Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Favoritku
Sisa hari itu berjalan lancar sampai akhirnya Adden berjalan menuju mobilnya yang diparkir di barisan siswa senior. Ia melihat wajah Messy tampak cemas sambil mengawasi murid-murid lain yang mulai berhamburan keluar.
Sudah sejak jam makan siang ia tak melihat Melody, dan ia merasa lega karena mereka tidak sekelas lagi selain di mata pelajaran Aljabar. Ia tak menyangka pertemuan kembali dengan gadis itu bisa membangkitkan rasa amarah yang begitu besar di dadanya.
Sejak tahu Melody ada di sini, suasana hatinya hancur berantakan. Ia sadar dirinya sama sekali tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik.
Sebelum Messy mendekat, ia sempat berhadapan dengan Mihoy sebentar. Ia sengaja menunggu sampai sekolah usai untuk menegur gadis itu gara-gara ulahnya menyiramkan susu ke kepala Melody.
"Aku gak minta kamu lakuin itu," jawabnya ketus.
Mihoy hanya mengangkat bahu dan menyunggingkan senyum miring. "Aku cuma mau bantu. Kan kamu juga nggak suka dia ada di sini, jadi aku lakuin itu demi kamu."
"Yah, mulai sekarang jangan pernah lakuin apa pun atas namaku kalau aku gak minta."
Mihoy memutar matanya dengan berlebihan, membuat pelipis kirinya berdenyut karena kesal. Urusan Mihoy bisa ia selesaikan nanti.
Sebenarnya, niatnya menegur Melody tadi hanya untuk mencari tahu tujuan sebenarnya gadis itu datang ke sini. Ia tak bermaksud memperumit masalah bagi Messy.
Ia sadar teman baiknya itu kini sedang stres berat. Messy pasti takut ayahnya marah besar gara-gara insiden susu tadi, apalagi kemungkinan besar lelaki itu sudah berbohong dan bilang kalau ia baik-baik saja dengan kehadiran Melody di rumah.
Messy adalah cowok baik, ia tidak pantas mendapat masalah seperti ini sekarang.
Adden tak pernah menceritakan siapa Melody sebenarnya dan bagaimana mereka bisa saling kenal. Ia benci menyimpan rahasia dari teman-temannya, tapi ia tak bisa membiarkan siapa pun tahu bahwa mereka punya masa lalu yang kelam.
Ia tak mau mereka tahu kalau gadis itulah sumber dari segala amarahnya. Itu juga alasan kenapa ia tak pernah mau punya pacar atau berniat menikah. Tidak akan pernah.
Adden melangkah mendekati Messy, membiarkan Mihoy berdiri diam di tempat. Messy masih menatap pintu utama sekolah, sedang menunggu sesuatu.
"Gimana?" tanyanya.
Messy menggeleng kasar. "Aku kesel banget sama kamu gara-gara kejadian tadi siang. Aku harus nunggu dia keluar buat nganter pulang. Itu perintah langsung dari Papa aku. Nanti aku juga harus jelasin apa yang sebenernya terjadi."
Messy menoleh, menatapnya tajam. "Kenapa sih kamu ngelakuin itu?"
Ia mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Bukan aku yang suruh Mihoy ngelakuin itu. Itu murni ide dia sendiri. Aku bahkan udah bilang supaya dia jangan ikut campur."
"Iya, tapi cewekmu itu ... atau apa punlah sebutannya ... baru aja bikin hidup aku ruwet di rumah. Papa aku pasti bakal ngomelin aku gara-gara berurusan sama dia. Aku tuh kayak disuruh jadi pengasuhnya, pastiin dia nggak bikin masalah. Itu perintah pengadilan, Bro."
"Pertama ... Mihoy bukan cewek aku. Itu artinya aku nggak punya pacar. Aku bakal urusin perasaan berlebihannya Mihoy itu. Biarin dia sadar kalau dia nggak spesial cuma gara-gara kita pernah tidur bareng di pesta Issac semester lalu."
"Seharusnya itu cuma hubungan santai kayak biasanya, tapi kayaknya dia nggak bisa terima kenyataan. Dan itu bukan salah aku."
Adden bukan tipe cowok yang gemar memamerkan dengan siapa ia tidur. Tapi sepertinya beberapa gadis justru bangga kalau bisa mengencaninya.
"Aku nggak bermaksud bikin hidup kamu susah di rumah. Aku cuma mau pastiin dia tahu gimana rasanya sekolah di sini ... Eh, tunggu, maksud kamu perintah pengadilan apa?"
Messy memang pernah cerita sedikit kalau Melody itu saudara tirinya dan bagaimana ayahnya tahu soal keberadaan gadis itu, tapi banyak detail yang ditutup-tutupi.
"Aku denger Papa ngobrol sama kepala sekolah. Ternyata dia punya catatan kriminal, kayak yang aku omongin sebelumnya ... semuanya kasus ringan pas dia masih di bawah umur. Pencurian, kayaknya Papa aku bilang begitu."
Adden berpura-pura terkejut dan tak tahu apa-apa. Padahal ia sudah tahu soal tuduhan pencurian itu. Ia bahkan sudah mengirim pesan ke pengacara keluarganya begitu tahu Melody ada di kelasnya.
Pengacara itu mengonfirmasi kalau Melody memang punya catatan kasus pencurian, meski detailnya tak bisa dibuka luas karena ia masih di bawah umur.
"Ngapain sih dia sampe nyuri?"
Ah, sudahlah. Apa pedulinya kalau Melody ternyata seorang penjahat dan pembohong?
Itu bukan urusan Adden. Tapi sayangnya, hal itu jelas berdampak buruk bagi Messy. Itulah yang terus ia ulang dalam hati.
Messy membuka kunci mobilnya dan masuk ke dalam, begitu juga Adden yang berjalan menuju mobilnya sendiri. Karena postur tubuhnya yang tinggi dan mobil Messy yang besar, mereka masih bisa saling memandang dari balik atap kendaraan masing-masing.
"Papa aku jarang banget bahas masa lalu dia. Kayaknya itu rahasia besar yang nggak boleh ada orang lain tahu. Bahkan Mama aku juga nggak tahu."
Faktanya, gadis itu secara biologis adalah saudara perempuan Messy, dan secara garis keturunan adalah saudara tirinya. Melody sering berpindah-pindah keluarga asuh dan beberapa kali berurusan dengan hukum karena kasus pencurian. Bahkan, dia sudah tiga kali mendekam di pusat penahanan anak di bawah umur. Adden mendengar semua itu saat berada di ruangan kepala sekolah.
"Dia sampai biarin pencuri masuk ke rumahnya?" tanya Adden ketus. "Apa-apaan sih? Gimana bisa Papamu semudah itu percaya sama orang kayak gitu?"
Tapi kalau dipikir lagi, mungkin memang ayahnya tidak percaya sepenuhnya. Makanya Messy disuruh mengawasinya di sekolah, layaknya mengasuh anak kecil.
"Papaku belain dia di sekolah. Katanya dia punya masa lalu yang berat, mencuri cuma buat makan dan biar punya baju. Terakhir kali, dia malah mencuri buat dibagiin ke anak lain yang gak punya apa-apa," jelas Messy.
"Gak semua keluarga asuh itu baik, sih. Musim lalu dia cuma bertahan dua bulan di sana, baru aja keluar. Makanya Papa datang ke pengadilan. Kalau dia ketahuan salah lagi sekarang, dia bakal diadili dengan hukum orang dewasa. Papa merasa bersalah dan janji sama hakim bakal bertanggung jawab, pastiin dia sampai lulus SMA dan jauh dari masalah. Cuma itu yang aku tahu. Yang paling aku hindari tuh Papa marah-marah gara-gara dia."
Jadi, gadis itu sebenarnya punya hati. Tapi bukan untuk Adden. Dia tidak pernah berusaha mencarinya. Tidak pernah.
Adden tak bisa bohong, sering kepikiran kenapa dia tidak mencarinya. Zaman sekarang kan gampang, lewat Facebook atau Instagram juga bisa. Bukan berarti dia tak tahu alamat rumah Adden. Sepertinya Melody harus terima kenyataan... dia merasa Adden tak pantas buat dia.
Hanya memikirkannya, imajinasi Adden langsung liar membayangkan paha kecokelatan Melody melingkar di pinggangnya. Padahal baru saja Adden bilang kalau dia bau dan gak secantik cewek lain, tapi itu semua bohong. Melody Lukita itu seksi sekali.
Tiba-tiba pintu utama sekolah terbuka dan Melody muncul. Dia memakai seragam polo shirt cowok yang pasti diambil dari tempat barang temuan.
Adden mengernyit melihatnya membawa kantong plastik di ujung jari. Isinya pasti seragam dan jaketnya yang basah. Yang membuatnya kaget, dia malah berbelok ke kiri dan langsung lempar kantong itu ke tong sampah.
Pasti baunya sudah tak tertahankan, mungkin kena muntahan. Nanti pasti repot kalau Messy harus jelaskan ke ayahnya kalau semua itu gara-gara Adden, Mihoy pun terancam ikut kena masalah.
Melody mendekat dengan wajah datar, lalu berhenti di samping pintu supir Messy. Dia berdiri menghadap Adden saat pintu terbuka, dan mata Adden langsung tertuju pada lengannya.
Tato bunga itu. Bunga yang sama persis dengan yang dulu Adden berikan saat hari kedua Melody muncul di halaman rumahnya. Bunga yang pernah dia bilang sebagai favoritnya.