Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAJAR
Waktu lima belas hari berlalu dalam ketegangan yang mencekam di seluruh penjuru benua. Angin dingin yang berembus dari arah utara tidak lagi membawa salju biasa, melainkan hawa kematian yang membuat tanaman pangan di tiga kerajaan besar mati membusuk sebelum sempat dipanen. Ketakutan massal merayap di benak setiap manusia, dipicu oleh desas-desus tentang kehancuran total seratus ribu pasukan Aliansi di Lembah Ratapan.
Di kedalaman Frozen Abyss, keheningan di dalam Istana Es Dewa Fase 3 mendadak pecah oleh suara retakan yang menggema dari halaman tengah.
CRAAAAK...
Kepompong es transparan yang merendam tubuh Elena di dalam Kolam Pemurnian Mana Es mulai memancarkan garis-garis retakan keperakan. Cairan mana biru pekat di sekelilingnya bergolak hebat, tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit Elena seperti pusaran air raksasa.
[Sistem: Rekonstruksi Tubuh Darurat Selesai 100%.]
[Fisik Es Dewa Anda telah mencapai 80%. Struktur tulang telah sepenuhnya bertransformasi menjadi Sumsum Es Dewa.]
[Selamat! Terobosan Ranah Sukses. Anda kini adalah Penyihir Agung Lingkaran 8 Penguasa Es Absolut.]
PYAAAARRRR!
Kepompong es itu meledak hancur menjadi jutaan serpihan kristal halus. Elena membuka matanya perlahan. Sepasang manik matanya tidak lagi berwarna biru ataupun putih bersih, melainkan perak berkilau dengan pola kepingan salju yang rumit di pusat pupilnya.
Ketika kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer istana, gelombang energi Absolute Zero Aura yang kini telah berevolusi meledak secara radial. Seluruh air di dalam kolam instan membatu menjadi es padat, dan pilar-pilar kastil dilapisi oleh kristal berlian hitam.
"Kekuatan ini..." Elena mengepalkan tangannya.
Dia tidak lagi merasakan dingin dari alam sekitarnya; sebaliknya, dialah yang mendikte dingin tersebut. Di dalam tubuhnya, lingkaran mana kedelapan berputar dengan megah, memancarkan tekanan magis yang begitu padat hingga mampu membuat penyihir tingkat rendah pingsan hanya dengan berada di dekatnya.
Frost, yang luka bakarnya telah sepenuhnya sembuh akibat paparan mana es dewa selama lima belas hari, bangkit berdiri dan merendahkan kepalanya yang besar di hadapan Elena. "Selamat atas kebangkitanmu, Maharani Elena. Aura milikmu sekarang... bahkan membuatku merasakan getaran kepatuhan yang murni."
Elena mengelus moncong besar Frost dengan lembut, sebuah gerakan tanpa kehangatan namun penuh keterikatan kontrak. "Kau telah melindungiku dengan mengorbankan dirimu di pertempuran lalu, Frost. Mulai hari ini, tidak akan ada satu pun manusia yang bisa melukaimu lagi."
[Sistem: Sinkronisasi Kekuatan Selesai.]
* [Poin Sistem Saat Ini: 0 Poin.]
* [Menu Baru Dibuka: Sistem Perluasan Wilayah Makro (Anda dapat mengonversi kota-kota manusia yang ditaklukkan menjadi Kota Es Sistem).]
Elena menatap layar virtualnya dengan kilatan yang membara. "Poin sistemku telah habis untuk rekonstruksi ini. Tampaknya aku harus segera memanen poin baru dari Kota Suci Luminaria."
--------------
Sementara itu, di bawah langit Kota Suci Luminaria yang diselimuti awan kelabu, sebuah pertemuan raksasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah benua sedang berlangsung di puncak Menara Matahari.
Tiga penguasa tertinggi benua tiga eksistensi Lingkaran 8 duduk mengelilingi meja bundar.
Yang pertama adalah Paus Benediktus, pemimpin spiritual Kekaisaran Suci. Di sebelah kanannya duduk Grand Magus Varian, pemimpin Menara Sihir Hitam di barat, seorang pria berjubah kelam yang tubuhnya dikelilingi oleh uap racun korosif. Di sebelah kirinya adalah Kaisar Magnus sang Penakluk, penguasa Kekaisaran Tirani dari timur yang bertubuh kekar dengan zirah naga merah yang memancarkan aura api ekstrem.
"Kalian berdua telah melihat apa yang tersisa dari Sir Leon," ucap Paus Benediktus dengan suara berat, memecah keheningan ruangan. "Gadis Elena itu memiliki sihir tingkat bencana. Jika kita tidak menyerangnya sekarang saat dia diperkirakan sedang melemah akibat meramal sihir sebesar itu, benua ini akan berakhir."
Kaisar Magnus mendengus, menghantamkan tinjunya ke meja hingga bergetar. "Aku membawa tiga ratus ribu Legiun Api Merahku dan lima ekor Naga Api Jinak. Sehebat apa pun sihir es miliknya, di hadapan lautan api murni milik kekaisaranku, semuanya akan mencair menjadi air parit!"
Grand Magus Varian terkekeh rendah, suaranya seperti gesekan tulang kering. "Jangan meremehkan es dewa, Magnus. Tapi aku setuju dengan Benediktus. Aku telah menyiapkan Kutukan Jiwa Pembusuk Lingkaran 8. Begitu ksatria milikmu menembus garis depannya, aku akan mengunci jiwanya agar tidak bisa menggunakan mana."
"Bagus," Paus Benediktus berdiri, mengangkat tongkat kepausannya yang kini memancarkan cahaya emas murni yang dipadatkan. "Dengan gabungan tiga ratus ribu pasukan Magnus, lima ratus penyihir hitam Varian, dan seratus ribu Ksatria Suci cadanganku... kita memiliki hampir setengah juta pasukan. Ini bukan lagi perang suci... ini adalah perang pemusnahan eksistensi!"
Tiba-tiba, bumi di bawah Menara Matahari bergetar hebat.
Suara gemuruh yang amat dahsyat terdengar dari arah utara, memotong kalimat sang Paus. Alarm sihir di seluruh Kota Suci Luminaria berbunyi serentak dengan nada melengking yang memekakkan telinga.
Seorang prajurit pengintai melompat masuk ke dalam ruangan melalui jendela yang pecah, wajahnya dipenuhi oleh air mata yang membeku. "L-Lapor... Yang Mulia! Pasukan... Pasukan Es Dewa tidak menunggu kita menyerang!"
"Apa?!" Kaisar Magnus terbelalak.
"Mereka... mereka telah melintasi perbatasan tengah! Seluruh Pegunungan Utara telah runtuh dan berjalan menuju ke arah kita! Ratu Es... Elena... dia sedang memimpin badai salju raksasa yang menelan seluruh kota di jalurnya!"
Tiga penguasa itu bergegas berlari menuju balkon menara. Ketika mereka memandang ke arah cakrawala utara, pemandangan yang tersaji membuat keangkuhan mereka runtuh dalam sekejap.
Di ujung pandangan mereka, langit siang hari telah terhapus sepenuhnya oleh dinding badai salju setinggi ratusan meter yang bergerak maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Di dalam badai tersebut, terlihat siluet Naga Es Kuno raksasa yang mengepakkan sayapnya, didampingi oleh ribuan makhluk roh es yang melayang di udara.
Dan di barisan paling depan, melayang dengan anggun di atas tahta es yang ditarik oleh dua Ice Chimera, Elena von Silversnow menatap Kota Suci Luminaria dari kejauhan. Tatapan peraknya menembus jarak puluhan mil, mengunci takdir tiga penguasa benua tersebut.
Perang Semesta yang sesungguhnya telah dimulai, dan kali ini, Elena datang bukan untuk bertahan, melainkan untuk menjatuhkan penghakiman atas ras manusia.