[Romansa dua dunia-Fantasi barat-Horor]
Mereka berdua, Osric dan Odelia merupakan pasangan Indigo yang cukup fenomenal. Seifried Osric Gideon, ia tidak bisa dilukai oleh makhluk selain manusia asli. Baik itu setan, roh, hantu atau apapun itu. Tetap saja tidak bisa melukai seorang Osric.
Adora Odelia Aloysius, gadis ini walau parasnya yang jelita, namun mereka yang sudah mati tidak ada yang berani mendekat. Jika, gadis ini mendekat, mereka hilang. Begitupun sebaliknya.
Hingga suatu hari, mereka terjerumus kedalam sebuah kerajaan besar
menjadi pemeran yang harus melakoni perannya. Pengorbanan demi pengorbanan mereka lakukan. Rintangan demi rintangan mereka hadapi.
Dari situlah, terkuak jati diri mereka yang sebenarnya. Seorang Ratu dunia Immortal yang tertidur seratus tahun di dunia manusia terbangun. Lantas, sederet fakta dan akhir seperti apa yang akan mereka temui di ujung kisahnya?
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiyahpna_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selir Raja
...Selamat membaca!...
...*****...
Odelia kira, ketika portal biru terang melingkupi tubuhnya dan raja, ia akan dibawa menuju dunianya, dunia manusia. Namun itu semua hanyalah angannya. Salah! Faktanya, Odelia kini kembali pada kamar megah dirinya dan raja. Duduk termenung, sendirian.
Sedangkan raja pergi. Ya, selalu begitu. Meninggalkan ratunya yang tengah dirundung kekesalan tiada tara. Pasalnya, perdebatan antara dirinya dengan sang raja beberapa saat yang lalu masih berbekas.
"Kok ke sini lagi sih?! Gue mau pulang, Ric!" pekiknya jengkel. Sedangkan Alazar nampak kalem, datar seperti biasanya.
Alazar bergerak masih dalam posisi berdiri. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap ratunya lekat. Ia memutuskan untuk berbicara dengan bahasanya sendiri tidak mengikuti Odelia yang memilih lo-gue. "Delia, nanti akan ada jamuan makan malam bersama para raja dan keluarga mereka. Tugas kamu sebagai ratu adalah mendampingiku—
"—Ric!"
"—Dengarkan aku dulu, oke?" sembari menahan jengkel, Odelia mengangguk. "Aku janji, kamu hanya akan duduk mendampingi aku. Aku tidak akan memperkenalkan kamu secara resmi. Belum. Aku akan menunggu kamu siap. Aku janji, Del. Oke?"
Lagi, Odelia mengangguk, kendati raut wajahnya terlukis jengkel. Apa apaan ini! mengapa begitu mendadak? Sayangnya, cuap kekesalannya hanya mampu ia pendam dalam hati.
Mencoba sabar, ia menahan napas dalam. Namun, kesabarannya tidak bertahan lama kala Alazar kembali bercuap. "Tunggu disini ya. Para selirku akan datang berkunjung."
Pa-ra se-lir? Artinya, selirnya banyak begitu? HEH! What the—!!! sontak saja, Odelia meledak. "Berengs*k lo ya! Lo selingkuh!"
"Eh, ENGGAK!" Alazar panik. Ia kelimpungan pun bingung untuk menjabarkan melalui serangkaian kata, pasalnya, para selirnya adalah perwujudan dari permainan politik kerajaan. Tidak ada unsur hati sedikit pun. Apalagi memainkan hati ratunya, No! "Del—"
Lalu, datanglah Sergio, membuka pintu kamar pribadi paksa. Raut wajahnya begitu gusar. Namun, perlakuannya sedari awal memang salah. Memasukinya saja sudah terlarang apalagi bertindak demikian dan Sergio lalai bahwasanya, raja kini tidak sendiri lagi. Ada ratu bersamanya.
Sergio lantas salah tingkah menatap kedekatan rajanya dan ratunya yang sepertinya tengah bermesraan tanpa mengetahui yang sebenarnya. Bahwa sesungguhnya, mereka tengah bertengkar kecil, bukan bermesraan. Hih!
"Damn it, Sergio!" Alazar murka, ia bergerak mendekati Sergio. Menatapnya bengis.
Sergio yang hendak berbalik pun urung, terlanjur basah. Sergio akhirnya dengan berat hati, ia melanjutkan tujuannya. Konsekuensi pasti ia akan dapatkan, melihat raja yang nampak murka oleh kedatangan Sergio yang jauh dari kata sopan.
Ia menjatuhkan dirinya, bersimpuh pada raja. "Baginda Raja Alazar, maafkan hamba atas kelancangan hamba. Ada kabar mendesak yang ingin hamba sampaikan."
"Katakan!" Kata raja dengan berapi api, membentak Sergio, membuat ratunya berjengit kaget karena tak pernah diperlakukan demikian.
Sergio nampak gugup dan kian gusar. "Jeremy, melepaskan dirinya, Baginda. Para penjaga dan prajurit yang bertugas ditemukan tewas."
Setelahnya, Odelia kembali ditinggal sendirian dengan pikiran yang terasa dicekik tanya. Siapa Jeremy? Belum lagi persoalan selir. Dirinya diselingkuhi atau bagaimana? Sungguh, Odela tak habis pikir, ia tetap tak mengerti. Yang mampu ia lakukan sekarang adalah berdecak seraya mendesah kasar.
"Ish! Ada apa lagi sih?"
*****
Malam pun tiba, jamuan makan malam besar yang sangat dinantikan Alazar pun sebentar lagi dimulai. Kegelisahan tak kunjung pudar dari diri Odelia.
Sang ratu tampak tak tenang. Dengan balutan gaun khas kerajaan yang tentunya kental akan aksen mewah, Odelia berdiri dengan gerak gelisah. Menunggu kedatangan raja.
Sedangkan sang raja entah dimana. Sebenarnya, sudah sedari siang Alazar tidak mendampinginya. Selama berjam jam itu, Odelia hanya duduk termenung di kamarnya. Ia menolak di dampingi para pelayan apa lagi dayang.
Baginya, kehadiran dayang atau pelayan hanya membuatnya terusik. Mereka berisik karena terus menerus bertanya apa yang diinginkan ratu. Membuat Odelia tak nyaman dan jengkel.
Ditambah lagi, Odelia kini terdiam kebingungan. Pasalnya, sebelumnya Alazar berkata bahwa para selir akan berkunjung kan? Namun, sedari tadi ia menunggu dan bersiap, tidak ada tanda tanda kehadiran para selir. Odelia kesal, ia benci menunggu!
"Yang Mulia Raja, memasuki ruangan!" Seru seorang prajurit penjaga kamar.
Odelia terkesiap. Ia berdiri. "Ric." Odelia menghampiri Alazar. Namun Alazar menggeleng samar, Odelia tentu saja bingung. Namun, saat Alazar memberitahu ratunya melalui telepati, Odelia pun mengerti. "Yang Mulia Alazar, aku-kamu. Pelayan dan para selir menuju kemari."
"Yang Mulia Alazar." Sapanya dengan senyum dipaksakan dan suara yang ia buat mendayu. Sedangkan Alazar, sang raja dalam diam tersenyum geli.
Ia lantas berjalan melewati ratunya seraya menepuk puncak kepala Odelia yang belum terbalut mahkota ratu. Kali ini Alazar tak mengharapkan tiara ratunya. Raja mengharuskan dan menginginkan mahkota identitas ratu untuk acaranya yang akan berlangsung tak lama lagi.
Dibelakang raja, beberapa pelayan mengikuti Alazar sembari membawa nampan besar di setiap tangan yang tertutupi kain merah dengan renda di pinggirannya.
Lalu memasuki ruang mandi raja, meletakkan semua nampan yang ada pada ruang kosong khusus ganti raja dan ratu yang tadi Odelia gunakan.
"Ikut aku."
Gandengan tangan Alazar membuat Odelia tersentak kaget. Pasalnya ia tengah berdiri memperhatikan para pelayan yang datang hilir mudik dengan berbagai macam nampan berbagai ukuran.
Ekspresi bingung dan tertariknya tak bisa ia hilangkan sekarang, ia persis gadis desa yang baru menginjakan kaki di ranah perkotaan.
Namun, Odelia hanya diam tak memberontak karena sangat tidak memungkinkan. Bisa jatuh harga diri rajanya di hadapan para pelayan! Odelia tidak mau bertindak demikian.
Langkah kaki Odelia kian memberat kala memasuki ruang mandi raja. Pelayan sudah berderet di tepi kolam berendam raja yang dipenuhi aneka bunga mawar.
Beberapa berdiri di belakangnya dengan mata yang tak lepas dari raja, menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan. Tak ia pungkiri bahwa, Odelia gugup, oh! Mau diapakan ia disana?
"Kalian semua keluarlah! Tinggalkan aku dengan ratuku."
"Baik, Yang Mulia." Jawab para pelayan serentak seraya keluar satu persatu dari ruangan.
Jantung Odelia kian berdentum hebat. Ia hendak melarikan diri, namun urung kala cekalan Alazar pada tangannya mengerat. Alazar menatap Odelia dengan seringai menggoda. "Bantu aku melepas semua pakaian ini, Del. Jangan lari, jangan malu."
Alazar menyeringai. Kini ia telah menghadap sepenuhnya pada Odelia, mahkota rajanya sudah ia tanggalkan. Tangannya melepas jubah kerajaan yang melekat hingga jatuh meluruh menyentuh lantai dengan begitu dramatis.
Odelia mematung. Ia menatap Alazar tanpa berkedip. Masih tertegun dan gugup. Raja bilang apa? Semua pakaian? Heh! Odelia rasa, jiwa jalangnya tengah meronta ronta. Sheesh!
"Delia. " Alazar menunduk, menangkup dagu ratunya agar mendongak menatapnya. Wajahnya ia dekatkan. Hingga menyisakan sedikit jarak.
"Ke-kenapa?" Odelia melotot, napasnya tercekat. Alazar mengangkat alisnya. Lalu menempelkan pipinya dengan pipi sang ratu seraya berbisik lirih. "Cepat selesaikan."
Jeda.
Odelia salah tingkah. Dengan tangan bergetar, ia melepas tali penghubung lapisan kain raja terakhir hingga luruh. Mempertontonkan tubuh raja yang terbentuk sempurna. Membuat Odelia oleng, rasanya, kewarasannya semakin menipis. Dasar raja sial*n! Makinya, dalam hati.
Alazar kembali menyeringai, sisi iblis dalam dirinya begitu kesenangan kala berhasil menggoda ratunya. Belum puas, tangannya melingkar pada pinggang ratunya erat. Membuatnya semakin menempel tanpa jarak. Tangannya merayap naik, wajahnya ia miringkan bergesekan dengan pipi Odelia, lalu bergerilnya membelai paras ratunya.
"Keluarlah, para selirku sudah datang."
*****
Odelia tak menyangka bahwa hidupnya sekarang benar benar jungkir balik. Ia yang semula hanya menganggap dirinya manusia tak normal pada umumnya, sekadar indigo ternyata merupakan seorang ratu.
Bahkan dari raja tersohor yang memiliki banyak selir. Tak tanggung tanggung, ada sepuluh selir yang menjadi saingannya di kerjaan. Dan semuanya memandangnya sinis.
Gue salah apa sih?
Kecuali satu makhluk, selir Irsia namanya. Ia merupakan selir termuda di antara selir lainnya. Ia tak memandang sinis dan penuh permusuhan, justru sebaliknya. Parasnya cantik, lembut dan memandang Odelia bahagia namun tak kuasa membuat Odelia merasakan kenyamanan.
Hingga Alazar yang datang selepas berpakaian rapi menyela di antara ratu dan para selirnya. Ia mendekatkan dirinya pada Odelia mengecup dahi ratunya penuh cinta. "Ratuku, aku akan kembali nanti, aku pergi dulu." Alazar pamit pergi, lalu berbisik. "Jangan aneh aneh, sayang." Peringatnya lembut diakhiri sapuan lembut pada sisi wajah Odelia.
Dan sontak saja mengundang raut cemburu dari para selir yang memang tak pernah di perlakukan semanis dan selembut itu oleh raja.
Selir Yana mendekat, memandang penuh rasa iri dan dengki pada Odelia. "Yang Mulia kembali lagi. Oh, aku sungguh tak percaya ini. Kudengar kau dari dunia manusia."
Odelia tertawa meremehkan, memandang selir Yana dengan tatapan datar. "Memangnya kenapa? Kau iri padaku atau kau tak menyukai aku kembali di kerajaan ini."
"Itu artinya kau lemah, Adora!" Ujar Yana sengit, memanggil Odelia dengan sapaan lamanya. "Oh tunggu, haruskah kupanggil Yang Mulia Ratu lagi?"
"Cukup. Aku tidak selemah itu, Yana!" Seru Odelia. Apa apaan ini! kenapa semuanya begitu nampak tidak menyukai dirinya?
"Hentikan!" Selir Zala, selir tertua raja menginterupsi. Wajah congkaknya memberi ekspresi jengah. "Kenapa kalian banyak bicara, kenapa tidak kita buktikan saja secara langsung."
Seringai licik menghiasi paras Zala. Zala menantangnya! selir lainnya tampak begitu mendukung Zala kecuali Irsia yang tampak enggan, sangat tergambar dari ekspresi wajahnya.
"Tentu saja, sepertinya menarik. Apa yang harus kubuktikan?" Odelia tersenyum sinis, tidak menerima segala bentuk merendahkan dirinya. Ia bukanlah pecundang.
"Kita lakukan tarian pedang. Besok siang, di halaman para prajurit berlatih disaksikan seluruh prajurit yang ada." Putusnya secara sepihak yang disambut ketegangan oleh para selir lainnya.
Oh, hanya tarian kah? Odelia tertawa. "Baik, aku sanggup. Hanya menari bukan?" Ujar Odelia ringan sembari mengedikan bahu acuh.
Zala terbahak. Matanya yang tajam dan penuh tipu muslihat memandang Yana picik. "Bagaimana Yana, kau setuju? aku menyetujui itu dan besok aku akan turut serta."
Yana lantas tersenyum kemenangan, ia mengangguk sembari memberikan salam penghormatan. Ia kemudian menunduk anggun. "Tentu, Yang Mulia Zala."
Lagi, Zala tertawa, Ia merasa puas. Sedangkan para selir yang lainnya tampak terkesiap, memandang tak percaya dan penuh keraguan.
Odelia turut tersenyum pongah, hanya menari bukanlah masalah besar. Tenang saja, besok pasti ia yang akan memenangkannya. Lihat saja!
"Baik, sudah cukup. Kita lihat saja besok." Zala lantas melenggang pergi dengan anggun diikuti selir lainnya yang seolah dayang dayangnya. Cih! Odelia berdecak, ia tidak menyukai selir raja.
Kok bisa bisanya rajanya yang bodoh itu menjadikan mereka selir. Tidak ada akhlak. Odelia saja yang baru bertemu dengan mereka, lantas disergap muak dan benci. Apa kabar Alazar? Dih. Pokoknya Odelia jengkel!
"Yang Mulia," ujar Irsia terbata bata. Odelia berkedip menatapnya bingung. Ia baru menyadari masih ada selir Irsia disini. "Kenapa? ada yang ingin kau katakan padaku?"
Dari gerak geriknya, Odelia cukup mengerti, Irsia seolah ingin mengutarakan sesuatu namun sepertinya Irsia sendiri ragu. Dan mungkin alasan itu juga yang menahan kepergiannya.
Tidak seperti para selir lainnya yang bahkan setelah sekian tahun lamanya tak berjumpa justru menyambutnya dengan penolakan dan kebencian yang mendarah daging.
"Yang Mulia Ratu sungguh ingin melakukan tarian pedang?" tanya Irsia perlahan, namun melihat raut jengkel Odelia membuatnya menggeleng panik. "Ah, maksudku bukan seperti itu."
Sepertinya, Irsia ini salah satu wanita yang cukup peka terhadap yang lainnya. Terbukti tatkala ia langsung bisa memahami gelagat Odelia yang berubah masam. Tolong, harga diri dan egonya kembali dipertanyakan.
"Mohon maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia Ratu. Maksud hamba adalah tarian pedang pasti sedikit berat untuk Yang Mulia Ratu mengingat Yang Mulia Ratu sudah lama tidak berada di kerajaan."
Oh, begitu ya? Odelia mengangguk, sesaat kemudian, ia mengernyit bingung merasa janggal. Kenapa Irsia begitu mengkhawatirkan dirinya?
Ayolah! ini hanya sebuah tarian dengan menggunakan pedang. Begitu kan? Ya, walau ia akui ia tak pernah menari namun setelah ia fikir kembali sepertinya tarian pedang tak terlalu buruk.
Ia hanya perlu menggerakan tubuhnya mengikuti iringan musik ditambah pedang dalam genggamannya, begitu kan? Ah, itu terdengar mudah baginya.
Odelia tertawa kecil. "Ah, kau tenang saja mengenai hal itu, Irsia. Aku hanya perlu menari dengan membawa pedang bukan? sepertinya itu mudah."
Jeda.
Irsia lantas berkedip, mulutnya membeo. Napasnya tertahan, menatap Odelia keheranan. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah panik.
"Mohon maaf Yang mulia Ratu, tarian pedang bukan sekadar menari dengan menggunakan pedang tapi yang benar adalah bertarung dengan menggunakan pedang. Bertarung satu lawan satu. Dengan pembukaan dan penutupan tarian pedang yang sesungguhnya."
HAH? APA? Sebentar, tadi bagaimana? Odelia mengerjap, rasanya seluruh pasukan oksigen dalam dirinya perlahan surut. Kepercayaan dirinya pun mendadak raib. Tamatlah riwayat Odelia, besok!
Oke, fix! valid, no debat. Gue, mati!
Well, aku keknya udah mulai terlupakan. Yep, oke gapapa. Karena aku juga sejujurnya lupa dengan novel ini, maaf lurrrrr.
Ekhem, cek gelombang yaa. Masih ada ga si yang nungguin ceritanya? mau lanjut apa enggaaaa?
Komen ya lurr! sip. Suwun, lur.
Perjalanan Alma Mencari Ibu mulai dukung
Salam Hangat dari "Sebuah Kisah Cintaku" 😆🙏🏼