NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Kereta Menuju Timur

Sinar mentari pagi Jakarta menembus kaca lebar restoran cepat saji di kawasan Kemang, menyilaukan mata Luna yang masih terasa berat. Gadis itu mengerjap perlahan, mengangkat kepalanya dari lipatan lengannya di atas meja fiberglass. Punggung dan lehernya kaku bukan main setelah tidur dengan posisi duduk selama hampir empat jam. Aroma kopi seduh dan uap minyak dari kentang goreng yang baru diangkat dari penggorengan menyapa penciumannya.

Hal pertama yang dilihatnya saat kesadarannya penuh adalah sosok Nando. Pria berpendar biru itu masih duduk di seberangnya, bertopang dagu dengan sikap elegan yang seolah tidak pernah luntur. Wajah tampannya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan, meski ia telah berjaga semalaman penuh dari segala bentuk ancaman kasat mata maupun tak kasat mata.

"Pagi, Nona Luna," sapa Nando, suaranya berat dan menenangkan di tengah hiruk-pikuk restoran yang mulai dipenuhi orang-orang yang mencari sarapan. "Tidurmu sangat pulas. Kau bahkan sempat mengigau tentang diskon minyak goreng di lorong tiga."

Luna buru-buru mengusap sudut bibirnya, memastikan tidak ada air liur yang menetes. Wajahnya merona merah di balik maskernya. "Aku tidak mengigau soal minyak goreng," bantahnya pelan sambil merapikan rambut sebahunya yang berantakan.

"Tentu saja tidak. Kau menyebut mereknya dengan sangat jelas," goda Nando, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menyebalkan yang entah mengapa membuat dada Luna berdesir hangat. "Bersiaplah. Kereta kelas ekonomi Matarmaja tujuan Semarang via Pekalongan berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.20. Kita harus segera bergerak."

Luna mengangguk. Ia meraih ponsel murahnya yang layarnya sudah retak di ujung, lalu mencari kontak Kala. Beruntung, sinyal di dalam restoran cukup kuat. Ia menekan tombol panggil dan menunggu dengan debaran jantung yang sedikit gelisah.

"Halo, Lun? Tumben pagi-pagi telepon. Udah siap berangkat sif? Aku bawain bubur ayam nih buat sarapan kita," suara ceria Kala langsung terdengar dari seberang sana.

Luna menelan ludah. "Kal... maaf banget. Aku nggak bisa masuk kerja hari ini. Dan... mungkin untuk beberapa hari ke depan."

Hening sejenak di ujung telepon. Nada suara Kala berubah serius seketika. "Lun? Kamu sakit? Atau... ada hubungannya sama 'mereka' yang sering kamu lihat? Kamu aman kan, Lun? Aku bisa ke kosanmu sekarang kalau kamu butuh bantuan!"

Mendengar kepanikan sahabatnya, Luna merasa bersalah. Kala adalah satu-satunya manusia yang peduli padanya. "Aku aman, Kal. Aku janji. Tapi aku harus pergi ke luar kota, ada urusan keluarga yang sangat mendadak dan nggak bisa ditinggal. Tolong izinkan aku ke Kepala Toko ya? Bilang saja nenekku di kampung sakit keras."

"Urusan keluarga? Sejak kapan kamu punya keluarga di luar kota yang peduli padamu?" Kala jelas tidak mudah dibohongi. Ia tahu persis latar belakang Luna yang sebatang kara. Namun, Kala juga tahu kapan harus berhenti bertanya. Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. "Baiklah. Aku akan memalsukan alasan yang paling logis buat Bos. Tapi janji sama aku, Lun. Aktifkan terus ponselmu. Kalau sampai terjadi apa-apa, shareloc ke aku. Aku nggak segan-segan bawa polisi... atau ustadz sekalian."

Senyum tipis mengembang di bibir Luna. "Makasih, Kal. Kamu sahabat terbaikku. Aku akan hati-hati."

Setelah panggilan ditutup, Luna menatap Nando yang sedari tadi mengamati percakapannya dalam diam. "Dia akan mengizinkanku. Sekarang, kita ke Stasiun Pasar Senen."

Stasiun Pasar Senen di pagi hari adalah cerminan denyut nadi kelas pekerja Indonesia. Ribuan manusia berdesakan dengan koper besar, kardus mi instan yang diikat tali rafia, hingga tas punggung yang sudah kusam. Bau keringat, roti bakar, dan asap knalpot bercampur menjadi satu harmoni yang memekakkan telinga.

Bagi Nando, ini adalah mimpi buruk logistik.

"Aku bisa menerima kenyataan bahwa kita harus naik kereta alih-alih pesawat kelas bisnis," gerutu Nando saat mereka berjalan menyusuri peron menuju jalur tiga. "Tapi apakah harus kereta ekonomi? Lihat bangku itu, Luna! Sudut kemiringannya 90 derajat! Punggung manusiaku yang terbaring koma pasti akan ikut sakit melihatnya."

"Berhentilah mengeluh, Tuan CEO," bisik Luna tajam, sambil menyerahkan tiket yang baru saja ia cetak kepada petugas pengecekan. "Uang tabunganku terbatas, dan kita butuh sisa uang untuk bertahan hidup di Pekalongan nanti. Lagipula, di gerbong ekonomi yang padat, energimu akan tersamarkan oleh ribuan energi manusia lainnya. Ingat apa yang dikatakan Ki Ardi? Dukun itu sedang mencari kita."

Mendengar argumen logis itu, Nando hanya bisa menghela napas. Ia melipat tangannya dan melayang menyusul Luna masuk ke dalam Gerbong 4.

Mereka mendapatkan kursi di dekat jendela. Luna duduk berhadapan dengan seorang ibu paruh baya yang membawa anak balita, sementara Nando mengambil posisi 'duduk' di sebelah Luna, tubuh astralnya menembus sebagian kursi yang sebenarnya kosong karena belum ada penumpang lain yang datang. Namun, hawa dingin yang dipancarkan Nando membuat ibu di seberang mereka memakaikan jaket tebal pada anaknya.

Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan stasiun, diiringi suara klakson yang panjang. Pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta berangsur-angsur digantikan oleh kawasan padat penduduk pinggiran kota, lalu perlahan berubah menjadi hamparan sawah dan perbukitan saat mereka memasuki wilayah Jawa Barat.

Perjalanan itu diwarnai keheningan yang nyaman. Luna menatap ke luar jendela, pikirannya melayang pada map kulit hitam di dalam ranselnya, dan pada pertarungan yang menanti mereka di Desa Karang Mayit. Di sebelahnya, Nando juga terdiam, matanya terpaku pada pantulan wajah Luna di kaca jendela.

Pria itu sedang berpikir keras. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya, ia memuja materi. Ia menilai kesetiaan dari besaran dividen, dan mengukur kepercayaan dari tebalnya kontrak hukum. Lalu, Bara menghancurkan semuanya. Sahabat yang ia beri kemewahan dan jabatan justru menikamnya dari belakang demi ambisi yang lebih besar.

Dan di sinilah ia sekarang. Terjebak dalam wujud roh, mengandalkan seorang gadis pelayan minimarket yang bahkan tidak mampu membeli tiket kereta eksekutif, namun rela mempertaruhkan nyawanya dan bertarung melawan iblis demi menyelamatkannya. Uang tidak memiliki arti di mata Luna. Gadis ini melindunginya karena rasa kemanusiaan yang murni, dan mungkin... karena ada ikatan yang perlahan tumbuh di antara mereka.

"Kau melamun," tegur Luna pelan, menyadarkan Nando dari lamunannya. "Apakah kau masih merindukan kasur empuk di penthouse lamamu?"

Nando tersenyum miring, menoleh menatap Luna sepenuhnya. "Aku sedang memikirkan portofolio investasiku yang paling berharga, Luna."

"Saham NaturaGlow?" tebak Luna datar.

"Bukan." Nando mencondongkan tubuh astralnya mendekat. Matanya yang tajam dan memabukkan menatap lurus ke dalam mata Luna. "Kau. Kau adalah investasi terbaikku saat ini. Seseorang yang tidak bisa dibeli dengan uang, tapi memberikan loyalitas tanpa batas. Saat aku kembali ke tubuhku nanti, aku pastikan kau tidak akan pernah lagi menata mi instan di minimarket."

Wajah Luna memanas. Semburat merah menyebar dari pipi hingga ke telinganya. "A-apa maksudmu? Kau mau menjadikanku asistenmu? Jangan harap. Aku tidak mau bekerja untuk bos yang cerewet soal letak sabun cuci muka."

Nando terkekeh pelan. "Tidak sebagai asisten, tentu saja. Ada posisi yang lebih permanen dari itu."

Luna buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke jendela, jantungnya berdebar tidak karuan. Meskipun Nando adalah hantu yang narsis, cara pria itu menatapnya benar-benar bisa membuat kewarasan wanita mana pun goyah. "Jangan bercanda. Fokuslah pada bagaimana caramu bernapas lagi."

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Ikut terharu banget 😭😭juga bahagia, Luna pulih dan Nando udah siuman.
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍

Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!