NovelToon NovelToon
WARISAN PEMIKAT JANDA

WARISAN PEMIKAT JANDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: StarBlues

Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Juan tiba kembali di rumahnya saat matahari sudah mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang yang melintang di halaman. Langkahnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.

Bukan karena beban fisik dari peti mutiara yang ia panggul tadi, melainkan karena isi kepalanya yang terus berputar, menyusun strategi demi strategi tanpa henti.

Begitu pintu rumah kayu itu tertutup rapat, ia langsung menuju kamar. Dengan gerakan sigap, Juan berlutut di lantai tanah, membuka kolong ranjangnya yang berdebu, dan menyelipkan peti mutiara biru tua itu ke sudut yang paling gelap.

Ia memastikan posisinya benar-benar tersembunyi, tak akan ada yang bisa melihatnya hanya dengan sekadar melongok. Setelah memastikan hartanya aman, ia duduk di tepi kasur yang kempes, menatap lurus ke depan dengan pikiran yang berkecamuk.

“Besok atau lusa… aku harus mengajak Heri dan Tarjo ke kota,” gumamnya pelan pada kesunyian kamar.

Juan tahu ia tidak boleh gegabah. Peti mutiara itu adalah tiketnya menuju kasta yang lebih tinggi, dan ia harus menjualnya pada orang yang tepat dengan harga yang pantas. Namun, untuk sore ini, ia harus menekan ambisi itu dalam-dalam. Ada hal lain yang harus ia tuntaskan.

Hari ini, ia harus kembali ke kampus.

Pandangan Juan beralih pada jam dinding yang tergantung miring di ruang tengah. Detiknya berbunyi nyaring, dan matanya membelalak kecil saat melihat jarum jam.

“Wah… hampir telat!”

Seketika, rumah kecil yang sunyi itu riuh oleh suara langkah kaki Juan yang terburu-buru.

Ia membersihkan diri sekadarnya, mengguyur tubuh dengan air sumur yang segar, lalu mengganti pakaiannya dengan kemeja sederhana, satu dari sedikit pakaian layak yang ia miliki. Ia menyambar tas kuliahnya yang tergeletak di kursi kayu tua, memeriksa isinya sekilas, lalu bergegas keluar.

Tak ada pakaian bermerek yang melekat di tubuhnya. Tak ada jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan, pun tak ada sepatu mengilap yang mengeluarkan suara berkelas saat menapak. Namun, ada satu hal yang berbeda dari Juan hari ini.

Sesuatu yang jauh lebih mahal dari sekadar materi. Kepercayaan diri yang tak tergoyahkan.

Langkahnya terasa ringan saat menyusuri jalan setapak menuju jalan raya. Napasnya teratur, pikirannya tenang, dan jiwanya terasa jauh lebih lapang.

Ia tak lagi berjalan dengan kepala menunduk saat berpapasan dengan tetangga desa. Ia tak lagi merasa kecil hanya karena tampilannya yang bersahaja.

Bus kota akhirnya berhenti di depannya dengan suara rem yang mencit. Juan naik, lalu mengambil tempat duduk di dekat jendela.

Selama perjalanan, ia menatap ke luar, memperhatikan bagaimana pemandangan sawah yang hijau perlahan berganti menjadi deretan ruko, papan iklan raksasa, dan kemacetan kota yang bising.

Semua itu masih tampak sama di matanya, namun kini ia merasa bukan lagi sekadar penonton di kota ini.

Ia tersenyum tipis, hampir tak kentara. "Hidup memang lucu," batinnya sambil meraba liontin di balik kemejanya yang mulai menghangat.

Tak lama kemudian, bus berhenti di halte depan kampus. Juan turun, merapikan letak tas di pundaknya, dan melangkah masuk ke area kampus yang sudah dipadati mahasiswa.

Suara tawa, debat ringan soal tugas, dan langkah kaki ribuan orang saling bersahutan di koridor gedung fakultas.

Juan berjalan dengan tenang menuju gedung kuliahnya. Baru beberapa meter ia melangkah, sebuah panggilan akrab menghentikannya.

“Juan!”

Ia menoleh dan mendapati Andre dan Doni berdiri tak jauh dari sana, melambaikan tangan dengan wajah ceria yang khas. Juan menghampiri mereka, dan seketika sepasang tepukan keras mendarat di bahunya.

“Ke mana saja lu, Bro? Beberapa hari ini batang hidung lu nggak kelihatan!” Andre menyapa dengan cengiran lebar.

“Gue pikir lu sudah mutusin buat ngilang dari peradaban,” timpal Doni, ikut tertawa.

Juan membalas dengan senyum santai, jenis senyum yang tulus. “Ada sedikit urusan mendesak di desa. Kalian sendiri gimana?”

“Biasa lah,” jawab Andre sambil mengedikkan bahu. “Tugas makin numpuk, dosen makin galak, dan hidup tetap saja terasa kejam buat mahasiswa bokek kayak kita.”

Mereka bertiga tertawa kecil. Bagi Juan, obrolan remeh ini terasa sangat berharga. Ini adalah pengingat bahwa di tengah ambisinya yang besar, ia masih memiliki sahabat yang memandangnya sebagai manusia, bukan karena apa yang ia punya.

Namun, suasana hangat itu mendadak menguap saat Juan menangkap sebuah sosok dari sudut matanya.

Ferdiyan. Lelaki itu berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan pakaian rapi yang tampak mahal, menunjukkan dominasinya. Dan di sampingnya, ada seorang perempuan yang tangannya digenggam erat oleh Ferdiyan.

Perempuan itu adalah Laras, mantan kekasih Juan yang pergi demi kenyamanan duniawi.

Mata mereka beradu di tengah kerumunan.

Senyum kemenangan merekah di wajah Ferdiyan. Alih-alih menghindar atau memutar arah, Ferdiyan justru menarik Laras agar berjalan lebih dekat ke arah Juan.

Andre dan Doni seketika menyadari perubahan atmosfer itu, mereka terdiam, memasang posisi waspada.

Ferdiyan berhenti tepat di depan Juan, memasang wajah seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak penting.

“Eh… ini siapa, ya?” ejek Ferdiyan dengan nada yang dibuat-buat heran. “Oh, iya… si mantan yang itu, kan?”

Laras tidak berkata apa-apa, ia hanya menyunggingkan senyum sinis yang tampak merendahkan.

Juan tetap berdiri tegak. Tak ada kilat amarah di matanya, tak ada otot wajah yang menegang. Ketenangan Juan yang tak lazim itu justru membuat Ferdiyan sedikit terusik, namun lelaki kaya itu belum mau berhenti.

Seolah ingin memberi hantaman terakhir, Ferdiyan merangkul pinggang Laras, menariknya mendekat, lalu dengan sengaja mencium bibir Laras cukup lama tepat di depan wajah Juan.

Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat mulai melambatkan langkah, berbisik-bisik, dan menonton drama picisan yang tersaji di depan mata mereka.

Ferdiyan melepaskan ciumannya, menatap Juan dengan tatapan puas yang menjijikkan. “Gimana rasanya, Juan? Masih sakit hati?”

Juan menatap kedua orang di depannya itu dengan tatapan datar, lalu sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.

Bukan senyum getir, bukan pula senyum yang dipaksakan. Itu adalah senyum seseorang yang sudah merasa "menang".

“Ambil saja sisaku itu,” ucap Juan dengan suara yang tenang namun berwibawa. “Laki-laki sejati tidak akan sudi mengambil barang sisa, apalagi barang yang semua orang bisa pakai.”

Keheningan seketika menyergap area itu.

Andre dan Doni saling lirik dengan mata membelalak, mencoba menahan tawa yang nyaris meledak. Mahasiswa di sekitar mereka juga terdiam, terpaku oleh keberanian Juan yang tak terduga.

Wajah Laras seketika berubah merah padam. Matanya melotot tajam. “Apa maksud kamu, Juan?!” bentaknya dengan suara melengking.

Juan tidak menyahut. Ia hanya menatap Laras dengan pandangan kosong, seolah perempuan itu kini tak lebih dari sekadar kerikil di pinggir jalan.

Laras yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum semakin menjadi-jadi. Ia melangkah maju, tangannya menunjuk-nunjuk wajah Juan dengan penuh kebencian.

“Jangan sok hebat kamu ya! Ngaca dulu!” teriak Laras, menarik perhatian lebih banyak orang. “Hidupmu itu nggak ada bedanya, tetap jalan di tempat! Masih miskin, masih bau bus, masih pakai baju rombengan yang nggak layak pakai!”

Ferdiyan bersedekap, menikmati setiap caci maki yang dilontarkan kekasih barunya itu.

“Kamu pikir kamu bisa bahagia tanpa uang?!” lanjut Laras dengan napas memburu. “Aku bersyukur sekarang sama Ferdiyan yang bisa kasih aku segalanya, bukan sama kamu yang hidupnya cuma bikin sengsara!”

Beberapa mahasiswa mulai berkumpul, membentuk lingkaran kecil, menonton pertengkaran itu. Juan masih bergeming, tetap tenang bak air di lubuk yang dalam. Namun, kesabaran kedua sahabatnya sudah habis.

Andre melangkah maju, berdiri bahu-membahu dengan Juan. Tatapannya menatap Laras dengan dingin dan tajam. “Laras,” suara Andre rendah namun menusuk. “Lu jangan merasa paling suci di sini.”

Doni tak mau ketinggalan. Ia menyilangkan tangan di dada, menatap Laras dengan jijik. “Iya. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, wanita di aplikasi hijau jauh lebih terhormat dari lu.”

Laras tersentak, wajahnya yang tadinya merah karena marah kini memucat karena terkejut. “Apa maksud kalian?!”

Andre melanjutkan tanpa memberi napas, “Mereka di aplikasi itu jelas. Jualan tubuh, ada harganya. Jujur dan terang-terangan. Nggak kayak lu, yang bilangnya atas dasar cinta, tapi ujung-ujungnya cuma pindah ke tempat yang lebih kaya. Itu mah bukan cinta, itu namanya transaksi terselubung.”

Suasana di lorong kampus itu mendadak panas. Bisikan-bisikan mahasiswa di sekitar terdengar makin riuh. Ada yang tertawa kecil menertawakan Laras, ada pula yang kaget mendengar keberanian Andre dan Doni membela Juan.

Laras gemetar hebat, badannya menggigil antara rasa malu yang luar biasa dan amarah yang meluap. “Kurang ajar kalian semua!” teriaknya histeris.

Ferdiyan yang merasa otoritasnya ditantang, maju selangkah untuk melindungi Laras. “Heh! Jaga mulut kalian, ya! Jangan macam-macam!”

Juan akhirnya mengangkat tangan, memberi isyarat agar kedua sahabatnya berhenti. Suaranya tetap stabil, tanpa emosi berlebih.

“Sudah,” katanya singkat namun penuh penekanan. “Nggak ada gunanya meladeni mereka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!