NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbangun Di 2012

Rasa sakit yang berdenyut di pangkal tengkorak adalah hal pertama yang kusadari. Kelopak mataku terasa seberat timah. Perlahan, aku memaksa mataku terbuka. Aku tertegun.

​Ini bukan gerbong kereta cepat. Langit-langit di atas kepalaku adalah asbes tua yang mulai berbercak. Dinding di sekelilingku adalah perpaduan antara bata setengah badan dan papan kayu—pemandangan yang sangat identik dengan rumah masa kecilku sebelum dipugar belasan tahun lalu.

​Sayup-sayup, aku mendengar suara Ibu memanggil namaku. Di kejauhan, suara kokok ayam milik Bude bersahutan. Semuanya terasa begitu nyata.

​"Mimpi apa ini?" bisik batin atau mungkin bibirku.

​Lalu, sesosok gadis kecil muncul di ambang pintu. Itu Cinta, adikku. Namun, wajahnya masih sangat mungil khas anak mulai pubertas. Ia membawa baskom berisi air hangat dan selembar kain, lalu dengan telaten mulai mengompres dahiku. Aroma bubur kacang hijau bikinan Bik Nur memenuhi indra penciumanku. Rasa manis jahe dan santannya terasa nyata di kerongkongan.

​Logikaku berontak. Bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa seakurat ini?

​Mataku yang masih berat tertuju pada sebuah jam beker plastik di atas nakas, jam murah seharga delapan belas ribu yang kubeli dengan uang saku saat SD. Aku menatap jarum detiknya yang berdetak konstan. Sekali, dua kali, aku memejamkan mata sekuat tenaga, berharap saat membukanya nanti aku sudah kembali ke kursi kereta cepat di samping Rain.

Namun, aku masih terjebak di ruangan yang sama. Kamar lamaku.

​Saat terbangun entah ke berapa kalinya, badanku terasa jauh lebih ringan. Dengan sisa tenaga, aku memaksakan diri untuk berdiri. Pintu berderit. Di sana, di depan televisi tabung 14 inci yang cembung, sosok Bian sedang duduk bersila menyimak berita.

Aku melangkah mendekat, mataku mencari satu titik: baris teks di pojok bawah layar.

​Napas sepintas tertahan di tenggorokan. Januari 2012.

​"Astaga, ini gila..." suaraku tercekat. Ini tujuh belas tahun yang lalu. Tahun di mana aku masih duduk di kelas tiga SMA. Bagaimana mungkin?

​Langkahku terseret ragu menuju dapur.

Di sana, di balik kepul uap masakan, aku melihat punggung itu. Sosok yang selama ini sering kukirimkan pesan singkat di tahun 2029. Ia berdiri tegap, tidak tampak rapuh.

​"Lho, sudah bangun, Ra? Demamnya sudah turun?" suara itu memecah keheningan.

​Ibu berbalik. Aku terpaku. Wajahnya tampak jauh lebih muda—masih segar tanpa kerutan dalam di sudut mata. Rambutnya hitam legam terikat rapi.

​"Ibu..." suaraku nyaris tak terdengar, serak karena emosi yang meluap. Aku langsung menghambur ke pelukannya. Ibu tersentak, sedikit kaget dengan reaksiku yang tiba-tiba manja.

​"Anak ini, kenapa sih? Manja sekali, padahal sudah mau lulus SMA," gumamnya, meski tangannya perlahan mengelus punggungku.

​Di dalam pelukan itu, aku memejamkan mata rapat-rapat. Di sini, di Januari 2012 ini, Ibu masih sehat. Sebuah pemikiran gila melintas di benakku: jika semesta benar-benar memberiku kesempatan kedua, aku tidak akan membiarkan Ibu menyentuh obat-obatan itu lagi. Sedikit pun tidak.

​Malam itu, meja makan kayu kami yang sederhana menyajikan kemewahan yang bersahaja: sop ayam. Pikiranku berkelana liar. Bagaimana jika esok aku terbangun lagi di gerbong kereta cepat tahun 2029? Rasa takut itu memicu adrenalin. Aku harus melakukan yang terbaik.

​Hari selanjutnya,

Aku memutuskan untuk mendobrak kebiasaan lama. Aku melangkah ke dapur dengan tekad bulat: aku akan memasak. Keahlian memasakku yang terasah selama hidup mandiri sebagai perantau di tahun 2020-an kini menjadi senjataku.

​Menu sarapan yang kusajikan pagi ini adalah kemewahan dari halaman belakang rumah: orek tempe yang karamel, nasi kuning aromatik, dan telur dadar hangat. Aku memasak nasi kuning itu secara manual dengan teknik aron yang kemudian dikukus hingga tanak. Di ruang televisi, Ibu dan Cinta tampak tak tenang, mencuri pandang dengan raut cemas. Mungkin di kepala mereka, dapur kebanggaan keluarga ini sedang berada di ambang kehancuran.

​Saat aku kembali ke ruang tengah, suasana meja makan terasa janggal. Bapak, Ibu, Bian, dan Cinta menatap hidangan itu seolah-olah itu adalah keajaiban dunia kedelapan.

​"Mbak! Ini enak banget! Sumpah, Mbak Ara kesambet apa pas pingsan kemarin?" seru Cinta ceplas-ceplos.

​Bapak terkekeh pelan. "Sudah, jangan banyak tanya. Nikmati saja rezeki dari Mbakmu ini," ucap Bapak seraya menatapku dengan binar bangga yang membuat dadaku sesak oleh kebahagiaan.

​Hari-hari berlalu. Satu hal luar biasa yang kusadari setelah seminggu kembali menjadi gadis tujuh belas tahun adalah badanku terasa sangat kuat. Tidak ada lagi keluhan nyeri punggung atau lelah yang cepat datang. Namun, kekuatan fisik itu tidak berbanding lurus dengan isi kepalaku. Aku mulai dilanda kecemasan hebat setiap kali menatap tas sekolah.

​"Bagaimana ini?" batinku gusar. "Aku sama sekali tidak ingat pelajaran SMA!"

​Jika skenario terburuknya adalah aku tetap terjebak di masa ini, maka aku harus menghadapi kenyataan pahit: bulan April mendatang adalah Ujian Nasional. Aku harus mulai belajar dari nol.

Pagi ini, saat bersiap berangkat sekolah, aku sempat tertegun menatap meja rias kecilku. Rasa kecewa langsung menyergap saat melihat koleksi produk perawatan kulitku yang sangat minimalis. Hanya ada sebotol pelembap murah; tanpa tabir surya (sunscreen), tanpa pelembap bibir, apalagi pensil alis. Padahal bagi diriku yang versi tiga puluh empat tahun, sunscreen adalah senjata utama pelindung wajah yang haram hukumnya untuk dilewatkan.

​Tak hilang akal, aku mulai "menggeledah" kotak kosmetik milik Ibu. Isinya biasanya adalah barang-barang lungsuran dari sepupuku—anak-anak Bude yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Mengingat keterampilan dandan yang kupelajari setiap hari dari Martin, sahabat sekaligus rekan kantorku di tahun 2029 yang ahli dalam bidang kecantikan, jemariku mulai lincah memoles wajah.

​Aku tidak ingin terlihat berlebihan. Cukup riasan tipis dan segar yang pantas untuk siswi SMA, namun tetap mampu menonjolkan fitur wajah agar terlihat lebih terawat dan bercahaya. Aku menatap cermin, merapikan kerah seragam putih abu-abuku yang terasa kaku namun akrab.

​Ara yang berdiri di depan cermin ini mungkin tampak seperti siswi kelas tiga SMA biasa. Namun, di balik tatapan matanya yang jernih, ada sebuah rencana besar dan jiwa yang sudah kenyang ditempa kerasnya dunia yang mulai disusun kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!