NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Musim yang Bersemi dalam Keheningan

Dunia luar mungkin sedang geger. Di papan iklan Times Square hingga layar digital di negara manapun, wajah Daisy terpampang sebagai "The Creative Muse of the Decade." Berita tentang keberhasilannya memenangkan penghargaan prestisius atas lagu-lagu gubahannya dan volume terbaru komiknya yang memecahkan rekor penjualan global menjadi konsumsi publik setiap hari. Namun, bagi Daisy, semua kebisingan itu terasa ribuan mil jauhnya dari gerbang besi Eisenberg Manor yang menjulang tinggi.

Di Glanzwald, waktu seolah bergerak dengan ritme yang berbeda—lebih lambat, lebih dalam, dan jauh lebih sunyi.

Pagi itu, Daisy melangkah keluar dari paviliun dengan sebuah kamera Leica klasik yang tergantung di lehernya dan sebuah keranjang anyaman di lengannya. Rambut hitamnya yang panjang ia biarkan tergerai, menyentuh pinggangnya yang ramping, bergerak lembut seiring langkah kakinya yang ringan. Ia mengenakan gaun musim panas berbahan linen yang sederhana namun elegan. Kini usianya sudah dua puluh empat tahun, parasnya tetap terlihat seperti gadis remaja, kulitnya yang porselen dan mata coklat madunya selalu tampak bersinar, seolah ia baru saja bangun dari tidur yang panjang dan indah.

Ia berjalan melewati taman mawar yang tertata rapi menuju area yang lebih liar di pinggiran hutan. Sejak Matthew pergi setahun yang lalu, Daisy menemukan kedamaian dalam hobi-hobi baru. Ia mulai memotret detail-detail kecil yang selama ini luput dari pandangannya, embun yang menggantung di ujung daun pinus, tekstur kulit pohon ek tua, hingga pantulan awan di permukaan sungai yang tenang.

Klik.

Ia mengabadikan momen saat seekor burung kecil hinggap di dermaga kayu pribadinya. Daisy tersenyum tipis. Foto-foto ini tidak untuk dipublikasikan. Ini adalah jurnal visualnya tentang kesunyian.

Setelah puas memotret, ia mulai memetik bunga-bunga liar yang tumbuh subur di tepi hutan. Daisy memiliki kebiasaan baru, ia akan merangkai bunga-bunga itu dan meletakkannya di vas besar di meja kerja Matthew yang kosong. Ia tidak tahu mengapa ia melakukannya—mungkin hanya untuk memberikan sedikit nyawa pada ruangan yang kaku dan berbau maskulin itu. Gengsinya tetap ada, ia selalu berpesan pada para pelayan untuk tidak memberi tahu siapa pun bahwa ia yang merangkainya.

Ia kemudian beralih ke tempat favoritnya, di bawah pohon raksasa yang menghadap langsung ke sungai, persis seperti dermaga rahasia di paviliun milik Matthew. Daisy duduk bersila, mengeluarkan kanvas kecil dan cat air. Ia mulai melukis suasana di hadapannya.

"Dunia mungkin mengenalku sebagai penulis lagu dan komikus, tapi di sini... aku hanya seorang pelukis amatir yang merindukan seseorang yang bahkan tidak tahu cara mengirim surat," gumamnya pelan.

Benar saja, selama setahun ini, korespondensi dari Matthew sangatlah minim. Hanya surat-surat resmi militer yang menyatakan bahwa sang Jenderal dalam keadaan sehat dan tugas berjalan sesuai rencana. Tidak ada pesan pribadi, tidak ada kata-kata manis. Matthew von Eisenberg tetaplah pria kaku yang dibesarkan untuk memimpin pasukan, bukan untuk merayu istri.

Daisy seringkali merasa kesal. Dengan paras cantiknya yang legendaris, ia bisa mendapatkan perhatian dari pria manapun di dunia ini. Tapi ia justru terikat pada seorang Duke yang lebih mencintai peta strategi daripada dirinya. Sifat pemalu Daisy membuatnya enggan menulis surat duluan yang bernada rindu, maka ia membalas kekakuan Matthew dengan kesibukan yang luar biasa.

Sementara itu, ribuan mil jauhnya dari ketenangan Glanzwald.

Di sebuah tenda militer yang dikelilingi oleh parit dan suara dentuman meriam yang sesekali terdengar di kejauhan, Matthew von Eisenberg duduk di depan tumpukan laporan intelijen. Wajahnya tampak lebih tirus, dengan bayangan tipis jambang yang mulai tumbuh, menambah kesan garang pada sosok Jenderal Agung yang kini juga berusia dua puluh delapan tahun itu.

Mata dark blue-nya yang tajam menatap ke luar tenda, ke arah cakrawala yang mulai gelap. Ia dikenal sebagai "Iblis dari Eisenberg" di medan perang karena taktiknya yang tak kenal ampun. Namun, di balik seragam perangnya yang keras, ada sesuatu yang tersimpan rapat di dalam saku bagian dalam mantelnya—tepat di atas jantungnya.

Dengan gerakan perlahan, seolah takut ada anak buahnya yang melihat, Matthew mengeluarkan sebuah benda kecil. Itu adalah sebuah sapu tangan sutra berwarna putih dengan inisial D yang disulam dengan benang emas.

Sapu tangan itu milik Daisy. Matthew mengambilnya diam-diam dari meja rias Daisy di malam sebelum ia berangkat. Ia masih ingat aroma parfum bunga bakung yang lembut yang tertinggal di kain itu. Di tengah bau mesiu, darah, dan debu yang menyesakkan, aroma dari sapu tangan ini adalah satu-satunya hal yang mengingatkannya bahwa ia masih memiliki rumah untuk pulang.

Matthew tidak pernah diajarkan cara mencintai. Baginya, memiliki Daisy adalah sebuah kewajiban yang diberikan oleh Raja dan keluarganya. Namun, selama setahun di medan perang, ia mulai menyadari sesuatu. Setiap kali ia berada di ambang bahaya, wajah yang muncul di pikirannya bukan lagi wajah Ibu atau Neneknya yang otoriter, melainkan wajah mungil Daisy dengan mata coklat madunya yang besar.

Ia teringat betapa mungilnya Daisy saat berdiri di sampingnya. Ia teringat bagaimana Daisy selalu tampak malu-malu jika ia menatapnya terlalu lama.

"Dua musim panas lagi," bisik Matthew pada kegelapan.

Ia baru saja menerima kabar dari pusat bahwa kampanye militer ini kemungkinan besar akan berakhir pada musim panas ketiga. Itu berarti, ia harus bertahan dua tahun lagi sebelum bisa melihat kembali hutan Glanzwald—dan wanita yang diam-diam telah mencuri ketenangannya.

Matthew memasukkan kembali sapu tangan itu ke dalam sakunya, menepuknya pelan seolah memastikan benda itu aman. Ia kembali menjadi sang Jenderal yang dingin, namun di dalam hatinya, sebuah api kecil mulai menyala—api yang bernama kerinduan.

Kembali ke Eisenberg Manor, musim terus berganti. Daisy kini sudah lebih terbiasa dengan kesunyiannya. Ia menghabiskan waktu dengan melukis pemandangan sungai di setiap musim. Lukisan-lukisannya menjadi lebih emosional, lebih dalam.

Suatu sore, saat ia sedang asyik memotret pantulan cahaya matahari terbenam di jendela paviliun, kepala pelayan datang membawakan sebuah telegram.

"Nyonya Muda, ada kabar dari markas besar."

Jantung Daisy berdegup kencang. Apakah terjadi sesuatu? Apakah Matthew terluka? Ia segera menyambar surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

‘Kampanye militer diprediksi selesai dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Kepulangan unit utama dijadwalkan pada Musim Panas Ketiga.’

Daisy menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Musim panas ketiga. Itu masih lama, namun setidaknya ada titik terang. Ia kembali menatap ke arah sungai, ke arah dermaga yang kini menjadi saksi bisu pertumbuhannya menjadi wanita yang jauh lebih mandiri namun juga lebih rapuh dalam rindu.

"Musim panas ketiga, ya?" Daisy tersenyum, kali ini lebih lebar.

Daisy mengambil kameranya lagi, memotret matahari yang menghilang di balik cakrawala hutan. Ia tidak tahu bahwa di belahan dunia lain, suaminya yang kaku sedang memegang sapu tangannya, menghitung hari yang sama dengan yang ia lakukan.

Pernikahan yang datar dan kaku itu, tanpa mereka sadari, mulai menemukan nadanya sendiri di tengah jarak yang memisahkan. Dan Glanzwald, dengan segala kemegahannya di kediaman Eisenberg Manor siap menyambut kepulangan sang tuan rumah dengan ribuan bunga yang telah ditanam oleh tangan Daisy sendiri.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!