NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Sang Singa di Pelataran Masjid

Pagi itu, langit Jakarta tampak abu-abu, seolah mencerminkan perasaan Aisyah yang tidak menentu. Sejak kunjungan mendadak Arkan Xavier ke apartemennya dua hari yang lalu, Aisyah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap deru mesin mobil di luar atau langkah kaki di koridor membuatnya tersentak. Ia merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan pasang mata yang tak terlihat.

Aisyah mencoba memfokuskan pikirannya pada kuliah kedokterannya. Hari ini ada ujian anatomi yang cukup berat, namun bayangan cek senilai lima miliar dan tatapan mata elang Arkan terus membayangi buku-buku tebal yang ia baca.

"Aisyah, kau melamun lagi?" tegur Fatimah, sahabat karibnya, saat mereka berjalan menuju masjid kampus untuk menunaikan salat Dzuhur.

Aisyah tersentak, membetulkan letak tas ranselnya yang terasa berat. "Ah, tidak apa-apa, Fatim. Hanya kurang tidur karena belajar semalam."

"Jangan terlalu diforsir. Wajahmu pucat sekali di balik cadar itu," ujar Fatimah khawatir.

Aisyah hanya tersenyum tipis yang tak terlihat. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa ia baru saja menyelamatkan nyawa seorang bos mafia dan sekarang pria itu sedang menerornya dengan "perlindungan" yang tidak diinginkan.

Saat mereka sampai di pelataran masjid, langkah Aisyah mendadak terhenti. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Di sana, di antara mahasiwa yang berlalu lalang, terparkir sebuah mobil SUV hitam legam dengan kaca yang sangat gelap. Di samping mobil itu, berdiri dua pria bertubuh tegap dengan setelan safari hitam dan kacamata hitam. Mereka berdiri kaku, kontras dengan suasana kampus yang santai.

Semua mahasiswa berbisik-bisik, bertanya-tanya siapa pejabat atau orang penting yang sedang berkunjung. Namun Aisyah tahu pasti siapa mereka. Mereka adalah orang-orang Arkan.

"Fatim, kau duluan saja ke dalam. Aku... aku ketinggalan sesuatu di kelas," ucap Aisyah gugup.

"Lho, bukannya tadi kau bilang ingin jamaah?"

"Duluan saja, nanti aku menyusul!" Aisyah berbalik arah, mencoba menghindar. Namun, salah satu pria tegap itu bergerak lebih cepat. Ia mencegat langkah Aisyah dengan sopan namun tegas.

"Nona Aisyah, Tuan Xavier ingin bicara. Mohon ikut kami sebentar," ucap pria itu. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Aisyah merasa seluruh mata mahasiswa di sekitar masjid tertuju padanya. Ia merasa malu sekaligus takut. "Saya ada ujian. Tolong katakan pada Tuan Anda untuk berhenti mengganggu saya."

Pintu belakang SUV itu terbuka secara perlahan. Arkan Xavier keluar dengan gaya yang sangat tenang. Hari ini ia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf mewah dan urat-urat tangannya yang kuat. Meskipun masih ada sedikit rona pucat di wajahnya, auranya sebagai pemimpin tetap tak tergoyahkan.

Arkan berjalan mendekati Aisyah. Setiap langkahnya seolah menghimpit udara di sekitar Aisyah. Para mahasiswa spontan memberi jalan, merasakan energi berbahaya yang dipancarkan pria itu.

"Ujian bisa menunggu, Aisyah. Nyawamu tidak," ucap Arkan saat ia berdiri tepat di hadapan Aisyah.

Aisyah menundukkan pandangannya, enggan menatap mata pria yang dianggapnya sebagai simbol kemaksiatan itu. "Apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Xavier? Ini tempat suci. Tolong hargai itu."

Arkan menatap bangunan masjid di belakang Aisyah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku tidak sedang menantang Tuhanmu, Aisyah. Aku hanya sedang memastikan bahwa 'milikku' tetap aman."

"Saya bukan milik Anda!" suara Aisyah meninggi seoktaf, membuat Fatimah yang masih berdiri di kejauhan ternganga.

Arkan tersenyum tipis—senyuman yang terlihat lebih seperti ancaman daripada keramahan.

"Sejak kau menyentuh lukaku di pelabuhan itu, kau telah masuk ke dalam radarku. Dan dalam duniaku, apa yang sudah kuselamatkan adalah tanggung jawabku sampai mati."

Arkan memberi isyarat pada anak buahnya. Salah satu dari mereka membawa sebuah kotak kayu kecil yang diukir sangat indah. Arkan mengambil kotak itu dan menyodorkannya pada Aisyah.

"Ambil ini. Ini bukan uang," ucap Arkan saat melihat Aisyah hendak menolak.

Dengan ragu, Aisyah menerima kotak itu. Saat ia membukanya, matanya terbelalak. Di dalamnya terdapat sebuah alat komunikasi berbentuk jam tangan kecil yang sangat elegan dan sebuah benda berbentuk bros kecil yang cantik.

"Itu pelacak GPS dan tombol darurat," jelas Arkan dingin. "Jika kau merasa dalam bahaya, tekan tombol di jam itu. Orang-orangku akan sampai padamu dalam waktu kurang dari tiga menit. Dan bros itu... itu adalah tanda bagi siapa pun di dunia bawah bahwa kau berada di bawah perlindungan klan Xavier. Siapa pun yang melihat bros itu tidak akan berani menyentuhmu."

Aisyah merasa tangannya gemetar. Ia ingin melempar kotak itu ke wajah Arkan. "Anda gila? Anda ingin menandai saya seperti barang dagangan Anda? Saya punya Allah sebagai pelindung saya! Saya tidak butuh teknologi atau nama besar mafia untuk merasa aman!"

Arkan mendekat, merendahkan suaranya hingga hanya Aisyah yang bisa mendengar. "Allahmu mungkin melindungimu di akhirat, Aisyah. Tapi di jalanan Jakarta yang kotor ini, musuhku tidak peduli dengan doamu. Mereka hanya peduli dengan darah. Salah satu dari mereka, klan Scorpio, sudah tahu bahwa kau adalah orang yang menjahit perutku malam itu. Mereka sedang mencarimu."

Aisyah tertegun. Rasa dingin menjalar di punggungnya. Ia teringat para pengejar di pelabuhan yang berteriak ingin membunuhnya.

"Kenapa Anda tidak meninggalkan saya saja?"

bisik Aisyah lirih, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Biarkan saya hidup tenang."

Arkan terdiam sejenak. Ia menatap Aisyah dengan intensitas yang seolah bisa menembus cadarnya. "Karena jika aku membiarkanmu mati, maka bagian dari diriku yang kau hidupkan malam itu akan ikut mati bersamamu. Dan aku belum siap untuk menjadi monster sepenuhnya lagi."

Arkan berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia masuk ke dalam mobilnya, dan dalam sekejap, SUV hitam itu melesat pergi, meninggalkan debu dan kebingungan di pelataran masjid.

Aisyah berdiri terpaku, memegang kotak kayu itu dengan erat. Ia merasa seperti burung yang baru saja diberi sangkar emas yang sangat kokoh—ia aman dari pemangsa luar, namun ia kehilangan kebebasannya sendiri.

Fatimah segera berlari menghampiri Aisyah. "Aisyah! Siapa pria itu? Dia tampan sekali tapi auranya... seperti malaikat pencabut nyawa!"

Aisyah tidak menjawab. Ia melihat ke arah gerbang kampus, di mana sebuah mobil sedan perak yang tampak biasa saja masih terparkir. Ia sadar, itu adalah pengawal yang ditinggalkan Arkan untuk mengawasinya 24 jam.

Malamnya, konflik berat mulai terjadi. Kakak laki-laki Aisyah, Hamdan, yang merupakan seorang guru mengaji yang sangat konservatif, pulang ke rumah dengan wajah murka. Ia telah mendengar desas-desus di lingkungan apartemen bahwa adiknya dijemput oleh pria kaya raya yang terlihat seperti preman kelas kakap.

"Aisyah! Jelaskan pada abang, siapa pria yang datang ke apartemenmu dan menunggumu di kampus tadi?!" bentak Hamdan sambil menggebrak meja makan.

Aisyah tersentak. Inilah yang ia takutkan. "Bang, itu... itu orang yang pernah Aisyah tolong saat dia kecelakaan."

"Tolong? Penjahat seperti itu tidak butuh pertolongan, Aisyah! Dia butuh penjara!" Hamdan melemparkan sebuah koran pagi yang memuat berita tentang penembakan di pelabuhan. "Lihat ini! Dia adalah Arkan Xavier! Namanya ada di mana-mana sebagai tersangka pencucian uang dan perdagangan ilegal! Kau ingin menghancurkan nama baik keluarga kita?!"

Aisyah tertunduk, air matanya jatuh membasahi sajadah yang sedang ia lipat. "Aisyah hanya melakukan kewajiban sebagai muslimah, Bang. Aisyah tidak tahu siapa dia awalnya."

"Mulai besok, kau tidak boleh kuliah sampai abang pastikan pria itu tidak mengganggumu lagi! Abang akan mengantarmu ke pesantren di Jawa Timur besok pagi!"

Aisyah terhenyak. Pesantren? Itu berarti ia harus meninggalkan studinya yang tinggal sedikit lagi.

Namun, ia juga tahu bahwa di bawah pengawasan Arkan, ia tidak akan pernah benar-benar aman dari fitnah maupun bahaya.

Tanpa sepengetahuan mereka, di balik tembok apartemen yang tipis, sebuah alat penyadap kecil menangkap setiap kata dari percakapan itu. Di sebuah ruangan kantor yang gelap dan mewah, Arkan Xavier mendengarkan rekaman itu sambil menyesap minumannya.

"Mengirimnya ke pesantren?" Arkan menggumam, matanya berkilat di kegelapan.

"Hamdan... kau pikir kau bisa menjauhkan mutiaraku dariku?"

Arkan meletakkan gelasnya dengan denting yang keras. "Leo, siapkan jet pribadi. Jika dia pergi ke Jawa Timur, maka kita akan membeli pesantren itu."

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!