Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 20
Bertemu Pak Hanry dan Kanker
**
"Oh guys, gue mau tahu nih hubungan loe sama pacar loe?" tanya Cassie ketika rombongan mereka berhasil mendapat meja kantin yang kosong. Mereka langsung menyerbu dan duduk di bangku - bangku yang sudah ditetapkan. Kehebohan mereka membuat para cewek yang ada di kantin menatap ke arah mereka dengan pandangan nyalang.
"Apa sih Cas," kesal Some ketika Cassie dengan gampangnya penasaran pada hubungan orang sedangkan Dina sendiri tak pernah membahas itu sama sekali. Kecuali pas sesi curhat tempo lalu, dan Some sendiri akan risih karena Cassie nampak berdempet mendekati Dina yang ada di sebelahnya.
"Ayolah Dina kasih tahu gue!" ucap Cassie penasaran. Mereka memutuskan untuk berpikir sejenak, setidaknya mau kemana dulu mereka.
"Gue laper Cas," ucap Some sambil memegang perutnya setidaknya mengajak Cassie untuk diam sebentar. Karena perut dan hati kadang nggak sinkron sama keadaan.
"Loe aja sendiri Some yang pesan, nanti giliran gue sama Dina," jawab Cassie ketus membuat Some menggembungkan pipinya. Tapi kemudian ia bertekad melakukan itu.
"Ya sudah pesan duluan ya, bye," ucap Some sambil berdiri lagi untuk berjalan ke arah tukang dagang - tukang dagang itu. Tapi sebelum beneran melangkah ia juga merasa kesepian pas ngantri sendirian.
"Emangnya dapat info dari mana nih nanyain hubungan seseorang," ujar Setyo duduk di sebelah Cassie dengan pandangan bertanya. Tepat sekali muka mereka berhadapan membuat Some dan Dina sendiri awrkd.
Cassie menggaruk tengkuknya dan nampak salting. "Gue mau tanya aja, kan cowoknya juga sekolah di sini. Tapi dia cuek banget kan sama kita juga nggak kenal," jawab Cassie kikuk sambil mengingat.
"Loe lihat cowok gue?" tanya Dina sambil celingukan mencari seseorang diantara banyaknya orang di kantin membuat segera Cassie menarik tangannya lagi.
"Enggak bukan Din," jawab Cassie nampak aneh. Dina segera mencari dan dia dapat menemukan cowoknya riu sedang ngantri diantara cowok lain. Benar sikapnya cuek membuat Dina sendiri bete karena jarang di perhatikan. Sontak saja membuat wajahnya itu berubah muram.
"Dina sayang jangan gitu, baru aja kemaren senang," ucap Some sambil menghembuskan nafas kesal. "Menurut kalian bagus nggak sih kalau gue juga kenalin pacar baru ke kalian?" kata Some memecah keheningan, seenggaknya membuat atensi Cassie dan Setyo kepadanya.
"Pacar baru, emang pacar loe siapa lagi selain Daniel loe itu?" tanya Setyo disertai kakehan geli. Merasa nggak salah dengar kan selama ini dia selalu setia jadi jomblo, sekali berani hanya sampai di titik sama.
"Untuk saat ini Linier, tapi akan ada yang mungkin akan gue kenalin," ragu - ragu Some jujur. Ia tahu mungkin bebannya sendiri terobati dengan curhat ini. Some tahu nggak banyak waktu ia habiskan untuk tunangannya nanti itu, sekalipun setengah mati ia nggak mau. Tapi.. rasa bersalah itu mengalir di pelupuk hatinya.
Masa depan yang papa bangun untuknya, seolah menantinya untuk bersamanya. Some tak kuasa menahan senyum gusarnya.
"Some loe melamun lagi," ujar Cassie sambil memegang tangan Some yang diberikan gelang mekanik itu. Some menggeleng kalut, tapi sebisa mungkin menyunggingkan senyum tenang.
"Some kalau emang loe mau hubungan serius lagi, boleh aja," ujar Setyo dengan penuh perhatian. Some terkekeh kecil dan kembali duduk di dekat Setyo.
"Tapi sebelum gue jadi, loe juga harus jadian janji Set?" ujar Some membuat mata Setyo membulat. Memang dapat dipastikan seseorang mendapatkan cintanya lebih dulu, Setyo nggak percaya.
"Okey, deal!" tegas Setyo menjabat tangan Some meski ia sendiri yang menarik tangan itu. Lantas keduanya ditertawakan oleh Dina dan Cassie. Bagi mereka hari ini tepatnya di sekolah adalah hati mendebarkan. Semoga hati berikutnya menjadi jawaban atas kejadian di hari ini.
**
Kaki Some melangkah lagi menaiki tangga depan rumahnya. Mungkin bisa di bilang pulang telat pada malam hari, pulang sekolah keluyuran sendirian di mall, sedangkan pak Supratman menunggu di tempat parkir. Ia menyimpan belanjaannya di belakang mobil, hanya kebutuhan hariannya, seperti pembalut dan buku juga novel dari Gramedia. Tapi banyak sekali yang ia beli, ada kebutuhan mandi sampai cemilan di malam hari.
Dengan tergesa Some memasuki rumahnya, ia tahu selalu ada kejutan untuknya akhir - akhir ini. Seperti saat melihat mama dan papa tepat di ruang tamu lagi. Mereka sedang asiknya mengobrol mungkin tentang kemarin malam. Some ingin kembali ke luar atau ia menyesali mengapa baru pulang di atas pukul sembilan.
"Some!" hardik mama setelah menyadari kehadirannya. Mama tahu terkadang anak itu melakukan semua yang ia lakukan hanya mengatasi rasa sepi ketika sampai tak ada mama yang memasak. Tapi entah mengapa ia selalu merasa kecewa akan tingkah itu. Bahkan ia sendiri tidak tahu sekarang Ranu ada di mana.
Bukannya mereka masih kompak, atau setidaknya taat peraturan selaku mereka tak ada di rumah.
Papa mengangkat wajahnya nampak marah tapi ia segera menutupi ekspresi itu. "Sayang kami sengaja pulang lebih awal, apa kamu keberatan?" tanya papa menatap Some penuh perhatian.
"Maaf ma dan pa, Some nggak taat aturan lagi biasanya aku rutin ke mall buat belanja kebutuhan, sekalian main sebentar," ujar Some menunduk merasa bersalah. Tapi kejujurannya membuat mama dan papa yang sempat mau marah seketika mereda. Setidaknya tak ada Some yang nakal sesungguhnya.
"Hmm berapa sering kamu melakukannya?" ingin tahu papa.
"Setiap maaf aku melakukannya kalau sedang bete," jawab Some sambil menutup mata rapat takut amarah itu menghampirinya. Tapi yang didengarnya hanya kekeh hangat, yang membuat Some menatap mama dan papanya.
"Sayang kami tahu kamu sudah SMA, tapi apa kamu sudah siap jika papa dan mama meminta untuk ditemani menemaninya? Bukannya kamu akan punya aturan tersendiri," ucap mama sambil mengelus rambut Some yang tergerai. Rambut mulus itu selalu membuat Ghina tahu kalau gadis cantiknya tetap sama lucunya.
"Oh tunangan itu nanti saja setelah aku rasa pilihan papa itu cocok untuk ku," jawab Some sambil memutar matanya jengah. Untuk menjaga kesopanan Some memutuskan untuk melangkahkan kaki secara perlahan.
"Tunggu Some, ada yang mau mama tanyakan," ujar papa terdengar sebuah perintah. Some dengan terpaksa menghentikan langkahnya, padahal ia juga berniat kabri dari reruntuhan kata tunangan dan perjodohan itu. Jelas memilih dan memastikan suatu pacar sesulit itu, apalagi pacar untuk menikah. Daniel juga pasti enggan menerimanya.
"Apa?" tahu - ragu Some memutar badannya menghadap ke arah mama dan papa yang siaga menatapnya seolah tawanan. Dan Some juga tidak mengerti apa yang sebenarnya mau mereka sampaikan.
Papa melangkahkan kakinya selangkah mendekati jarak Some, menatap anak kesayangannya yang di bawah kantung matanya hitam. "Ada yang kamu sembunyikan Some, apa kamu sdang resah?" tanya papa mencari insting sendiri dari dia dan anaknya. Some meneguk ludahnya. Di belakang mama nampak mau berbicara tapi ditahannya.
"Aku ... tidak ada apa - apa pa, memangnya aku kelihatan takut sekali sampai papa bertanya begitu," jawab Some sambil berusaha menahan dirinya agar tak menangis.
"Ketakutan kamu itu tidak seberapa dengan kesehatan kamu sayang," jawab papa. "Papa juga tidak tega memarahi kamu karena mata kamu sembab, katakan apa yang telah terjadi?" kekhawatirannya terdengar naluri seorang ayah dan Some merasakannya. Hanya saja sebagai anak Some ingin papanya selalu merasa kagum padanya.
"Mataku aku mungkin kebanyakan belajar pak," jawab Some asal.
"Some bagaimana dengan kesehatan kamu? Apa dokter Hanry pernah bilang?" tanya mama di belakang papa. Some menghembuskan nafas perlahan, ia menetralkan keadaaan seperti yang ia mampu.
"Aku terkahir di periksa ketika dokter Hanry bilang semuanya nampak sehat ma," jawab Some disertai senyum heli lantas membuat mama dan papa menghembuskan nafas dengan tenang.
"Apakah map itu merupakan hasilnya, sekarang berikan pada kami," mama nampak memperlihatkan telapak tangannya meminta map itu, iya map yang isinya. Hati Some menepis seketika.
"Bukan ma!" tolak Some sambil berbalik dan berjalan kencang ke kamarnya meninggalkan keheningan yang membuat kebingungan tersirat di mata papa dan mamanya. Lalu dengan sabar papa memeluk mama, seolah tidak akan ada yang terjadi.
**