NovelToon NovelToon
Menantang Langit Yang Busuk

Menantang Langit Yang Busuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: KuntilTraanak

Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.

Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.

Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.

Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2—Reruntuhan

Salah satu tangan pria terulur, hampir menyentuh ujung pakaian bocah laki-laki itu. Dalam sepersekian detik, anak itu bereaksi. Ia menekuk lutut dan melompat ke atas. Jemarinya meraih dahan yang menggantung rendah, menggenggamnya kuat-kuat. Tubuh kecilnya berayun ringan, menggantung di udara. Di bawahnya, pria yang tadi hampir menangkapnya terhuyung. Ia berusaha menghentikan langkah, tetapi tanah di depannya bukan lagi pijakan aman.

Sebuah jurang terbentang, dalam dan gelap, tertutup oleh bayangan pepohonan. Pria itu mengayunkan tangannya, mencoba menyeimbangkan tubuh. Tumitnya berada di tepi, kerikil-kerikil kecil berjatuhan ke bawah tanpa suara yang kembali. Namun pria-pria lain yang berlari di belakangnya tidak sempat berhenti. Tubuh mereka yang lebih besar dan berat terus melaju oleh dorongan langkah serta energi qi yang mempercepat, akhirnya tabrakan pun tak terhindarkan hingga mendorong mereka terjatuh ke jurang.

Tetapi sebuah tangan dari salah satu pria itu berhasil menangkap kaki bocah buta tersebut. Pria itu terlihat berusaha untuk membawa anak itu ikut bersamanya jatuh kedalam jurang.

“Dasar dedemit!” anak itu mengerutkan dahinya, “LEPASKAN AKU!” Teriakan penuh dengan rasa kesal yang memuncak.

Wajar saja ia merasa kesal. Di kejar tanpa alasan yang jelas, di lempari pedang yang bisa saja melukai nya, dan sekarang mereka justru malah mengajaknya mati bersama.

“Aku tak akan melepaskan kau bajingan kecil! Bisa-bisanya kau mencuri uang tuan muda kami!” ujar pria itu yang mengencangkan cengkraman nya.

Perlahan, dahan itu mulai menunjukkan kerapuhan nya. Ia terlihat tak bisa menahan bobot yang begitu berat, hal tersebut tentu membuat anak itu panik. “AKU TAK MENCURI APAPUN! KALIAN SALAH OR-”

Sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, terdengar bunyi retakan tajam dari atas kepalanya. Ia melihat dahan yang ia pegang tak lagi mampu menahan beban, dan akhirnya kayu itu patah mendadak.

Tubuh kecilnya ikut terhempas turun bersama serpihan daun dan potongan kayu. Di saat yang sama, pria yang tadi memegangi kakinya pun terjatuh bersamaan. Anak itu tidak panik, ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia menggenggam sisa dahan yang masih berada di tangannya, lalu mengayunkannya ke arah lengan pria tersebut. Pukulan itu cukup untuk membuat cengkeramannya terlepas.

Setelah itu tubuh kecilnya menghantam sisi tebing berbatu. Rasa nyeri menjalar di punggung dan lengannya, tetapi ia segera meraih tonjolan batu yang menonjol dari dinding jurang. Jemarinya menekan kuat-kuat pada permukaan kasar itu, membuat kulitnya tergores dengan cepat. Lapisan demi lapisan terkikis oleh gesekan batu yang tajam. Hangat cairan merah merembes di sela-sela jarinya. Rasa perihnya menusuk, membuat napasnya terputus-putus.

Namun ia tidak melepaskannya, keinginannya untuk tetap hidup jauh lebih besar daripada rasa sakitnya. Ia menurunkan tubuhnya perlahan, mencari pijakan dengan ujung kaki, berpindah dari satu celah ke celah lain, setiap gerakan terasa seperti pertaruhan. Batu-batu kecil terlepas dan jatuh lebih dulu, hilang dalam kedalaman.

Waktu terasa lambat kala itu. Setelah perjuangan menyakitkan dan melelahkan, akhirnya kakinya menyentuh dasar jurang. Lututnya hampir menyerah saat mendarat, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri. Di sekelilingnya, suasana sunyi. Beberapa sosok pria yang mengejarnya tergeletak tak bergerak di antara bebatuan.

Pandangan matanya sekilas menyapu pemandangan itu sebelum beralih pada kedua tangannya sendiri. Kulitnya terkoyak cukup dalam, luka-lukanya terbuka dan menganga menampilkan sedikit tulang tangannya. Rasa nyerinya kini datang lebih jelas, berdenyut seirama dengan detak jantungnya.

Ia meringis pelan.

Anak itu menarik napas dalam, menahan perih yang menjalar hingga ke lengan, lalu mulai mencari jalur yang bisa membawanya keluar dari dasar jurang.

Ia berjalan dengan pakaian compang-camping setelah terkoyak-koyak oleh bebatuan. Ia melihat kanan dan kirinya yang hanya di penuhi oleh pepohonan, tidak ada hewan, tidak ada serangga, hanya ada dirinya dan kesunyian. Rasa ngeri pun mulai muncul dalam dirinya, kala merasa bahwa tidak ada jalan lain disana.

Jantungnya berdetak semakin kencang, rasa khawatir mulai menghantuinya. Jika ia tak bisa keluar dari sini, lantas bagaimana dengan ibunya yang hanya tinggal seolah diri. Kepanikan itu membuatnya hilang akal dan langsung berlari kesana dan kesini mencari jalan.

“Sial! Sial! Sial!” gumamnya dengan wajah yang bercucuran keringat, dadanya kembang kempis memburu oksigen disana. Ia tak tahu harus bagaimana, yang ia lihat sejak tadi hanya pepohonan dan tak menemukan apapun.

“SIALAN!” teriakan itu terdengar sangat pilu, rasa kesal yang selama ini ia pendam dikeluarkan bersamaan.

“Kehidupan sial! Keseharian yang memuakkan! Sekarang apalagi?!” anak itu tersungkur ketanah. “APA DEWA MEMBENCIKU? ATAU AKU YANG HARUS MEMBENCIMU?!” teriaknya tanpa tangisan dan hanya emosi semata, ia memukul tanah dengan kencang tanpa memperdulikan luka di tangannya.

“Tak ada satupun keberuntungan dalam hidupku…” gumamnya nyaris tanpa suara. Darah kembali mengalir dari tangannya, membasahi tanah disekitarnya.

Tak berselang lama sebuah guncangan hebat terjadi, pola-pola aneh terbentuk perlahan dari darahnya. Pola itu seperti sebuah lingkaran besar, dengan kalimat-kalimat yang memenuhi dalamnya. Anak itu bangkit, ia melangkahkan mundur menjauhi pola-pola itu. Rasa tak nyaman mulai memperburuk firasatnya.

“Apalagi?” gumamnya dengan raut bingung.

Perlahan dari pola itu, sebuah bangunan muncul kepermukaan.

Bangunan itu menjulang tinggi. Dindingnya terbuat dari tanah yang dipadatkan hingga keras seperti batu, permukaannya halus namun tetap menyisakan tekstur alami yang memberi kesan kuno dan kokoh. Di atasnya terukir pola-pola merah yang berlapis dan berulang, membentuk simbol serta lengkungan yang rumit. Mungkin saja pola itu terbentuk dari darahnya.

Setiap garis ukiran tampak disengaja seperti susunan lambang yang menyimpan makna tersembunyi. Jika diperhatikan lebih lama, pola-pola itu memberi kesan seakan bergerak di sudut pandang mata, menciptakan aura yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Di bagian depan berdiri gerbang kayu merah yang tinggi dan tebal dengan sebuah pintu besar yang terbuat dari emas.

Anak itu berjalan mendekati pintu, dari sana ia bisa melihat pantulan dari dirinya sendiri. Rambutnya pendeknya berantakan, mata kirinya yang buta, dan sebuah luka bakar yang membekas di sekitar mata kirinya. Dengan reflek, ia menyentuh pantulan tersebut, tetapi tiba-tiba pintu bergetar hebat. Ia segera mundur, takut hal buruk terjadi tanpa peringatan.

Pintu pun terbuka, disana ia bisa melihat sebuah lorong panjang yang di setiap sudut temboknya terdapat banyak hiasan-hiasan mewah. Rasa penasaran mendorongnya untuk memasuki bangunan itu. Ia memperhatikan satu persatu hiasan disana, kebanyakan dari hiasan itu terbuat dari emas, ruby dan berlian. Ia terus menyusuri lorong, hingga sampai disebuah ruangan yang jauh lebih besar dan dipenuhi harta.

“Tidak mungkin kan ini balasan dari dewa?” batinnya merasa curiga ketika mendapati ruangan itu dipenuhi oleh banyak harta berharga. Ia terus berjalan menyusuri ruangan yang menyilaukan mata itu, hingga langkahnya membawa kesebuah ruangan lain yang sedikit lebih gelap dan membawa energi aneh.

1
Koplak
mulai seru nih
Koplak
pertama baca langsung tertarik💪
Nanik S
Cerita yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!