Di malam pertunangan Daniel dan Moza, Tiara kehilangan kesuciannya. Kehormatan Tiara direnggut oleh Daniel calon kakak iparnya sendiri.
Sejak malam itu Daniel tidak mau melepaskan Tiara malah memaksa Tiara untuk menjadi istri simpanannya. Tidak ada cinta atau kehamilan, Daniel hanya menginginkan tubuh Tiara semata.
Apa yang terjadi kalau akhirnya Tiara hamil?
Tamat perseason.
1-55 Daniel dan Tiara
Diko dan Laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijadikan Kambing Hitam
Tiara memaksa ikut ke Villa yang tidak terlalu jauh dari penginapannya, dengan telaten ia mengompres memar di wajah Diko.
"Sakit ya, kak?" Tiara meniup kecil wajah Diko ketika laki-laki ini meringis kesakitan. "Daniel memang seperti itu, tidak tau malu, keras kepala, bahkan tingkat kesombongannya pun di atas rata-rata manusia normal pada umumnya, dia ada masalah apa sih sampek mukul kakak," sungut Tiara ia memasukkan kain ke dalam air dan memerasnya penuh emosi membayangkan jika itu wajah Daniel.
"Nggak tau. Kamu sudah lama kenal sama dia?" tanya Diko, ia mengambil kain dari tangan Tiara dan meletakkannya lagi di dalam mangkuk berisi air tersebut, lalu menegakkan punggungnya di sofa membuatnya lebih fokus melihat Tiara.
Tiara tampak berpikir kapan pertama kali ia mengenal Daniel, kalau tidak salah dua, tiga atau bahkan empat tahun yang lalu, tapi yang pasti Daniel sendiri yang menjemputnya di Bandara.
"Lumayan, sih! Tapi nggak tau banyak tentang dia, siap nama ayah dan ibunya, berapa jumlah saudaranya, di mana tempat tinggal keluarganya." Tiara menjeda kalimat dan menghembuskan napas berat. "Aku yakin kalau kak Moza juga belum pernah ketemu mereka."
Diko mengerutkan keningnya. "Bukannya mereka udah tunangan? Harusnya kenal sama keluarganya juga, 'kan?"
"Iya, tapi kak Moza bilang kalau keluarganya itu ada di luar negri."
Seketika tubuh Diko menegang dan kaku, ia teringat ucapan Daniel yang membawa nama Remon dan menghina ibunya, apa maksud ucapan Daniel dan kenapa wajah Daniel semakin mirip dengan seseorang? Tetapi siapa?
"Akhh!" Diko memijit pangkal hidungnya, pening ketika ia menggabungkan semua kesimpulannya. Tidak salah lagi kalau Daniel adalah anak papa tirinya yang pergi dari rumah sebelum mereka berkenalan.
"Kak Diko kenapa? Mana yang sakit?" tanya Tiara melihat Diko kesakitan.
Diko tersenyum kaku. "Tiara, makasih karena kamu udah nyembuhin lukaku, tapi sekarang udah terlalu malam, nggak baik kalau kita berdua seperti ini!" Diko terpaksa mengusir Tiara secara halus.
Tiara melihat jam dipergelangan tangannya. "Hampir jam 10, tapi gimana sama luka kakak?" tanya Tiara.
Diko tersenyum dan mendekap tangan Tiara di dadanya. "Luka di fisikku bisa diobati sendiri, tapi luka hati ini cuma kamu obatnya, jadi tetaplah menjadi penawarnya," ucap Diko padahal sebenarnya ia ingin lebih lama lagi berduaan dengan Tiara.
Tiara tersenyum malu, bahkan desiran darahnya menghangat. "Aku pergi dulu, sampai jumpa besok." Tiara pergi meninggalkan Diko.
Diko mengambil handphone dan menghubungi adiknya Mike.
"Mike, kenapa kau mengusulkan papa untuk mengirimku ke perusahaan DNL?" tanya Diko ketika panggilan itu baru terhubung.
"Bukannya alasannya sudah jelas, papa cuma mau meluaskan koneksi bisnisnya dan kakak udah berhasil mendapatkannya, 'kan? Lalu apa masalahny?"
"Jangan pura-pura bodoh, Mike! Dari awal kau sudah tau, 'kan siapa pemimpin perusahaan DNL? Dia NIEL anak papa, 'kan?" tanya Diko, jangankan wajahnya, bahkan satu pun foto Niel tidak dipajang di rumah utama, wajar jika dari awal Diko tidak mengenali Daniel.
Mike tertawa. "Ternyata secepat itu kakak mengenalinya, bagaimana kondisinya? Apa dia sudah hidup layak di sana?"
"Jangan bercanda, Mike! Kenapa dari awal kau tidak jujur? Caramu sudah menciptakan kesalah pahaman diantara kami!" Diko benar-benar emosi, pantas saja wajah itu tidak asing baginya, ternyata Daniel anak dari papa tirinya. Papa dan Mike sudah menjebaknya dan bodohnya ia terperangkap begitu saja.
"Sudahlah, kak ... lakukan tugasmu dengan baik, cari informasi apapun tentang perusahaan Daniel, cegah investor lain yang mau bekerja sama dengan Daniel, berikan keuntungan yang menggiurkan jika mereka menghentikan saham dari Daniel dan bergabung dengan kita."
"Kenapa kau sejahat itu Mike! Daniel kakakmu seharusnya kau berusaha membawanya pulang ke rumah untuk bertemu mama bukan malah menghancurkannya, apa kau sudah gila!"
Diko benar-benar marah dan kecewa, kalau dari awal ia tau Daniel adalah saudara tirinya, tentu ia akan merangkul dan mengajaknya bicara, pantas saja Daniel murka dan menghajarnya, ternyata anak itu masih menaruh dendam pada ibunya.
"Jangan bermain dengan perasaan, kak! Ingat kau sudah janji untuk menuhi perintah papa yang sudah percaya padamu sepenuhnya dan sekarang waktunya kau untuk membanggakan papa, ingat juga bagaimana diawal papa membawa dan membelamu di rumah ini!"
"Mike!!!"
"Aku bicara yang sebenarnya, ingat Daniel keluar dari rumah ini karenamu, 'kan? Dia sangat membencimu jadi jangan berharap kau bisa menarik simpatinya, Daniel bukan orang yang mudah mengampuni kesalahan orang lain apa lagi kakak adalah orang yang sudah membuatnya jauh dari mama!"
"Kau dan papa mengkambing hitamkan, aku Mike! Kenapa hati kalian sekeras ini? Daniel anak papa! Daniel anak mama dan Daniel kakak kandungmu, Mike! Haruskah kalian sekejam ini kepadanya?"
"Jangan ingatkan aku tentang hubungan kami! Kau tidak tau bagaimana dulu dia menghajarku, aku hampir mati ditangannya!"
"Lupakan Mike, Daniel juga sudah menghajarku kalau kau mau tau! Sudahlah akhiri semua ini Mike!" Rahangnya masih sakit sekali tangan Daniel memang sekeras batu, pantas saja Mike tidak bisa melupakan pukulan itu.
"Keputusan ada di tanganmu'kak! Ini waktunya kau berbalas budi!" Mike mengakhiri panggilan secara sepihak.
"Mike! Tarik semua ucapanmu, Mike akkkhhhh!!" Diko terduduk di lantai memandang benda pipih di mana terdapat foto mama kandungnya di sana, wanita yang sudah melahirkannya itu, kini sudah meninggal dunia.
"Bawa Daniel kembali ke rumah ini, satukan lagi dia dan keluarga ini, hanya ini yang mama mau ... ini permintaan terakhir, Mama."
Diko menitihkan air mata saat bayangan mama yang lemah di rumah sakit mengucapkan permintaan terakhirnya. Bagaimana caranya membawa Daniel kembali ke rumah itu kalau ternyata Daniel masih sangat membencinya?
***
Angin malam disekitar pantai terasa lebih dingin hingga menembus pori-pori dan menusuk tulang Tiara. Kakinya melangkah perlahan di jembatan kayu menuju penginapan, ia berhenti begitu saja di depan penginapan Daniel, lama memandang pintu yang tertutup seperti tempat itu tidak berpenghuni.
"Aku menamparmu lagi, sudah yang keberapa kali?" gumam Tiara, ia masih belum mengerti kenapa Daniel bisa semarah itu. "Sebenarnya apa masalahmu, Daniel?"
Tiara kembali berjalan dan berhenti di depan penginapan Moza. "Maafkan aku, kak ... semua karena aku, kalau memang bahagia kakak sama dia, aku janji membuat Daniel melupakan dendamnya dan membuat dia mencintai kakak." Tiara kembali berjalan menuju tempat penginapannya.
Tiara tidak tau kalau ada sepasang mata di balik jendela memerhatikannya, mata itu masih merah, pipinya masih terasa panas akibat tamparan keras darinya.
***
Readers sayang! Gimana emosinya, masih amankan? Siapa yang mau Daniel pisah sama Tiara?
semangat teroos kaa,,karena bagi aq skalipun ada kemiripan dengan novel yg lain nya aq akan tetap stay..asalkan cerita nya seru, alur nya bagus dn minim typo plus g ada kata2 ato kalimat2 yg rancu...💪💪
I like it...
😍😍😍😍😍👍