NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.

Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.

Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.

Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.

Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Besok Malam Giliranmu

Lampu di rumah Endric mati tepat pukul tujuh lewat lima puluh sembilan. Cahaya padam total dan gelap langsung menelan ruangan dalam sekejap.

Endric yang sedang berdiri di depan cermin hampir menjatuhkan sisir dari tangannya. Jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari sebelumnya.

“Timing lo keren banget,” gumamnya.

Suara angin dan jangkrik lenyap serentak. Keheningan menyelimuti seluruh desa dengan sangat padat dan terasa disengaja.

“Ndhul?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Gema suaranya sendiri terdengar aneh dan asing di telinga.

Endric meraba meja untuk mengambil ponsel. Layar menyala menunjukkan sinyal kosong dan jam yang tepat menunjukkan pukul delapan.

“Yaudah... jalan aja,” katanya mencoba memberanikan diri.

Ia membuka pintu dan udara malam langsung menyentuh wajah. Dingin dan lembap, menusuk sampai ke dalam kulit.

Endric berhenti seketika di ambang pintu. Jalanan yang tadi siang kosong, kini penuh oleh warga yang berdiri berjejer rapi.

Mereka semua diam dan menghadap ke arah balai desa. Cara mereka berdiri terasa sangat tidak wajar.

“Ini bukan perkenalan... ini parade,” bisiknya.

“Udah jalan aja, rek.”

Suara Gandhul muncul tepat di samping bahunya. Endric langsung menoleh dengan kaget.

“Lo!” desisnya pelan.

“Gue dari tadi di sini.”

“Kenapa baru ngomong sekarang?!”

“Biar dramatis.”

Endric menghela napas panjang, menahan campuran rasa kesal dan takut.

“Gue deg-degan, cok.”

“Wajar. Lo lagi mau dites.”

“Tes apa sih sebenarnya?”

Gandhul melirik barisan warga yang diam tak bergerak.

“Tes... lo layak atau gak.”

“Layak buat jadi apa?”

Gandhul tersenyum tipis.

“Lo tahu jawabannya.”

Endric tidak membalas. Ia mulai melangkah pelan menyusuri jalan di tengah kerumunan itu.

Hanya ada suara langkah kaki yang serempak. Endric merasa menjadi satu-satunya makhluk hidup yang benar-benar bernapas di tempat itu.

“Ini kenapa sunyi banget...” bisiknya.

“Karena kalau mereka mulai ngomong, lo bakal pengin lari.”

“Kenapa?”

“Gak semua suara mereka... normal.”

Balai desa sudah tampak jelas di depan. Bangunan kayu besar dengan lampu kuning yang menyala sangat terang.

Cahaya itu tidak terasa hangat, justru membuat suasana menjadi semakin mencekam. Warga sudah memenuhi halaman dan berdiri melingkar, menyisakan ruang kosong di tengah.

Endric berhenti di pinggir lingkaran. Napasnya kembali tidak teratur.

“Gue harus masuk?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Sendirian?”

Gandhul mengangguk mantap.

“Gue di sini aja. Lo yang maju.”

“Lo gak mau bantu?”

“Gue bantu dari jauh. Doa,” jawabnya santai.

“Doa apaan, cok...”

“Udah, jalan.”

Endric menarik napas dalam-dalam lalu melangkah masuk ke tengah lingkaran. Segala mata tertuju padanya dengan tatapan dingin dan menilai.

Beberapa detik kemudian, Pak Wakhid melangkah maju. Senyumnya tetap sama, lebar dan tak berubah.

“Mas Endric sudah datang,” katanya lantang.

Suaranya menggema aneh tanpa bantuan alat pengeras suara.

“Gimana, Mas? Sudah nyaman di sini?”

Endric memaksakan senyum meski otot wajahnya terasa kaku.

“Iya, Pak.”

“Sudah mulai dengar sesuatu?”

Endric terdiam sejenak, lalu menggeleng cepat.

“Belum, Pak.”

Pak Wakhid tersenyum lebih lebar dan berbalik menghadap warga.

“Bagus. Berarti masih bersih.”

Endric mengernyitkan dahi. Kebingungan bercampur rasa tidak nyaman menjalar di dadanya.

Tiba-tiba seorang wanita melangkah keluar dari kerumunan. Wajahnya pucat dengan rambut panjang yang menjuntai.

Ia berhenti tepat di depan Endric dan menatap tanpa berkedip.

“Namamu Endric?”

“Iya,” jawab Endric pelan.

“Ganteng juga.”

Endric menjadi kaku total. Bahunya menegang mendengar pujian itu.

“Makasih?”

“Waspada, rek. Yang kayak gini biasanya bahaya,” bisik Gandhul dari jauh.

Wanita itu melangkah semakin dekat, jarak mereka kini terlalu sempit untuk rasa aman.

“Kamu betah di sini?”

Endric mengingat aturan yang pernah didengarnya. Ia tidak boleh menjawab terlalu cepat.

“Masih adaptasi,” jawabnya hati-hati.

“Kalau aku bilang kamu bakal senang di sini... kamu percaya?”

Endric diam beberapa saat menimbang kata-kata.

“Belum tentu.”

Wanita itu tersenyum lebar, namun matanya tetap terlihat dingin dan kosong.

“Pinter juga.”

Ia mundur selangkah lalu kembali menyatu dengan kerumunan. Pak Wakhid kembali maju ke depan.

“Bagus,” katanya singkat.

“Bagus apaan, Pak?”

“Mas masih bisa mikir.”

Nada bicara itu membuat Endric tidak nyaman, seolah berpikir adalah hal langka di tempat itu.

Tiba-tiba suara berat dan dalam terdengar dari arah belakang.

“Sudah cukup.”

Seluruh warga menjadi semakin hening. Udara terasa berhenti bergerak.

Seorang pria tua muncul, tampak jauh lebih tua dari Pak Wakhid. Semua orang langsung memberi jalan tanpa diminta.

“Ini siapa lagi...” bisik Endric.

“Yang paling atas,” jawab Gandhul pelan.

Pria itu berhenti di hadapan Endric. Tatapannya tajam dan membuat Endric merasa sedang dibedah hidup-hidup.

“Namamu Endric,” katanya.

“Iya,” jawab Endric terbata-bata.

“Masih utuh.”

“Utuh maksudnya apa?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah Pak Wakhid.

“Belum waktunya.”

“Siap,” jawab Pak Wakhid patuh.

“Ini maksudnya apa, Pak?” tanya Endric cemas.

Pria tua itu kembali menatapnya dengan wajah datar.

“Kalau dipanggil... jangan menolak.”

Endric membeku. Kata-kata itu terasa sangat berat menekan dadanya.

“Bubar.”

Satu kata itu cukup. Semua warga langsung bergerak serempak dan pergi tanpa suara. Lingkaran itu pecah dan jalanan kembali kosong dalam hitungan detik.

Endric berdiri sendirian di tengah halaman, masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

“Gue lolos?” bisiknya.

“Untuk sekarang,” jawab Gandhul yang sudah berdiri di sampingnya.

“Untuk sekarang apaan, cok?”

“Lo belum cocok.”

“Cocok buat apa?!”

Gandhul menatap ke arah punggung pria tua yang semakin menjauh.

“Yang itu bahaya.”

“Kenapa?”

“Karena dia yang milih.”

“Milih siapa?”

“Yang dikorbankan.”

Endric terdiam kaku. Angin malam bertiup kembali, terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

“Oke... gue masih hidup. Itu dulu.”

“Betul.”

“Besok gue cari cara keluar.”

Gandhul terkekeh pelan.

“Silakan. Gue temenin.”

“Jangan nyinyir.”

Mereka berjalan kembali ke rumah. Jalanan sudah sepi kembali, seolah kejadian tadi hanyalah mimpi.

Namun, langkah Endric tiba-tiba terhenti tepat di depan pintu.

Ada sebuah kertas terlipat rapi di atas tanah.

“Ini apa lagi...” gumamnya.

Ia membungkuk mengambil kertas itu dengan tangan yang mulai gemetar. Perlahan ia membuka lipatannya.

Tulisan tangan tertulis jelas di atas kertas itu. Wajah Endric langsung pucat pasi.

“Ndhul...”

“Kenapa?”

Endric menelan ludah dengan susah payah.

“Besok malam giliranmu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!