NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Saatnya

Livia memarkirkan mobilnya dengan sentakan keras di depan gerbang rumah yang seharusnya menjadi awal kehidupan barunya. Rumah bergaya minimalis modern itu tampak sunyi. Bagi Livia, setiap dindingnya kini terasa seperti saksi bisu atas kebodohannya selama ini. Ia melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat mengingat rumah ini adalah pemberian Axel.

Begitu pintu terbuka, ia tidak menuju dapur untuk minum atau ke kamar untuk beristirahat. Ia langsung menuju gudang, mengambil lima buah kardus besar dan menyeretnya ke kamar utama. Dengan kalap ia mulai membongkar isi lemari. Semua benda yang dibelikan Axel berupa gaun-gaun mahal yang sebenarnya tidak sesuai seleranya, tas desainer yang selalu Axel pamerkan pada teman-temannya, hingga koleksi jam tangan yang pria itu simpan di sana, ia lempar masuk ke dalam kardus.

Semua sampah ini harus keluar dari hidupku, Gumamnya.

Livia tidak berhenti di sana. Foto pertunangan mereka ia ambil dari dinding. Ia tidak memecahkannya karena itu terlalu dramatis. Ia hanya melepas fotonya, merobek bagian wajah Axel lalu memasukkan sisa kertas itu ke dalam kardus.

Livia melakban kardus-kardus itu dengan kasar. Ia akan mengirimkan semua ini melalui jasa ekspedisi instan malam ini juga ke alamat kantor Axel. Ia tidak ingin melihat satu pun jejak pria itu di penglihatannya esok pagi. Setelah selesai dengan "sampah" Axel, Livia mulai mengepak bajunya sendiri. Ia hanya mengambil barang-barang yang ia beli dengan hasil keringatnya sebagai desainer interior. Ia tidak ingin membawa satu sen pun harga diri Axel bersamanya. Kemudian Livia kembali ke rumah orang tuanya, tempat di mana ia benar-benar dihargai.

​Meri, sang ART yang sudah bekerja di sana sejak Axel membeli rumah itu, muncul di ambang pintu dengan wajah masam. Ia memperhatikan kesibukan Livia dengan tatapan menghakimi.

​"Nona mau pergi ke mana malam-malam begini membawa koper?" tanya Meri tanpa basa-basi, suaranya terdengar tidak sopan.

​"Saya mau menginap di rumah orang tua saya," jawab Livia singkat tanpa menoleh.

​Meri mendecih pelan. Dalam hati, wanita itu membatin, Betul kata Tuan Axel tadi di telepon. Nona Livia ini memang sangat kekanakan. Baru bertengkar sedikit saja sudah mau kabur. Manja sekali, tidak seperti Nona Elena yang lemah lembut. Art itu mendecih dalam hati, merasa majikannya adalah pihak yang paling benar.

​Livia mengabaikan aura permusuhan itu. Fokusnya kini beralih ke satu hal yang paling berharga, kalung Zamrud Warisan. Ia melangkah menuju brankas kecil di dalam kamar.

Namun, saat kotak beludru itu dibuka, rupanya kosong. ​Livia terbelalak.

"Meri! Di mana kalung zamrud yang ada di kotak ini?!"

​Meri berjalan santai mendekat. "Oh, itu. Tadi baru saja saya kirimkan lewat kurir ke apartemen Nona Elena. Tuan Axel yang menelepon saya secara pribadi, katanya Nona sudah setuju untuk meminjamkannya karena Nona Elena sedang sakit dan butuh energi dari batu itu untuk menenangkan napasnya."

​Darah Livia mendidih. Ternyata pergerakan Axel secepat itu. Gigih sekali Axel membahagiakan Elena. Batinnya.

"Siapa yang memberi Anda izin menyentuh barang pribadi saya?! Itu barang warisan keluarga saya!"

​"Lho, Tuan Axel kan calon suami Nona. Rumah ini juga rumah Tuan Axel. Saya hanya menjalankan perintah majikan yang menggaji saya," jawab Meri dengan nada menantang.

​Livia merasa seolah kepalanya akan meledak. Ia merogoh ponselnya, hendak memaki Axel habis-habisan, namun ia tersadar bahwa nomor itu sudah ia blokir dan hapus. Ia sempat ragu. Haruskah ia menemui pria brengsek itu lagi? Rasa muak menyelimuti hatinya, tapi kalung itu adalah harga diri keluarganya. Ia tidak akan membiarkan leher Elena yang penuh tipu daya menyentuh zamrud murni milik nenek buyutnya.

Livia tidak membalas Meri. Ia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang sudah dicuci otaknya oleh narasi palsu Axel. Ia hanya ingin mengambil satu hal terakhir sebelum pergi selamanya, yaitu Kalung Zamrud Warisan.

Tanpa sepatah kata lagi, Livia menyambar kunci mobilnya. Ia mengabaikan kardus-kardus yang belum sempat terkirim. Ia harus mengambil kembali martabat keluarganya.

...🍓🍓🍓...

Livia tiba di apartemen Elena dengan kecewa berkali-kali lipat. Ia langsung mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci rapat seakan-akan sengaja agar siapa pun bisa melihat pertunjukan di dalamnya.

Di dalam sana suasana sama sekali tidak mencerminkan sebuah ruang perawatan. Di sofa, Elena duduk dengan anggun, dan di lehernya kalung Zamrud itu melingkar. Di sekelilingnya kini telah ada keberadaan Laura dan Karen, teman-teman sosialita Elena yang terkenal bermulut tajam.

"Berikan kalung itu padaku, Elena. Sekarang," suara Livia menggema tanpa basa-basi.

Axel yang sedang menuangkan wine ke gelas Laura tersentak. Wajahnya langsung mengeras. "Livia! Kau lagi?!"

"Berikan kalungnya, Axel! Kau tidak punya hak memberikan barang warisan keluargaku pada wanita ini!" Livia merangsek maju, tangannya terjulur hendak menggapai leher Elena.

Namun Laura dan Karen segera berdiri menghalangi. Mereka mendorong bahu Livia dengan kasar hingga hampir terjengkang.

"Heh, Elena sedang sakit, dia butuh ketenangan. Kalung ini cuma dipinjam sebentar untuk pengobatan alternatif. Jangan jadi orang yang tidak punya hati."

"Pengobatan alternatif dengan wine?!" teriak Livia sambil menunjuk ke arah botol wine yang berada disana. "Kalian semua pembohong! Itu kalungku!"

"Stop, Livia! Wine itu yang menenggak bukan Elena, tapi Laura, Karen, dan juga diriku. Kau jangan asal menjudge jika tidak melihat secara langsung." Seru Axel.

Livia tak menggubris pembelaan dari Axel. Ia menerobos kembali, tapi kali ini Karen menjambak sedikit rambut Livia dan mendorongnya menjauh. "Minggir kau! Kau hanya iri karena Axel lebih peduli pada Elena daripada padamu yang egois!"

Kericuhan pecah. Livia meronta, tangannya berusaha menggapai Elena yang kini mulai berakting. Elena berdiri memegangi dadanya dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat. Saat Livia berhasil melepaskan diri dari Karen dan hendak menyentuh kalung itu, Elena dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke lantai.

Gubrak!

"Aakhhh! Dadaku... Axel, tolong... aku tidak bisa bernapas..." rintih Elena dramatis. Tangannya mencengkeram kalung milik Livia erat-erat di lehernya, memastikan Livia tidak bisa mengambilnya.

"ELENA!" Axel berteriak bagai kesurupan. Ia mendorong Livia dengan tenaga yang begitu besar hingga Livia jatuh terduduk di dekat pintu. Axel segera berlutut dan memeluk Elena.

"Kau puas, Livia?! Kau hampir membunuhnya dengan kegilaanmu!" Axel menarik Livia keluar.

Livia menatap Axel dengan pandangan tidak percaya sekaligus kebencian yang berlipat-lipat, membumihanguskan sisa-sisa cinta yang pernah ada. Air matanya telah membendung dipelupuk. Sementara Laura dan Karen tersenyum puas melihat itu.

Livia berdiri dengan kaki lemas. Ia melihat Elena yang bersembunyi di pelukan Axel, memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis yang hanya dilihat olehnya.

Baru saja Livia hendak pergi dari hidup Axel, namun takdir malah membuatnya harus berurusan lebih dulu untuk merebut kalung peninggalan keluarga.

Livia berbalik, berlari keluar dengan isak tangis yang hampir meledak. Ia gagal. Kalung itu masih di sana ternoda oleh kulit Elena.

Hanya sekadar berhenti mengharap, merengek cinta kepada Axel saja rupanya tidaklah cukup untuk Livia berhadapan dengan situasi gila ini. Pikir Livia, hanya dengan pergi dari laki-laki itu dan membuang rasa cintanya, sudahlah cukup untuk memulai hidup baru. Tapi ternyata salah.

Livia butuh arahan.

...🍆🍆🍆🍆...

Di tempat lain, seorang pria berpakaian parlente menyesap cerutu mahal dengan tenang. Matanya yang jeli menatap laporan di tablet.

​"Dia sudah benar-benar pergi dari rumah itu, Tuan," lapor sang asisten.

​Pria itu tersenyum tipis, ​"Bagus. Eksekusi sekarang juga."

"Baik Tuan."

Akhirnya kini kau sudah sadar juga, Livia. Sudah saatnya aku akan menjadi gurumu dalam membalaskan semua yang kau terima. Batin pria itu.

Bersambung.

1
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Tevina Anggita
lanjutt💪
〈⎳ FT. Zira
sekerang jijik,, sebelumnya ngejar🤧
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: munafik sih si axel.
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
kann dugaanku bener🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
vitamin subur mungkin🤭
〈⎳ FT. Zira
mana bisa gitu Livi/Facepalm//Facepalm/
Dewi Payang
sakit memang kalo dianggqp gak lwbih berharga dari harta🤭🤭🤭
Dewi Payang
dan sayangnya Axel gak jadi dpt warisan🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah emang bs gt?
Zenun: mbuh, mungkin pikir Livia bisa🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk apa itu puncaknya yah, apa kyk bukit teletubbies? 🤔
Zenun: kurang lebih segede gitu😁
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
seketat isi celananya si morenzo y liv
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: yah si livia ampe perih2 gt 🤣🤣
total 2 replies
Dewi Payang
11 12 si daddy sama anaknya🤭
Zenun: betul tu🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Biar kagak malu dudukan ajanAxel sama Elenan🤣
〈⎳ FT. Zira
mungkin Livi pernah nyelametin morenzo🤔
Zenun: iyeu keuh?
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
sampe gak sadar gimana itu
〈⎳ FT. Zira: antara tidur terlalu nyaman atau emang senuhannya yg gak berasa..ehh/Silent//Silent/🤣
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
morenzo mungkin lagi anuu🤭
Zenun: anu apa nih😁
total 1 replies
aleena
bagian yang mana morenzoo
apakah Livia pernah menolongmu
Zenun: bagian yang paling sensitif dari Morenzo, gak sengaja di sentuh Livia
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
dirimu gak kelihatan El🤣🤣
aleena
🤣🤣kau hadir dengan penuh kebohongan, sekarang rasakan
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭
Zenun: uhuuuy, udah mulai ngerasain dicuekin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!