Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENCAN PERTAMA DENGAN PAK DUREN (DUDA KEREN) **
Sabtu sore. Bukan tanggal merah, tapi bagi rumah Bailla, hari itu rasanya kayak Lebaran. Karena tamu yang datang bukan debt collector. Tapi Pak Arya.
Jam 18 kurang 20 menit, mobil sudah parkir di halaman. Arya dengan memakai kemeja biru lengan panjang yang digulung ujungnya, rapi. Di tangan ada tentengan: buah naga, jeruk, sama kue lapis legit. Lengkap. Kayak mau lamaran beneran.
Papi bukain pintu, kaku. Sudah seminggu sejak Bailla bilang "iya", tapi ini pertama kali Pak Arya datang resmi.
“Assalamualaikum, Pak... eh,” Papi salah tingkah.
“Walaikumsalam, Pak,” Pak Arya salaman, tangannya dua-duanya dipake. Sopan. “Panggil Arya aja, Pak. Saya yang muda.”
Di dalam, Mami udah gelar taplak meja terbaik. Gelas-gelas yang biasanya buat kondangan dikeluarin. Bailla? Dari tadi di kamar, dandan 30 menit cuma buat pakai bedak tipis sama lip tint. Katanya ke diri sendiri: “Ini bukan kencan. Ini rapat koordinasi.”
“Bailla,” panggil Mami dari ruang tamu, suaranya dibuat-buat santai. “Ada tamu.”
Bailla keluar. Kaos putih, celana jeans, rambut dikuncir. Sederhana, tapi Pak Arya yang lihat langsung berdiri. Gugupnya nular.
“Duduk, duduk,” Papi nunjuk kursi. “Minum dulu, Pak Arya. Panas ya di luar.” Papi jagonya basa basi.
“Enggak, Pak. Anginnya bagus,” jawab Pak Arya, padahal kipas angin udah level 3. Jawab pak Arya canggung
Ngobrol basa-basi 10 menit. Tentang perusahaan, tentang harga saham, tentang tender. Bailla cuma diam, ngeremes ujung kemejanya. Mami duduk di samping Bailla, Papi di depan Pak Arya. Kayak sidang isbat.
Akhirnya Pak Arya batuk sekali. Kode.
“Begini, Pak, Bu,” katanya, natapnya ke Papi Mami dulu baru ke Bailla. “Saya... izin mau ngajak Bailla makan malam. Berdua. Kalau diizinkan.”
Piring di rak kayak ikutan nahan napas.
Papi dan Mami saling lirik. Ini bukan anak SMA mau nonton bioskop. Ini calon mantu, duda anak tiga, ngajak anak gadis mereka makan. Umur beda 18 tahun. Status beda langit-bumi.
Mami yang jawab, senyumnya ditarik paksa. “Ya... boleh, Pak Arya. Asal jangan malam-malam. Bailla belum biasa pulang larut.”
“Siap, Bu. Jam 8 saya antar pulang,” Pak Arya janji, cepat. “Makan dilestoran deket sini aja.
Bailla kaget. Dia kira bakal ke KUA. Ternyata dilestoran Malah lebih bikin lega secara udah hampir 2 bln ini gak pernah makan dilestoran mahal lagi.
Papi akhirnya angguk. Restu paling kaku sedunia.
Dimobil Bailla duduk di samping Pak Arya. Jaraknya 30 cm. Bau parfum pak Arya menambah maskulin sosok yang duduk bersebelahan dengannya. Hening dulu 5 menit. Sambil mengirup aroma duda tampan nan rupawan ini..kalau membayangkan pak Arya Aura Sugar dadynya kencang sekali.
“Maaf ya,” Pak Arya buka suara duluan. “Saya gak romantis. Gak ngerti cara pacaran anak muda zaman sekarang.” Ya Ampun kecanggungan yang haqiqi sekali ini Batin Bailla.
Bailla nengok. “Bagus. Saya juga gak ngerti caranya jadi cewek yang dikencanin duda.” balas Bailla Tampa pikir panjang.
Mereka ketawa. Kecil. Canggung. Tapi asli mendebarkan.
Di restoran yang cukup terkenal dengan pemandangan pantai,dan diiringi musik romantis Bailla dan Arya Pak Arya memilih meja yang berada disudut “Kamu kurus. Banyak pikiran.” Bailla ayo pesan makanan yang kamu suka.” sambil menyodorkan buku daftar menu disamping meja telah berdiri pramusaji yang bersiap mencatat pesanan. Dengan tatapan Julita apa mungkin mbak pramusaji beranggapan aku ini simpanan, mainan, atau anak dari Bapak-bapak ganteng ini. Pikir Bailla.
Obrolan mereka gak tentang cinta. Tentang Arbil yang susah makan sayur. Tentang Ara yang nangis kangen mamanya tiap hujan. Tentang Aya yang semalam mimpi Bailla jadi Power Ranger. Tentang skripsi Bailla yang tinggal bab 4.
Jam 7.45, Pak Arya udah stand by bayar. “Takut Mami Papi kamu nyusul bawa senter.” candaan pak Arya yang bikin Bailla tertawa kecil.
Di depan rumah, sebelum Bailla turun, Pak Arya bilang, “Makasih udah mau diajak makan, Bailla. Saya tahu ini aneh. Buat kamu, buat saya juga, tetapi sebelum menikah kita perlu mengenal satu sama lain.” memupuk hubungan yang mungkin akan perlu waktu tapi saya berharap tidak ada keterpaksaan kamu boleh menganggap saya seperti bapak, Abang atau teman dan saya gak akan memaksa perasaan kamu ". tambah pak Arya
Bailla sejenak merasa tersentuh dengan perkataan pak Arya. "Kita akan coba pelan-pelan Om semoga kita bisa saling memahami dan aku akan mencoba s bisa saya". Jawab Bailla.
Bailla buka pintu mobil, lalu berhenti. “Om,” katanya, “besok kalau mau ngajak makan lagi, gak usah izin kayak mau pinjam barang. Bilang aja ke saya. Saya yang ngomong ke Papi Mami.”
Pak Arya bengong. Lalu senyum. Bukan senyum menang. Senyum lega. “Siap... Bailla.”
Bailla masuk rumah. Mami Papi masih di ruang tamu, pura-pura nonton TV tapi volumenya 0.
“Gimana?” tanya Mami, gak bisa nahan.
Bailla taruh kuncir rambutnya yang lepas di meja. “Sop buntutnya enak, Mi. Bapaknya...” dia mikir, “...gak nyebelin.”
Malam itu, untuk pertama kali, kata “Pak Arya” di rumah itu gak dibisikin dengan takut. Tapi disebutin dengan... penasaran.
Kencan pertama selesai. Tidak ada gandengan tangan. Tidak ada nembak cinta. Cuma ada dua orang yang sama-sama kepepet hidup, coba makan satu meja, dan pulang tanpa nyesel.
...****************...
...****************...