NovelToon NovelToon
Sepetak Ruang Gelap

Sepetak Ruang Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Pembunuhan / Kriminal / Sudah Terbit
Popularitas:576.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Wahyudi

Dharma adalah seseorang yang rasional dan pemberani. Namun, kali ini dia menghadapi hal-hal di luar akal sehatnya. Peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi ketika dia sedang menyiapkan hadiah pernikahan berupa sebuah rumah. Ternyata sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat itu berkaitan dengan asal-usul Nirmala, sang calon istri.

Sekelompok orang misterius muncul dan mengancam hidup mereka demi menguasai harta peninggalan zaman penjajahan. Di saat yang bersamaan, kehadiran narasumber novel "Pengakuan Pembunuh" karya Nirmala memaksa Dharma untuk menghadapi dosa masa lalu keluarganya.

Inilah sajian novel thriller dengan racikan horor, sejarah, romantisme, dan misteri yang unik.


~Dwi Wahyudi~
FB/Instagram: dewey.whjudy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 21 "Bunga Lili Emas"

Drak

Drak

Drak

Sayup-sayup terdengar suara roda strecher. Perlahan aku coba membuka mata disambut barisan lampu lorong rumah sakit. Berat sekali, bahkan tak berdaya untuk membuka mataku seutuhnya. Sesekali terngiang Nirmala memanggil-manggil namaku diantara langkah yang terburu-buru.

***

"Nirmala!" Itulah kata pertama yang aku ucap saat tersadar.

Alhamdulillah aku masih hidup. Kuyakini saat ini berada di ruang perawatan sebuah rumah sakit. Namun, aku belum mengingat sepenuhnya bagaimana bisa sampai di sini.

Seandainya ada seseorang pasti aku segera bertanya, bahkan aku tak tahu di mana HP-ku berada.

Kuraba pelipis kanan mataku yang begitu perih, kaku dan gatal. Sebuah jahitan melintang cukup mengagetkan. Ada apa denganku?

Kini tiba-tiba lengan kiri terasa begitu sakit, untuk begerak pun kesulitan. Bercak rembesan darah tampak menodai perban yang terbelit di lengan atas. Terpaksa aku beringsut mencari posisi yang cukup nyaman.

Dua orang lelaki yang kukenal memasuki ruangan. Kuingat salah satunya adalah anak buah Pak Asmudi, yang meminjamkan jaketnya di malam sebelum aku tertangkap polisi. Sedang apa dia bersama Pak Kawilarang di sini?

"Syukurlah Anda sudah siuman."

Pak Kawilarang berdiri di sampingku.

"Saya tertembak ... tiga kali! Bagaimana saya selamat?"

"Silakan berterima kasih kepada dia," Kawilarang menunjuk seseorang yang bersamanya.

"Dia? Seingatku dia adalah anak buah Pak Asmudi. Malam itu dia hanya meminjami aku jaket, saat aku dijebak narkoba."

"Betul. Jaket anti peluru dan dilengkapi alat pelacak," jawab Pak Kawilarang berbarengan dengan pemuda yang di sebelahnya mengangguk dan tersenyum simpul.

"Namun, maaf lapisan anti pelurunya hanya sebatas dada dan perut. Sehingga lengan Anda tak terlindungi," lanjut Pak Kawilarang.

Teringat hal itu lengan kiriku kembali terasa sakit.

"Jadi kalian juga yang membebaskan aku dari penjara?"

"Betul, dengan cara yang tak bisa saya jelaskan."

"Sa--saya tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Benarkah? Saya tidak percaya Anda," ucap Pak Kawilarang.

"Maksud Anda saya berbohong?" protesku.

"Mungkin. Sementara saya anggap Anda memang tidak sengaja membeli rumah itu, padahal ada banyak pilihan rumah dan tanah dijual."

"Siapa Anda sebenarnya?"

"Namaku Kawilarang, bukankah Anda sudah tahu sebelumnya."

"Maksudku, apa hubungan anda dengan semua ini?" desakku.

"Emas, adalah sumber daya penting saat Perang Dunia II. Peperangan di Pasifik, sebuah front pertempuran yang sangat luas, tentunya ini menguras biaya luar biasa besar.

Dengan merampas emas dari seluruh Asia Tenggara maka Jepang akan menjadi negara yang jauh lebih kuat.

Pihak intelijen sekutu sudah mengetahui hal ini. Sehingga armada-armada Jepang menjadi target utama untuk diserang di lautan. Pesawat tempur sekutu dan kapal selamnya siap mengkaramkan kapal Jepang yang lewat. Dengan kekurangan kapal perang atau pesawat tempur guna mengawal kapal-kapal emas tersebut ke Jepang maka akan lebih mudah memenangkan perang.

Tahun 1945, Jepang yang sudah nyaris kalah total meledakkan terowongan dan gua untuk menutup timbunan emas dalam gua-gua di bawah tanah." Pak Kawilarang bercerita dengan ringkas.

"Benarkah ada 6.000 ton? Atau hanya 200 ton seperti yang para penjahat itu katakan?"

"Bisa jadi totalnya akan sebanyak itu jika semua terkumpul dan siap dikirim ke Jepang dengan kapal. Namun, ternyata memang baru terkumpul 200 ton di pantai itu."

"Siapa para penjahat menyerangku itu?"

"Kin No Yuri atau Bunga Lili Emas, organisasi internasional yang memburu emas peninggalan masa lalu. Mereka sangat terorganisir dan tak segan membunuh siapapun yang menghalangi."

"Apakah emas yang lain sudah ditemukan?"

"Saya kira cukup untuk saat ini. Emas di bunker itu sudah kami amankan. Seharusnya mereka juga tidak akan mengincar Anda lagi. Semoga." Kawilarang beranjak pergi.

"Jadi mereka berhasil lolos?" sahutku saat mereka baru beberapa meter melangkah.

"Sisa dari mereka saya akui cukup cerdik, bahkan kapal pesiar itu sudah kosong saat kami menyerbu," ucapnya sambil melangkah meninggalkanku.

Tunggu ...

Jepang, Bunga Lily Emas, sekutu, revolusi kemerdekaan?

"Siapa anda sebenarnya?" tanyaku penasaran.

"Aku di pihak yang sama dengan Dipo, Sridiah, dan suaminya. Identitas kami dirahasiakan demi kepentingan yang lebih besar."

200 ton emas? Luar biasa, jika 1 gram seharga 900 ribu seperti saat ini maka 1 kilogram akan menjadi 900 juta. Sedangkan 200 ton itu sama dengan 200.000 kilogram. Jumlah yang fantastis! Apalagi jika sampai 6.000 ton ditemukan?!? Akan butuh lima belas angka nol di belakang untuk menuliskan nilai rupiahnya.

"Oh, iya. Ada sesuatu menunggumu di rumah. Titip salam dari kami untuk Dipo, Sridiah, dan Sadjak. Assalamualaikum." celetuk Pak Kawilarang saat akan menutup pintu.

"Wa'alaikum salam."

Sadjak? Jadi itu nama kakeknya Nirmala?

***

"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Mas." Nirmala memasuki kamar membawa mukena, tampaknya habis salat.

"Berapa hari aku tak sadarkan diri?" Aku menatap matanya lekat.

"Ini hari ketiga, Mas. Pernikahan kita seminggu lagi. Aku sangat mengkhawatirkanmu ...."

Nirmala duduk di sebelahku. Air mata tak terbendung di matanya. Demikian pula aku, sungguh cobaan yang berat. Jika bukan jaket anti peluru, pastinya tembakan-tembakan itu sudah menembus dada dan membunuhku.

"Maafkan aku begitu gegabah nekat ke sana ...," isak Nirmala.

"Sudahlah, yang penting kita berdua selamat. Kamu terluka?

"Alhamdulillah tidak, Mas."

Bagaimana dengan temanmu si Obi itu?"

"Dia tidak apa-apa, Mas. Cuma memar-memar. Kemarin sudah kembali ke Surabaya setelah menjengukmu."

"Syukurlah," ucapku lirih.

"Mas, mengapa kamu begitu nekat menyerang?"

"Kamu segalanya bagiku, Nirmala. Bagaimana mungkin aku biarkan ada yang menyakitimu?"

Nirmala terdiam, menghela nafasnya panjang. Aku rasa tak ada yang salah dengan jawabanku. Menapa dia justru sedih mendengarnya?

"Aku tak ingin kehilanganmu, Mas." Seketika isak tangisnya pecah membuat pipinya basah.

"Sebenarnya apa yang kemudian terjadi saat aku tak sadarkan diri?" ucapku mengalihkan pembicaraan dan berharap penjelasan yang melegakan.

"Kamu tertembak dua kali saat menyerang si keriting biadab itu, Mas. Saat terjatuh, kepalamu terantuk peti kayu dan pelipismu robek."

"Dua kali? Bukan tiga?"

"Tembakan yang ketiga dari pintu rahasia tempatmu datang. Pak Kawilarang dan para anak buahnya menyerbu dari sana. Tiga penjahat itu ditembak mati di ruangan itu karena melawan. Sedangkan beberapa penjahat yang berjaga di luar, tiga orang tertembak sniper anak buah Pak Kawilarang. Sisanya lolos dengan speedboat."

"Apa dia juga yang menyelamatkan Obi?"

"Obi ditemukan sehari kemudian, dia sempat tersesat di labirin dalam gua."

"Sehari kau bilang?"

"Benar, Mas. Setelah diselamatkan, dia ingin segera bertemu denganmu untuk menanyakan tentang Unit 731. Entah apa yang dia maksud, aku tidak tahu."

Aku tak menjawab meski aku tahu sedikit cerita tentang unit itu. Meski aku juga penasaran dengan tujuan Obi, tetapi tak pantas rasanya jika kuceritakan di waktu seperti ini. Demikian juga tentang Sridiah dan Dipo.

Kami terdiam beberapa saat, tak mudah untuk melupakan kejadian-kejadian selama ini. Rasanya masih shock, sebagian misteri mungkin telah terjawab. Tetapi bagiku ini belum selesai. Komplotan itu masih lolos, sisa emas belum terungkap, dan yang paling utama adalah misteri rumah baruku itu.

Kuingat dalam sandi surat itu Sadjak menulis untuk Sridiah dan Dipo bahwa 6.000 akan terkumpul dan apa kabar 300 di sana?

Bukankah ini berarti 300 ton emas masih tersimpan di lokasi terakhir Sridiah?

Di sekitar rumah baruku itu?

Benarkah?

1
Aryani M.S
mudah2n aku bisa jadi penulis horor kek kamu thor
Erni SS
Makin seru bikin penasaran
Erni SS
Luar biasa
Erni SS
Lumayan
Niswah
ngeri and seruuuuu
Niswah
Luar biasa
Sinta Dwi lestari
g
Anik New
sumpah serem fotonyas
Anik New
ikut ngoss ngosan aku🤭🤭
IG: _anipri
inikah racauannya?
IG: _anipri
kalau aku takutnya kalau ada katak? hii, takut katak aku. apalagi rumahnya banyak lumut dan masih lembap
FJ
update lagi dong Kak sampai Tamat
deyura
Aku berhari hari maraton dan belum sempet like, huhu. Sukaa! plot twist banget ceritanya. Semangat Thor!
Liani Purnapasary
astaga kagett aq, ga berani lihat tutup mata 😅😅
💎hart👑
👣👣👣
Aqilla
ninggal jejak
tamatin yg versi darma dulu dong
pengejaran darma ga dilanjutkan ini?yahhh padahal lagj seru2 nya..kenapa bab selnjutnya mlh ganti yg versi nirmala
cerita negri sendiri pun jika dikemas dengan baik serta pas akan menjadi menarik..seandainya di filmkan pasti sangat meren karena berbagai genre di sematkan romantis,action,mistis,horor,misteri,petualangan.walaupun nonfiksi(tetapi masih bs ditelaah secra logis dan realistis?tetapi bnyak sekali pembelajarannya.
karya seperti inilah yg disebut karya berkualitas.wajib di apresiasi..
very good and so interesting.
thank you to the writer.
adik damar balas dendam itu.apa mungkin inspektur reyhan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!