NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Suara mesin motor tua Agus perlahan mati tepat di depan pagar rumah Pak RT. Keheningan malam di desa itu terasa sangat pekat, hanya sesekali dipecah oleh suara gonggongan anjing di kejauhan. Lampu teras rumah Pak RT masih menyala, memberikan sedikit cahaya pada halaman rumah yang tertata rapi dengan pot-pot tanaman hias. Agus terdiam di atas jok motornya, kedua tangannya masih mencengkeram setang dengan erat. Telapak tangannya terasa lengket oleh keringat dan debu semen yang mulai mengeras.

Ia menatap pintu kayu jati di depannya. Pintu itu terlihat begitu kokoh dan berwibawa, seolah-olah menjadi saksi bisu berapa kali Agus dan ibunya datang ke sana untuk meminta bantuan. Ada rasa mual yang tiba-tiba muncul di ulu hati Agus bukan karena lapar, melainkan karena rasa malu yang amat sangat. Di dalam saku celananya, ponselnya bergetar pelan. Ia tahu itu pesan dari Rahma, namun ia tidak berani melihatnya. Ia merasa tidak pantas bahkan untuk sekadar membaca nama Nor Rahma di saat ia sedang bersiap untuk mengemis pada tetangganya.

Agus mencoba turun dari motor. Ia harus menumpukan seluruh berat badannya pada kaki kanan, sementara kaki kirinya yang membiru dibiarkan menggantung lemas. Rasa nyeri yang tajam langsung menusuk hingga ke pinggang saat ia mencoba melangkah. Ia meraih kayu penyangganya yang tersampir di motor, lalu mulai berjalan tertatih-tatih menuju teras. Setiap ketukan kayu di atas lantai semen teras itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harga dirinya.

Tok... tok... tok...

Agus menunggu dengan napas yang tertahan. Tidak ada jawaban. Ia melihat ke arah jam di pergelangan tangannya yang sudah mati, lalu teringat jam di ponselnya, hampir pukul sepuluh malam. Ia merasa sangat berdosa mengganggu istirahat orang lain, tapi bayangan bapak agus yang sedang sesak napas di puskesmas memaksanya untuk mengetuk lagi.

Tok... tok... tok...

"Assalamu’alaikum, Pak RT... Ini Agus," ucapnya dengan suara yang bergetar.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Pak RT yang mengenakan sarung dan baju koko putih. Beliau tampak baru saja bangun tidur, matanya masih merah dan sedikit bengkak. Pak RT menatap Agus dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia melihat baju Agus yang penuh noda semen, wajahnya yang kusam, dan kakinya yang dibalut perban kotor.

"Agus? Malam-malam begini ada apa, Gus? Kakimu kenapa lagi itu?" tanya Pak RT dengan nada bicara yang antara prihatin dan lelah.

Agus menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak sanggup menatap mata Pak RT. "Maafkan saya, Pak RT. Saya tahu ini sudah sangat malam. Saya benar-benar lancang mengganggu istirahat Bapak."

"Ya sudah, duduk dulu di kursi itu. Jangan berdiri terus, nanti kakimu tambah parah," ucap Pak RT sambil menunjuk kursi rotan di teras.

Agus duduk di tepi kursi, membiarkan kaki kirinya lurus ke depan. "Pak RT... saya datang ke sini karena benar-benar buntu. Bapak saya, barusan muntah darah dan pingsan. Sekarang ada di puskesmas, tapi harus segera dirujuk ke rumah sakit umum kota."

Pak RT menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang membuat Agus merasa dunianya runtuh. "Muntah darah lagi? Kondisinya separah itu?"

"Iya, Pak. Petugas puskesmas bilang harus dirujuk malam ini juga. Tapi... tapi saya butuh biaya seratus tujuh puluh ribu untuk administrasi rujukan dan ambulans. Saya tidak punya uang sepeser pun, Pak. Upah saya di gudang baru bisa diambil besok, itu pun kalau Pak Jono tidak memotongnya karena saya pulang awal tadi siang."

Pak RT terdiam. Beliau menyandarkan punggungnya pada pintu, menatap ke arah jalanan desa yang gelap. Keheningan itu terasa sangat menyiksa bagi Agus. Ia merasa seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis mati. Ia tahu Pak RT sudah sering membantu keluarganya, dan ia tahu Pak RT sendiri bukan orang yang kaya raya.

"Gus," Pak RT memulai bicara dengan nada rendah. "Bukannya saya tidak mau bantu. Tapi minggu lalu istrimu, maksud saya ibumu, sudah pinjam seratus ribu buat beli obat bapakmu. Bulan sebelumnya juga masih ada sisa pinjaman yang belum lunas. Saya ini punya tanggung jawab juga buat keluarga saya sendiri."

Air mata Agus hampir jatuh. Ia meremas ujung celananya yang kasar. "Saya tahu, Pak. Saya sangat tahu. Saya malu sekali harus ke sini lagi. Tapi saya tidak tahu harus ke mana lagi malam ini. Teman-teman di gudang juga nasibnya sama seperti saya. Saya janji, Pak... saya akan kerja lembur apa saja buat bayar ini semua."

Pak RT masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa lagi. Agus ditinggalkan sendirian di teras. Rasa sepi malam itu terasa mencekik. Ia menoleh ke arah motor tuanya yang terparkir di bawah lampu jalan yang remang. Motor itu tampak seperti tumpukan besi tua yang tidak berguna, sama seperti dirinya.

Ia merogoh ponselnya. Layarnya menyala, memperlihatkan pesan terbaru dari Nor Rahma.

Nor Rahma: "Mas Agus, kenapa teleponku tidak diangkat? Aku jadi berpikiran macam-macam. Apa kamu sedang sakit? Tolong, Mas... satu pesan saja supaya aku tenang."

Agus menatap layar itu dengan mata yang perih. Ia ingin sekali mengetik: "Rahma, aku sedang di teras rumah Pak RT, sedang menunggu belas kasihan orang untuk menyelamatkan nyawa bapakku." Tapi jempolnya kaku. Ia tidak ingin Rahma tahu betapa rendahnya ia saat ini. Ia merasa mencintai Rahma adalah sebuah kesalahan besar, karena cinta itu membuatnya menyadari betapa miskinnya ia. Kemiskinan itu terasa seperti luka terbuka yang disiram air garam setiap kali ia melihat nama Nor Rahma.

Beberapa menit kemudian, Pak RT keluar lagi. Beliau memegang beberapa lembar uang kertas yang sudah agak kumal. Beliau duduk di depan Agus dan meletakkan uang itu di atas meja kecil.

"Ini ada seratus lima puluh ribu, Gus. Hanya ini yang bisa saya bantu. Saya ambil dari uang belanja istri saya untuk besok. Kamu cari sisanya dua puluh ribu lagi di tempat lain, ya?" ucap Pak RT dengan suara yang berat.

Agus melihat uang itu. Seratus lima puluh ribu. Baginya, uang itu adalah napas tambahan untuk ayahnya. Ia segera meraih tangan Pak RT dan menciumnya berkali-kali. "Terima kasih, Pak RT. Terima kasih banyak. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Bapak. Saya janji akan segera mengembalikannya."

"Sudahlah, Gus. Jangan bicara janji dulu. Segera urus bapakmu. Tapi saya minta satu hal," Pak RT menatap Agus dengan serius. "Kamu itu laki-laki, sudah dewasa. Kamu tidak bisa terus-menerus mengandalkan belas kasihan orang lain. Kamu harus punya rencana yang lebih jelas buat masa depanmu dan orang tuamu. Jangan sampai hidupmu habis cuma buat gali lubang tutup lubang seperti ini."

Kata-kata Pak RT terasa lebih menyakitkan daripada rasa perih di kakinya. Itu adalah teguran yang jujur, namun sangat menghantam harga diri Agus. Pak RT benar. Ia hanya seorang laki-laki yang hidup dari belas kasihan dan hutang ke hutang. Bagaimana ia bisa berani memimpikan wanita seperti Nor Rahma dengan kondisi seperti ini?

"Iya, Pak. Saya mengerti," jawab Agus pelan.

Agus bangkit dari kursi dengan susah payah. Ia menyimpan uang itu di saku kemejanya yang paling dalam, menjaganya seolah-olah itu adalah jantungnya sendiri. Dengan kayu penyangga, ia kembali menuju motornya.

"Gus," panggil Pak RT saat Agus hendak menyalakan motor.

"Iya, Pak?"

"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, kakimu itu bahaya kalau kena benturan lagi."

Agus mengangguk, lalu menghidupkan mesin motornya yang menderu kasar di tengah kesunyian malam. Ia melaju kembali menuju puskesmas. Di perjalanan, ia menghitung di dalam hati, seratus lima puluh ribu dari Pak RT, ditambah uang di sakunya yang hanya ada koin-koin kecil. Ia masih kurang dua puluh ribu rupiah lagi.

Dua puluh ribu rupiah. Angka yang sangat kecil bagi banyak orang, tapi bagi Agus malam ini, angka itu adalah tembok besar yang masih menghalanginya. Ia memutar otak. Ke mana lagi ia harus pergi? Lukman sudah meminjamkan motor dan tenaganya. Ia tidak mungkin meminjam uang lagi pada Lukman.

Agus menghentikan motornya di depan sebuah toko kelontong yang sudah tutup, tapi pemiliknya masih duduk-duduk di depan. Ia mengenal pria itu, Pak kumis, yang sering membeli semen di gudangnya. Dengan sisa-sisa keberanian yang sudah hampir habis, Agus turun lagi. Ia akan mencoba memohon sekali lagi demi dua puluh ribu rupiah itu.

Malam itu, di bawah langit yang hitam pekat tanpa bintang, Agus menyadari satu hal. Harga diri seorang laki-laki miskin ternyata harganya sangat murah, ia bisa ditukar dengan selembar uang dua puluh ribuan di pinggir jalan raya. Namun, demi bapaknya, Agus rela menjadi orang yang paling tidak punya harga diri di dunia ini.

Ia melangkah mendekati Pak Kumis dengan kaki yang terseret, sementara di saku kemejanya, ponselnya kembali bergetar, sebuah panggilan masuk dari Nor Rahma yang kembali ia abaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!