NovelToon NovelToon
HAJ Kesempurnaan Kehampaan

HAJ Kesempurnaan Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dunia Lain / Kutukan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mult Azham

kehampaan dan kesempurnaan, ada seorang siswa SMP yang hidup dengan perlahan menuju masa depan yang tidak diketahui,"hm, dunia lain?hahaha , Hmm bagaimana kalau membangun sebuah organisasi sendiri, sepertinya menarik, namanya... TCG?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mult Azham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengambilan Keputusan

Setiap kali Azam bermimpi, ia selalu kembali ke ruang hampa. Mimpi itu terus berulang selama enam tahun, seolah menjadi bagian dari hidupnya.

Namun, beberapa hari terakhir, ia tidak bermimpi sama sekali. Hal itu membuatnya gelisah—entah karena kesehatan jiwanya mulai membaik, atau justru karena kesibukannya akhir-akhir ini.

Pagi itu, Azam terbangun. Jarum jam menunjukkan pukul enam tepat.

"Aku harus pergi ke sekolah," gumamnya pelan.

Setelah bersiap, ia mengenakan sepatu dan berjalan menuju sekolah seperti biasa. Namun tiba-tiba—dalam sekejap mata—segala sesuatu di sekelilingnya berubah.

Ia kini berdiri di tengah hutan yang asing. Pepohonan menjulang tinggi, ranting dan dedaunannya saling bertaut hingga menutupi langit. Cahaya matahari hanya menembus tipis, seperti kabut yang tersaring di antara daun.

Azam tersentak. Ia menatap sekeliling dengan waspada, mencari tanda kehidupan. Angin berhembus lembut, membuat rumput di sekitarnya rebah ke satu arah, seolah menunjuk jalan.

Ia menunduk, menatap rumput yang terbaring—seolah ada yang menyuruhnya memilih jalan itu.

Hening.

Sejenak ia ragu, namun nalurinya bergerak lebih dulu. Tanpa berpikir panjang, ia mulai berlari mengikuti arah yang ditunjuk, melintasi pepohonan yang menjulang tinggi.

Tak lama kemudian, cahaya samar muncul di kejauhan—membuatnya mempercepat langkah.

Azam berlari menembus pepohonan yang rapat. Cahaya itu semakin membesar, merekah seperti celah dunia lain—hingga akhirnya terbuka dan menyingkap sebuah dunia yang tak ia kenali.

Di hadapannya terbentang hamparan luas dengan pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Burung-burung asing berputar rendah di atas kepala.

Diantaranya tampak makhluk seperti kadal—sayapnya bersisik seperti reptil, memantulkan cahaya pudar bagai serpihan kaca kusam.

Di kejauhan, terlihat makhluk kenyal bergerak perlahan di bawah salah satu pohon yang berdiri sendirian di tengah lapangan. Lebih jauh lagi, tampak sebuah desa dengan rumah-rumah kayu berbentuk unik—ada yang bulat, ada yang oval.

Di lingkungan desa itu tampak aktivitas makhluk yang mirip manusia, meski tak begitu jelas karena jaraknya yang cukup jauh.

Saat ia masih mencoba memahami pemandangan itu, sosok perempuan tiba-tiba melintas di depannya. Ia memperhatikan telinga panjang milik perempuan itu.

Elf itu tersenyum ramah kepadanya.

"Halo," sapa elf itu lembut.

Azam tidak bergeming. Hanya matanya yang sedikit menyipit sebelum menjawab pendek, "Halo. Bolehkah aku tahu… ini di mana?"

Elf itu tampak bingung. "Loh? Kamu bukan dari sini?" Ia menatap Azam lekat-lekat sebelum melanjutkan, "Hmm... bagaimana kamu bisa sampai ke sini?"

"Saya tidak tahu," jawab Azam jujur. "Saya hanya berlari di tengah hutan sebelum sampai ke sini."

Elf itu berpikir sejenak, lalu menatap Azam lebih serius.

"Kalau begitu, ikut aku. Kita harus menemui Kepala Desa."

Azam bertanya, "Kepala desa?"

"Iya," jawab elf itu, "kami juga biasa menyebutnya sebagai Sang Peramal."

"Baiklah, mohon tuntun aku ke kepala desa," ucap Azam sopan.

Namun sebelum berjalan, elf itu menatap telinga Azam dengan rasa ingin tahu. "Tunggu... kamu manusia?"

Azam mengangguk. "Iya, saya manusia."

Elf itu terdiam sesaat, Tatapannya berubah. Bibirnya menegang lalu berkata singkat, "Ikut aku."

Ada sesuatu yang aneh dalam sikapnya, tapi Azam tak punya pilihan selain mengikuti.

Sesampainya di desa, ia menyadari bahwa tempat itu dihuni sepenuhnya oleh para elf. Mereka hidup layaknya manusia—tetapi entah mengapa, semua mata tertuju padanya.

Elf perempuan itu berhenti di depan sebuah gubuk sederhana.

"Masuk, dan ceritakan semua yang kamu ketahui kepada Kepala Desa," katanya datar sebelum pergi begitu saja.

Azam sedikit bingung dengan sikapnya, tapi ia mengabaikannya. Dengan ekspresi datar, ia menaiki tiga anak tangga dan mengetuk pintu.

TOK… TOK… TOK.

Sunyi sejenak.

Kemudian terdengar suara berat dari dalam.

"Masuk."

Azam membuka pintu dan melihat seorang lelaki tua duduk bersila, dengan sebuah meja di depannya. Namun sebelum Azam sempat membuka mulut, udara di sekelilingnya bergeser—mengeras. Bukan angin, bukan sentuhan fisik, melainkan sesuatu seperti tangan raksasa tak kasat mata yang mencengkeram tubuhnya dan menariknya ke dalam.

Lalu segalanya menjadi gelap.

...----------------...

Azam terbangun di kamarnya.

"…?"

Ia melirik jam. Pukul delapan pagi. Kepalanya terasa ringan, namun pikirannya penuh dengan kebingungan.

Saat keluar dari kamar, bukan orang tuanya yang menyambut, melainkan beberapa tamu yang sudah berada di ruang tengah.

"Abah, baru bangun? Kenapa pucat begitu?" ucapnya sambil mulai berdiri dari duduknya.

Sapaan "Abah" adalah sebutan yang disarankan oleh Azam sendiri kepada para anggota TCG. Ia ingin lebih dekat dengan mereka, layaknya seorang ayah bagi anak-anaknya.

Sapaan itu datang dari seorang pria bertubuh besar untuk usianya, berambut kribo, wajah sedikit bulat. Ami, salah satu orang kepercayaan Azam di TCG. Di sampingnya berdiri seorang perempuan dan tiga pria lainnya.

"Ugh… tidak ada apa-apa, hanya mimpi aneh. Sudah lama kalian di sini?" tanya Azam.

"Kami baru saja datang," sahut Ami. "Tadi kami sedang mengobrol, Abah tak perlu memikirkannya. Oh iya, anak yang Abah adopsi, dia lumayan cekatan. Langsung menjamu kami, haha. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat—dulu dia masih sangat kecil."

Azam berdeham pelan, "Ekhem... jadi, kalian ke sini untuk?"

"Apa Abah lupa? Kita harus membahas soal TCG. Anggotanya sudah lebih dari dua ratus ribu orang sekarang." ucap Ami dengan nada tenang, meski serius

"Oh, itu," balas Azam ringan

Ami menghela napas panjang. "Kenapa Abah bisa sesantai ini... Kalau Abah ingin menikmati masa pensiun, harus dipikirkan dari sekarang. Apalagi umur Abah sudah dua puluh empat tahun, dan rencananya Abah akan menikah empat tahun lagi, kan? Kita harus segera mencari seseorang yang bisa mengurus TCG nantinya."

"...."

Ami melanjutkan dengan nada ragu. "Abah... Abah tidak berniat membubarkan TCG, kan?"

Keempat orang lainnya tampak terkejut mendengar pernyataan Ami.

Azam memandang Ami tanpa ekspresi. "Kamu mempertanyakan keputusanku?"

Ami menelan ludah. "Ti—tidak, maksudku bukan—"

Azam memotong dengan suara rendah namun tegas. "Aku tahu"

Bukan karena Azam tak mampu membubarkannya. Bukan pula karena takut perjuangannya sia-sia. Masalahnya sederhana—dengan jumlah anggota sebesar itu, pembubaran justru akan memecah TCG menjadi kelompok-kelompok kecil yang tak bisa dikendalikan, bahkan berpotensi menjadi ancaman bagi masyarakat.

"Aku... ekhem... Abah akan mendirikan lima Pilar."

Ami terkejut. Ia mengira Azam akan menunjuk seorang pewaris atau pengganti. Ternyata tidak. Lima Pilar—lima sosok yang akan menjadi fondasi utama TCG.

Dengan sistem ini, Azam tetap berada di posisi absolut hingga kepergiannya. Setelah itu, kelima Pilar akan bertanggung jawab memilih kandidat penerus. Meski Azam menyadari kemungkinan munculnya konflik setelah ia tiada, langkah-langkah pencegahan sudah disiapkan.

"Abah juga akan mendirikan sembilan Tetua untuk memastikan semuanya berjalan sesuai aturan. Tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan."

Nada Azam datar, tapi setiap kata membawa bobot keputusan final. Keempat anggota TCG yang hadir hanya bisa terdiam—tak ada satu pun yang berani membantah atau mempertanyakannya lebih lanjut.

Rapat berlangsung lancar setelah itu, membahas hal-hal teknis dan rencana jangka panjang. Setelah selesai, mereka berpamitan dan meninggalkan rumah dengan langkah lebih tertata daripada saat datang.

1
Ryuu Ryugem
lanjut thor seru cerita nya
anaa
numpang singgah💐
OFFLINE
mampir
Daisuke Jigen
Senang banget bisa menemukan karya bagus kayak gini, semangat terus thor 🌟
Paola Uchiha 🩸🔥✨
Ngakak guling-guling 😂
Gái đảm
Waw, nggak bisa berhenti baca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!