Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Reinkarnasi Ratu Iblis
Lima ratus tahun kemudian...
Di sebuah kamar besar dengan interior yang mewah dan tertata rapi, tampak seorang gadis dengan rambut perak yang terurai sedang tertidur sambil mendekap tubuhnya.
Kepalanya diperban kain putih, sementara itu wajahnya pucat pasi seperti orang mati yang dihidupkan kembali.
Napasnya yang tidak beraturan menandakan bahwa dia sedang menderita. Beberapa kali gadis itu merintih dan mengeluarkan suara erangan seperti tupai yang terluka.
Dalam kegelapan, gadis itu yang sendirian pun akhirnya terbangun. Matanya yang terpejam cukup rapat perlahan terbuka, memperlihatkan mata merah delima yang indah.
Cahaya matanya juga perlahan mulai kembali bersinar.
Ketika sebuah ingatan mengenai belati yang menusuk ke jantungnya muncul, dia langsung bangun dan bernapas dengan terengah-engah. Keringat pun bercucuran keluar.
Gadis itu meraba tubuhnya, tapi tidak menemukan bekas luka tusuk maupun bekas luka lain yang diingat olehnya.
"Aku masih hidup?"
Begitulah ujar gadis tersebut.
Dia merasakan rasa hangat setelah mengepalkan kedua tangannya, apalagi embusan napasnya juga lebih terasa.
"Bagaimana aku bisa—cough!"
Sebelum memproses apa yang terjadi padanya, gadis itu tiba-tiba batuk darah. Jantungnya terasa sakit dan organ tubuh yang lain juga terasa tak berfungsi dengan normal.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Gadis itu ingin bertanya, tapi tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. Dia hanya bisa melihat ke sekitarnya untuk mencari informasi dan petunjuk di mana ia berada.
'Di mana ini? Siapa yang membawaku ke tempat ini?'
Itulah yang dipikirkan olehnya setelah melihat berbagai interior asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Sampai suatu ketika, gadis itu melihat ke arah jendela di sebelah kanan tempat tidurnya. Dengan rasa penasaran, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela.
Dan saat ia membuka gorden, matanya terbuka lebar.
"Sebenarnya aku sedang berada di mana ...?!"
Pemandangan yang gadis itu lihat sampai membuatnya terkejut adalah sebuah kota besar yang damai. Menilai sudut pandang saat gadis itu melihat kota, sepertinya ia tinggal di dataran yang lebih tinggi dari rumah penduduk.
Matanya menyipit dan menatap pahit ke arah kota itu.
"Kedamaian, ya ..."
Gadis itu bergumam sambil mengingat kejadian hari itu.
'Kenapa dia menusukku dari belakang ...?' pikirnya.
Pasti ada alasan mengapa dia melakukan hal tersebut.
Itulah yang diyakini oleh gadis itu.
Beberapa saat setelah mengenang masa lalu, rasa sakit di dadanya muncul lagi. Rasanya seperti seluruh tulang di tubuhnya berderit kesakitan, seakan perlahan hancur oleh sebuah hantaman. Apalagi, dia kesulitan bernapas.
"A-apa yang terjadi pada tubuhku?" kata gadis itu seraya mencoba mengalirkan energi sihirnya ke seluruh tubuh, berharap ia dapat menemukan sumber dari masalahnya.
Namun, reaksi yang dia dapatkan tidak sesuai harapan.
Energi sihir atau Mana, tidak merespon keinginannya.
"K-kenapa aku tidak bisa menggunakan Mana?"
Dia pun mulai panik setelah gagal berulang kali.
Gadis itu mencoba sekali lagi, tapi tetap saja Mana tidak menjawabnya. Bukannya memperoleh respon dari Mana, tapi dia justru mendapatkan rasa sakit yang lebih parah.
Tak lama kemudian, bunyi pintu diketuk dan suara gadis dengan nada yang lembut memanggil namanya muncul.
"Alexia, apa kamu sudah bangun? Aku masuk, ya?"
Gadis yang berlutut di lantai sambil memegang dadanya, yang tidak lain adalah Alexia, menoleh ke arah pintu yang ada di ujung kamarnya. Pintu kamar perlahan dibuka dan menampilkan seseorang yang tadi memanggil namanya.
'Suara siapa itu ...?' batin Alexia dengan kepalanya yang terasa sakit dan pandangan mata yang juga mulai kabur.
"Kenapa kamu tidak menjawab? Apa kamu belum ...!?"
Setelah dia melihat Alexia sedang berlutut dengan darah yang mengalir keluar dari mulut, gadis itu pun tersentak.
"Alexia?!" serunya dan bergegas menghampiri Alexia.
"Apa yang terjadi?! K-kenapa kamu bisa berada di lantai?"
Gadis itu langsung membantu Alexia berdiri dan segera membawanya kembali ke kasur. Dia membaringkannya dengan lemah lembut dan memeriksa kondisi tubuhnya.
"Luna ...? Apa itu kamu?" Alexia memanggil gadis itu saat melihat rambut berwarna emas yang beraroma matahari.
"D-di mana kita berada? Apa yang terjadi padaku?"
Pertanyaan itu membuat gadis di depannya bingung.
"Luna? Siapa itu Luna?" gadis itu menyelimuti Alexia lagi dan berkata, "Aku adalah kakakmu, Aurora. Kenapa kamu seperti orang linglung? Apa kamu tadi bermimpi buruk?"
Pengelihatannya yang buram kembali dan menunjukkan wajah seseorang yang membantunya. Penampilan dan seluruh bagian tubuhnya sangat mirip dengan pahlawan Luna, tapi dia hanya punya sedikit sihir suci di tubuhnya.
"Kakakku ...?" Alexia bingung, tapi rasa sakit di kepalanya kembali dengan membawa ingatan yang bukan miliknya.
'Ingatan macam apa ini?!' batin Alexia sambil memegang erat kepalanya yang terasa pusing seperti ingin meledak.
Sebuah ingatan tentang seorang gadis berusia 15 tahun yang sangat mengagumi keindahan dari dunia sihir. Dia diasingkan dan diabaikan oleh saudara, sepupu, bahkan keluarganya sendiri karena kesukaannya terhadap sihir.
Selain itu, ayahnya yang adalah pengguna Aura tingkat 7 kecewa, karena dia lebih memilih sihir daripada pedang.
Setiap hari, gadis itu terus berlatih dan mengembangkan berbagai jenis sihir walaupun dia tidak berhasil. Namun, hobi dan kesukaannya itu dianggap aib bagi keluarganya.
Dia bahkan dirundung keluarga dan teman-temannya.
Hingga pada akhirnya, gadis itu jatuh dari lantai empat akibat jebakan yang dipasang oleh saudara sepupunya.
Aurora yang mengetahui hal itu pun langsung memarahi mereka, tapi dia tidak dapat melakukan apapun padanya.
Sepupunya memiliki dukungan dari para tetua, jadi tidak ada yang dapat dilakukan selain memberinya hukuman ringan. Aurora tidak terima dengan hukuman yang telah diberikan, tapi dia tak bisa membantah perkataan tetua.
'Ingatan ini bukan milikku, tapi milik tubuh ini ...'
Itulah yang Alexia tangkap setelah melihat ingatan itu.
Alexia yang telah menyadari kejadian aneh ini berpikir,
'Benar juga, aku seharusnya sudah mati karena tertusuk belati. Apa ini yang orang sebut sebagai reinkarnasi? Ini situasi yang jauh lebih membingungkan daripada isi dari sihir tingkat 10. Apa aku berpikir terlalu jauh tentang ini?'
Alexia benar-benar sangat bingung dengan keadaan ini.
"Alexia, ada apa?" tanya Aurora dengan raut wajah cemas dan khawatir. "Apa kepalamu sakit lagi? Jika masih sakit, aku bisa merawatmu dengan sihir penyembuhan biasa."
Aurora lalu mengulurkan tangannya ke kepala Alexia.
'Sihir penyembuhan?!' batin Alexia, terkejut. 'Tunggu, jika kamu melakukan itu, aku tidak mungkin dapat bertahan!'
"Tunggu, jangan! Jika kamu melakukannya, aku akan ...!"
【 Holy Magic 2–star : Healing Light 】
Alexia berpikir dia akan sangat menderita, tapi tubuhnya justru merasa lebih hangat dan nyaman. Seolah-olah dia sedang berendam di pemandian air panas. Rasa sakit di kepala dan sekujur tubuhnya perlahan semakin mereda.
"Apa kamu merasa sedikit lebih baik?" tanya Aurora.
Alexia mengangguk dan menjawab, "Y-ya, ini lebih baik."
Ras iblis punya tubuh unik yang sangat sensitif terhadap energi suci. Setiap kali mereka terkena sihir suci, organ dalam tubuhnya akan terasa seperti meleleh. Dan tubuh mereka akan hancur dari dalam jika menerima sihir suci.
Alexia yang menikmati kehangatan itu tiba-tiba berpikir.
'Tunggu, kenapa gadis ini bisa menggunakan sihir ...?'
Pertanyaan itu muncul dengan tanda tanya yang besar.
Alexia ingin bertanya, tapi pada akhirnya dia ragu-ragu.
Baru saja merasakan kehangatan, rasa dingin mendadak muncul dan menyerangnya dari dalam. Alexia batuk lagi, dan kali ini lebih parah. Aurora langsung menghentikan tindakannya dan mendadak panik setelah melihat darah.
"A-apa kamu baik-baik saja? Apa aku melakukan sesuatu yang salah sampai kamu muntah darah?" tanya Aurora dan segera mengambil kain untuk mengusap darahnya.
Alexia memandang darah yang ia muntahkan di telapak tangannya dan mengerutkan alis, merasa tidak nyaman.
"K-kakak, apa yang sebenarnya terjadi sampai kondisiku menjadi seperti ini? Apa aku makan sesuatu yang salah sampai membuatku hampir mati keracunan makanan?"
"Tidak, bukan itu."
Aurora menggelengkan kepalanya dan menjelaskan.
"Kamu terjatuh dari lantai empat, jadi mungkin ada organ tubuhmu yang terluka sangat parah. Pendeta dari gereja cahaya juga bilang tubuhmu begitu lemah hingga tidak bisa bertahan dari rasa sakit. Apa kamu sudah lupa itu?"
Penjelasannya menyakinkan dan sama dengan apa yang Alexia ingat. Apalagi, tidak ada kebohongan yang terlihat pada tatapannya. Jadi, dia dapat mempercayai gadis itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya mengenai hal itu?"
Aurora penasaran dengan pertanyaan yang diajukan.
"Tidak," Alexia memalingkan wajahnya. "Tidak apa-apa."
'Kalau apa yang kakak katakan itu benar,' batin Alexia dan menatap darahnya. 'Lalu kenapa bisa ada racun dalam tubuhku? Apa ada seseorang yang ingin membunuhku?'