sequel dari i love you om
Bagi Tasya cinta dan pernikahan cukup terjadi sekali dalam hidupnya, menikah dengan Arga Fransisco tidak pernah terbayang sekalipun di benaknya karena yang ia tau hatinya menyukai Kelvin Anggara namun ternyata ia salah hatinya sudah tertaut sejak lama untuk Arga, sejak ia di titipkan oleh sang papa kepada Arga atau sejak Arga mendonorkan darahnya untuk Sandra. Tasya tidak tau kapan cinta itu hadir, namun setelah cinta itu hadir begitu besar untuk Arga dalam pernikahan mereka, kasih sayang yang selalu Arga berikan ternyata banyak menyimpan kebohongan.
"Aku memang pernah terluka, tapi tidak akan pernah siap untuk terluka kembali."
~Tasya~
"Berhenti! jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
~Arga~
Sanggupkah Tasya bertahan atau memilih pergi meninggalkan Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafitri wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kok om baik?
Happy reading
**********
Setelah pulang dari kantor Alex, Arga benar-benar merasa cemburu dengan apa yang di ucapkan Alex padanya, dia tidak akan membiarkan Kelvin dekat dengan Tasya dan tak akan membiarkan Tasya menyukai Kelvin. Bukannya melajukan mobil nya ke kantor nya, Arga melajukan mobilnya ke kampus Tasya yang memang dekat dengan kantor Arga. Pandangannya menuju keluar di mana mahasiswa berwara-wiri di sana, mata nya menelisik tubuh yang sudah sangat ia hapal dari dulu. Tepat di depan gerbang sana Tasya menunggu jemputannya, Arga hendak keluar dari mobilnya dan menghampiri Tasya. Namun, tangannya mengepal saat Kelvin datang dan dengan lancangnya menggandengan tangan Tasya menuju mobil pria itu. Arga memukul stir mobilnya dengan sangat keras, merasa kesal, marah, cemburu bercampur menjadi satu. Arga menginjak pedal gas mobil nya dengan kencang, mengikuti mobil Kelvin yang melaju di depannya.
"Tidak akan ku biarkan kalian bersama, karena kamu hanya milikku Tasya."ucap Arga dengan dingin pandangannya tak lepas dari mobil Kelvin yang membawa Tasya.
Mobil Arga berhenti di saat mobil Kelvin juga berhenti di salah satu taman, di sana Kelvin keluar dan membantu membukakan pintu mobil untuk Tasya membuat Arga semakin mendidih, Arga tertawa lirih. Dulu dirinya lah yang berada di posisi itu, sebelum kejadian itu mengubah segalanya, saat Arga ingin memperbaiki semuanya, di saat itu pula dirinya di beri cobaan yang sangat berat. Memang benar kata pepatah, jika sudah kehilangan baru tau jika dia sangat berarti di hidupmu, dan kini itulah yang Arga rasakan. Sudut matanya berair, namun buru-buru Arga hapus dan keluar dari mobil mengikuti Tasya maupun Kelvin.
"Waw, aku suka taman ini. Sejuk sekali, tidak berisik dan pastinya akan membuat aku konsentrasi dalam belajar. Terima kasih Kelvin, mau mengajak ku ke sini."ucap Tasya yang masih di dengar oleh Arga.
"Tidak masalah untuk wanita cantik sepertimu."
Tangan Arga mengepal saat melihat rambut Tasya di acak gemas oleh Kelvin, dan reaksi Tasya yang malu-malu dengan pipi merona membuat Arga ingin segera menghampiri Tasya dan menyeret gadis itu pulang.
Sial! Ada apa dengan hatinya? Cemburu kah ia? Ini adalah balasan untukmu Arga, perang batin Arga membuat Arga benar-benar frustasi. Apalagi di saat Tasya dan Kelvin sangat berdekatan dalam mengerjakan tugas dan di selingi dengan candaan membuat Arga benar-benar tak tahan. Ia mengambil handphone yang berada di saku celananya untuk menghubungi seseorang. Setelah selesai dengan teleponnya Arga menyeringai menatap Kelvin yang mengangkat telepon.
"Tasya, maaf aku harus pergi karena ada operasi mendadak dari pihak rumah sakit tempat ku bekerja. Kamu aku pesan kan Taxi ya untuk pulang."
"Aku pulang sendiri saja tidak pa-pa Kevin, pergilah pasti pasienmu sangat membutuhkanmu."
"Kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri?"
"Tidak apa-apa Kelvin."
"Sekali maafkan aku."
Arga mendengar percakapan Tasya dan Kelvin merasa senang karena rencananya telah berhasil, membuat Kelvin pergi meninggalkan Tasya. Tetapi, melihat wajah murung Tasya melihat kepergian Kelvin membuat sudut hatinya terasa sangat perih.
Dengan perlahan Arga mengampiri Tasya yang menatap kertas-kertas tugas nya yang baru beberapa ia kerjakan.
"Ekhem."
Tasya mendongak menatap sumber suara yang sangat dekat dengannya, Tasya di buat kaget dengan kedatangan Arga yang berada di depannya, mengapa di saat Kelvin tidak ada Arga selalu menyelamatkannya?
"Om."
"Hmmmm."
"Kok om di sini?"
"Hanya kebetulan melihat seorang gadis yang duduk sendiri dengan tumpukan kertas di meja taman."
"oooh."balas Tasya cuek mencoba fokus dengan tugas kuliahnya kembali. Namun, Tasya merasa frustasi di saat mood mengerjakan tugasnya sangat buruk bahkan dirinya sangat malas mengerjakan tugas itu kembali. Arga di buat kesal dengan balasan Tasya padanya, ia duduk di samping gadis itu dengan wajah dinginnya.
"Bagaimana selesai, jika tak kamu kerjakan."dengus Arga yang melihat kertas Tasya yang masih terisi setengah tulisan gadis itu ada juga beberapa desain baju yang membuat Arga kagum. Tasya tidak benar-benar berubah, gadis itu masih mengingat hobi mendesain baju nya atau karena Tasya kuliah di jurusan itu?
"Kau yang membuatnya?"tanya Arga memegang kertas berisi sketsa baju sepasang pengantin.
"Iya."
"Kau suka?"
"Sangat suka, gaun itu akan ku kenakan jika aku menikah kelak, suami ku pasti akan terpesona."ucap Tasya berbinar membayangkan jika ia menikah.
"Jika kau sudah menikah?"
"Hah? Maksud om?"tanya Tasya melihat ke arah Arga mencoba memastikan apa yang ia dengar
"Mak...sud ku jika ada yang mengajakmu menikah, kau akan terima atau tidak?"ucap Arga sedikit terbata.
"Ya tergantung om, kalau dia cinta sama Tasya dan Tasya juga cinta sama dia, ya Tasya terima dong, apalagi seperti Kelvin. Upsss."ucap Tasya menutup mulutnya ia terkejut dengan ucapannya sendiri apalagi melihat mata Arga yang sangat tajam menatapnya hingga membuat tubuhnya merinding.
"Bereskan, akan ku bantu kamu mengerjakan tugasmu."ucap Arga dingin membuang muka ke arah lain, tangan nya yang berada di bawah mengepal kuat hingga buku-buku telapak tangannya memutih.
Entah mengapa melihat Arga yang seperti itu membuat Tasya tidak berani membantah perkataan pria itu, dengan terburu-buru Tasya memasukkan buku dan kertasnya ke dalam tasnya kembali. Arga yang melihat Tasya sudah selesai memasukkan bukunya, ia langsung menarik tangan Tasya menuju mobilnya membuat Tasya susah menyamai langkah kaki Arga yang sangat terburu-buru. Bahkan karena sangat kencangnya genggaman tangan Arga pada pergelangan tangan Tasya membuat Tasya meringis. Namun, tak berani memprotes Arga sedikit pun entah mengapa ia takut Arga meninggalkannya sendiri. Mobil Arga melaju dengan kencang meninggalkan taman dengan keheningan yang menyapa mereka berdua, Tasya hanya menatap pergelangan tangannya yang memerah. Arga yang mengetahuinya merasa bersalah. Namun, ia tidak bisa mengucapkan kata maaf secara gamblangnya. Tanpa kata, ia membawa tangan Tasya kembali ke genggagamannya, mengusap pergelangan tangan Tasya yang memerah dengan sangat lembut. Diam-diam Tasya tersenyum dengan perlakuan lembut Arga padanya, entah mengapa hatinya sangat senang di perlakukan dengan lembut oleh Arga hingga pipinya bersemu merah.
*******
"Om kenapa baik sama Tasya akhir-akhir ini?"tanya Tasya di saat mereka sudah terduduk di ruang tamu rumah Arga untuk mengerjakan tugas gadis itu.
"Karena aku sudah berjanji untuk menjagamu."jawab Arga dengan datar tanpa melihat ke arah Tasya. Tatapi, Arga yakin pipi Tasya sudah memerah karena ucapannya.
Tasya memandang wajah Arga yang sedang serius mengerjakan tugasnya, bahkan sampai Tasya meletakkan kepalanya di meja dengan berpangku tangannya sendiri. Matanya tak berkedip melihat wajah Arga yang semakin tampan jika pria itu sedang serius begini, hingga Tasya merasa mengantuk dan tanpa sadar tertidur. Arga yang merasa tidak ada suara Tasya yang berada di sampingnya, mencoba melihat ke arah gadis itu. Arga tersenyum kecil melihat Tasya yang sudah tertidur dengan kepala yang berada di atas meja. Arga menghentikan tulisannya, ia menghadap ke arah Tasya dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga gadis itu yang menutupi wajah cantik Tasya. Dengan perlahan Arga membenarkan letak tidur Tasya agar gadis itu nyaman dalam tidurnya, kepala Tasya, ia letakkan di pahanya, Arga mengelus rambut Tasya dengan lembut. Perlahan wajahnya mendekat untuk mencium dahi gadis itu.
"Ini minumnya tuan."
"Ssttt, jangan berisik bi."
"Maaf tuan, saya tidak tau jika non Tasya tertidur. Non Tasya masih sama seperti dulu ya tuan, suka tertidur di paha tuan."
Arga cuma tersenyum kecut menanggapi ucapan pelayan yang sudah ia anggap pengganti ibunya sendiri. Bi Sari yang mengetahui raut wajah Arga yang berubah menjadi merasa sangat bersalah.
"Maafkan saya tuan, saya permisi."
Arga kembali melanjutkan membuat tugas Tasya agar segera selesai dan bisa memindahkan Tasya ke kamar, sesekali ia membenarkan kepala Tasya agar gadis itu semakin nyaman.
"Kamu boleh lupa padaku, tapi kamu tidak lupa dengan kebiasaanmu yang memeluk perutku ketika kamu tertidur. Dulu aku merasa sangat risih, tapi sekarang aku sendiri yang membiarkan itu, karena aku rindu pelukan ini."
atsu adik sepupu