NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Dian terlihat begitu fresh setelah mandi, meskipun dia tidak menggunakan pakaian yang baru seperti yang Nina kenakan.

Gadis cantik itu pun duduk sendirian di depan meja makan untuk mengisi perut nya yang terasa perih karena terlambat makan.

"Kak aku minta uang nya sekarang ya?"ujar Nina yang kini kembali membahas tentang uang ganti rugi untuk bensin yang habis karena ayah Dian pergi mencari Dian dengan menggunakan motor miliknya.

"Kan sudah aku bilang, minta sama ayah, aku tidak pegang uang"ucap Dian yang kini masih mengaduk makanan di piring nya dengan tangan nya sendiri.

"Mas berikan uang nya pada Nina, lebihkan sedikit, dia pasti butuh buat keberangkatan nya besok"ucap sang istri.

"Tidak Bu, ini uang Dian, kita sudah terlalu banyak bergantung padanya dia juga butuh modal untuk masa depannya nanti. bukankah uang saku sudah bapak berikan kemarin?"ujar pak Hasan.

"Bapak ini begitu perhitungan mentang-mentang Dian sudah bisa cari uang, bapak membedakan mereka"ucap wanita itu tidak terima.

"Bu, apa selama ini pengorbanan Dian masih kurang? Dia sudah merelakan diri untuk tidak kuliah dan lebih memilih untuk mencari uang untuk membantu kita menyekolahkan Nina dan membantu keuangan di rumah ini. Tidakkah ibu kasihan padanya?"ucap pak Hasan yang kini tidak bisa mengendalikan emosi nya.

"Ayah tidak usah ribut, malu dengan tamu kita... Tidak apa-apa jika ayah tidak bisa memberi uang itu pada Nina"ucap Nina yang kini berpura-pura mengalah.

"Yah ambil saja, Dian bisa cari lagi besok, doakan saja Dian sehat agar bisa cari rezeki"ucap Dian dengan lembut.

"Baiklah ini untuk bensin, dan ini untuk uang jajan mu Minggu ini jangan bilang kamu ada keperluan lainnya lagi nin, bapak tidak sebodoh itu" ucap pak Hasan yang kini dibalas anggukan kepala oleh Nina dan istrinya pun akhirnya tersenyum.

Sementara pandangan mata Alex terus tertuju pada gadis cantik yang beberapa kali mengusap-usap bajunya.

"Nak ini sisanya kamu simpan saja"ucap pria paruh baya itu.

"Ayah pegang saja, gunakan untuk perawatan Optimus, kasihan dia sudah bekerja keras tapi belum mendapatkan perawatan, besok Dian kerja bareng Nadhif, ada job di desa sebelah upahnya lumayan "ucap Dian.

"Bahu kamu baru sembuh nak, jangan nguli lagi"ucap pak Hasan.

"Tidak apa-apa ayah, Dian sudah sembuh kok"ucap nya berbohong.

Alex pun pamit untuk istirahat di kamar tamu yang memang tersedia khusus untuk tamu.

"Saya permisi dulu pak, saya ingin istirahat"ucap pria itu.

"Ya nak, maaf ya, jika kamu harus menyaksikan perdebatan kecil dari kami semua,"ucap pak Hasan.

"Tidak apa-apa pak, semua itu wajar namanya juga keluarga. Mungkin keluarga saya jauh lebih parah dari itu hingga saya berakhir seperti ini"ucap Alex.

"Hm... Semoga saja tidak nak, mungkin saja keluarga mu sedang mencari keberadaan mu... Tapi bapak tidak mungkin mengumumkan penemuan mu di sosial media, bapak takut orang yang telah menganiaya mu kembali mencari mu. Maka dari itu biar kamu pulih dulu setelah itu baru kita bisa mencari keberadaan keluarga mu"ucap pak Hasan yang kini membantu Alex duduk di tepi ranjang.

" Terimakasih pak, saya pasti merepotkan bapak dan keluarga. Apa tidak sebaiknya kita cek kartu-kartu ini, siapa tau ada banyak uang didalamnya untuk membantu bapak dan keluarga "ucap Alex.

"Tidak nak, simpan saja semuanya itu. Bapak masih bisa memberi mu makan meskipun hanya seadanya. bapak minta maaf jika keadaan disini tidak senyaman di tempat mu"ucap pak Hasan.

"Tidak apa-apa pak, saya sangat bersyukur bisa bertemu bapak dan keluarga. Semoga saya bisa membalas kebaikan bapak dan putri bapak"ucapnya.

"Doakan saja semoga semua baik-baik saja dan nak Alex bisa segera bertemu keluarga"ucap pak Hasan.

Pak Hasan pun berpamitan setelah mereka selesai mengobrol, Alex masih membuka mata sambil memegang dompetnya. Didalam sana ada uang sebesar tiga juta. dia berencana untuk memberikan uang itu pada Dian besok pagi.

"Semoga kamu bisa menerima ini gadis baik,"lirih nya.

Sementara Dian sendiri kini tengah menyalakan musik di handphone nya. Musik pengiring tidur yang sering dia gunakan untuk mengusir rasa lelahnya dan dia pun menggunakan headset bluetooth agar tidak membuat orang lain terganggu apalagi Nina yang besok akan kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah nya.

Perlahan tapi pasti gadis cantik itu terlelap dalam tidurnya di kasur sempitnya yang terbalut seprei usang.

Gadis cantik itu tetap bisa bersyukur setidaknya dia masih memiliki tempat untuk bernaung, meskipun di rumah peninggalan sang ibu dia tetap tidak mendapatkan keadilan.

Sampai keesokan paginya Dian seperti biasanya bangun pagi untuk menunaikan ibadah dan setelah itu dia pun membantu ibu sambung nya beres-beres dan memasak sarapan pagi.

Saat ini Dian membuat nasi goreng seafood, dia sedang ingin makan makanan itu setelah lima tahun kepergian ibunya.

Hari ini terlihat begitu spesial di meja makan tersebut, ada ayam goreng kremes ada nasi goreng seafood dan rendang buatan ibu sambung Dian kemarin.

Sementara Dian sudah memasukkan bekal makan siang nya kedalam tas ransel nya yang kini ia simpan dengan jaket lusuh yang belum sempat ia cuci.

Dian pun sarapan pagi lebih dulu bersama sang ayah yang juga akan pergi untuk melakukan perbaikan pada mobil tuanya itu dengan uang pemberian Dian kemarin.

"Nak hati-hati jangan terlalu lelah bekerja, bapak tidak ingin kamu kenapa-napa"ucap pak Hasan.

"Ya pak doakan saja semoga Dian selalu sehat dan semangat"ucap Dian yang kini menyudahi sarapan pagi nya.

"Bu titip mas Alex ya, Dian akan beli daster baru untuk ibu nanti" ucap Dian sambil tersenyum.

"Tidak perlu kalian titip juga ibu akan rawat dia , siapa tau dia berjodoh dengan Nina, karena sepertinya dia adalah orang kaya"ucap wanita paruh baya itu tanpa dia sadari bahwa Alex sudah berada tidak jauh dari area ruang makan dan sudah mendengar percakapan mereka.

"Ibu jangan sembarangan bicara, nanti nak Alex dengar"ucap pak Hasan.

"Iya bu, kalau bermimpi itu jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit loh bu"ucap Dian dengan sengaja.

"Ah kalian memang selalu iri sama Nina, putri ibu kan anak kuliahan, dia bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik, tidak seperti Dian yang hanya berteman dengan tukang kuli"ucap wanita paruh baya itu.

Dian pun sempat terdiam, tapi diamnya kali ini bukan karena dia sakit hati dengan ucapan ibu tirinya. Tapi karena dia melihat pria tampan itu ada di sana.

"Tuan, sarapan pagi dulu sebelum minum obat. Saya pergi dulu"ucap Dian dengan lembut.

"Terimakasih Di, nanti saya sarapan pagi, boleh ikut saya sebentar?"pinta Alex.

"Hm..."lirih Dian yang kini mengikuti dan membantu Alex berjalan, karena kaki kirinya masih belum sembuh dari cedera yang rencananya akan diurut setelah luka jahitan nya sembuh.

"Tuan apa ini?"ucap Dian yang kini menerima uang dari Alex yang disodorkan padanya.

"Gunakan ini untuk tambahan modal, mungkin tidak seberapa, tapi setidaknya kamu bisa berhenti bekerja berat Di, kamu itu wanita, apalagi kata bapak bahu mu baru sembuh dari cedera"ucap Alex.

"Tidak tuan, simpan saja uang ini, suatu saat nanti anda pasti membutuhkan itu. Jangan khawatir saya masih bisa mencari uang"ucap Dion.

"Di, aku salut padamu. Kamu begitu baik hati dan pekerja keras, semoga kamu sukses"ucap Alex.

"Terimakasih tuan, oh iya jika tidak ada baju ganti nanti saya minta bapak beli di pasar"ucap Dian dengan ramahnya.

Gadis cantik yang kini menggunakan celana jeans panjang dengan sobekan di bagian lutut dan pahanya itu pun, kini pamit pergi dengan membawa ransel berisi bekal makan siang dan juga perlengkapan sholat dan juga handphone nya.

...******...

Sepanjang hari Dian pun semangat bekerja bersama kelima teman laki-laki sebayanya. diantara mereka berenam hanya Dian gadis satu-satunya yang melakukan pekerjaan berat seperti kelima teman nya itu.

Mereka pun sering merasa iba pada Dian, tapi mereka sama-sama orang susah yang juga akan mencari makan dengan menjadi buruh kuli.

Alhasil mereka hanya bisa membantu alakadarnya seperti membantu Dian mengangkat karung padi sebelum akhirnya dipikul oleh Dian yang terkadang kesulitan.

Mereka akan istirahat bersama ibadah bersama dan makan siang bersama. Seperti saat ini semuanya bertanya tentang pria yang telah diselamatkan oleh pak Hasan.

Dian pun menjawab seadanya, karena sejak pertama kali mereka bertemu pun, Dian tidak pernah punya waktu untuk tinggal di rumah, dan Dian ingin bapak nya istirahat dengan uang yang tersisa dari penjualan kalung nya itu, dan juga hasil nguli kemarin.

Dan saat ini pak Hasan begitu shock saat dia mendapati tumpukan uang receh dan lembaran di bawah jok mobil nya itu. Dia tau itu adalah milik putrinya yang diam-diam ia tabung disana, karena disana adalah tempat yang tepat untuk menabung tanpa harus ketahuan oleh ibu tirinya itu.

Pak Hasan pun mengambil tas usang yang ada di atas dasbor karena saat ini jok mobil itu akan dilapisi dengan pembungkus jok yang baru.

Pria itu dengan sangat hati-hati memasukkan seluruh uang tersebut kedalam tas yang kini hampir penuh.

Sampai saat notifikasi pesan masuk dari Dian yang meminta pak Hasan untuk membeli baju baru untuk Alex, karena sudah dipastikan bahwa dia butuh itu, gadis cantik itu bahkan memberitahu secara detail ukuran baju dan juga toko baju yang ada di pasar.

Sementara untuk uang itu, Dian meminta ayahnya untuk menyimpan nya kembali di tempat rahasia nya itu.

Dian bilang nanti setelah service mobil selesai, Dian ingin nabung untuk beli motor untuk ayahnya dan dirinya agar tidak meminjam motor milik Nina, meskipun motor itu juga dibeli oleh pak Hasan.

Pak Hasan hanya bisa berdoa didalam hatinya untuk putri tercintanya itu, agar Dian bahagia dan panjang umur.

Waktu pun terus berlalu, Dian kini masih menyetir mobil bergantian dengan Afandi sahabatnya dan ditemani kelima teman laki-laki nya yang tinggal di belakang bersama tumpukan padi.

Kali ini bukan mobil pick up yang Dian kemudikan, tapi mobil truk milik Afandi yang selama ini selalu mengajari nya mengemudikan mobil tersebut.

Dian yang kini melintas di jalan depan rumah nya pun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan turun untuk mengambil minum, karena perjalanan masih jauh.

"Ya ampun nak kamu bawa truk , kemana Afandi kenapa kamu yang bawa nak?"ucap pak Hasan yang kini dibuat khawatir.

"Bos di dalam Yah, ayah tidak usah khawatir Dian bisa kok, doakan saja semoga selamat sampai tujuan, mungkin Dian kembali larut malam. Dian mau ngambil bekal minum"ucap Dian yang kini tengah ditatap oleh Alex dari teras rumah.

"Ini nak, cukup kan, makasih dasternya ya"ucap Arini yang langsung sigap memberikan botol air mineral sebanyak sepuluh botol berukuran besar dalam kardus.

"Sama-sama bu, doakan Dian banyak uang, nanti Dian belikan ibu kalung baru"ucap gadis cantik itu yang kini kembali menggunakan masker nya sambil melirik kearah Alex dan mengangguk pelan lalu pergi.

Dian pun melempar botol-botol itu pada teman-temannya yang ada di belakang, yang sibuk menangkap nya. Tidak lama dia langsung naik dan masuk kedalam mobil seakan itu adalah mobil mainan.

Alex pun melihat Dian mengemudikan mobil tersebut secara langsung sampai mobil itu berlalu membawa tumpukan padi yang membumbung tinggi.

Sungguh rasa khawatir pak Hasan bisa ia rasakan saat ini. Tapi dia bisa apa bahkan dia tidak bisa mengingat siapa dirinya sampai detik ini.

Sampai pukul sepuluh malam rumah itu sudah sangat sepi, menyisakan pak Hasan yang masih menunggu putrinya pulang dengan harapan tentang keselamatan putrinya itu.

Sampai saat suara mobil truk itu kembali terdengar dan suara Afandi yang kini meminta Dian untuk istirahat lebih awal agar besok pagi dia sudah siap untuk kembali berangkat nguli bersama mereka.

"Syukurlah kamu sudah pulang nak, masuklah dan langsung bersih-bersih setelah itu makan"ucap pak Hasan yang teramat khawatir terhadap putrinya itu.

"Ya ayah, Dian akan laksanakan. ayah pasti belum tidur, pergilah istirahat jangan cemaskan Dian... berkat doa ayah Dian selamat. Terimakasih ayah Dian sayang ayah. Ini untuk ayah"ucap Dian yang memberikan uang sebesar satu juta hasil bagi rata hari ini.

"Jangan nak simpan saja, ayah masih ada uang kok, lagipula besok ayah mulai bekerja lagi, kamu sebaiknya mandi dulu setelah itu lihat si Optimus"ucap sang ayah sambil mengusap puncak kepala Dian.

"Oke, Dian masuk dulu ya ayah asalamualaikum"ucap Dian yang kini langsung masuk kedalam kamar nya.

Gadis cantik itu pun merasa lega karena saat ini ranjang nya sudah bisa kembali padanya sampai Nina kembali nanti.

Dian pun selesai mandi dengan cepat, dia juga buru-buru menggunakan pakaian santai nya. Dan bergegas keluar kamar untuk bertemu dengan sang ayah lagi untuk melihat si Optimus mobil kesayangannya itu.

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!