NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Besok Malam Giliranmu

Lampu di rumah Endric mati tepat pukul tujuh lewat lima puluh sembilan. Bukan meredup atau berkedip, melainkan langsung padam total. Gelap menelan ruangan dalam sekejap. Endric yang sedang berdiri di depan cermin hampir menjatuhkan sisir dari tangannya, jantungnya langsung berdegup lebih cepat dari sebelumnya.

“Timing lo keren banget,” gumamnya.

Dari luar, suara angin mendadak berhenti. Jangkrik yang tadi masih berbunyi ikut lenyap, seolah seluruh desa menahan napas secara bersamaan. Keheningan itu terasa terlalu utuh, terlalu sengaja. Endric menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

“Ndhul?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban. Ruangan tetap sunyi, bahkan gema suaranya sendiri terasa aneh di telinganya.

Ia meraba meja, mencari ponsel. Layar menyala, tetapi sinyal kosong. Jam menunjukkan pukul delapan tepat. Waktu seolah berjalan sesuai sesuatu yang tidak ia pahami.

“Yaudah... jalan aja,” katanya pada diri sendiri.

Ia membuka pintu. Udara malam langsung menyentuh wajahnya. Dingin, tetapi bukan dingin biasa, melainkan lembap yang merayap masuk ke dalam kulit. Endric melangkah keluar, lalu langsung berhenti di ambang pintu.

Jalan yang tadi siang kosong, kini dipenuhi orang. Warga desa berdiri di sepanjang jalan, berjejer rapi, diam tanpa suara. Semua menghadap ke satu arah, ke balai desa. Endric merasakan tengkuknya meremang, ada sesuatu yang salah dengan cara mereka berdiri.

“Ini bukan perkenalan... ini parade,” bisiknya.

“Udah jalan aja, rek.”

Suara Gandhul muncul di sampingnya. Endric langsung menoleh, sedikit tersentak.

“Lo!” desisnya pelan.

“Gue dari tadi di sini,” jawab Gandhul santai.

“Kenapa baru ngomong sekarang?!”

“Biar dramatis.”

Endric menghela napas panjang, mencoba menahan kesal dan takut yang bercampur jadi satu.

“Gue deg-degan, cok.”

“Wajar. Lo lagi mau dites.”

Endric menatapnya, alisnya mengernyit.

“Tes apa sih sebenarnya?”

Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik ke arah warga yang berdiri diam seperti patung.

“Tes... lo layak atau gak.”

Endric menelan ludah.

“Layak buat jadi apa?”

Gandhul tersenyum tipis.

“Lo tahu jawabannya.”

Endric tidak membalas. Ia mulai melangkah pelan mengikuti arah warga. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak selain berjalan. Langkah mereka serempak, seperti dikendalikan oleh sesuatu yang sama. Endric berjalan di tengah, merasa seperti satu-satunya yang benar-benar hidup di antara kerumunan itu.

“Ini kenapa sunyi banget...” bisiknya.

“Karena kalau mereka mulai ngomong, lo bakal pengin lari,” jawab Gandhul.

“Kenapa?”

“Gak semua suara mereka... normal.”

Endric memilih diam. Ia tidak yakin ingin tahu seperti apa maksudnya.

Balai desa sudah terlihat di depan. Bangunan kayu besar dengan lampu kuning yang menyala terang. Cahaya itu tidak terasa hangat, justru memperjelas hal-hal yang membuat tidak nyaman. Di depannya ada halaman luas yang sudah dipenuhi warga. Mereka berdiri melingkar, menyisakan ruang kosong di tengah.

Endric berhenti di pinggir lingkaran, napasnya mulai tidak teratur lagi.

“Gue harus masuk?” tanyanya pelan.

“Iya.”

“Sendirian?”

Gandhul mengangguk.

“Gue di sini aja. Lo yang maju.”

Endric menatapnya tidak percaya.

“Lo gak mau bantu?”

“Gue bantu dari jauh. Doa,” jawab Gandhul santai.

“Doa apaan, cok...”

Gandhul terkekeh pelan.

“Udah, jalan.”

Endric menarik napas dalam, lalu melangkah masuk ke tengah lingkaran. Semua mata langsung tertuju padanya. Tidak ada ekspresi, hanya tatapan dingin yang menilai. Ia berusaha berdiri tegak, walau jantungnya terasa seperti hendak meloncat keluar.

Beberapa detik kemudian, seseorang melangkah maju.

Pak Wakhid.

Dengan senyum yang sama seperti sebelumnya, ia berhenti di depan Endric.

“Mas Endric sudah datang,” katanya lantang.

Suara itu menggema aneh, padahal tidak ada pengeras suara. Warga tetap diam. Pak Wakhid menatap Endric lekat, seolah mencari sesuatu di balik wajahnya.

“Gimana, Mas? Sudah nyaman di sini?”

Endric memaksakan senyum, meski otot wajahnya terasa kaku.

“Iya, Pak.”

“Sudah mulai dengar sesuatu?”

Endric terdiam sepersekian detik. Ingatan tentang suara dari bawah lantai langsung muncul, tetapi ia cepat menggeleng.

“Belum, Pak.”

Pak Wakhid tersenyum lebih lebar.

“Bagus.” Ia berbalik menghadap warga. “Berarti masih bersih.”

Endric mengernyit pelan, kebingungan bercampur tidak nyaman.

“Bersih apaan...” gumamnya.

Tiba-tiba seorang wanita melangkah keluar dari kerumunan. Rambutnya panjang, wajahnya pucat, tetapi matanya hidup. Ia berhenti tepat di depan Endric, menatap tanpa berkedip.

“Namamu Endric?” tanyanya.

“Iya,” jawab Endric pelan.

Wanita itu tersenyum tipis.

“Ganteng juga.”

Endric langsung kaku. Bahunya sedikit menegang.

“Makasih?”

Dari belakang, suara Gandhul terdengar pelan, hampir seperti angin.

“Waspada, rek. Yang kayak gini biasanya bahaya.”

Endric hampir menoleh, tetapi ia menahan diri. Wanita itu melangkah lebih dekat, jarak mereka kini terlalu dekat untuk nyaman.

“Kamu betah di sini?”

Endric ragu. Ia mengingat aturan. Jangan langsung iya.

“Masih adaptasi,” jawabnya hati-hati.

Wanita itu mengangguk pelan.

“Kalau aku bilang kamu bakal senang di sini... kamu percaya?”

Endric diam beberapa detik, menimbang jawabannya.

“Belum tentu.”

Wanita itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, tetapi matanya tetap dingin.

“Pinter juga.”

Ia mundur satu langkah, lalu kembali ke kerumunan. Pak Wakhid kembali maju.

“Bagus,” katanya.

Endric menelan ludah.

“Bagus apaan, Pak?”

“Mas masih bisa mikir.”

Nada itu membuat Endric tidak nyaman, seolah berpikir adalah sesuatu yang jarang terjadi di sini.

Tiba-tiba, dari belakang kerumunan, terdengar suara lain. Berat dan dalam.

“Sudah cukup.”

Semua warga langsung diam lebih dalam, seolah udara ikut berhenti. Seorang pria tua muncul, lebih tua dari Pak Wakhid. Langkahnya pelan, tetapi semua orang memberi jalan tanpa diminta.

Endric merasakan tekanan aneh saat pria itu mendekat, seperti berdiri di dekat sesuatu yang terlalu kuat untuk dilawan.

“Ini siapa lagi...” bisiknya.

“Yang paling atas,” jawab Gandhul pelan.

Pria itu berhenti di depan Endric. Tatapannya lama, terlalu lama. Endric merasa seperti sedang dibedah tanpa disentuh.

“Namamu Endric,” katanya.

“Iya,” jawab Endric pelan.

Pria itu mengangguk.

“Masih utuh.”

Endric mengernyit.

“Utuh maksudnya apa?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah Pak Wakhid.

“Belum waktunya.”

Pak Wakhid mengangguk.

“Siap.”

Endric menatap mereka bergantian, kebingungan dan cemas.

“Ini maksudnya apa, Pak?”

Tidak ada yang menjawab. Pria tua itu kembali menatap Endric. Suaranya lebih pelan, tetapi terasa lebih berat.

“Kalau dipanggil... jangan menolak.”

Endric membeku. Kata-kata itu terasa seperti menekan dadanya. Ia ingin menjawab, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Pria itu tersenyum tipis, lalu berbalik.

“Bubar.”

Satu kata. Semua warga langsung bergerak serempak tanpa suara. Lingkaran itu pecah begitu saja. Mereka berjalan pergi, seolah tidak pernah ada apa-apa sebelumnya.

Endric berdiri sendirian di tengah, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Kepalanya terasa penuh, tetapi kosong pada saat yang sama.

“Gue lolos?” bisiknya.

“Untuk sekarang,” jawab Gandhul yang sudah muncul di sampingnya.

Endric menoleh cepat.

“Untuk sekarang apaan, cok?”

Gandhul mengangkat bahu.

“Lo belum cocok.”

Endric menatapnya tajam.

“Cocok buat apa?!”

Gandhul tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah pria tua tadi yang berjalan menjauh.

“Yang itu bahaya,” katanya pelan.

“Kenapa?”

“Karena dia yang milih.”

Endric merasakan sesuatu jatuh di perutnya.

“Milih siapa?”

Gandhul menoleh, menatap Endric.

“Yang dikorbankan.”

Endric langsung terdiam. Angin malam kembali bergerak, tetapi kali ini terasa lebih dingin, seolah membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Endric mengusap wajahnya pelan.

“Oke... oke... gue masih hidup. Itu dulu.”

“Betul,” kata Gandhul.

Endric menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

“Besok gue cari cara keluar.”

Gandhul tertawa kecil.

“Silakan. Gue temenin.”

Endric mendecak.

“Jangan nyinyir.”

Mereka berjalan kembali ke arah rumah. Jalan sudah kosong. Tidak ada warga, seolah semua yang tadi terjadi hanya ilusi. Namun, langkah Endric tiba-tiba terhenti saat ia melihat sesuatu di tanah.

Kertas.

Terlipat.

Tepat di depan rumahnya.

“Ini apa lagi...” gumamnya.

Ia membungkuk dan mengambil kertas itu. Tangannya sedikit gemetar. Ia membuka lipatannya pelan, napasnya tertahan.

Tulisan tangan.

Endric membaca. Wajahnya langsung pucat.

“Ndhul...”

“Kenapa?”

Endric menelan ludah, lalu membalik kertas itu ke arah Gandhul.

Di sana tertulis satu kalimat.

“Besok malam giliranmu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!