Kisah yang banyak mengandung misteri dan kekerasan, berusaha mempertahankan milik dan merebut milik yang lain.
"Aku memang terlatih menjadi senjata, jadi tidak salah bukan jika aku kejam dan beringas. Dulunya aku adalah seorang Wakil Pemimpin anggota mafia, tapi sekarang ... aku adalah Ratu kejam untuk Raja Dingin." ~ Freya.
"Dia memang kejam, keras kepala namun cerdas. Semua sikapnya membuatku semakin tertarik padanya, dia Lebah Kecilku, dia Ratuku." ~ Sean.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Metode Terbaik
'Besok siang aku akan pergi ke perpustakaan kerajaan, mungkin saja aku bisa menemukan informasi yang bisa membantuku di sana.' Freya menatap gelapnya malam dari dalam kediamannya di balik jendela. Angin malam menerpa wajahnya dengan lembut, membelai dengan gemulai anak rambutnya. Pandangan dingin gadis itu tak lepas dari bulatnya bulan yang bersinar indah malam ini.
Freya sudah membulatkan tekadnya, dia akan mencari cara untuk pulang dengan menggunakan batu putih itu, jika batu itu bisa membawanya kemari seharusnya membawanya pulang bukanlah hal yang sulit dilakukan. Namun sebelum itu, Freya juga berencana mencari tahu jatih diri pemilik tubuhnya, selain anak dari pasangan pedagang kelana tidak ada lagi identitas lain tentang tubuhnya. Yang membuat Freya merasa aneh ialah asal-usul ke dua orang tuanya, dari sejak Freya kecil ke dua orang tuanya tidak pernah memberitahukan lebih jauh identitas mereka selain seorang pedagang yang berkelana. Bahkan mereka berdua tidak punya tempat tanah kelahiran, bukankah ada yang aneh dengan ke dua orang tua Freya?
Sambil mencari tahu identitas dirinya sendiri nanti, Freya juga akan berusaha membantu kerajaan Felix keluar dari masalah. Bukannya apa, Freya memang tidak memiliki kewajiban untuk membantu masalah kerajaan Felix, namun dari ingatan yang Freya miliki, identitas dirinya juga berhubungan dengan kerajaan Felix, meski tidak terlalu jauh tapi Freya bisa memulai dari kerajaan ini untuk mencari tahu identitas dirinya juga identitas ke dua orang tuanya.
Freya ingat Ibunya bernama Quella, dan Ayahnya bernama Asher. Freya tidak terlalu ingat wajah ke dua orang tuanya, namun dari yang Freya ingat Ibunya memiliki rambut berwarna cokelat tua dengan sepasang bola biru terang seperti warna mata Freya. Sedangkan Ayahnya, memiliki rambut kuning seperti warna rambut Freya dan manik mata merah terang seperti darah. Karena ini adalah ingatan dari masa lalu sang pemilik tubuh, Freya tidak bisa jelas mengingat wajah ke dua orang tuanya karena wajah mereka terlihat buram saat Freya memaksakan dirinya untuk mengingat. Tapi meskipun begitu, Freya yakin ke dua orang tuanya pastilah memiliki wajah yang cantik dan tampan, cukup dilihat hasil benih yang mereka tinggalkan memiliki kecantikan alami yang tidak kalah cantik dengan putri bangsawan sekalipun.
Lama Freya termenung, tiba-tiba terdengar suara memecahkan lamunannya. Suara itu adalah suara Elis dan Caroline yang bersama memanggilnya.
"Nona, sudah saatnya makan malam, kami telah menyiapkan makan malam untukmu," ucap Elis dengan sopan, dia berdiri di depan meja panjang berkain meja warna merah. Di atas meja itu terdapat cukup banyak makanan dari berbagai jenis lauk pauk, entah itu hewan laut maupun hewan darat, sayur-sayuran serta buah-buahan.
Freya berbalik menatap ke dua pelayan yang kini menunduk di hadapannya, pastinya ke dua pelayan itu sengaja melakukannya demi menjaga citra majikan mereka di hadapan beberapa pelayan lain yang sebelumnya datang membawa makanan dari dapur kerajaan. Freya berjalan menuju kursi yang telah disiapkan untuknya, duduk dengan tenang di sana. Freya membalik piring yang sebelumnya terbalik, lalu meraih sendok dan pisau, tapi ... Freya merasa ada yang kurang dengan alat makannya. Matanya melirik kiri dan kanan, mencari sesuatu namun sampai di ujung mejanya pun benda yang dia cari tidak juga ada.
Freya beralih menatap ke arah Caroline yang kebetulan berjarak lebih dekat dengannya, "Apa tidak ada garpu?" tanya Freya dengan nada tenang.
"Garpu?" Caroline mengulang nama yang dipertanyakan Freya dengan raut wajah kebingungan, "Apa itu garpu Nona? Apakah semacam makanan? Atau minuman?" Caroline justru bertanya balik membuat Freya tersadar akan sesuatu.
'Jadi di dunia ini belum ada garpu?' tanya Freya dalam hatinya. Pantas saja ketika dia mencari garpu di dekat piringnya, benda itu tidak. Tidak ada yang aneh, jika dipikir lagi Freya datang ke dunia yang cukup kuno tentunya jenius-jenius pengrajin seperti di dunia modern sangat jarang ada.
"Bukan makanan namun semacam peralatan makan, sejenis sendok tapi garpu memiliki ujung seperti jari sangat cocok digunakan saat memakan berbagai jenis daging," jelas Freya tenang dan akhiri dengan helaan nafas, dia yakin meski telah menjelaskannya mereka semua juga tidan akan mengerti, cukup dilihat respon mereka masih saja terlihat kebingungan, "Lupakanlah soal garpu, sendok dan pisau pun bisa jadi." Lanjut Freya sembari dia meraih sendok dan pisau bersamaan.
Dengan gerakan santai Freya memilah berbagai jenis lauk di meja, memindahkan semua makanan itu ke piringnya. Tepat saat Freya telah memotong-motong daging dan hendak melahapnya, Freya menghentikan pergerakan tangannya lalu menatap beberapa pelayan di sekitarnya. Freya meletakkan kembali sendoknya ke piring lalu berkata, "Kalian semua duduk dan makanlah bersamaku. Aku tidak ingin mendengar penolakan dari kalian."
Ucapan Freya spontan mengejutkan lima pelayan di dekatnya termasuk Elis dan Caroline. Mereka semua menatap Freya dengan pandangan tidak percaya, ya mereka seakan tidak percaya Freya mengundang mereka semua makan satu meja dengannya. Meski pun Freya masih belum menjadi apa-apa di kerajaan Felix dan tidak berstatus tinggi, tapi melihat cara dan sikap Sean terhadap Freya, siapa berani mengganggu Freya jika Sean sudah melindungi gadis itu?
"Nona, kami tidak pantas!" balas semua pelayan bersamaan dengan nada tegas sambil mereka membungkuk memberi hormat untuk penolakan mereka terhadap ajakan Freya.
"Bukankah sudah kukatakan aku tidak menerima penolakan? Jika kalian tidak duduk, aku tidak akan makan, dan kalian pasti tahu apa yang terjadi jika Yang Mulia tahu aku tidak makan malam hari ini?" Freya memberikan tatapan ancaman, ini bukan sekadar ancaman, Freya tidak akan sungkan membuat ancaman ini menjadi kenyataan apabila mereka tidak menuruti perintahnya.
Elis dan pelayan lain menjadi dilema, ragu dan takut menerima ajakan Freya. Meski ini hanya sebatas makan bersama, tapi derajat meraka tidaklah pantas melakukannya bersama wanita yang Raja mereka sukai, jika Raja itu tahu mereka makan bersama wanitanya kemungkinan besar mereka akan mendapat masalah. Tapi mendengar ancaman Freya, mereka juga takut menolak sebab mereka yakin, sepertinya Freya tidak akan berbohong dengan ucapannya sendiri.
"Duduklah, apapun yang terjadi aku yang akan bertanggung jawab." Freya memberikan ucapan penenang untuk kegusaran mereka, tentunya tidak ingin lima pelayan tak bersalah itu menjadi dilema karena perintahnya. Bukan tanpa alasan Freya mengajak mereka makan bersama, pertama Freya tidak suka makan sendiri sedangkan orang di sekitarnya mengamatinya, kebiasaannya di kehidupan pertamanya Freya selalu membagi makanannya kepada saudara-saudari seperjuangannya selama berada di pulau terpencil.
Ke dua, makanan di meja terlalu banyak, tentunya Freya tidak akan sanggup menghabiskannya, akan mubazir jika makan sebanyak itu tidak dihabiskan, sebab itulah Freya mengajak mereka makan. Lagi pun Freya sedang melakukan pelatihan sehingga dia tidak bisa makan banyak daging yang akan mengganggu masa pelatihannya.
Karena Freya terus menatap dan menunggu mereka, mau tidak mau akhirnya mereka duduk di kursi satu meja yang sama dengan majikan mereka. Raut wajah gelisah jelas tergambar di wajah mereka semua, mungkin masih khawatir apakah tindakan mereka ini tidak akan berdampak besar pada mereka sendiri.
Freya mengulum senyum hangat, senang melihat ke lima pelayan itu akhirnya duduk satu meja dengannya. Tanpa merasa terganggu dengan ekspresi mereka, Freya melahap makanan yang sebelumnya gagal masuk ke mulutnya. Namun baru saja makanan itu menyetuh indera perasanya, Freya langsung menyemburkan kembali makanannya ke depan begitu cepat. Melihat reaksi Freya begitu terkejut, lima pelayan itu pun juga langsung memasang wajah panik, saking paniknya ke lima pelayan itu segera mengambil gelas masing-masing lalu menuangkan air ke dalamnya dan memberikan gelas itu kepada Freya secara bersamaan.
Freya sendiri tidak terlalu memperhatikan tindakan pelayannya sehingga dia tidak mengambil gelas di antara lima pelayannya, dia justru mengambil gelas sendiri lalu meneguk air di gelas miliknya dengan rakusnya, seolah dia baru saja bertemu dengan air setelah sekian lama tidak pernah minum.
"Nona, ada apa? Apakah anda tersedak sesuatu? Atau makanannya tidak enak?" tanya Elis dengan nada khawatir.
Freya memberikan tanda lewat tangannya kepada Elis, meminta pelayannya itu untuk tidak bertindak terlalu panik sebab Freya sendiri tidak apa-apa, hanya terlalu terkejut hingga membuatnya menyemburkan makanannya sendiri.
Setelah merasa mulai enakan, Freya segera berbicara dengan nada tegas, "Kalian ... jangan makan makanan di meja. Segera singkirkan makanan di meja dan jangan sesekali mencoba merasakannya."
Tanpa berpikir panjang ke tiga pelayan yang sebelumnya membawa semua hidangan itu segera menjalakan perintah, menyingkirkan semua makanan itu kembali ke tempat asalnya. Sedangkan Elis dan Caroline mendekati majikan mereka, tentu ingin tahu dari majikan mereka ada apa dengan makanan di meja tadi.
"Nona ada apa? Apakah makanannya beracun sehingga Nona melarang kami makan?" tanya Elis yang sudah tidak tahan ingin tahu ada apa dengan makanan itu sehingga Freya memuntahkan dan menyuruh pelayan lainnya menyingkirkan semua makanan itu. Padahal ketika Elis dan pelayan lainnya telah duduk, bisa mereka melihat makanan di atas meja sangat menggugah selera makan mereka, membuat mereka tidak sabar ingin mencicipinya.
"Tidak beracun," jawab Freya cepat, 'Tapi rasanya ... buruk sekali.' Lanjut Freya dalam hatinya.
"Lalu kenapa Nona memuntahkannya? Apa karena makanannya tidak enak?" Kini giliran Caroline yang bertanya, jika bukan karena beracun mungkin saja karena makanannya tidak enak. Begitulah tebakan Caroline, dan mungkin saja benar jika melihat ekspresi wajah Freya yang terlihat buruk.
Freya beranjak berdiri, "Elis segera ke dapur istana dan minta semua jurus masak istana berkumpul, tidak terkecuali satu orang pun," tegas Freya tidak menjawab pertanyaan Caroline.
Elis tidak berniat bertanya kenapa Freya memintanya pergi ke dapur istana dan mengumpulkan semua jurus masak, dia segera melenggang pergi dengan raut wajah tegas. Yang Elis tahu pasti telah terjadi sesuatu dengan makanan majikannya sehingga Freya bersikap demikian. Tentunya Elis akan marah jika terdapat sesuatu buruk pada makanan majikannya. Berani mengganggu majikannya, sama saja halnya mencari masalah dengan Elis, Elis tidak akan takut meski Elis akan melawan prajurit terlatih kerajaan sekalipun, jika itu demi majikannya.
Setelah Elis pergi, kini tinggallah Freya dan Caroline yang masih berada di dalam kediaman. Freya tampak sibuk berpikir, sedangkan Caroline sibuk menatap majikannya sambil menerka apa yang sedang dipikirkan majikannya. Agak lama Freya berpikir, tiba-tiba saja Freya tertawa keras seperti seseorang yang telah kehilangan kewarasannya, mengejutkan Caroline yang kebetulan pada saat itu masih asik menatap Freya.
"Hahaha ... kenapa aku baru sadar." Freya masih tertawa, entah mentertawakan apa tapi dari nada tawanya terdengar sedang merencanakan sesuatu. Mendadak tawanya berhenti tepat setelah Freya menatap Caroline dengan tatapan penuh arti, "Caroline, siapa tukang penempa terbaik di kota Damons?" tanya Freya bersemangat.
Meski pun bingung dengan sikap Freya yang mendadak berubah, Caroline tetap menjawab pertanyaan majikannya, "Jika tidak salah dia adalah Tuan Darren. Dia penempa terbaik di kota Damons, Yang Mulia juga selalu meminta Tuan Darren menempa senjata kerajaan."
"Tuan Darren?" gumam Freya pelan sembari dia berusaha mengingat apakah dia pernah mengenal pria bernama Darren atau tidak. Kehidupan Freya sebelum masuk istana dia adalah keponakan dari paman dan bibinya yang merupakan rakyat biasa di kota Damons, sehingga Freya cukup mengenal banyak orang di kota Damons, terlebih lagi Freya mudah bergaul dengan banyak orang. Tapi setelah mengingat-ingat ternyata Freya tidak mengenal pria bernama Darren, mungkin saja karena sosok itu cukup dekat dengan pihak kerajaan, "Besok aku ingin pergi menemui Tuan Darren, dan kau Caroline ikutlah bersamaku."
"Itu." Caroline ingin menjelaskan bahwa tanpa persetujuan dari Sean, Freya tidak boleh keluar kerajaan, namun melihat seringai semangat Freya membuat Caroline tidak tega memudarkan semangat majikannya itu, "Baiklah ... Nona."
"Oh, ya ... Caroline. Apakah Yang Mulia tidak akan datang ke kediamannya malam ini?" Freya baru sadar, hari sudah sangat gelap namun Sean belum juga memunculkan dirinya. Bukannya apa, hanya saja Freya merasa ada yang aneh kenapa Sean tidak muncul juga sampai sekarang.
"Yang Mulia tidak akan pulang malam ini Nona. Dengar-dengar dari beberapa pelayan istana, Yang Mulia sibuk merencanakan sesuatu dengan para pejabat," jawab Caroline dengan tenang. Tapi beberapa detik kemudian Caroline kembali berbicara, "Apakah Nona merindukan Yang Mulia?"
Pertanyaan Caroline hampir saja membuat Freya tersedak oleb udara yang dia hidup, "Rindu?" Freya menatap Caroline dengan pandangan tak percaya kenapa Caroline bisa-bisanya memiliki pemikiran seperti itu, 'Rindu apaan!? Justru aku berharap dia tidak pernah lagi muncul di hadapanku. Jika saja dia bukan seorang Raja, apa mungkin dia sanggup menahanku di kerajaan ini?' Freya menggerutu dalam hati, mengatakan betapa konyolnya pertanyaan Caroline.
"Aku hanya ingin tahu apa Yang Mulia pulang ke kediamannya malam ini atau tidak," balas Freya menjawab pertanyaan Caroline.
***
"Jadi kalian yang memasak makanan yang kalian berikan padaku?" Freya menatap lekat tiga orang juru masak yang kini bersujud di depannya. Dua wanita dan satu pria itu menunduk tidak berani menatap Freya sama sekali, pihak dapur kerajaan sudah tahu dari kabar mulut ke mulut bahwa Freya adalah tunangan masa kecil Raja mereka yang telah lama Raja mereka cari keberadaannya. Bukankah sudah jelas jika status Freya saat ini jauh lebih tinggi dari mereka, dan kemungkinan besar bisa menjadi pemimpin mereka nantinya mengingat Freya bukan hanya tunangan namun istri Raja mereka.
"Benar Nona!" jawab tiga pelayan itu bersamaan dengan nada tegas tapi bergetar, kentara jika mereka sedang menutupi rasa takut mereka. Tidak ada yang tahu bukan jika Freya akan menghukum mereka bertiga atas masakan yang mereka sediakan untuk Freya.
"Lalu siapa Kepala Juru Dapur istana?" tanya Freya lagi sembari dia menatap barisan para juru masak istana yang berbaris rapi tidak jauh darinya. Tepat setelah Freya bertanya, keluar seorang pria kurus berambut putih dan langsung menghadap kepadanya.
"Saya, Nona Freya." Pria berusia sekitaran 60 tahunan itu menjawab dengan nada tenang.
Freya menatap pria itu dari atas hingga ke bawah, perawakan pria kurus itu sangat sederhana dan terlihat ramah. Freya menyetuh dagunya dan mengusapnya secara perlahan, "Apakah kau tahu kenapa aku mengembalikan masakan dapur dan mengumpulkan kalian malam hari begini?" Freya melontarkan pertanyaan kepada Kepala Juru Dapur, sekadar berbasa-basi agar pria tua itu tahu apa kesalahan para bawahannya.
"Tidak, Nona Freya," jawab pria tua itu tenang, namun dia semakin menundukkan kepalanya.
"Jika begitu silakan rasakan masakan bawahanmu sendiri. Elis bawah salah satu piring ke sini dan berikan kepadanya." Perintah Freya tanpa mengalihkan pandangannya dari pria tua di depannya. Tepat setelah Freya berbicara, Elis datang dengan satu piring di tangannya lalu menyodorkan piring itu kepada sang Kepala Juru Dapur istana.
Pria tua itu tidak ragu merasakan makanan yang berikan Elis, tidak berpikir buruk bahwa bisa saja makanan itu diberikan racun melihat cara Freya memperlakukan makanan itu. Sebagai Kepala Juru Dapur sudah menjadi kewajibannya menerima segala hukuman jika bawahannya membuat masalah. Setelah lidahnya merasakan makanan di piring itu, pria itu tidak bereaksi apapun, masih tenang seperti biasanya. Membuat semua orang yang ada di sana mengernyit kebingungan, tapi tidak untuk Freya.
Freya menghela nafas pelan, "Sudah kuduga kalian telah nyaman dengan rasa itu sehingga kalian tidak merasa ada yang aneh terhadap makanan itu." Freya telah menduga kenapa reaksi pria itu biasa saja seakan tidak ada masalah setelah memakan makanan itu karena mereka semua telah terbiasa dengan rasa makanan itu.
Sebagai manusia dari zaman modern tentu saja lidah Freya terganggu dengan rasa makanan itu. Meski pun di kehidupan pertamanya Freya sangat sulit makan namun bukan berarti dia tidak bisa membedakan makanan enak dan tidak. Leoni adalah saudari terdekatnya dan sudah sangat Freya anggap seperti adiknya sendiri. Leoni sangat berbakat dalam hal memasak, apapun yang semua Leoni masak pasti selalu enak, mau itu daging hewan liar atau tumbuhan yang menyerupai rumput tetap saja berakhir enak jika berada di genggaman Leoni. Karena keahliannya itu, Freya dan saudara lainnya menjadi lebih mudah bertahan hidup. Dari situ juga Freya belajar sedikit tentang memasak, meski tidak terlalu mahir paling tidak Freya mampu memasak makanan enak untuk dirinya sendiri.
"Bawa aku ke gudang penyimpanan bahan pokok istana, aku ingin memeriksa sesuatu." Freya menatap Caroline penuh makna, tentu saja dia ingin Caroline membawanya ke gudang penyimpanan bahan pokok makanan, "Dan kau ... aku tidak tahu siapa namamu, tapi ikutlah bersamaku." Freya berjalan mendekati Caroline setelah dia berbicara kepada Kepala Juru Dapur.
"Nama saya Alison, Nona. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan itu." Pria tua itu menjawab, meski Freya tidak bertanya namanya tapi tidak ada salahnya bukan jika dia memberitahukan namanya agar suatu hari nanti Freya bisa menyebutnya dengan namanya.
Freya sempat terhenti mendengar pria tua mengenalkan namanya, namun selang beberapa detik berikutnya Freya kembali berjalan sambil berkata, "Kepala Alison, nama yang bagus."
Selepas itu, Freya dan Caroline serta Alison bergegas menuju gudang penyimpanan bahan pokok istana. Meski perintah Freya membingungkan mereka berdua, namun tidak seorang pun dari mereka berani bertanya kenapa Freya ingin pergi ke gudang penyimpanan bahan pokok.
Tidak sampai dua menit mereka berjalan, akhirnya Freya tiba di depan sebuah bangunan yang terbuat dari batu dengan pintu kayu tebal. Di depan pintu itu, dua orang prajurit tengah berjaga, ketika melihat kedatangan Freya bersama Alison mereka berdua segera menyingkir dari perjagaan mereka, tidak berniat menghentikan karena ada Alison bersama Freya. Alison memiliki kendali penuh atas gudang penyimpanan bahan pokok, dan Sean telah mempercayakan masalah urusan dapur kepada pria tua itu.
Setelah pintu kayu tebal itu terbuka, Freya dan Alison masuk ke dalam, sedangkan Caroline menunggu di dekat pintu, siap menerima perintah kapan saja dari Freya.
Pandangan Freya tidak lepas menatap seisi gudang itu, ada begitu banyak rak kayu bersusunkan tong kayu di sana. Setiap tong terdapat papan tulisan nama sesuai dengan sesuatu yang ada di dalam tong kayu tersebut.
Pada rak pertama, Freya menemukan tong gandum dan benar setelah Freya memeriksa isinya, di dalam tong itu hanya berisikan biji gandum utuh. Ada sekitar 12 tong kayu berisikan gandum setelah Freya menghitung semuanya, terlalu sedikit menurut Freya.
Kesampingkan soal gandum dulu, Freya terus berjalan memeriksa setiap rak kayu dan menghitung semua rempah-rempah yang ada di dalam gudang ini. Sekitar sepuluh menit Freya memeriksa, Freya pun berjalan mendekati pintu dan berhenti tidak jauh dari pintu keluar. Alison mengikut Freya, meski dia telah diam sejak tadi, tapi percayalah bahwa di pikirannya dia sedang berkelebat hebat memikirkan sikap Freya.
"Biasanya berapa bulan gandum akan panen? Dan berapa banyak gandum yang dipanen?" tanya Freya setelah merenungi sesuatu cukup lama.
Alison mengernyit mendengar pertanyaan Freya tapi dia tetap menjawab, "Dalam empat bulan sekali prajurit bawahan Viscount Shanley akan mengirim sepuluh tong gandum, jumlah kiriman sedikit karena gandum juga harus dibagi untuk kepada para pekerja yang menanam gandum. Jadi demi mengatasi kekurangan, Yang Mulia membeli gandum dari negara tetangga."
"Sedikit sekali," balas Freya tanpa sebab terkejut, tidak menyangka pendapatan gandum kerajaan ini terlalu sedikit. Bahkan tidak akan cukup dalam sebulan pemakaian, tapi untungnya kerajaan Felix memiliki cukup banyak uang untuk membeli beberapa tong tambahan gandum lainnya.
Tapi, setiap gandum yang ditanam ulang pastinya memerlukan bibit baru dan untuk mendapatkan bibit baru pasti harus membeli. Jika perputaran gandum terus seperti ini, yang ada kerajaan Felix akan mendapatkan kerugian besar, padahal telah bercocok tanam namun tetap saja kekurangan gandum. Pasti karena letak tanah kerajaan Felix lebih banyak di wilayah pesisir, sehingga tidak salah jika gandum sangat sulit ditemukan.
"Lalu kenapa gula hanya ada satu tong saja, bahkan terlalu sedikit dari pada gandum." Freya bertanya lagi.
"Gula berasal dari tebu dan kerajaan Felix tidak memiliki tanaman tebu, jadi gula itu kami beli dengan harga paling murah dari kerajaan tetangga," jelas Alison lagi.
Freya mengernyit mendengar balasan Alison, "Tapi gula tidak hanya terbuat dari tebu. Wilayah kerajaan Felix terdapat begitu banyak pohon kelapa, kenapa tidak membuat gula dari kelapa? Selain hasilnya banyak juga lebih sehat dari pada gula tebu," balas Freya cepat.
Freya tidak tahu apa yang dipikirkan Sean sebagai seorang Raja, membeli gula dari negara tetangga sedangkan negaranya sendiri bisa menjadi sumber gula terbesar di seluruh kerajaan. Tapi mengingat Sean tidak hanya sibuk dalam dunia politik tapi juga sibuk dalam kepengurusan kerajaan, karena hanya Sean yang tersisa dari keluarganya tentu saja Sean akan kesulitan mengatur kerajaannya sendiri. Terlebih lagi adanya pemberontak di kerajaan yang harus segera dia disingkirkan.
"Dari kelapa? Tapi kami baru tahu jika gula juga bisa dibuat dari kelapa," sahut Alison cepat, dia pun baru tahu jika gula juga bisa terbuat dari kelapa.
Freya sempat terkejut lagi karena balas Alison, tapi tepat saat itu juga sebuah ide muncul di kepalanya, "Ah ... kalau begitu aku ingin melalukan kerja sama denganmu Kepala Alison. Tapi sebelum itu, aku perlu persetujuan dari Yang Mulia."
"Membutuhan persetujuan Yang Mulia? Apa yang ingin anda lakukan, Nona?" tanya Alison dengan raut wajah penasaran.
"Kita akan membuat Kerajaan Felix sebagai kerajaan pedagang terbesar," jawan Freya dengan tersenyum tipis penuh makna. Freya sudah bisa membayangkan hal apa saja yang akan dia lakukan untuk memperkaya Kerajaan Felix, tidak hanya dalam segi keuangan namun juga segi bahan pangan.
"Itu mustahil! Wilayah kerajaan Felix berada di utara pesisir pantai, selain bisa berdagang hewan laut tidak ada lagi yang bisa dipasarkan," sahut Alison cepat, menurutnya perkataan Freya tadi terlalu mustahil untuk dicapai dengan keberadaan kerajaan Felix yang tidak begitu menguntungkan.
Tapi itu hanya segi pemikiran Alison saja, bagi Freya yang sudah terbiasa dalam hal menghasilkan uang tidak akan sulit baginya menjadikan dirinya orang paling terkaya di kerajaan Felix dengan kepintaran yang dia miliki. Lagi-lagi berkat pengajaran keras di kehidupan pertamanya, Freya bisa memanfaatkan semua yang dia pelajari untuk kepentingannya dan orang lain di kehidupan ke duanya.
"Tidak ada yang tidak mungkin selama masih ada usaha, percayalah dalam waktu beberapa bulan ke depan kerajaan Felix pasti akan terkenal dalam dunia perdagangan. Ini adalah metode terbaik membuat kerajaan Felix semakin berkembang pesat dan menjadi pesaing pedagang terkuat."
____________
A/N : Ck! Cerdik juga lu Freya, gak salah pengajaran Tuan Geralt selama 20 tahun mampu membuat benih bagus kek lu 😂 ah jadi penasaran gue ama episode berikut!
smngat thor upnyaa
jngan lam² thor..ditnggu ya thor kelanjutannya😉