ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.5—Calon Ketua Osis Dan Tawaran Untuknya
Rahmat langsung mengangkat tangan sedikit, tanda menyerah. “Tenang. Aku nggak ngapa-ngapain.”
Ia menghela napas, lalu menatap kembali panel sistem. Komedi cabul cukup sampai sini, mari kita mulai serius.
IQ 145. Elite Cyber Security. Logic Architect.
Matanya menyipit pelan.
“Yang ini baru penting…” pikirnya.
Dibanding data “aneh” barusan, kemampuan gadis ini jelas berada di level yang berbeda. Bahkan bisa dibilang—monster tersembunyi.
Rahmat menarik kursi dan duduk di depannya dengan santai.
Maya makin tegang.
“A-ada apa…?” tanyanya lirih.
Rahmat menatapnya lurus, kali ini serius.
“Aku butuh orang seperti kamu.”
Maya berkedip.
“Eh…?”
Rahmat tersenyum tipis. "Kak Anissa yang menyuruhku kesini. Katanya, ada seorang 'ahli' yang bisa melakukan tugas seperti IT profesional, hacking dan lain-lain gitu.”
Maya semakin menunduk, jari-jarinya memainkan ujung kabel LAN di meja. "K-kak Anissa berlebihan. Aku cuma... cuma suka merapikan barisan kode yang berantakan. Tidak lebih."
Rahmat memperhatikan gerak-gerik kecil itu. Cara Maya memainkan kabel LAN, cara bahunya sedikit naik turun setiap kali ia bicara, hingga bagaimana suaranya hampir menghilang di akhir kalimat. Semua itu bukan sekadar “tidak percaya diri”. Ini sudah masuk tahap menghindari eksistensi.
Rahmat menyandarkan punggungnya, tetap menatapnya tanpa tekanan berlebih.
“Merapikan barisan kode, ya…” ulangnya pelan.
Maya mengangguk kecil, masih menunduk. “I-itu saja yang bisa kulakukan…”
Rahmat tersenyum tipis. “Kalau sekedar ‘merapikan’, Kak Anissa nggak mungkin sampai bilang kamu lebih hebat dari teknisi polsek.”
Maya langsung kaku. “K-kak Anisa bicara begitu?”
“Iya.”
“Seperti biasa, dia orang yang memuji berlebihan …” suaranya makin kecil. “I-itu … tidak juga.”
Rahmat mengetuk meja pelan. Orang ini benar benar punya rasa percaya diri yang parah, dia harus melakukan sesuatu.
Tok.
“Maya.”
Gadis itu sedikit tersentak saat namanya dipanggil langsung.
“K-kenapa?”
Rahmat mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nada suaranya berubah. Tidak lagi santai, tapi juga tidak menekan. Lebih seperti… serius.
Ini kali pertama baginya ditatap begitu intens oleh lawan jenis, dia yang pemalu makin malu bahkan wajah sudah memerah seperti kepiting rebus, jantungnya? Jangan tanya, sudah berdetak begitu cepat seperti drum.
“Aku nggak datang ke sini buat basa-basi.”
Hening sejenak.
“Aku butuh orang IT.”
Ia melanjutkan tanpa memotong ritme. “Bukan yang sekadar ngerti komputer. Tapi yang bisa berpikir lebih cepat dari orang lain. Yang bisa melihat celah sebelum orang lain sadar celah itu ada.”
Maya perlahan mengangkat wajahnya sedikit.
Rahmat menatap lurus ke matanya. “Dan dari semua data yang aku punya…” Ia berhenti sepersekian detik. “…kamu kandidat terbaik.”
Deg.
Jantung Maya berdetak lebih cepat. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang bicara padanya dengan nada seperti itu. Bukan meremehkan. Bukan mengabaikan. Tapi… mengakui. Kedua setelah Anissa, dan untuk pertama kali juga dia merasa dibutuhkan seseorang.
Untuk seseorang yang gagap dalam dunia sosial itu adalah kehormatan pribadi.
“T-tapi aku…” ia menggigit bibirnya pelan. “Aku nggak cocok di depan orang banyak…”
Rahmat langsung mengangkat tangan sedikit. “Siapa bilang kamu harus di depan?”
Maya terdiam.
Rahmat tersenyum tipis. “Justru aku butuh kamu di belakang layar.”
Ia menunjuk layar komputer di depannya. “Di tempat kamu paling kuat.”
Maya mengikuti arah jari Rahmat. Layar penuh kode yang tadi terasa seperti “dunianya sendiri” kini tiba-tiba terasa… berbeda.
Rahmat melanjutkan.
“Aku lagi bangun sesuatu, sebuah bisnis. Kemarin malam sistem keamanan bisnisku baru diretas, aku berhasil melakukan sesuatu dan melawan, namun jujur saja, aku nggak bisa jaga semuanya sendirian.’
Ia menghela napas pelan.
“Kalau… aku ikut…” ia berhenti sejenak. “…aku harus ngapain?”
Rahmat tersenyum. Akhirnya.
“Simple.” Ia mengangkat satu jari. “Jaga sistemku.”
Jari kedua terangkat. “Pantau ancaman.”
Jari ketiga. “Dan kalau ada yang coba masuk…” Matanya sedikit menyipit. “…hancurkan mereka dari dalam.”
Suasana langsung berubah.
“Tentu saja kamu tidak kubayar gratis, kubayar dengan harga mahal.”
Maya merasakan sesuatu yang aneh. Kata-kata itu terdengar dingin. Tapi… juga jelas.
Bukan ancaman.
Tapi arah.
Maya menelan ludah pelan. “Aku… belum pernah kerja tim…” ucapnya jujur. “Aku takut menghambat… kamu serius mau kerja dengan orang sepertiku?”
Rahmat mengangguk. “Bagus.”
Maya bingung lagi. “Eh?”
“Berarti kamu belum punya kebiasaan buruk.”
Rahmat berdiri dari kursinya. “Aku nggak butuh tim yang ‘berpengalaman tapi kaku’.”
Ia menatap Maya lagi. “Aku butuh orang yang mau berkembang.”
Hening. Berkembang? Maya menggenggam ujung bajunya pelan.
“…Kalau aku gagal?”
Rahmat menjawab tanpa ragu. “Ya belajar. Tenang saja, aku tidak akan memakanmu atau gimana kalau gagal, aku juga guni gini pintar dalam hal hacking mungkin aku bisa menjadi mentormu juga. Tambah pengalaman.”
Jawaban itu terlalu sederhana. Tapi justru itu yang membuat Maya terdiam.
Tidak ada tekanan. Tidak ada ekspektasi berlebihan. Tidak ada ancaman.
Hanya… kesempatan. Rahmat berbalik sedikit, bersiap pergi.
Ia menyerahkan lembar tulisan, berisi namanya dan nomor telepon Rahmat.
“Aku tunggu jawabanmu.”
Ia melangkah dua langkah menuju pintu. Lalu Lalu berhenti. Tanpa menoleh, ia berkata pelan.
“Oh ya.”
Maya mengangkat wajahnya sedikit.
Rahmat melanjutkan. “Kalau kamu terus sembunyi seperti sekarang…”
Ia menoleh setengah, senyum tipis muncul di wajahnya. “Potensi segitu cuma jadi sia-sia.”
Deg.
Kalimat itu menghantam lebih dalam dari yang Maya kira. Pintu terbuka.
Cahaya dari lorong masuk ke dalam ruangan yang redup. Rahmat melangkah keluar.
Dan pintu kembali tertutup perlahan.
Klik.
Sunyi.
Maya masih duduk di tempatnya.
Tangannya perlahan berhenti memainkan kabel LAN.
Matanya menatap layar.
Lalu ke arah pintu.
Lalu kembali ke layar.
Di dalam dadanya… ada sesuatu yang bergerak.
Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
“…Berkembang…”
Ia mengulang kata itu pelan. Untuk pertama kalinya— Maya tidak merasa ingin bersembunyi.
“Bahkan untuk orang sepertiku … ada kesempatan untuk berkembang?”