Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.
Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.
Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 6: "KAMPUNG KEMARIN" part 1
Setelah malam yang penuh dengan keajaiban dan harapan di pemandian air panas, mereka semua memutuskan untuk berangkat kembali ke rumah Jay pada pagi harinya. Namun sebelum berangkat, Nenek Siti menyerahkan buku tua itu kembali dengan tangan yang gemetar tapi penuh dengan kepercayaan. Di dalam buku, terdapat lembaran baru yang muncul dengan sendirinya—berisi gambar tentang sebuah kampung tua dengan rumah-rumah kayu yang rimbun, dan tulisan kecil yang berbunyi: "KAMPUNG KEMARIN - TITIK DIAM PERTAMA".
Setelah beberapa jam perjalanan pulang dan beristirahat sebentar di rumah, Jay merasa ada kekuatan yang menarik dirinya untuk membuka buku tua lagi. Di halaman terakhir yang baru saja muncul, terdapat sebuah foto lama yang sudah menguning—foto seorang pria muda dengan wajah yang kuat namun ramah, sedang berdiri di depan pagar bambu dengan pola anyaman yang sangat mirip dengan pagar rumah Jay. Jay sedang melihat foto lama kakeknya yang ada di dalam buku tua—wajah kakeknya yang dia hanya kenal dari cerita neneknya dulu terlihat begitu jelas, dengan mata yang penuh dengan tekad dan tangan yang sedang memegang alat anyam bambu.
"Kakekmu pernah bilang bahwa setiap pola bambu menyimpan cerita tentang masa lalu dan masa depan," ucap Rara yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu membawa tas yang sudah dipersiapkan. Rara bilang mereka harus pergi ke Kampung Kemarin—tempat kelahiran kakek Jay yang sekarang sudah menjadi kawasan kumuh dan ditinggalkan. Suaranya terdengar serius namun penuh dengan rasa kagum, seolah sedang berbicara tentang sesuatu yang sakral namun juga penuh dengan misteri yang mengerikan.
MOBIL - PERJALANAN - SIANG
Mobil Rara kembali melaju melalui jalan-jalan yang semakin sempit dan penuh dengan genangan air. Udara terasa semakin berat dan bercampur dengan aroma lumpur dan sesuatu yang membusuk, membuat suasana menjadi semakin misterius dan penuh dengan kesan yang tidak menyenangkan. Pohon-pohon di sepanjang jalan tampak layu dan membusuk, dengan ranting-ranting yang seperti tangan kurus yang ingin meraih mobil dari luar. Jay duduk di kursi belakang, masih memegang foto lama kakeknya dengan erat, sementara Malakos berada di sebelahnya dengan bentuk kabut hitam pekat yang seolah meresapi setiap sudut mobil.
RARA: "Kampung ini adalah Titik Diam pertama yang pernah ada. Kakekmu adalah orang yang membantu memperkuat aturan dunia dan membuat pola pagar bambu yang kita kenal sekarang."
Dia menjelaskan bahwa berdasarkan catatan di buku tua, Kampung Kemarin dulunya adalah tempat yang subur dan damai, di mana manusia dan makhluk gaib hidup berdampingan dengan baik. Kakek Jay yang bernama Surya adalah seorang tukang anyam bambu yang memiliki kemampuan khusus untuk merasakan energi dari berbagai dimensi—dia yang pertama kali menemukan cara untuk membuat pagar bambu yang bisa memperkuat batas antar dimensi, sehingga bisa melindungi semua makhluk dari bahaya yang tidak terlihat.
"Namun sesuatu terjadi beberapa dekade yang lalu," lanjut Rara dengan suara yang semakin pelan. "Kampung ini tiba-tiba ditinggalkan oleh semua penghuninya tanpa penjelasan yang jelas. Beberapa orang yang lewat menyatakan melihat bayangan-bayangan yang berkeliaran di sekitar sana, dan mendengar suara tangisan yang terus menerus dari dalam rumah-rumah kosong."
Jay menghela napas panjang dan menggoyangkan badan sedikit agar merasa lebih nyaman, masih saja fokus pada pemandangan luar jendela yang semakin menjauh. Jay menghela napas dan melihat ke luar jendela dengan tatapan yang campuran antara penasaran dan sikap acuh tak acuh—tidak ada sedikit pun rasa takut yang muncul di wajahnya, hanya ada rasa ingin tahu yang disertai dengan kebiasaan dia yang selalu mencari toko camilan di tengah segala situasi.
JAY: "Kampung kemarin ya? Namanya aja unik. Semoga ada warung makan yang masih buka ya..." Suaranya santainya yang khas. Dia masih merasa tidak percaya bahwa kampung kelahiran kakeknya kini menjadi tempat yang ditinggalkan dan penuh dengan misteri yang mengerikan.
Setelah sekitar satu jam lagi berkendara melalui jalan yang semakin rusak, mereka akhirnya melihat papan tanda kayu yang sudah lapuk dengan tulisan: "SELAMAT DATANG DI KAMPUNG KEMARIN". Huruf-hurufnya sudah sebagian besar hilang dan tertutup lumut hitam, membuatnya terlihat seperti pesan yang mengancam ketimbang penyambut. Di balik papan tanda, terdapat jalan masuk yang semakin menyempit dan dikelilingi oleh pagar bambu yang sudah roboh dan berantakan—pola anyamnya masih bisa dilihat jelas, sama seperti pola pagar rumah Jay namun terlihat seperti sudah hancur dan menyerah pada kekuatan kegelapan.
Saat mobil masuk ke dalam kampung, suasana menjadi semakin misterius dan penuh dengan kesan masa lalu yang terlupakan. Rumah-rumah kayu yang tadinya indah kini sudah roboh sebagian, dengan atap yang runtuh dan jendela yang berdebu seperti tatapan mata yang mengintai. Daun-daun kering menutupi sebagian besar jalan, dan setiap langkah mobil membuat suara gesekan yang menusuk telinga. Udara terasa sangat dingin meskipun sedang siang hari, dan ada suara bisikan yang tidak jelas yang terdengar menyelinap dari balik rumah-rumah kosong.
"ꀘꏂ꒒꒐ꁝꋬ꓄ꋬꋊꋊꌦꋬ ꃳꏂꋊꋬꋪ-ꃳꏂꋊꋬꋪ ꒯꒐꓄꒐ꋊꍌꍌꋬ꒒ꀘꋬꋊ ꌦꋬ," bisik Kala yang duduk di kursi depan. Dia sudah siap dengan tongkat perlindungannya, yang mulai mengeluarkan cahaya merah muda lembut sebagai tanda bahaya yang ada di sekitar. "ꋬ꒯ꋬ ꏂꋊꏂꋪꍌ꒐ ꌦꋬꋊꍌ ꇙꋬꋊꍌꋬ꓄ ꀘ꒤ꋬ꓄ ꒯꒐ ꇙ꒐ꋊ꒐—ꏂꋊꏂꋪꍌ꒐ ꌦꋬꋊꍌ ꉣꏂꋊ꒤ꁝ ꒯ꏂꋊꍌꋬꋊ ꀘꏂꇙꏂ꒯꒐ꁝꋬꋊ ꒯ꋬꋊ ꋪꋬꇙꋬ ꂵꋬꋪꋬꁝ ꌦꋬꋊꍌ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꓄ꏂꋪꀘ꒤ꃳ꒤ꋪ ꇙꏂ꒒ꋬꂵꋬ ꃳꏂꋪ꓄ꋬꁝ꒤ꋊ-꓄ꋬꁝ꒤ꋊ."
Jay turun dari mobil dan mulai berjalan ke arah rumah yang paling besar di tengah kampung—rumah yang bentuknya sangat mirip dengan rumah Jay, hanya saja sudah jauh lebih rusak dan penuh dengan lumut hitam. Di depan rumah tersebut, terdapat pagar bambu yang masih berdiri kokoh meskipun sudah sangat tua—pola anyamnya adalah pola yang paling kompleks yang pernah dilihat Jay, dengan bentuk-bentuk yang menyerupai makhluk gaib yang pernah dia temui.
Saat Jay menyentuh pagar bambu tersebut, energi yang kuat mengalir melalui tubuhnya—energi yang penuh dengan kenangan masa lalu yang jelas dan menyakitkan. Dia melihat bayangan-bayangan yang muncul dari balik pagar: bayangan kakeknya yang muda sedang menyanyi sambil menganyam bambu, bayangan makhluk gaib yang sedang membantu membuat pola, bahkan bayangan keluarga besar yang sedang makan bersama di halaman rumah. Namun semua bayangan itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang mengerikan—bayangan makhluk gaib yang sedang menangis, bayangan manusia yang sedang berlari dengan ketakutan, dan bayangan kakeknya yang sedang menangis di depan pagar bambu yang baru saja selesai dia buat.
Buku tua yang ada di tas Jay mulai bergetar dan terbuka sendiri, menampilkan tulisan baru yang muncul dengan warna merah pekat: "KᗴᗰᗩᖇIᑎ ᗩᗪᗩᒪᗩᕼ ᗰᗩՏᗩ Yᗩᑎᘜ TIᗪᗩKᗷIՏᗩ ᗪIᒪᑌᑭᗩKᗩᑎ, ᗰᗴՏKIᑭᑌᑎ Տᗴᗰᑌᗩ Oᖇᗩᑎᘜ ᗷᗴᖇᑌՏᕼᗩ ᑌᑎTᑌK ᗰᗴᒪᑌᑭᗩKᗩᑎᑎYᗩ. KᗩᗰI ᗰᗴᗰᗷᑌᗩT ᗩTᑌᖇᗩᑎ ᑌᑎTᑌK ᗰᗴᒪIᑎᗪᑌᑎᘜI Տᗴᗰᑌᗩ Oᖇᗩᑎᘜ, TᗩᑭI KITᗩ ՏᗴᑎᗪIᖇI Yᗩᑎᘜ Tᗴᖇᒪᗩᒪᑌ ՏᗩKIT ᑌᑎTᑌK ᗰᗴᑎᗴᖇIᗰᗩᑎYᗩ."
Saat tulisan itu muncul, rumah besar di depan mereka mulai mengeluarkan suara deru yang dalam, seperti jantung yang mulai berdenyut kembali setelah lama tidak bergerak. Pintu rumah yang sudah terkunci mulai terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan aroma kayu yang sudah tua dan sesuatu yang sangat mirip dengan aroma kue lapis yang dibuat nenek Jay. Jay melihat ke arah Rara dan Kala dengan tatapan yang sudah semakin serius, lalu mengambil beberapa biji snack dari tasnya sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang ada di dalam,moga-moga gak di scam sama baunya doang" ucap Jay dengan suara yang tetap bercanda tapi tenang meskipun wajahnya sudah menunjukkan rasa kagum. "Semoga saja di dalamnya ada sesuatu yang bisa menjelaskan semua ini, dan mungkin juga ada makanan yang masih bisa dimakan."
Mereka semua masuk ke dalam rumah yang gelap dan penuh dengan rasa misteri. Di dalam, terdapat furnitur kayu tua yang masih berdiri kokoh, dengan foto-foto lama yang tersebar di atas meja dan lantai. Di dinding utama, terdapat lukisan besar yang menggambarkan Kampung Kemarin yang masih subur dan damai, dengan manusia dan makhluk gaib yang sedang bekerja sama membuat pagar bambu. Di bawah lukisan tersebut, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang terkunci dengan kunci bambu yang unik.
Saat Jay menyentuh kotak tersebut, kuncinya terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan cahaya emas yang lembut. Di dalam kotak, terdapat surat tangan yang sudah menguning dan sebuah pola anyam bambu kecil yang sama dengan pola pada pagar rumah Jay. Jay membaca surat tersebut dengan suara yang pelan namun jelas:
"𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑐𝑢𝑐𝑢𝑘𝑢 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔—𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑎𝑡𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑜𝑙𝑎 𝑏𝑎𝑚𝑏𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑙𝑖𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑚𝑎𝑘ℎ𝑙𝑢𝑘, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑎ℎ𝑤𝑎 𝑎𝑡𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑎𝑡 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑖𝑠𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑒𝑚𝑎𝑛-𝑡𝑒𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑖𝑚𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑙𝑎𝑖𝑛. 𝐾𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑖 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑡𝑎𝑘𝑢𝑡, 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑖𝑡𝑎 𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛. 𝐼𝑛𝑔𝑎𝑡𝑙𝑎ℎ, 𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑎𝑡𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘𝑛𝑦𝑎, 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑝𝑎𝑔𝑎𝑟 𝑏𝑎𝑚𝑏𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛."
Tanda tangan di akhir surat adalah nama Budi Santoso—nama kakek Jay yang sudah dia kenal dari foto lama. Saat Jay selesai membaca, seluruh rumah mulai mengeluarkan cahaya hangat, dan bayangan-bayangan dari masa lalu mulai muncul dengan jelas—kakeknya yang sedang mengajar anak-anak cara menganyam bambu, makhluk gaib yang sedang bermain dengan anak-anak manusia, dan semua penghuni kampung yang sedang berkumpul untuk merayakan hari raya bersama. Suara nyanyian yang indah mulai terdengar dari setiap sudut rumah, menyatu dengan aroma kue lapis dan kayu yang harum.
"Kakekmu benar-benar orang yang luar biasa," ucap Rara dengan suara yang penuh dengan rasa hormat. "Dia tidak hanya membuat aturan dan pola bambu, tapi juga menyimpan kenangan indah yang bisa membuat kita semua mengerti tentang pentingnya koneksi antara semua makhluk."
Jay menyimpan surat dan pola bambu kecil ke dalam tasnya, lalu melihat ke arah luar jendela di mana matahari mulai merunduk. Udara di sekitar kampung mulai terasa lebih hangat, dan ada kilatan cahaya kecil yang muncul di balik rumah-rumah kosong—tanda bahwa makhluk gaib yang pernah tinggal di sini masih ada dan sedang menyaksikan kedatangan cucu kakek mereka.
"Baiklah, sekarang aku sudah mengerti kenapa pagar rumahku punya pola seperti itu," ucap Jay dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. "Kakekku ingin kita selalu ingat bahwa masa lalu tidak boleh terlupakan, dan bahwa koneksi antara semua makhluk itu sangat penting." Dia kemudian mengambil bungkus snack dari tasnya dan membukanya. "Sayangnya tidak ada warung makan yang buka di sini, tapi untungnya aku sudah bawa snack sendiri."
Mereka semua mulai tertawa dengan suara yang menembus kesunyian kampung yang sudah lama terasing. Di langit, matahari mulai terbenam dengan warna jingga yang hangat, menyinari setiap sudut Kampung Kemarin dengan cahaya yang membuatnya terlihat seperti kembali ke masa kejayaannya. Uap hangat mulai muncul dari balik rumah-rumah, dan ada suara tawa anak-anak yang terdengar lembut di udara—seolah semua kenangan indah dari masa lalu kini mulai hidup kembali untuk menyambut mereka yang datang untuk mengingatnya.