NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

(Bukan Penulis pro, "Ide Cerita" ini ku tulis dengan tulus & sederhana, mengisi waktu luang dengan imajinasi penulus. sebelum ku unggah disunting bantuan AI, selamat membaca karya pertama ini, yang akhirnya berani ku bagikan)

Ayyara wanita mandiri, anti menikah dan tidak pernah terpikir punya anak. Ia mendapati dirinya telah melakukan perjalanan waktu ke masa lalu bersama rain. Mereka terjebak ke situasi dimana harus menikah, tapi itu bukan masalah. karena mereka yakin cinta bukan alasan utama, tapi perjalanan baru itu justru memberi mereka kejutan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku terbangun di Masa Lalu "2012"

Rasa sakit yang berdenyut di pangkal tengkorak adalah hal pertama yang kusadari. Kelopak mataku terasa berat.

Perlahan, aku memaksakan mataku supaya terbuka.

Aku tertegun.

​Ini bukan gerbong kereta cepat. Batinku.

Langit-langit di atas kepalaku adalah asbes tua yang mulai berbercak.

Dinding di sekelilingku adalah perpaduan antara bata setengah badan dan papan kayu, pemandangan yang sangat identik dengan rumah masa kecilku sebelum diperbaiki belasan tahun lalu.

​Sayup-sayup, aku mendengar suara Ibu memanggil namaku.

Di kejauhan, suara kokok ayam milik Bude bersahutan.

Semuanya terasa begitu nyata.

​"Mimpi apa ini?" bisik batin atau mungkin bibirku.

​Lalu, sesosok gadis kecil muncul di ambang pintu.

Itu Cinta, adikku.

Namun, wajahnya masih sangat, .. . khas gadis mulai pubertas. Ia membawa baskom berisi air hangat dan selembar kain, lalu dengan telaten mulai mengompres dahiku.

Aroma bubur kacang hijau bikinan Bik Nur memenuhi indra penciumanku. Rasa manis jahe dan santannya terasa nyata di kerongkongan.

​Logikaku berontak. Bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa seakurat ini?

​Mataku yang masih berat tertuju pada sebuah jam beker plastik di atas nakas, jam murah seharga delapan belas ribu yang kubeli dengan uang saku saat SD.

Aku menatap jarum detiknya yang berdetak.

Sekali, dua kali, aku memejamkan mata sekuat tenaga, berharap saat membukanya nanti aku sudah kembali ke kursi kereta di mana aku dalam realita hidupku, hal terakhir yang ku ingat sedang kulakukan.

Namun, aku masih terjebak di ruangan yang sama. Kamar lamaku.

​Saat terbangun entah ke berapa kalinya, badanku terasa jauh lebih ringan.

Dengan sisa tenaga, aku memaksakan diri untuk berdiri. Pintu berderit. Di sana, di depan televisi tabung 14 inci yang cembung, sosok Bian sedang duduk bersila menyimak berita.

Aku melangkah mendekat, mataku mencari satu titik, baris teks di pojok bawah layar.

​Napas sepintas tertahan di tenggorokan.

Januari 2012.

​"Astaga, ini gila..." suaraku lirih. Aku membeku, masih memproses kenyataan yang ku hadapi.

Ini tujuh belas tahun yang lalu.

Tahun di mana aku masih duduk di kelas tiga SMA. Bagaimana mungkin? Suara hatiku masih terus berisik, memenuhi kepalaku.

​Langkahku terseret ragu menuju dapur.

Di sana, di balik kepul uap masakan, aku melihat punggung itu.

Sosok yang selama ini sering kukirimkan pesan singkat di tahun 2029. Ia berdiri tegap, tidak tampak rapuh.

​"Lho, sudah bangun, Ra? Demamnya sudah turun?" suara itu memecah keheningan.

​Ibu berbalik.

Aku terpaku.

Ibuku, Wajahnya tampak jauh lebih muda, masih segar tanpa kerutan dalam di sudut mata. Rambutnya hitam legam terikat rapi.

​"Ibu..." suaraku nyaris tak terdengar, serak karena emosi yang meluap.

Aku langsung menghambur ke pelukannya. Ibu tersentak, sedikit kaget dengan reaksiku yang tiba-tiba manja.

​"Anak ini, kenapa sih? Manja sekali, padahal sudah mau lulus SMA," gumamnya, meski tangannya perlahan mengelus punggungku.

​Di dalam pelukan itu, aku memejamkan mata rapat-rapat. Di sini, di Januari 2012 ini, Ibu yang memeluku masih sehat.

----

Setelah beberapa saat di pelukan ibu, Sebuah pemikiran gila melintas di benakku.

jika semesta benar-benar memberiku kesempatan kedua, aku tidak akan membiarkan Ibu menyentuh obat-obatan itu lagi. Sedikit pun tidak.

Aku akan menghilangkan semua penyebab yang membuat ibuku tergantung pada obat psikiater, bahkan pernikahan, Hal yang harusnya paling anti dalam hiduku, sekalipun suliy akan ku lakukan, jika itu pemicunya juga.

​Malam itu, meja makan kayu kami yang sederhana menyajikan kemewahan yang bersahaja, sop ayam.

Pikiranku berkelana liar.

Bagaimana jika esok aku terbangun lagi di gerbong kereta cepat tahun 2029? Rasa takut itu memicu adrenalin. Aku harus melakukan yang terbaik.

---

​Hari selanjutnya, saat bangun aku menyadari masih terjebak disini.

Perlahan, Aku melangkah ke dapur.

Aku akan memasak. Aku si ayyara dewasa, memasak sudah jadi bagian hidupku untuk healing.

​Menu sarapan yang kusajikan pagi ini adalah

orek tempe yang karamel, nasi kuning aromatik, dan telur dadar hangat.

Aku memasak nasi kuning itu secara manual dengan teknik aron yang kemudian dikukus hingga tanak. Di ruang televisi, Ibu dan Cinta tampak tak tenang, mencuri pandang dengan raut cemas.

Ya aku tau , kalian pasti takut aku membuat dapur ini menjadi medan kecelakaan.

"Dilarang kesini" ucapku tegas. Memperingatkan mereka.

Tanganku masih sibuk membuat bumbu, menggoreng tempe,.

"Ara, udah lah. Ibu bantu saja. Supaya lebih cepat" . Jawab ibuku khawatir.

"Gak, bu. Kalian pasti kenyang pagi ini. Aku ini serius lho. Dijamin gak jadi korban uji coba ku."

Aku meyakinkan mereka.

Semua sudah siap. Aku keluar masuk dapur dan menaruh hasil karyaku di meja kami.

​Saat aku kembali ke ruang tengah, suasana meja makan terasa janggal.

Bapak, Ibu, Bian, dan Cinta menatap hidangan itu seolah-olah itu adalah keajaiban dunia kedelapan.

​"Mbak! Ini enak banget! Sumpah, Mbak Ara kesambet apa pas pingsan kemarin?" seru Cinta ceplas-ceplos.

​Bapak terkekeh pelan.

"Sudah, jangan banyak tanya. Nikmati saja rezeki dari Mbakmu ini," ucap Bapak seraya menatapku dengan binar bangga yang membuat dadaku sesak oleh kebahagiaan.

​Hari-hari berlalu.

Satu hal luar biasa yang kusadari setelah seminggu kembali menjadi gadis tujuh belas tahun adalah badanku terasa sangat kuat.

Tidak ada lagi keluhan nyeri punggung atau lelah yang cepat datang.

Namun, kekuatan fisik itu tidak berbanding lurus dengan isi kepalaku. Aku mulai dilanda kecemasan hebat setiap kali menatap tas sekolah.

​Bagaimana ini, berapa lama aku disini??. Aku sama sekali tidak ingat pelajaran SMA. Batinku.

​Jika skenario terburuknya adalah aku tetap terjebak di masa ini, maka aku harus menghadapi kenyataan pahit, bulan April mendatang adalah Ujian Nasional.

Aku harus mulai belajar dari nol.

----

Aku tidak tau harus bersyukur atau harus cemas.

Masih bangun di 2012 berarti ada kesempatan mengubah masa depan, tetapi bagaimana dengan tantangan menjadi anak sma.

Dengan kemampuan saat ini, Aku lebih baik mengerjakan tumpukan berkas dikantor atau tugas keluar kota dan menyelesaikan berbagai masalah. Di banding menghapal berbagai sejarah, dan mata pelajaran lain.

Ternyata masalahku bukan hanya pelajaran sekilah, Pagi ini, saat bersiap berangkat sekolah, aku sempat tertegun menatap meja rias kecilku.

Rasa kecewa langsung menyergap saat melihat koleksi produk perawatan kulitku yang sangat minimalis. Hanya ada sebotol pelembap murah, tanpa tabir surya, tanpa pelembap bibir, apalagi pensil alis.

Padahal bagi diriku yang versi tiga puluh empat tahun, sunscreen adalah senjata utama pelindung wajah yang haram hukumnya untuk dilewatkan.

​Tak hilang akal, aku mulai menggeledah kotak kosmetik milik Ibuku. Isinya biasanya adalah barang-barang lungsuran dari sepupu, ibu dapat barang yang tak cocok diwajah mereka.

Anak-anak Bude yang sudah gadis, biasa memberikan lipstik, bedak , aneka cream , bahkan yang pensil alis sisa 3cm pun. Bagi ibu kosmetik dan perawatan wajah adalah barang nomer sekian yang jarang terealisasi dihidupnya. Buat apa beli kalau dia bisa memiliki dengan cuma - cuma, toh ibupun tak begitu mengerti cara pakainya.

aku mulai memoles wajahku, make up adalah rutinitas ku yang sudah mendarah daging di masa depan.

​Aku tidak ingin terlihat berlebihan. Cukup riasan tipis dan segar yang pantas untuk siswi SMA, namun tetap mampu menonjolkan fitur wajah agar terlihat lebih terawat dan bercahaya.

Aku menatap cermin, merapikan kerah seragam putih abu-abuku yang terasa kaku namun akrab.

​Ara, nama akrab yang biasa orang sekitarku panggil.

Ara yang berdiri di depan cermin ini mungkin tampak seperti siswi kelas tiga SMA biasa.

Namun, di balik tatapan matanya yang jernih, ada sebuah rencana besar dari jiwa yang sudah kenyang ditempa kerasnya dunia.

1
Pembaca ajja
semoga happy ending😍
AnaRo: Amiiiin, Semoga yahhh.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!