NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Puisi

Ia menari di antara mereka. Setiap tebasan pedangnya diikuti dengan ucapan "Maaf" atau "Permisi" yang datar.

​Crat!

"Maaf, lengan Anda menghalangi jalan saya."

​Brak!

"Aduh, saya tidak sengaja mematahkan leher Anda. Mohon dimaafkan, ya?"

​Dalam waktu kurang dari satu batang dupa terbakar, dua puluh mayat bandit terkapar bersimbah darah di jalan desa yang sunyi.

Lu Ming berdiri di tengah genangan merah itu, napasnya tetap teratur, tidak ada setetes pun keringat di dahinya.

Dengan telaten, ia mulai memindahkan jenazah-jenazah itu satu per satu ke sebuah lubang besar di luar desa yang ternyata telah ia siapkan sore harinya.

​Sejak malam pembantaian itu, Desa Bambu Hitam berubah menjadi zona aman yang melegenda di wilayah perbatasan.

Pedagang dari luar mulai berani datang karena tahu daerah itu bebas dari gangguan bandit.

Kemakmuran mulai tampak; anak-anak mulai bisa tertawa di jalanan, dan lumbung desa selalu penuh.

​Warga desa mencoba memberi Lu Ming koin emas dan makanan mewah sebagai rasa syukur, namun ia menolak semuanya dengan senyum sopan. Ia hanya meminta kertas, tinta berkualitas, dan ketenangan.

​Setiap pagi, Lu Ming akan duduk di tepi hutan bambu hitam, menatap kabut yang menyelimuti gunung-gunung tinggi di utara, lalu menggoreskan kuasnya.

Ia mulai menulis puisi, bukan tentang kepahlawanan atau kehebatan kultivasi, melainkan tentang kerinduan yang membatu dan kepahitan hidup yang ia rasakan.

​Salah satu puisinya yang paling sering ia gumamkan berbunyi:

​Lampion merah menyala di kota asing,

Debu jalanan menjadi selimut tidurku.

Ibu berjanji akan menjemput saat angin berdesing,

Namun hanya sunyi yang mengetuk pintuku.

​Pedangku tajam, hatiku tumpul,

Darah kusembah demi nyawa yang kumpul.

Maafkan aku, wahai jiwa yang terkubur,

Aku membunuhmu agar rinduku tidak luhur.

​Guntur, yang kini menjadi pengikut paling setia sekaligus asisten pribadi Lu Ming meskipun ia masih sering merasa ngeri, membawakannya teh hangat suatu senja. "Tuan Muda Lu Ming, puisi Anda... sangat sedih. Mengapa Anda tidak menulis tentang kemenangan besar Anda melawan para bandit itu?"

​Lu Ming tersenyum tipis, matanya menatap jauh ke arah cakrawala, ke arah yang ia yakini sebagai tempat tinggal para sekte besar yang sombong. "Kemenangan itu hanya sementara, Guntur. Darah akan mengering dan debu akan menutupinya. Namun rasa sakit karena ditinggalkan... itu adalah tinta yang tidak akan pernah luntur dari jiwa seseorang."

​Masyarakat kini melihat Lu Ming sebagai sosok "Sarjana Berdarah". Seorang pemuda yang sangat sopan, pandai bersastra, dan lembut dalam tutur kata, namun memiliki kemampuan untuk mengubah ladang hijau menjadi kuburan dalam sekejap jika kedamaian mereka diganggu.

​Di desa yang kini makmur itu, Lu Ming terus berkultivasi tanpa henti. Fisiknya semakin kuat, indranya semakin tajam hingga mampu mendengar kepakan sayap lalat di kejauhan.

Ia tahu bahwa perjalanannya masih panjang. Desa ini hanyalah tempat persinggahan untuk menyembuhkan luka hatinya sebelum ia menghadapi dunia yang lebih luas, tempat di mana mungkin saja ia akan bertemu kembali dengan Liu Shen, atau menemukan jejak ibunya di antara tumpukan tulang para kultivator.

​Setiap malam, sebelum tidur, ia akan membaca kembali puisi-puisinya, menangis dalam diam di bawah atap pondoknya, lalu tertidur sambil menggenggam kantong koin perunggu yang kini sudah mulai berkarat sebuah janji bisu dari seorang anak yang tak pernah berhenti menunggu kepulangan ibunya.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!