NovelToon NovelToon
Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Tamat
Popularitas:692k
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Adil

Tangisan itu terdengar samar di lorong bawah tanah markas. Ethan dan Raga berhenti bersamaan. Mereka saling melirik singkat, lalu mengikuti arah suara menuju ruang Rose.

“Mana perawatnya?” tanya Raga dingin begitu mereka tiba di depan pintu. Tidak ada penjaga, tidak ada tenaga medis.

Keduanya menyadari ada yang tidak beres. Tanpa menunggu lama mereka masuk ke dalam. Tirai tebal yang mengelilingi tempat tidur tertutup rapat. Namun suara tangis itu terdengar lebih jelas di baliknya.

Ethan melangkah cepat, menarik tirai itu kuat.

Dan pemandangan di depannya membuat rahangnya mengeras. Rega duduk selonjoran di kursi dengan satu kaki dilipat santai, seolah sedang menonton pertunjukan. Sementara di atas tempat tidur, Cantika menangis terisak, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat dan basah oleh air mata.

Tanpa perlu bertanya, Ethan dan Raga tahu apa yang baru saja terjadi.

“Rega, aku sudah mengatakan untuk…” suara Ethan meninggi.

Kursi berderit keras memotong kalimat Ethan. Rega berdiri tiba-tiba, wajahnya tidak menyiratkan rasa bersalah sedikit pun.

“Selesai,” katanya singkat. Ia menatap Ethan dengan pandangan lelah. “Kau terlalu lelet dan bertele-tele. Jangan membuat semuanya menjadi semakin sulit hanya karena rasa kasihan.”

Udara di ruangan itu menegang drastis.

“Kau berani menyebutku lelet?” kata Ethan pelan. Namun suaranya dingin dan berbahaya. Amarahnya tidak menggebu, tapi tajam seperti pisau yang diarahkan tepat ke jantung.

"Setelah ini, aku tidak akan menahan diri untuk menghajarmu."

Rega menyeringai tipis, tidak menanggapi.

“Aku pergi,” katanya santai sambil melangkah ke pintu. “Tenangkan si bodoh kesayanganmu itu.”

Raga mengikuti dari belakang, ia menghantam punggung Rega cukup keras.

“Seharusnya kau tidak melakukan itu,” katanya datar sambil terus berjalan.

Namun di balik langkah mereka yang menjauh dari pintu, tangan Raga terangkat memberi tos singkat ke tangan Rega.

“Kerja bagus,” bisiknya.

Rega memutar bola matanya malas. “Gadis itu berbakat untuk menarik belas kasihan,” katanya kesal. “Hampir saja aku kasihan.”

Raga berhenti sejenak, lalu memukul kepala Rega dengan keras.

“Jangan bilang kau tertarik padanya.”

Rega mengelus kepalanya, berdecak sebal.

“Dia terlalu murah untuk membuatku tertarik. Seleraku tinggi,” katanya sombong. Lalu suaranya menurun sedikit, lebih lembut. “Tapi hidupnya memang menyedihkan.”

Langkah mereka kembali berjalan.

“Kita terlahir kaya raya. Amox lahir hanya untuk kepuasan dan kesenangan semata.” lanjut Rega. “Sedangkan dia? Dia hidup untuk menyenangkan orang lain.”

Raga terdiam sejenak, setelah mendengarkan sudut pandang kembarannya dengan seksama. “Mungkin itu yang Ethan rasakan selama ini.”

Rega mendengus kecil, nada suaranya penuh keyakinan

“Tapi dia tidak cocok dengan Ethan. Hidup Ethan terlalu kompleks untuk wanita sebodoh dia.”

Ia berhenti di ujung lorong, menoleh sedikit.

“Kalau mereka menikah, Cantika hanya akan jadi beban. Gadis itu menjalani hidupnya hanya dengan mengandalkan perasaan, tanpa logika.”

Dan bagi dunia Ethan Montgomery, itu adalah kelemahan paling berbahaya.

Ethan berdiri tegak di depan tempat tidur Catika, wajahnya kosong tanpa sedikit pun emosi. Cahaya lampu memantul di garis rahangnya yang keras, membuatnya terlihat lebih seperti patung daripada manusia.

Cantika menatapnya dengan mata sembab, berurai air mata, dan harapan yang hampir runtuh.

“Apa… apa semua yang pria itu katakan benar?” suaranya bergetar. “Tentang Barlex, tentang ayahku… tentang Amox. Apa itu semua benar?”

“Rega tidak suka berbohong,” jawab Ethan singkat.

Kalimat itu seperti pembenaran atas semua pertanyaannya.

“Jadi… semua sikapmu selama ini,” katanya terisak, “semua perhatianmu, perkataanmu malam itu, hanya untuk mendapatkan chip itu?”

Ethan mengangguk dingin, sebuah kejujuran yang telanjang.

Tangisan Cantika pecah saat kenyataan menghantamnya tanpa ampun.

“Kenapa kau tega mempermainkan perasaanku?” katanya putus asa. “Kenapa kau bisa setega itu padaku?”

Cantika menutup wajahnya, menangis semakin keras.

“Adikmu dirawat dengan baik,” lanjut Ethan, suaranya tetap tenang seolah sedang membacakan laporan. “Jika dokter sudah mengizinkan, pulanglah. Anak buahku akan mengantarmu.”

Cantika menggeleng kuat-kuat, air matanya jatuh tanpa henti.

“Tapi aku mencintaimu,” katanya lirih namun penuh keputusasaan. “Aku tidak peduli dengan chip itu, dengan Barlex, dengan Amox, aku tidak peduli dengan semua itu! Tidak apa-apa kalau kau tidak menceraikan Bu Celine. Aku siap menjadi yang kedua.”

Ia menatap Ethan seakan pria itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.

“Jangan mencintaiku,” jawab Ethan, terdengar seperti perintah.

Cantika menggeleng, berharap ini semua hanyalah mimpi.

“Beristirahatlah,” kata Ethan singkat.

Ia berbalik tanpa menoleh lagi, meninggalkan suara tangisan di balik dinding.

Mike masuk bersama seorang perawat tanpa banyak suara. Pintu ruang Rose tertutup kembali, menyisakan udara dingin dan tekanan yang tak terlihat. Perawat itu bekerja cepat dan efisien, ia melepaskan infus dari lengan Cantika dalam diam. Tidak ada basa-basi seperti yang biasa ia lakukan di rumah sakit.

Ia telah diperingatkan sejak pertama kali sampai di tempat ini: jangan berbicara terlalu banyak dengan target. Tekanan tinggi, risiko besar, namun imbalannya berlipat. Begitulah cara kerja di Markas Amox.

Cantika sedikit menghindar ketika Mike mendekat. Refleks ketakutan dan naluri bertahan, yang pontan muncul saat melihat wajah menyeramkan itu. Namun Mike tidak berhenti hanya karena satu gerakan menghindar. Tangannya mencengkeram dagu Cantika, mengangkat wajahnya paksa. Senter kecil menyala, menyorot matanya satu per satu, dingin dan menyilaukan.

“Tatap ke sini!” perintahnya singkat.

Ia memeriksa reaksi pupil, lalu beralih ke belakang telinga, tempat luka kecil itu berada. Jari-jarinya menyentuh area yang masih terasa perih, memastikan tidak ada sisa inflamasi atau tanda manipulasi saraf. Setelah itu, stetoskop menempel di dada Cantika. Mike mendengarkan detak jantungnya dalam hening, menghitung, menilai, memastikan stabilitas.

“Tidak ada komplikasi,” katanya datar.

Ia meluruskan tubuh. “Malam ini beristirahatlah di sini sampai reaksi obat benar-benar hilang. Besok kau boleh pulang.”

Suara Cantika bergetar. “A-apa aku… aku baik-baik saja?”

Mike mengangguk sekali. “Kau aman,” jawabnya singkat. “Selama kau menurut apa yang Tuan Ethan katakan.”

Ia menatap Cantika tanpa emosi, lalu menambahkan dengan nada yang lebih tenang. “Setelah ini, hiduplah lebih baik. Kau beruntung dilepaskan dalam keadaan utuh dari tempat ini.”

Mike berbalik, diikuti perawat di belakangnya. Pintu tertutup kembali, meninggalkan Cantika sendirian dengan pikiran yang berantakan.

Tangannya mengepal kuat.

“Seharusnya aku hidup lebih mudah, bukan seperti ini.”

Mimpinya hancur begitu saja. Seharusnya Ethan memilihnya, lalu mereka akan hidup bahagia bersama. Ia tidak perlu bekerja setiap hari sampai tubuhnya remuk. Tidak perlu menghitung uang receh untuk membayar sisa-sisa utang ayahnya. Tidak perlu tidur dengan kecemasan, memikirkan biaya sekolah adiknya esok hari.

Cantika marah pada nasib, marah pada ayahnya, marah pada dunia yang terasa begitu kejam. Semua ini tidak adil baginya.

1
Wiliam Zero
Novelnya bagus dan happy ending 👍
Qothrun Nada
sangat bagus ceritanya, alurnya pas dan gk bosan bacanya 👍🏻👍🏻
Qothrun Nada
orang lagi kasmaran itu kerjaan berat terasa ringan apalagi si Alya rela begadang menemani 🤭
Qothrun Nada
shut tutup mulut mu rapat rapat Raga 🤫
Qothrun Nada
kali ini Celine kalah telak 😀
Qothrun Nada
makan apapun akan terasa nikmat kalau badan sehat dan perut lapar Ga
Qothrun Nada
haduh kau juga gk peka Celine, mereka lagi pedekate 😀
Qothrun Nada
Celine kau mengganggu keromantisan mereka 🤭
fee_chu
akhir yg sngat memuaskan......triamaksh sdh membuat crta yg luar biasa.....👌👌👌👌👌👌👌👌👌q ska bgt crtanya ethaannnnnn😍
Qothrun Nada
itu mengingatkan dengan masa lalu nenek Florence
Qothrun Nada
habislah kau Cantika, kalau nenek Florence sudah bertindak
fee_chu
keren x papa mertuaaaaaa....👌👌👌
fee_chu
😂😂🤣🤣🤣🤣 sbelll bgt x ya si rega m cantika.....ciweeek bgt dia tuhh....jd weh djambak🤣😂😂😂😂 tp q ska gyanya rega🤭
fee_chu
q ska bgt sm certa2 di novely author....peran wanita nya hbt2, g yg lemah, mnerima takdr, jd org miskn...
tp semua kraktr smpurna nmpel sm peranya celin..kereen.....👌👌👌👌
fee_chu
niceritanya kreeen bgt siii👌👌👌👌👌
Mutia
Etan knp bs berubah sifatnya, saat kecil dia begitu baik sama spt ibunya Ariana
Melani Ani
Semoga kesedihan Celline tak lama, rasakan kebodohan mu Ethan......
rose red
kapan kisah zalina thor
Binti Rusidah
bagus banget
Ayu widia
Jujur, baru kali ini aku baca cerita tapi rasanya kayak nonton langsung filmnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!