Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akal Bulus Sean
Sean membukakan pintu dan ekspresi wajahnya langsung berubah meminta maaf. “Sayang, maaf, ya. Aku harus kerja dulu. Tadi itu, pembantu rumah tangganya klienku ternyata yang datang. Dia mengantarkan surat dari majikannya. Jadinya, ya, aku terpaksa deh harus kerja dulu.”
Vera yang merasa kasihan dengan Sean pun berusaha menghiburnya. “Ya sudah, aku bantuin, ya.”
“Nggak usah, Sayang. Nggak papa. Mending kamu balik ke kamar dan tidur saja duluan. Biar aku yang periksa berkas dokumennya dulu,” tolak Sean cepat-cepat. Jika Vera membantunya, maka rencana dia untuk bercinta dengan Christaly akan gagal total. “Udah, ya mending kamu balik ke kamar dan tidur. Nanti kalau udah selesai aku nyusul. Janji.”
“Nggak papa, Sayang. Aku belum ngantuk, kok. Aku bantuin cek berkas dokumennya, ya. Oke?!”
Vera pun masuk ke dalam kamar kerja Sean. Dan Sean pun buru-buru menyuruhnya duduk di kursi yang biasa dijadikan tempat duduk tamu yang ingin berkonsultasi dengannya
Sementara ia sendiri langsung ke kursinya dan mengeluarkan setumpuk dokumen, yang sebenarnya ia hanya asal mengambilnya. Ia menyodorkan dokumen itu ke Vera, menyuruhnya untuk memeriksa berkas yang ada di sana satu persatu. Sambil terus membujuknya untuk kembali saja ke kamar, tentu saja. Tapi, sekeras apa pun Sean membujuk kekasihnya itu, ia tetap saja keras kepala. Tak mau kembali ke kamar tidurnya.
Di kolong meja tempatnya bersembunyi, Christaly yang mendengar semuanya tertawa puas di dalam hati. Karena, dengan situasi yang nyaris tak memungkinkan untuk mereka bercinta itu, ia akan menunjukkan kemampuan yang ia miliki.
Hal pertama yang Christaly lakukan adalah menarik kursi Sean agar sedikit lebih ke dalam sehingga lebih dekat dengan dirinya. Sean tentu saja kaget dengan tindakan nekat Christaly. Tapi, gadis itu memberinya isyarat mata agar percaya saja kepadanya.
Dengan agak sedikit khawatir Sean pun menurut. Ia mendorong kursinya agak ke dalam, dan berusaha bersikap sewajarnya. Setelah jarak antara dia dan Sean cukup dekat, Christaly bergegas membuka ritsleting celana Sean lalu membebaskan rudal yang selalu dibanggakannya itu.
Dan, dengan penuh percaya diri Christaly pun melumatnya dengan mulutnya. Lidahnya membelai, menggelitik, menggoda dengan lembut dan hangat. Hal itu jelas membuat Sean langsung menegang. Tegang oleh pacuan adrenalin juga oleh kekhawatiran.
“Uhhh ... Sayang. Mendingan kamu tidur aja dulu deh. Masa iya kamu bantuin aku kerja.” Sean kembali membujuk Vera agar ia dan Christaly bisa bercinta dengan bebas. “Biar aku saja yang cek berkas-berkasnya, kamu tidur aja, ya. Kamu kan tadi habis kerja, Sayang. Pasti capek, butuh istirahat. Nggak seharusnya kamu repot-repot bantuin aku gini.”
“Nggak papa, Sayang. Lagian cuma periksa berkas gini doang, kok. Gampang,” jawab Vera yang sedang menekuni dokumen berisi catatan kronologi kasus orang hilang yang sebenarnya kasus itu sudah diselesaikan oleh Sean. “Kalau kita kerjainnya berdua, ini akan lebih cepet selesainya, Sayang. Terus kita bisa lanjut bercinta, tadi sempat ketunda gara-gara ada tamu menyebalkan itu.”
Christaly yang mendengar hal itu hampir tak kuasa menahan tawanya. Sekarang ia tahu kalau Sean berbohong soal sedang berada di kamar mandi itu. Yang sebenarnya terjadi, dia dan pacarnya sedang bersiap untuk bercinta. Mungkin karena itulah Sean mengatakan kepada kekasihnya kalau yang tadi datang adalah pembantu rumah tangga dari kliennya.
Untuk membalas Sean yang sudah berbohong kepadanya, Christaly lalu menghisap kuat-kuat bagian tubuh paling sensitif dari pria itu yang sekarang sudah sangat keras. Efeknya tentu saja akan mendesirkan darah Sean untuk memicu syaraf yang meningkatkan gairahnya.
Tubuh Sean langsung merespon, kejang oleh ledakan kenikmatan. Akan tetapi, pria itu menahannya sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan desahan kenikmatan karena ada kekasihnya yang duduk persis di depannya.
Sean mengatupkan bibir, menahan agar tidak mendesah dan mengerang. Karena sekarang Christaly dengan posisi setengah kayang menyatukan tubuh mereka.
Celah itu masih begitu sempit dan hangat. Pada saat tubuhnya bergesekkan dengan tubuh Christaly, saat area sensitif mereka bertemu dan beradu, Sean merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Ia merasa seperti di remas-remas oleh tangan-tangan hangat yang tak terlihat. Apalagi saat Christaly menambah kecepatan gerakan maju mundurnya, serta sedikit memainkan otot-otot area sensitifnya.
Rasanya ingin sekali Sean berteriak sekeras mungkin yang ia bisa. Dan mendesah kuat-kuat karena ledakan kenikmatan itu sungguh luar biasa. Sean menggigit bibir saat ia sudah tak tahan oleh ledakan kenikmatan begitu dirinya mencapai puncak. Meski agak malu mengakuinya, tapi, Christaly memang cukup hebat dalam bercinta.
Baru pertama kali ini Sean bercinta dengan gadis yang sudah tidak perawan dan dia bisa klimaks dengan cepat di awal. Dan baru kali ini juga ia merasa bertemu dengan gadis yang bisa mengimbangi kemampuannya.
“Kamu kenapa, Sayang? Aneh banget. Senyum-senyum sendiri sambil menggigit bibir begitu,” tanya Vera curiga.
“Nggak papa, kok, Sayang. Itu loh. Aku cuman lagi keingat sama bonus fantastis yang dijanjikan sama klien aku kalau aku bisa nemuin anaknya yang mengilang tanpa jejak itu. Dengan uang itu, aku bisa melunasi hutang-hutang aku, Sayang. Sungguh aku sudah nggak sabar untuk segera memecahkan kasus ini.” Sean menyahut dengan keahliannya merangkai kebohongan yang tanpa cacat cela.
“Oh, iya, Sayang. Kalau ngantuk atau capek mau istirahat, nggak papa. Kamu duluan aja ke kamar. Seriusan, aku nggak tega liat kau bantuin aku begini, Sayang. Kamu istirahat duluan aja, ya? Biar aku yang beresin semuanya.”
“Nggak papa, Sayang. Aku kan udah bilang. Kalau kita kerjain berdua kerjaannya bisa jadi cepet selesai. Kamu ini kenapa, sih? Kok, kayak ngusir aku gitu?” Vera menatap Sean tajam. “Memangnya kamu nyembunyiian apa sih dari aku?”
“Bukan gitu maksud aku, Sayang. Karena aku sayang banget sama kamu, makanya aku nggak mau kalau kamu sampai sakit nantinya gara-gara bantuin aku.” Sean buru-buru menjawab dengan manis dan meyakinkan.
“Kalau kamu nanti sakit, aku jadi ngerasa bersalahnya dobel, Sayang. Makanya kamu istirahat dulu aja, ya. Aku benar-benar mengkhawatirkan kesehatan kamu kalau sampai kecapean. Ini secepatnya aku beresin, biar cepat bisa nyusul kamu.”
“Aku belum ngantuk, Sayang ... Ini baru jam berapa, sih. Masih sore. Nanti kalau aku udah capek dan ngantuk, aku pasti istirahat kok.”
“Ya udah kalau itu mau kamu. Tapi, kamu jangan maksain diri, ya. Kalau udah merasa capek apa ngantuk, kamu harus istirahat.”
Sean pun akhirnya mengalah dengan sifat keras kepala Vera. Ia juga tidak bisa mendesak kekasihnya itu untuk pergi istirahat. Kalau ia terus mendesaknya, gadis itu pun akan curiga kalau ada yang tidak beres. Dan mampuslah Sean kalau kekasihnya sampai tahu ada gadis lain di ruangan itu yang telanjang bulat dan sedang bercinta diam-diam dengannya.
Lagi pula, sepertinya Christaly sama sekali tidak mempermasalahkan Vera. Meski ada gadis itu duduk di depannya, Christaly masih tetap bisa melakukan banyak gaya bercinta tanpa kesulitan yang berarti karena keterbatasan ruang gerak. Ia bahkan bisa melakukan dari belakang dengan sangat sempurna. Sean pun dibuat klimaks olehnya berulang kali di dalam liang kenikmatan, baik itu masuk dari depan maupun dari belakang.
Di kolong meja Christaly benar-benar merasa bahagia karena ia sudah menang. Detektif tengil dan sombong itu sudah ia taklukan dengan kemampuan bercinta yang dimilikinya.
Sean bahkan sudah klimaks berulang kali, padahal ia sendiri baru dua kali. Tapi, Christaly harus mengakui kalau pria itu begitu perkasa. Libidonya benar-benar mengagumkan. Di tambah lagi fisiknya yang sempurna, wajahnya yang tampan, serta ukuran alat vitalnya yang cukup besar.
Christaly sendiri baru pertama kali bercinta dengan pria yang memiliki ukuran sebesar Sean. Apalagi saat ia tegang dan mengeras. Memang, saat mereka bergesekan ketika menyatukan badan ia merasa seperti dirobek-robek oleh tangan yang besar dan kekar.
Akan tetapi, justru hal itulah yang memberikan kenikmatan lebih saat bercinta dengan Sean. Dan menjadikan pengalaman bercinta yang mengesankan serta tak mungkin bisa untuk di lupakan.
Christaly yakin sekali, kalau mereka berdua sama-sama bermain pasti akan lebih menakjubkan. Sayangnya, ada kekasih Sean yang tak mau meninggalkan ruangan.
“Sayang, kayaknya udah cukup deh. Kamu naik duluan, ya. Biar aku beres-beres dulu. Aku lanjut besok pagi aja. Aku nggak tega sama kamu soalnya,” ujar Sean sambil ia membereskan dokumen-dokumen yang tadi sedang diperiksanya. “Kamu ke atas duluan, ya. Selesai beresin dokumen aku nyusul.”
“Lho ... memangnya udah selesai?” tanya Vira dengan heran.
“Belum, sih, Sayang. Tapi, aku nggak mau kamu kecapean. Aku juga udah capek juga ini, pengen istirahat. Kalau diterusin nanti kita nggak punya waktu buat berduaan dong.” Sean pun langsung memakai tak tik yang lain sama sekali untuk membujuk Vera agar mau naik ke lantai dua.
Udah, kamu ke atas duluan sana. Siap – siap. Jadi, pas nanti aku datang kita langsung main. Oke?”
“Hem. Ya udah deh. Kalau gitu aku ke atas dulu, ya, Sayang. Kamu jangan lama-lama. Aku udah kepengen banget soalnya.” Vera pun menutup dokumen yang tadi diperiksanya lalu ia pun berdiri dan berbalik pergi. “Aku tunggu di atas, ya. Siap-siap dulu,” sambungnya sambil meninggalkan ruangan.
Akhirnya Sean pun bisa menghela napas lega. Karena tak punya banyak waktu, Sean langsung menutup pintu dan menguncinya, takut kalau-kalau Vera kembali. Kemudian dengan cepat ia menarik Christaly, mendorongnya ke atas meja dan langsung menerkamnya dengan ganas.
“Dasar serigala betina nakal, ya. Kamu mau main-main sama aku rupanya.”
Sean terus bergerak maju mundur dengan irama yang terus bertambah cepat. Ia menghunjami Christaly tanpa ampun dan membuatnya tersengal-sengal hampir kehabisan napas.
Gadis itu pun mengerang dan menggeliat-geliat di atas meja. Seperti seekor cacing yang terkena air sabun. Melihat Christaly yang sudah hampir meledak karena mencapai puncak kenikmatan, Sean menambah lagi kecepatannya.
Ia ingin membalas dendam dengan membuat Christaly klimaks yang luar biasa. Hingga ia tak kuasa dengan dirinya dan menjadi lemas tak berdaya. Dan tentu saja, tak butuh waktu lama untuk membuat gadis itu klimaks, meledak berulang kali hingga ia kehabisan napas dan tergeletak lemas kehabisan tenaga.
Masih belum puas, Sean memutar tubuh Christaly membelakanginya lalu tanpa aba-aba ia melesakkan diri sekali lagi. Menghunjam Christaly dengan cepat, memaju mundurkan bokongnya. Tidak lama kemudian Sean pun meledak di dalam. Kehangatan yang lengket dari nafsu berahi mereka berdua pun meleleh lalu jatuh menetes di paha Christaly.
“Omong-omong kamu boleh juga. Huh, tapi sayang permainan kita cukup sampai di sini. Padahal aku masih ingin main lebih lama lagi. Tapi, aku harus bersama Vera sekarang.”
Christaly tidak menyahut. Ia masih tersengal-sengal kehabisan napas. Sean langsung mengenakan kembali celananya, dan merapikan pakaiannya. Sebelum ia pergi, ia memungut celana dalam Christaly yang tadi terlempar di kaki lemari buku lalu menyimpannya di laci, bukan mengembalikan ke Christaly.
“Aku akan simpan celana dalammu sebagai bukti sah kerja sama kita,” kata Sean. “Sekarang kamu sebaiknya diam-diam pulang selagi aku dan Vera bercinta di kamar atas. Besok pagi kamu datang lagi ke sini sambil bawa baju dan barang-barangmu. Oke?!”
Christaly hanya mengangguk sekilas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia masih belum bisa berpikir jernih setelah apa yang Sean lakukan kepada dirinya.
Sebelum Sean benar-benar meninggalkan Christaly, ia pun melakukan balas dendam terakhirnya kepada Christaly. Ia menunduk lalu menghisap bagian dalam area sensitif Christaly kuat-kuat dengan tiba-tiba. Persis seperti yang Christaly lakukan kepada dirinya sebelumnya. Hal itu sontak membuat Christaly kejang-kejang hebat oleh siksaan kenikmatan dari mulut Sean.
Sean tersenyum. benar-benar merasa puas luar biasa.