Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Rayga
Aurellia duduk termenung di lantai kamar yang begitu dingin.
Dia ingat apa yang diperintah kan Rayga padanya, tetapi Aurellia tidak melakukan apa-apa selain meratapi nasibnya yang begitu buruk.
"Ayah ... Ibu, apakah kalian masih hidup? Aku butuh kalian, setidaknya beri aku doa baik dari orang tua, agar aku terbebas dari kehidupan yang sangat menyiksa ini," lirih Aurellia.
Pahitnya hidup dengan orang tua angkatnya selama ini tentu menyisakan rasa trauma mendalam bagi Aurellia.
Sewaktu kecil dia dipaksa mengerjakan pekerjaan orang dewasa, dan setelah dewasa seperti ini dia juga harus menjalani hidup yang lebih berat lagi.
Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi Aurellia masih setia duduk di lantai keramik yang begitu dingin.
"Tuan Rayga." Aurellia menyeka kasar bekas air mata di pipinya ketika mendengar decitan pintu yang terbuka.
"Air mata perempuan hanya tipu muslihat semata. Jadi, jangan harap dengan berpura-pura menangis kamu akan bisa kukasihani," ujar Rayga sinis.
Aurellia hanya diam, dia merasa sulit mencerna ucapan pria yang berdiri dengan angkuh di depannya.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang tadi saya katakan?" Rayga melanjutkan langkah kakinya, dia berjalan mendekati sofa dan duduk di sana.
"Maaf, Tuan. Saya tidak ada baju ganti, makanya saya belum membersihkan diri," alasan Aurellia, tetapi alasan dia memang masuk di akal juga.
Karena Aurellia dibawa ke rumah Rayga memang hanya memakai pakaian yang dia kenakan saat ini tanpa ada membawa pakaian ganti.
"Saya tidak mau tahu, bersihkan dirimu sekarang. Mau pakai baju itu kembali atau tidak memakainya pun saya tidak peduli. Saya tidak suka dibantah!" ucap Rayga terkesan sangat egois.
Aurellia mengangguk, air matanya jatuh berderai.
Perlakuan buruk seperti ini sudah biasa dia dapatkan dari orang tua angkatnya, bahkan dia sering mendapat perlakuan jauh lebih buruk dari ini.
Namun, kali ini Aurellia merasa berada di titik lelah dan putus asa, makanya bulir bening itu tumpah tanpa diundang.
Beberapa menit di dalam kamar mandi, Aurellia keluar dengan rambut basah dan masih menggunakan pakaian sebelumnya saat dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa semua wanita itu pandai bersandiwara?" sarkas Rayga menatap lekat pada Aurellia yang kedinginan.
Karena sehabis mandi dengan air dingin, Aurellia harus kembali menggunakan pakaian yang sama saat dia di rumah bordil.
"Ma-maksud, Tuan?" Aurellia balik bertanya, karena memang dia tidak paham maksud pertanyaan Rayga padanya.
Sebelah ujung bibir Rayga naik ke atas, dia tersenyum sinis pada Aurellia yang dia anggap pura-pura polos dan tidak paham maksud perkataannya.
Rayga berdiri tegak, melipat kedua tangan di dada.
Menelisik perempuan di depannya, tetapi karena dendam dari masa lalu yang telah memenuhi hati dan pikirannya membuat Rayga tetap memandang Aurellia sama seperti wanita yang hadir di masa lalunya.
Wanita yang pernah melahirkan Rayga, dia wanita yang membuat hati Rayga keras dan sangat benci pada kaum perempuan.
"Berikan aku analk laki-laki!" tiba-tiba saja Rayga meminta sesuatu hal yang sebetulnya juga tidak pernah terpikirkan oleh Rayga sebelumnya.
Sontak pupil mata Aurellia melebar mendengar permintaan Rayga.
Dia merasa Rayga kurang waras.
Sebelumnya Rayga dengan jelas mengatakan wanita suka bersandiwara, ketika ditanya oleh Aurellia maksud dia berkata seperti itu, Rayga malah menjawab dengan permintaan agar Aurellia memberinya anak laki-laki.
"Jangan pura-pura syok begitu, Bukankah dalam otak wanita hanya ada bayangan ingin bermain dengan para pria tampan sepertiku? Ingin digilir dan selalu tidak puas dengan satu pria dalam hidupnya?" Rayga terkekeh begitu percaya diri, dia melampiaskan rasa sakit di hatinya yang telah lama terbentuk.
Bahkan luka itu telah bersemayam di hatinya sejak Rayga berumur tujuh tahun.
"Apakah Anda sedang menjadikan saya kambing hitam dalam masalah Anda, Tuan Rayga?" Aurellia menatap Rayga dengan mata menyipit.
Rahang Rayga mengeras, jemari tangannya juga mengepal erat mendapat sarkas balik dari Aurellia.
"Beraninya kau-"
"Saya dibesarkan dengan cara keras dan saya selama ini juga telah merasakan sakitnya berjalan di atas beling kehidupan." Aurellia memotong ucapan Rayga yang menggantung, lalu tertawa miris mengenang kehidupannya sejak berpisah dengan orang tua kandung dan hidup dengan orang tua angkatnya.
"Jika Anda ingin menjadikan saya kambing hitam untuk masalah Anda, silahkan saja. Saya juga sudah biasa menjalaninya, memang begitu lah takdir yang harus saya jalani. Tuhan telah menjadikan saya orang pilihan-Nya untuk menjalani semua itu, dan Dia bentuk jiwaku agar kebal mengahadapi cobaan sampai akhirnya nanti lelah menyapa. Aku rasa, takdir buruk ini hanya akan berhenti saat dunia bukan lagi menjadi tempatku. Mungkin saja, Anda adalah orang terakhir yang akan menjadi perantara takdir burukku." Aurellia berkata dengan suara bergetar.
Bulir bening terus berderai dari pelupuk matanya.
"Saya manusia, tetapi takdir telah menyetting kehidupan saya sebagai robot untuk para manusia lainnya. Maka, silah kan Anda melakukan apa saja terhadap saya, Tuan Rayga." Aurellia menyeka pipinya yang basah oleh air mata, tetapi bulir bening itu tetap datang membasahi pipinya yang sudah diseka.
"Terima kasih telah membantu saya keluar dari rumah bordil itu. Jika tidak ada Anda di sana, mungkin saya sudah digilir orang-orang di sana. Sekarang, saya hanya pasrah kedepannya saya harus bagaimana di tangan Anda. Silahkan lakukan apa saja. Saya tidak punya kuasa dan tidak punya daya apa pun untuk melawan takdir buruk ini. Saya memang manusia sial yang harus menjalaninya." Suara Aurellia makin bergetar dan serak, hatinya begitu pilu menahan beban hidup yang tak pernah usai.
Hati Aurellia yang selama ini begitu keras dan sangat benci pada kaum wanita, bahkan dia menganggap wanita adalah jelmaan iblis yang harus dia musnahkan, tetapi kali ini hatinya merasa tersentil dan sedikit luluh mendengar kalimat yang diucapkan Aurellia.
Di dalam kalimat yang dilontarkan gadis itu, Rayga merasa ada isyarat untuk sesuatu hal buruk yang harus Rayga bereskan.
Tidak terasa, mata Rayga ikut berkaca-kaca melihat wajah Aurellia yang menyimpan banyak misteri.
Di mana misteri itu seolah menantang Rayga untuk memecahkannya.
"Aktingmu luar biasa, Nona. Jangan coba-coba mengecoh saya!" Rayga masih berusaha agar Aurellia tidak melihat hatinya telah luluh.
Aurellia tersenyum getir. "Silahkan katakan apa pun tentangku, Tuan. Anda memang punya kuasa untuk itu."
Rayga mengangkat sekilas kedua bahunya, mencibir dan terlihat acuh terhadap apa yang dikatakan Aurellia padanya.
Padahal di hati Rayga, dia tidak bisa berbohong kalau setiap kalimat Aurellia memang telah mencolek hati kecilnya.
"Saya menginginkannya sekarang," ujar Rayga memainkan dagunya sendiri dengan ujung jari.
"Anda mau menginginkan apa, Tuan?" tanya Aurellia.
Rayga diam, tetapi mengisyaratkan keinginannya dengan pancaran mata yang menonjol.
Aurellia yang melihat itu langsung mengerti, karena memang Rayga sebelumnya telah mengatakan kalau dia menginginkan anak dari Aurellia.
"Apakah yang Anda maksud adalah seorang anak seperti yang Anda katakan tadi?" Tanya Aurellia memastikan.
Rayga diam, kembali dia bermain dengan matanya saja untuk menjawab pertanyaan Aurellia.
"Saya akan melahirkan anak untuk Anda, tetapi dengan satu syarat!"