memutuskannya kemarin di sekolah, kini berdiri di rumahnya sebagai kakak iparnya sendiri.
Suasana meja makan yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sangat mencekam. Arjuna yang tidak menyadari badai di antara keduanya, tetap menarik kursi untuk Dita.
"Silakan duduk, Dit. Oh iya, kau belum kenal kan? Ini Aga, adik bungsu kesayanganku. Dia baru kelas 12, seumuran denganmu," ucap Arjuna santai tanpa dosa.
Dita menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak berani menatap mata Angga yang kini berkaca-kaca menahan amarah dan luka.
"Hai... Aga," sapa Dita dengan suara yang sangat bergetar.
Angga hanya diam seribu bahasa, tangannya mengepal kuat di bawah meja. Bu Kinan yang menyadari perubahan suasana hanya mengernyit bingung. "Loh, Aga? Kenapa wajahmu begitu? Ayo dimakan sarapannya."
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna