Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERJALANAN KE GUA PENGGUNG DAN RITUAL PEMBUKA ILMU
"Yok, berangkat Nak! Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Udara semakin tidak bersahabat," seru Eyang Sastro sambil mengemas barang-barang pusaka.
"Ke mana kita pergi, Eyang?" tanya Raga sambil mengikatkan pedang dan Naga Emas di pinggangnya.
"Ke markas besarku. Ke Gua Penggung. Di sana ada tempat yang paling aman dan paling sakral untuk membuka segel kitab itu. Di sana juga tersimpan banyak ilmu dan senjata yang belum pernah kusediakan untuk siapa pun... kecuali untukmu sekarang."
Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan puncak gunung, tapi bukan turun ke desa. Mereka justru mengambil jalan setapak yang lebih curam dan jarang dilalui orang, menuju ke sisi gunung yang paling terpencil dan lebat.
Perjalanan menuju Gua Penggung terasa berbeda. Setiap kali mereka melewati sungai atau hutan, makhluk-makhluk penghuni hutan—baik yang baik maupun yang galak—semuanya menunduk hormat saat Raga lewat. Mereka tidak lagi memandang Raga sebagai mangsa atau manusia biasa, tapi memandangnya sebagai sosok yang memiliki kedudukan tinggi di mata sang Raja.
"Lihat itu, Kek?" bisik Raga pada Mbah Joyo. "Mereka pada menyingkir dan menunduk."
"Itu karena kau sekarang membawa Naga Emas, Nak. Itu tanda kekuasaan. Siapa pun yang memegang benda itu, sama kedudukannya dengan pejabat tinggi di alam sana. Mereka wajib hormat," jelas Eyang Sastro dari depan.
Setelah berjalan sekitar dua jam menembus hutan belantara yang sangat lebat, akhirnya mereka sampai di sebuah tebing batu yang sangat tinggi dan curam. Di tengah tebing itu, terdapat mulut gua yang tertutup oleh tanaman rambat dan akar pohon besar.
"Ini dia..." Eyang Sastro menyibakkan tanaman liar itu. "Gua Penggung."
Mereka masuk ke dalam. Suhu di dalam gua sejuk dan tenang. Dinding-dinding gua dihiasi oleh ornamen-ornamen kuno, tulisan-tulisan mantra, dan lukisan-lukisan peristiwa peperangan zaman dahulu. Di bagian dalam gua, terdapat ruangan luas yang diterangi oleh cahaya kristal alami yang memancarkan cahaya biru lembut.
"Wah... megah sekali, Eyang..." kagum Raga.
"Sudah ratusan tahun gua ini jadi tempat pertapaanku. Sekarang... jadikan ini rumah keduamu juga."
Malam itu, mereka mempersiapkan segala sesuatunya.
Di tengah ruangan, Eyang Sastro menata sebuah meja batu kuno. Ia menyalakan dupa wangi, menaburkan bunga, dan meletakkan Kitab Lontar Eyang Noto tepat di tengah.
"Raga, duduklah di hadapan kitab itu," perintah Eyang Sastro.
Raga duduk bersila dengan khidmat. Mbah Joyo duduk tidak jauh dari situ sambil memegang tasbih, mendoakan dari jauh.
"Dengar baik-baik, Nak," kata Eyang Sastro serius. "Kitab ini bukan buku biasa. Ini adalah Wahyu Ilmu yang dititipkan oleh para leluhur. Selama ini, halaman-halamannya yang paling rahasia tertutup oleh energi hitam agar tidak dibaca oleh sembarang orang."
"Terus bagaimana cara membukanya, Eyang?"
"Caranya... kau harus melakukan Ikrar Setia. Kau harus bersumpah bahwa ilmu yang kau dapat tidak akan kau gunakan untuk hal buruk, tidak untuk menyakiti orang tak bersalah, dan hanya untuk menjaga keseimbangan alam."
Raga mengangguk mantap. "Siap Eyang. Aku bersumpah."
"Baik. Sekarang, pegang ujung kitab itu dengan kedua tanganmu. Rasakan denyut nadi kitab itu. Ia hidup, Nak. Ia punya perasaan sendiri."
Raga meletakkan tangannya di atas sampul kitab yang terbuat dari kulit kayu ini. Benar saja, ia bisa merasakan getaran halus, seperti detak jantung.
Dug... dug... dug...
"Sekarang... ucapkan setelah aku..."
Eyang Sastro mulai membaca mantra dalam bahasa kuno yang sangat panjang dan berirama. Suaranya rendah namun menggema memenuhi gua. Raga mengulanginya dengan lantang dan tegas.
Saat mantra mencapai bagian akhir...
"Demi darah dan daging... demi nama besar Eyang Noto... BUKALAH SEGELNYA!!!"
TRINGGG!!!
Tiba-tiba!
Kitab itu bersinar terang! Cahayanya menyilaukan mata! Halaman-halaman kitab itu berbalik sendiri dengan cepat! Srett! Srett! Srett!
Dan saat berhenti...
Mereka bertiga terbelalak.
Kitab yang tadinya hanya setebal jari, kini bertambah tebal berkali-kali lipat! Halaman-halaman baru yang tadinya kosong atau tertutup tinta hitam, kini terbuka sempurna! Isinya penuh dengan tulisan aksara Jawa, gambar-gambar mantra, peta wilayah, hingga gambar cara membuat senjata sakti!
"Ya Allah... bertambah sendiri bukunya..." Mbah Joyo sampai mengucek mata.
"Ini baru permulaan, Nak..." Eyang Sastro tersenyum lebar. "Kitab ini akan terus bertambah seiring bertambahnya pengalaman dan ilmu yang kau dapatkan. Ia tumbuh bersamamu."
Eyang Sastro lalu menunjuk sebuah gambar di halaman pertama yang baru terbuka.
"Lihat ini. Ini gambar Simbol Matahari Terbit. Itu adalah lambang kekuatan utamamu. Kekuatan Cahaya Putih yang bisa menetralkan segala jenis ilmu hitam dan racun."
Lalu ia menunjuk gambar lain.
"Dan ini... ini peta Tujuh Gerbang yang tersebar di seluruh wilayah gunung. Ternyata benar dugaan Kanjeng Raden. Eyang Noto dulu memang menjaga pintu-pintu penghubung antar dunia. Dan sekarang... kuncinya ada di tanganmu."
Raga menatap isi kitab itu dengan mata berbinar. Ia merasa seperti menemukan harta karun terbesar di dunia. Bukan emas, tapi ilmu yang tak ternilai harganya.
"Besok pagi..." kata Eyang Sastro sambil menutup kitab itu sebentar. "Kita mulai pelajaran pertama. Aku akan ajarkan kau cara Membaca Pikiran Alam dan cara Memanggil Angin. Tapi malam ini... istirahatlah. Kau butuh tenaga penuh."
Raga mengangguk. Ia memeluk kitab itu erat-erat.
Malam itu di dalam Gua Penggung terasa sangat tenang dan damai. Namun, jauh di dalam hati mereka, sadar bahwa petualangan sesungguhnya—yang jauh lebih berbahaya dan menantang—baru saja menanti di depan mata.