"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
DHIKA POINT OF VIEW:
Akhirnya siang ini aku membawa Paris pulang, aku masih memperhatikan nya yang sedang duduk di dalam mobil seraya sibuk dengan ponselnya. Masker dan topi yang dia pakai untuk menutupi identitas nya saat keluar hotel sudah dia lepas.
Sekarang dia sibuk menjelaskan pada seseorang yang sedang berbicara melalui ponsel untuk menunda acara pemotretan nya hari ini.
“Lihatlah banyak yang menghubungiku, pasti mereka mau menanyakan perihal semalam,” keluh nya sesaat setelah mematikan panggilan sebelum nya.
“Matikan saja ponselmu sementara,” sahutku masih focus dengan jalanan.
“Aku benar benar kesal dengan hari ini!” gerutu nya seraya mengambil botol air mineral dan meneguk nya, kemudian mengusap bibir nya.
Kenapa aku jadi membayangkan rasa bibir nya!
Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku kearah lain.
“Aku bingung harus apa?” keluh nya lagi.
“Aku bisa membantu apa?” kataku menawarkan bantuan.
Apaan sih?
Sejak kapan aku bisa menawarkan bantuan dengan mudah?
“Aku juga bingung,” sahut nya.
“Biarkan saja, lagipula berita seperti itu juga akan cepat hilang jika tidak ditanggapi,” kataku mencoba membuat nya tenang.
“Jika berita nya tidak surut?”
“Tunggulah satu minggu, mungkin akan jadi berita utama hanya dalam jangka waktu seminggu,”
“Kalau tetap tidak surut?”
“Bukan nya itu kesempatan bagus,” kataku cepat.
“Kesempatan bagus?”
“Popularitasmu meningkat dalam waktu singkat, tentu saja kamu harus memanfaatkan nya. Akan banyak talk show yang mengundangmu ke acara mereka. Jika kamu menerima undangan nya, ku jamin wajahmu akan sering muncul di televisi. Kemungkinan kamu akan mendapatkan peran dalam sebuah film pendek atau FTV,” kataku panjang lebar.
“Kamu ini bodoh atau gimana sih? Masalah nya berita tentang ciuman, aku harus jawab apa coba? Nama baikku dipertaruhkan!” keluh nya lagi.
“Akui aku sebagai suamimu,” celetukku.
“Kamu ini—“
“Itu jalan satu satu nya,”
Paris hanya melirikku dengan tatapan kesal nya.
Mobil kami sampai di halaman rumah hanya dalam waktu beberapa menit saja. Dia berjalan masuk mendahului langkahku.
“Ya Tuhan gerah sekali memakai jaketmu,” kata Paris seraya melepas jaketku yang sedari tadi menutupi tubuh sexy nya.
Aku berjalan mengikuti nya dan langkah kami terhenti ketika melihat mama yang menemui kami dengan tatapan khawatir. Dengan cepat mama memeluk Paris.
“Mama mencemaskanmu, sayang,” kata mama perlahan melepas pelukan nya dan mengusap rambut Paris penuh kasih.
“Paris nggak papa,” kata Paris kaku.
“Mama lega ketika tahu kamu bersama Dhika, berita nya di televise cukup heboh. Mama pikir –“
“Tidak mungkin kan Paris mencium laki laki lain,” kata Paris memotong perkataan mama.
“Syukurlah, mama benar benar lega. Tapi kenapa kalian harus berciuman di lobby hotel. Kan bisa masuk ke kamar dulu,” kata mama yang membuat wajah Paris memerah.
“Ma, waktu kami untuk berdua sangat sulit. Setiap hari kami sibuk bekerja dan jarang bertemu. Mungkin saat itu kami terbawa suasana,” kataku tersenyum mengejek melirik Paris.
“Mama tahu,” kata mama tersenyum melihat beberapa kissmark yang ada di leher dan bahu Paris.
Paris yang baru saja sadar langsung menutupi nya dengan jaketku kembali. Wajah nya semakin bersemu merah membuat nya terlihat lucu.
“Kalian makanlah dulu, mama tinggal keluar ya,” kata mama.
Paris berjalan di belakangku menuju meja makan, dia mulai duduk di sampingku dan mengambil piring.
“Makanlah, kamu belum makan kan? Tadi ku suruh makan di hotel saja kamu tidak mau, kamu terlalu sibuk dengan ponselmu,” kataku pada nya.
Paris hanya menganggukkan kepala dan sibuk mengambil nasi serta lauk yang ingin dia makan.
“Kamu tadi bangun tidur masih pake celana kan,” celetuk paris yang membuatku keselek.
“Uhuk..uhuk…uhuk…” aku berusaha meraih gelas berisi air putih dan meneguknya dengan cepat pula.
“Bukan nya kamu sudah memeriksa nya,” kataku sesaat setelah menghabiskan setengah gelas air putih.
“Berarti tidak terjadi sesuatu di antara kita semalam kan?” Tanya nya.
“Hem,”
“Kamu nggak bohong kan?” Tanya nya memastikan.
“Apa perlu visum?”
“Ah, tidak perlu. Bisa bisa aku jadi korban mutilasi jika kamu dokter nya,” celetuk nya yang membuatku menahan tawa.
“Tapi bener kan nggak terjadi apa apa?”
“Ya Tuhan, punyamu sakit nggak sekarang?”
“Enggak,”
“Ya udah!” sahutku kesal.
“Eh, kamu beneran nggak nafsu lihat aku?” Tanya nya dengan tampang polos. Dia sibuk memberiku pertanyaan hingga makanan nya belum tersentuh sama sekali.
PARIS POINT OF VIEW:
“Eh, kamu beneran nggak nafsu lihat aku?” pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutku.
Dhika menarik kursi nya dan mendekatkan tubuh nya padaku. Dia mencium bibirku sekilas yang membuatku membelalakkan mata.
“Aku laki laki normal, aku akan melakukan lebih jika kamu berulah lagi,” bisik nya setelah melepas ciuman singkat nya.
Dia berdiri dan meninggalkanku yang masih mematung di depan meja makan.
“Ya Tuhan! Dia benar benar dokter gila!” gumamku dalam hati.
Aku melanjutkan makanku dengan pikiran yang masih belum bisa beralih pada hal hal terburuk untuk kejadian semalam. Apa dia benar benar memanfaatkanku yang sedang mabuk? Ya Tuhan, aku mengusap rambutku frustasi.
Aku berlari menaiki tangga untuk mencari dhika di dalam kamar. Aku melihat nya yang sedang berbaring di kasur. Dia memicingkan mata nya untuk melihatku.
“Apa?” Tanya nya.
“Aku bisa menuntutmu jika kamu benar benar memanfaatkanku dalam keadaan mabuk. Aku akan menyewa pengacara. Jaksa Erika pasti tahu pengacara terbaik,” kataku menatap dhika tajam.
“Kamu tidak lupa kan jika kita sudah menikah? Pernikahan kita sah, ada surat nikah juga. Kamu mau menuntutku karena memanfaatkanmu yang sedang mabuk? Bahkan jika aku menidurimu malam itu juga, tidak akan ada pasal yang bisa menjeratku,” kata Dhika.
“Dhika!!!” kataku kesal mendekati nya ingin ku pukul saja wajah nya tapi dia menahan tanganku hingga aku terjatuh di atas tubuh nya.
“Kamu ingin menggodaku lagi?” Tanya dhika dengan jarak yang sangat dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napas nya.
Aku mencoba bangkit dari tubuh nya tapi dia mengeratkan pelukan nya di pinggangku.
“Apa yang semalam masih kurang? Kamu ingin lebih?” Tanya dhika seraya mendekatkan bibir nya pada bibirku.
“Kamu gila!” kataku seraya membenturkan keningku dengan kening nya.
“Auw…! Kamu yang gila!” umpat nya seraya melepas pelukan nya dan mengusap kening nya dengan cepat.
“Jangan menciumku tanpa ijin!” gertakku.
“Aku tidak akan melakukan nya jika kamu tidak melakukan nya terlebih dahulu. Kamu menciumku seolah olah tidak ingin melepasnya,” kata dhika tersenyum meledek.
“Itu effect mabuk,”
“Aku sudah memperingatkanmu jangan pergi ke tempat itu. Kamu tidak akan mabuk jika tidak pergi kesana. Bersyukurlah karena suamimu yang menciummu!”
“Apa yang harus disyukuri jika kamu yang menciumku,” kataku kesal.
“Jika tahu begini, malam itu akan ku biarkan saja kamu. Biar saja kamu diciumi orang gila di pinggir jalan,” kata dhika kesal mulai keluar kamar tapi aku mengikuti di belakang nya.
Ada benar nya sih, bagaimana jika aku diperkosa oranglain malam itu? Bagaimana jika aku ditemukan orang jahat?
“Apalagi? Kenapa masih mengikutiku?” Tanya dhika datar.
“Terimakasih,” kataku pelan.
“Hem,” sahut nya seraya meninggalkanku ke halaman belakang.
“Dhika,” rengekku manja mengikuti nya.
“Apa?” Tanya nya dingin.
“Masih marah ya?” tanyaku hati hati.
Selamat hari raya idul fitri 1442H,
Minal aidzin wal faidzin,
mohon maaf lahir dan bathin ya readers 🙏
Maaf terlambat up dikarenakan sibuk urusan hari raya 🙏😊
Semoga masih berkenan membaca dan memberi kritik maupun saran 😁
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
sehat sehat sll yaa 🤗
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍