Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen Dimulai
Fajar di Sekte Pedang Langit bukanlah fajar biasa.
Ketika sinar matahari pertama menyentuh puncak gunung, seluruh kompleks sekte sudah hidup. Lonceng-lonceng perunggu berdentang dari menara utama, suaranya menggema melintasi lembah dan ngarai, membangunkan para murid dan tamu. Di arena utama—sebuah dataran batu raksasa berdiameter lima ratus meter yang dikelilingi oleh tribun bertingkat—formasi-formasi pelindung mulai diaktifkan. Cahaya biru dari Formasi Pelindung Fana tingkat Puncak berkelap-kelip di sekeliling arena, siap menahan dampak pertarungan tingkat tinggi.
Ribuan orang sudah berkumpul. Para murid Sekte Pedang Langit menempati tribun utama, jubah biru berseragam mereka menciptakan lautan warna yang seragam. Para tamu dari sekte-sekte kecil dan menengah mengisi tribun tamu di sisi timur. Pedagang, kultivator independen, dan pemburu harta karun memadati tribun umum di sisi barat. Suara percakapan, tawa, dan teriakan pedagang makanan memenuhi udara.
Di tengah arena, sebuah panggung batu menjulang—tempat para peserta akan bertarung. Di atasnya, melayang sebuah tribun khusus untuk para tetua dan tamu kehormatan, dihiasi spanduk-spanduk sutra dan formasi cahaya yang menampilkan lambang Sekte Pedang Langit: pedang dan awan bersilangan.
Di paviliun tamu, Xiao Chen berdiri di balkon, menatap pemandangan itu. Angin pagi mengibaskan rambut putihnya, dan mata ungu keemasannya memantulkan cahaya formasi yang berkelap-kelip. Di belakangnya, Wei Ling, Feng Mo, dan Zhang Yuan bersiap-siap dengan gelisah.
"Aku belum pernah melihat orang sebanyak ini," bisik Zhang Yuan, tangannya gemetar saat mengikat sabuk pedangnya.
Feng Mo, yang biasanya tenang, juga terlihat lebih tegang dari biasanya. "Itu karena kau belum pernah ke sekte menengah sebelumnya. Aku juga tidak."
Wei Ling menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Pedang Bulan Sabit—Artefak Fana tingkat Tinggi buatan Xiao Chen—tergenggam erat di tangannya. "Aku akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja. Aku akan—"
"Kau akan luar biasa."
Xiao Chen berbalik dari balkon, berjalan ke arah mereka. Langkahnya ringan, jubah putihnya berkibar. Dia berhenti tepat di depan Wei Ling, menatap matanya.
"Kau sudah berlatih selama enam bulan. Kau naik dari Pemurnian Qi tingkat 8 ke tingkat 9 dengan cepat. Teknikmu lebih tajam, gerakanmu lebih presisi, dan kau bisa terbang tanpa pedang sekarang." Dia meletakkan tangannya di bahu Wei Ling. "Kau bukan gadis yang sama yang kutemui di Bukit Batu Patah. Kau adalah kultivator yang siap bertarung."
Wei Ling menatapnya, dan perlahan-lahan, kegugupannya mereda. "Terima kasih."
"Dan sebagai bonus keberuntungan..." Xiao Chen mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibirnya—lembut, singkat, tapi cukup untuk membuat Wei Ling tersipu hingga ke telinga.
"Xiao Chen!" serunya, setengah marah setengah malu. "Di depan mereka!"
Feng Mo sudah berbalik, pura-pura memeriksa sesuatu di dinding. Zhang Yuan menutupi matanya dengan tangan, tapi celah di antara jari-jarinya cukup lebar.
"Aku tidak melihat apa-apa," kata Feng Mo datar.
"Aku juga tidak," tambah Zhang Yuan, suaranya bergetar antara tawa dan gugup.
Xiao Chen hanya tersenyum nakal. "Kalian berdua juga mau ciuman keberuntungan?"
"TIDAK!" jawab mereka serempak.
—
Arena sudah penuh ketika mereka tiba.
Wei Zhen memimpin rombongan ke tempat duduk yang telah disediakan untuk Sekte Awan Kelabu—sebuah area kecil di tribun tamu, cukup untuk lima orang. Dari sini, mereka bisa melihat seluruh arena dengan jelas. Di seberang mereka, para perwakilan dari sekte kecil lainnya sudah duduk. Xiao Chen mengenali beberapa bendera: Sekte Kayu Suci, Sekte Gunung Besi, Sekte Lembah Sunyi, dan setidaknya selusin sekte kecil lainnya.
Lin Yao duduk di area Sekte Kayu Suci. Jubah hijaunya kontras dengan langit biru, rambut hitamnya diikat setengah seperti biasa. Mata hijaunya bertemu dengan mata Xiao Chen dari kejauhan, dan dia mengangguk kecil. Tidak ada senyuman. Hanya pengakuan—dan tantangan.
Su Mei melambai kecil ke arah mereka. Qin Wuya, yang duduk di depan, bahkan tidak menoleh.
"Selamat datang!"
Suara itu menggema dari tribun kehormatan. Seorang pria setengah baya berdiri, tangannya terentang lebar. Jubah biru gelapnya dihiasi emblem pedang emas, dan auranya sangat kuat—Tahap Transformasi Dewa tingkat 3, Xiao Chen mendeteksi tanpa kesulitan. Ini pasti Su Yunjian, Ketua Sekte Pedang Langit.
"Aku Su Yunjian, Ketua Sekte Pedang Langit, menyambut semua peserta dan tamu yang telah datang dari seluruh penjuru Benua Tengah! Hari ini, kita berkumpul untuk menyaksikan Turnamen Rekrutmen Murid tahunan—sebuah kesempatan bagi para kultivator muda untuk membuktikan diri dan bergabung dengan jajaran elit sekte kami!"
Tepuk tangan bergemuruh.
"Tahun ini, untuk pertama kalinya, kami membuka kesempatan bagi sekte-sekte kecil di wilayah perbatasan! Ini adalah bukti bahwa Sekte Pedang Langit percaya pada bakat, bukan asal-usul! Siapa pun yang memiliki cukup kekuatan dan tekad, berhak untuk naik lebih tinggi!"
Lebih banyak tepuk tangan, terutama dari tribun tamu di mana para sekte kecil duduk.
"Aturannya sederhana. Setiap sekte kecil mengirimkan maksimal tiga perwakilan. Babak pertama adalah penyisihan: setiap peserta akan bertarung melawan peserta dari sekte kecil lain. Pemenang maju ke babak berikutnya. Tidak ada batasan teknik atau senjata—tapi membunuh dengan sengaja akan didiskualifikasi. Pertarungan berakhir ketika salah satu peserta menyerah, jatuh dari panggung, atau tidak bisa melanjutkan."
Su Yunjian mengangkat pedangnya—sebuah Artefak Fana tingkat Puncak yang berkilau dengan cahaya biru. "Dengan ini, Turnamen Rekrutmen Murid Sekte Pedang Langit... DIMULAI!"
—
Undian babak pertama dimulai.
Seorang tetua Sekte Pedang Langit berdiri di samping panggung dengan sebuah kotak kayu yang dipenuhi gulungan kecil. Setiap gulungan berisi nama peserta. Dia mengambil satu per satu secara acak.
"Wei Ling dari Sekte Awan Kelabu melawan... Hao Ming dari Sekte Gunung Besi!"
Jantung Wei Ling berdegup kencang. "Itu aku. Pertama."
"Kau bisa melakukannya," kata Wei Zhen, meletakkan tangannya di bahu putrinya. "Ingat latihanmu. Ingat teknikmu. Dan jangan biarkan lawan mengintimidasi."
Wei Ling mengangguk, berdiri, dan berjalan menuruni tangga arena. Pedang Bulan Sabit di tangannya terasa ringan. Di belakangnya, dia mendengar suara Xiao Chen: "Wei Ling."
Dia menoleh.
"Ciuman keberuntungan tadi masih berlaku," kata Xiao Chen dengan senyum nakal. "Jadi kau pasti menang."
Wajah Wei Ling memerah, tapi dia tidak bisa menahan senyum. "Kau benar-benar tidak bisa diperbaiki."
"Aku tahu."
—
Hao Ming adalah pemuda berbadan kekar dengan pedang besar di punggungnya. Jubah abu-abunya kusam, otot-otot lengannya menonjol. Kultivasinya di Tahap Pemurnian Qi tingkat 9—sama dengan Wei Ling, tapi dia terlihat dua kali lebih kuat secara fisik.
"Gadis dari sekte kecil," gerutu Hao Ming saat Wei Ling naik ke panggung. "Aku tidak akan menahan diri hanya karena kau perempuan."
"Bagus," jawab Wei Ling, mencabut Pedang Bulan Sabit. Bilahnya yang tipis berkilau di bawah sinar matahari. "Karena aku juga tidak akan menahan diri."
Tetua wasit mengangkat tangannya. "Pertarungan... MULAI!"
Hao Ming bergerak lebih dulu. Dia mengayunkan pedang besarnya dalam busur horizontal—Teknik Tebasan Gunung Fana tingkat Menengah, serangan yang mengandalkan kekuatan mentah. Angin dari ayunannya sudah cukup untuk membuat debu di panggung beterbangan.
Tapi Wei Ling sudah tidak di sana.
Dia melesat ke samping dengan Teknik Bayangan Kilat Fana tingkat Menengah yang sudah dilatihnya ribuan kali. Pedang besar Hao Ming menghantam tempat kosong. Sebelum Hao Ming bisa memutar pedangnya, Wei Ling sudah menusuk ke arah bahunya—cepat, presisi, tanpa ragu.
Hao Ming memblokir dengan gagang pedangnya, tapi Wei Ling sudah bergerak lagi. Dia berputar, Pedang Bulan Sabit membentuk lengkungan perak yang mengincar kaki lawannya. Hao Ming melompat mundur, tapi ujung pedang Wei Ling masih mengenai ujung jubahnya, memotong sehelai kain.
"Aku hampir saja," gumam Wei Ling.
Ekspresi Hao Ming berubah serius. "Kau cepat. Tapi kecepatan bukan segalanya."
Dia mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi, dan Qi mulai berkumpul di sekelilingnya. Tanah di bawah kakinya retak. "Teknik Hantaman Langit Fana tingkat Tinggi!"
Pedang itu turun, dan gelombang energi melesat ke arah Wei Ling—bukan serangan fisik, tapi gelombang Qi yang cukup kuat untuk menghancurkan formasi pelindung kecil.
Wei Ling menarik napas dalam.
Dia ingat latihannya dengan Xiao Chen. "Qi bukan hanya untuk menyerang," katanya waktu itu. "Qi adalah perpanjangan dirimu. Gunakan untuk merasakan. Untuk bergerak."
Dia menutup matanya sekejap. Dan saat gelombang energi itu hampir mengenainya, dia bergerak.
Bukan ke samping. Bukan ke atas. Tapi ke depan.
Dia menerobos gelombang Qi—Pedang Bulan Sabit di depannya, membelah energi yang datang. Jubahnya robek di beberapa tempat, tapi tubuhnya tidak terluka. Dan sebelum Hao Ming bisa bereaksi, ujung pedang Wei Ling sudah berada di lehernya.
"Menyerah," kata Wei Ling, napasnya terengah-engah tapi suaranya stabil.
Hao Ming menatap pedang di lehernya, lalu menatap gadis yang memegangnya. Ada ekspresi kaget di wajahnya—lalu, perlahan, sebuah senyum lebar muncul. "Aku kira kau akan menghindar. Tapi kau malah menerobos."
"Aku tidak suka mundur."
Hao Ming meletakkan pedang besarnya. "Aku menyerah."
Tetua wasit mengangkat tangannya. "Pemenang: Wei Ling dari Sekte Awan Kelabu!"
Tepuk tangan dari tribun tamu—terutama dari Zhang Yuan yang berteriak paling keras. Wei Zhen tersenyum bangga, matanya sedikit berkaca-kaca. Feng Mo mengangguk dengan ekspresi lega.
Dan Xiao Chen... Xiao Chen hanya tersenyum.
Wei Ling turun dari panggung, kakinya sedikit gemetar karena sisa adrenalin. Begitu dia kembali ke tempat duduk, Zhang Yuan langsung menyerbu dengan pujian. Bahkan Feng Mo memberinya tepukan di bahu.
"Bagus," kata Wei Zhen singkat. Tapi matanya mengatakan lebih dari itu.
Dan sebelum Wei Ling bisa duduk, Xiao Chen sudah berdiri di depannya. "Aku bangga padamu."
"Terima kasih, tapi—"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya karena Xiao Chen sudah menciumnya lagi. Kali ini di pipi, ringan, tapi dilakukan tepat di depan semua orang—termasuk Wei Zhen yang langsung berdeham keras dan memalingkan wajah.
"Xiao Chen!" Wei Ling memukul lengannya. "Ayahku ada di sini!"
"Aku tahu. Aku tidak buta." Xiao Chen menyeringai. "Itu ciuman kemenangan. Berbeda dengan ciuman keberuntungan."
"Apa bedanya?!"
"Ciuman kemenangan lebih manis."
Wei Ling menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan duduk dengan bunyi gedebuk. Tapi di balik jari-jarinya, dia tersenyum.
—
Pertandingan berikutnya semakin memanas. Feng Mo dipanggil untuk melawan seorang kultivator dari Sekte Lembah Sunyi—pemuda kurus dengan teknik racun yang berbahaya. Pertarungan berlangsung sengit, tapi Feng Mo berhasil menang dengan menggunakan teknik baru yang Xiao Chen ajarkan: sebuah gerakan tipuan yang membuat lawan mengira dia akan menyerang dari kiri, padahal serangan sebenarnya datang dari kanan.
Zhang Yuan, yang paling tidak berpengalaman, kalah di pertandingan pertamanya. Lawannya adalah kultivator Tahap Pendirian Fondasi tingkat 2 dari Sekte Kayu Suci—Wang Tao, murid laki-laki Qin Wuya. Pertarungan berakhir dalam waktu kurang dari satu menit.
"Maafkan aku," kata Zhang Yuan saat kembali ke tempat duduk, kepalanya tertunduk. "Aku... aku tidak cukup kuat."
Wei Zhen meletakkan tangannya di bahu muridnya. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Itu cukup."
"Dia benar," tambah Xiao Chen. "Kau kalah dari seseorang yang satu tingkat penuh di atasmu. Tidak ada yang memalukan dari itu. Dan kau bertahan selama satu menit—itu lebih lama dari yang kuperkirakan."
Zhang Yuan mendongak. "Benarkah?"
"Benar. Sekarang duduklah dan perhatikan. Masih banyak pertandingan."
Zhang Yuan duduk, dan meskipun dia masih kecewa, ada secercah kebanggaan di matanya.
—
Kemudian tiba giliran Lin Yao.
"Dari Sekte Kayu Suci: Lin Yao! Melawan... Qiu Feng dari Sekte Hutan Hijau!"
Lin Yao berdiri, jubah hijaunya berkibar. Dia berjalan ke panggung dengan langkah tenang—tidak terburu-buru, tidak gugup. Lawannya, Qiu Feng, adalah pemuda dengan pedang ganda, kultivasinya di Tahap Pendirian Fondasi tingkat 1.
"Pendirian Fondasi tingkat 4 melawan tingkat 1," gumam Feng Mo. "Ini tidak adil."
"Itu adil," jawab Xiao Chen. "Karena Lin Yao sudah bekerja keras untuk mencapai tingkat itu."
Pertarungan dimulai. Dan dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, Qiu Feng sudah tergeletak di luar panggung.
Lin Yao bahkan tidak mengeluarkan pedangnya. Dia hanya menggunakan jurus telapak tangan sederhana yang diperkuat Qi. Satu pukulan, dan lawannya terlempar.
"Pemenang: Lin Yao dari Sekte Kayu Suci!"
Saat Lin Yao berjalan kembali ke tempat duduknya, matanya bertemu dengan mata Xiao Chen. Dia berhenti sejenak, dan tanpa suara, dia membentuk kata-kata dengan bibirnya: "Giliranmu berikutnya."
Xiao Chen tersenyum dan membalas dengan anggukan kecil.
—
Babak penyisihan berakhir saat matahari mulai condong ke barat. Dari tiga puluh dua peserta awal, enam belas maju ke babak berikutnya—termasuk Wei Ling, Feng Mo, dan Lin Yao.
Malam harinya, Sekte Pedang Langit mengadakan jamuan makan malam untuk para peserta. Aula utama dipenuhi meja-meja panjang dengan hidangan mewah: daging binatang spiritual panggang, sayuran yang ditanam di kebun energi, anggur dari buah roh, dan pil-pil kecil yang dikatakan bisa memulihkan stamina.
Wei Ling duduk di samping Xiao Chen. Sepanjang makan malam, dia terus melirik ke arahnya, dan setiap kali Xiao Chen menangkap tatapannya, dia buru-buru memalingkan wajah.
"Kau terus menatapku," kata Xiao Chen akhirnya.
"Aku tidak!"
"Kau berbohong."
"Aku..." Wei Ling menghela napas, menyerah. "Aku hanya berpikir. Besok, pertandingan akan lebih sulit. Lawan-lawanku mungkin sudah mencapai Pendirian Fondasi. Aku masih di Pemurnian Qi tingkat 9. Bagaimana kalau aku kalah?"
"Kalau kau kalah, kau kalah." Xiao Chen menyesap anggurnya. "Tapi kau sudah membuktikan sesuatu hari ini. Kau bukan lagi sekte kecil dari kota terpencil. Kau adalah kultivator yang bisa bertarung dan menang."
Wei Ling menatapnya. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan?"
"Tidak selalu. Tapi untukmu, aku berusaha."
Dan sebelum Wei Ling bisa bereaksi, Xiao Chen mencondongkan tubuhnya dan menciumnya lagi—kali ini di bibir, lebih lama dari sebelumnya, dengan lidah yang menyentuh lembut. Tepat di tengah aula yang penuh orang. Beberapa murid terpaku. Seorang pelayan hampir menjatuhkan nampannya. Qin Wuya, dari ujung meja yang jauh, menatap dengan alis terangkat.
Wei Ling mendorongnya pelan, wajahnya merah padam. "Kau... di depan semua orang..."
"Aku tahu." Xiao Chen menyeringai. "Itu intinya."