Judul sebelumnya 'Sahabatku, Duri Pernikahanku'
Apa wanita ditakdirkan untuk menangis? Apa wanita tidak memiliki kebahagiaan?
Wanita ingin merasa bahagia. Baik istri pertama atau kedua.
Hal apakah yang harus ditangisi oleh wanita? Hal apa yang istimewa?
inilah kisah
Air mata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmass, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 20
"Saya benar benar enggak tahu lagi dok. Disaat saya hamil suami saya mengkhianati saya dan wanita itu adalah sahabat saya sendiri. Jika wanita itu perempuan lain saya tidak akan sesakit ini. Saya tidak tau lagi harus apa. Jika saya pisah dengan Mas Dhani, Bagaimana dengan masa depan anak saya Dok. Tapi jika saya tetap bersama Mas Dhani saya akan terus tersakiti. Saya benar benar nggak kuat dok. Enggak kuat. Kenapa semua terjadi sama saya!" Lirih Bella yang menceritakan isi hatinya kepada Dokter Diana.
Diana pun ikut menangis melihat keadaan Bella yang kacau. Padahal baru saja tadi pagi Diana melihat Bella yang sedang bahagia. Diana pun mengusap pelan punggung Bella. Di usia yang masih muda tapi Bella sudah mendapatkan masalah sebesar ini.
"Mbak sholat aja dulu tegarkan diri Mbak Bella dulu. Saya yakin seberat apapun ujian yang diberikan Allah pasti akan memberikan kita sebuah hasil dan pastinya ujian itu tidak melewati batas!" Seru Diana.
Bella kembali menangis. Menangi dan menangis sampai matanya benar benar merah. Bella merasa telah dibohongi oleh suami dan sahabatnya selama 9 bulan. Bayangkan 9 bulan dan itu disaat Bella sedang hamil.
Bella menatap anaknya yang sedang tertidur dengan Kayla disampingnya. Benar benar hanya Adit lah tujuan hidupnya saat ini.
"Hati saya benar benar sakit hati Dok. Saya saya--" Bella tidak melanjutkan kata katanya dan hanya terus menangis.
"Kenapa Dok harus saya. Kenapa?" Lirih Bella.
Disaat Bella dan Dokter Diana sedang berbincang tiba tiba suara pintu diketuk.
tok tok tok
Bella pun menghapus air matanya dan membuka pintu rumah almarhum orangtuanya. Di sana terlihatlah Dhani yang berdiri di depan pintu membuat hati Bella kembali berdenyut memikirkan pengkhianatan yang terjadi pada dirinya.
Dhani yang berdiri disana terkejut dengan keadaan Bella yang berantakan dan mata yang sembab dan memerah. Dapat ditebak jika Bella saat ini sedang menangis.
"Bel!" Panggil Dhani.
"Mau apa kamu Mas!" Ketus Bella.
"Maafkan aku Bel aku tidak ingin pisah denganmu aku masih mencintaimu. Aku hanya menjadikan Santi--"
"APA MAS APA?" Teriak Bella dengan kembali menangis.
"Mas mau bilang Santi adalah tempat pembuangan s***** Mas iya?" Kesal Bella sembari terisak.
Para warga yang mendengar keributan pun dengan berbondong bondong melihat kejadian yang dialami Bella. Bella kembali menangis.
"Bel jangan teriak teriak malu dilihat tetangga?" Seru Dhani.
"Malu? Mas bilang malu? Mas punya rasa mu setelah apa yang mas lakukan?. Bahkan Mas tidak pernah sekalipun merasa malukan dengan perbuatan Mas kepada ku? Ha?" Teriak Bella histeris.
"Mas dengan teganya dan tanpa malu melakukan itu semua. Apa mas tau aku tersakiti mas aku sakit hati. Kamu Mas, hanya pria brengsek yang akan tetap menjadi brengsek aku benci kamu mas!" Kesal Bella kali ini dirinya benar benar tidak mampu menahan air matanya.
"Bella!" Tekan Dhani
"Apa aku punya salah sama Mas? Aku apa punya kesalahan ha?" Bentak Bella.
"Aku khilaf Bel," Seru Dhani.
Dokter Diana yang tau situasi sudah tidak terkondisi pun menyuruh para warga untuk bubar dan mulai menenangkan Bella.
"Tolong lebih baik anda pergi dari sini!" Tegas Dokter Diana pada Dhani.
"Anda yang siapa dan jangan ikut campur urusan keluarga saya!" Seru Dhani
"Kita bukan keluarga mas. Kata keluarga sudah putus saat kau berkhianat dengan Santi!" Lirih Bella di dalam pelukan Dokter Diana
"Tolong pergi atau saya memanggil warga untuk mengusir anda.!" Ancam Dokter Diana
Dengan terpaksa pun Dhani melangkahkan kakinya pergi dari rumah Bella. Niat untuk memperbaik hubungan dengan Bella namun gagal.
"Sampai kapanpun aku tidak ingin berpisah dengan mu Bel. Jika kau mengajukan perceraian, aku tetap memperjuangkan pernikahan kita di pengadilan nanti. Camkan itu Bel!" Tekan Dhani sebelum pergi.
"Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyerah Mas!" Teriak Bella.
Dokter Diana pun menenangkan Bella. Dan menuntun Bella kembali masuk kedalam rumah. Untung saja Adit belum bangun dan hanya Kayla yang mendengar perdebatan Bella dan Dhani.
"Hiks hiks!" Tangis Bella lagi lagi pecah.
Dokter Diana benar benar merasa prihatin dengan keadaan Bella.
"Mbak kalau tinggal disini tidak akan pernah aman dan akan terus diganggu!" Seru Dokter Diana.
"Lalu saya harus bagaimana dok" Lirih Bella.
"mendingan Mbak Bella saya carikan apartemen sekitar rumah saya!" Saran Dokter Diana.
"Saya ikut aja Dok! Nanti saya akan cari sendiri!" Ujar Bella yang tidak ingin merepotkan Dokter Diana
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
😘😘😘
nnti klo udh nymbung lgii
coba ke avan dlu brgkali udh bnyak up nya